Asrama FLOWER GARDEN 13 : Nostalgia Masa SMA

Asrama FLOWER GARDEN 13 : Nostalgia Masa SMA
Bab 19 | Pertandingan Rio dan Dicky


__ADS_3

Ternyata di hari ini guru yang seharusnya memberi pelajaran pada murid kelas 1A tidak masuk. Ryu, Heri, dan Mirhan sedang asyik ngobrol mengenai sekolah. Sementara Heri hanya diam, dia memilih tidak ikut ngobrol.


"Lo kenapa Her?" tanya Ryu pada Heri.


"Iya...gak biasanya lo gak berkomentar," ucap Arif menimpali pertanyaan Ryu.


"Apa lo butuh uang?" tanya Mirhan membuat Rio dan Arif kaget.


"Eh...Anak Sultan...gak semua orang yang murung itu karena gak punya duit," Ryu memarahi Mirhan dengan kesal.


"Gue masih kepikiran dengan Agus…" ungkap Heri dengan jujur. "Entah kenapa gue jadi ingat gue yang dulu saat melihat Agus," tambahnya lagi menjelaskan.


"Oh...soal itu?...pantes lo tadi berusaha menghibur dia," Ryu baru tau apa yang dipikirkan oleh Heri. "Lo merasa kasihan sama tuh anak ya?" tanyanya sambil tersenyum.


"Jujur...kalau aja gue gak ketemu dengan lo pada, mungkin saat ini gue bakalan seperti Agus," ungkap Heri dengan jujur.


"Kenapa gak lo buat dia seperti lo yang sekarang aja?" tanya Arif pada Heri. "Walaupun lo yang sekarang omongannya kadang bikin orang sakit hati, tapi lo seneng kan udah bisa jadi diri lo sendiri?" Arif berusaha menyemangati Heri.


"Wih, tumben lo ngomongnya bener Rif…" ejek Heri sambil tersenyum, "biasanya kalau nggak masalah cewek, pasti-"


"Playboy cap Aligator kan?" sambung Ryu mengejek Arif.


"Sialan lo pada…" Arif menanggapi ucapan mereka seperti biasanya, "Udah puas ngejek gue sepanjang 3 bab berturut-turut?" tanya Arif sambil tersenyum kesal.


"Yaudah, ntar pas istirahat kita samperin dia aja, gimana?" tanya Ryu bersemangat.


"Wah, ide bagus tuh…" ucap Mirhan bersemangat.


"Dih, gue dikacangin donk," gumam Arif.


"Iya, dia tadi sempat cerita sama gue, bahwa dia anak kelas 1B," ungkap Ryu pada mereka.


"Eh.. tapi lo denger gak ancaman Dicky ke Agus tadi?" tanya Heri mengingatkan.


"Hadeh…awas aja tuh anak kalau ketemu gue lagi, bakalan gue abisin dah," ucap Arif sambil mengepalkan tangannya.


"Emangnya Dicky ngancem ke Agus kayak gimana?" tanya Mirhan karena dia tidak mendengar saat Dicky mengancam Agus.


"Cang…kacang…kacang…satu bungkusnya seribuan.." sahut Arif merasa pasrah tidak digubris temannya.

__ADS_1


"Yang sabar ya Rif?..." Heri sambil mengelus punggung Arif. Lalu Mirhan dan Rio tertawa. Sementara Heri kembali tersenyum melihat tingkah laku Arif.


Kemudian kakak kelas mereka anak kelas 3 tiba-tiba masuk ke kelas mereka. Itu membuat Rio dan Heri kembali ke tempat duduk mereka. Kakak kelas mereka yang masuk adalah anggota OSIS di sekolah ini.


"Maaf teman-teman, kami mengganggu waktu dan tempatnya," ucap seorang anak cowok berdiri di samping papan tulis. "Kami datang kesini untuk menyampaikan informasi penting, ini mengenai pemilihan ketua OSIS yang baru, siapa saja yang ingin mendaftar, silahkan datang ke ruangan OSIS yang berada di sebelah perpustakaan atau langsung menemui kakak di kelas 3 IPA A, namanya ka Taufik Rahman, atau bisa temui ka Masha Aprianti di kelas 2 IPA A" ucap ka Taufik. Di sebelah ka taufik ada Masha Aprianti yaitu cewek yang disukai Heri. Dia adalah anak kelas 2 IPA A.


Ryu melihat Heri yang tidak henti-hentinya memperhatikan Mesha. Ryu sejak itu tau kalau Heri sebenarnya suka dengan Masha. Dia hanya diam sebab tidak ingin bikin Heri salting di depan Masha.


"Lo pada gak berminat buat jadi calon ketua OSIS?" tanya Firman pada Ryu, Heri, Mirhan, dan Arif setelah para anggota OSIS keluar dari kelas mereka.


"Males ah...mending gue ngerjain hal lain yang lebih berguna," ucap Ryu dengan santainya.


"Apalagi gue…" ucap Arif tidak tertarik.


"Lo gimana Her?" tanya Obeng ke Heri. "Lha...Her? Heri…?" tanya Obeng setelah menyadari Heri sedang bengong.


"Woy!..." teriak Ryu kepada Heri.


"Eh woy!...Ryu sama Rasya boncengan mesra di motor!..." spontan Heri tidak sengaja membuka aib temannya.


"Wah, kali ini latahnya Heri parah dah." sahut Obeng memperhatikan Heri yang sejak tadi bengong.


"Ah iya. Maafin gue ya bro...eh...gue ke WC dulu ya?" Heri lalu bangkit dari tempat duduknya.


"Iya nih.. Kebelet." jawab Heri.


"Kebelet apa?" tanya Obeng sambil senyum.


"Udah ah gak tahan lagi nih." jawab Heri lalu keluar kelas.


"Yaudah sana buruan. Entar netes di kelas ga enak baunya." Ryu meledek Heri sambil nyengir. Kemudian Heri bergegas lari menuju WC, namun seperti terlihat melambat ketika berada di belakangnya Masha, tapi tetap berbelok menuju WC.


Setelah dirasa Heri sudah tidak ada di kelas lagi, Arif mulai berbicara. "Wah parah Heri. Pasti dia tadi ngebayangin dia kayak lo deh Yu!" Arif, Ryu, dan Obeng melanjutkan pembicaraan mereka.


***


Saat istirahat mereka semua pergi ke kelas 1B untuk menemui Agus. Mereka terkejut di kelas itu hanya Agus yang tidak memiliki teman. Teman-temannya yang lain sedang asik ngobrol dan bercanda, dia malah hanya memandangi jendela luar sekolahnya.


Ryu yang kasihan dengan Agus, lalu menghampiri teman baru mereka itu. "Ngapain lo Gus!..ada cewek cantik ya diluar!..." teriakan Ryu membuat cowok-cowok yang di kelas itu pada mengintip ke jendela mengikuti Agus.

__ADS_1


Setelah mereka sadar dikerjain Ryu, mereka langsung menatap Ryu dengan kesal. Mereka lalu kembali ke tempat mereka masing-masing. Akan tetapi Arif malah masih mencari cewek yang dimaksud. Mendengar ucapan Ryu dan sikap Arif membuat Agus mulai tersenyum. 


"Ke kantin yuk Gus…" ajak Arif menghampiri Agus.


Mirhan, Ryu, dan Heri juga ikut menghampiri meja Agus. Agus kemudian mengangguk dan dia kemudian berdiri. Sementara teman-teman yang tidak memperdulikan Agus mulai bingung karena Agus bisa berteman dengan murid-murid yang belakangan ini jadi perhatian di sekolah.


Mereka kemudian keluar kelas 1A, lalu berjalan menuju kantin. Sementara terlihat Dicky dan teman-temannya dengan marah memperhatikan Ryu dan temannya bersama Agus ke kantin. Ryu dan teman-temannya bercanda saat melewati Dicky dan teman-temannya. Agus masih terlihat takut saat melewati Dicky dan teman-temannya. Heri yang menyadari sikap Agus saat ini, dia langsung menggandeng Agus dengan akrab.


Saat mereka sedang duduk di tempat Mereka biasanya nongkrong, temannya Dicky langsung menghampiri Agus. "Gus...Dicky mau bicara sama lo," ucapnya dengan ketus ke Agus.


"Eh! Lo bilang sama Dicky, kalau dia pengen ngomong sama Agus, suruh dia ngomong disini," ucap Arif dengan tegas.


"Nah, kebetulan gue juga pengen bicara sama tuh anak, jadi lo bilangin dia buruan datang kesini, gua yang nyuruh," ucap Ryu sembari berdiri di hadapan temannya Dicky.


Mendengar ucapan Ryu dan Arif, temannya Dicky langsung kembali ke meja tempat mereka kumpul. Dia langsung berbisik ke arah Dicky dengan serius. Mendengar akan hal itu, rupanya dia sangat kesal karena terlihat mengepalkan tangan hendak memukul tapi tak jadi. Kemudian dia berdiri dari tempat duduknya lalu menghampiri Ryu, Arif, Mirhan, Heri, dan Agus.


"Gue liat lo sudah mulai mengganggu kesenangan gue dan teman-teman gue lagi," bentak Dicky tanpa memperdulikan murid yang lain merekamnya.


"Apa lo bilang?...mengganggu?..." tanya Heri dengan ketus. "Bukannya selama ini lo yang malakin anak-anak kelas satu?" tambahnya lagi dengan tatapan merendahkan.


"Diam lo!…" teriak Dicky membentak Heri.


"Gue bilang sama lo, jangan pernah membentak teman gue, kalau lo gak mau berurusan sama gue," terlihat Arif ingin menghajar Dicky, tapi tangan Ryu menahan Arif dengan sigap.


"Dia cuma pengen mancing emosi lo," ucap Ryu menghalangi Arif. "Ingat kita punya senjata," ucapnya mengingatkan Arif.


Mendengar ucapan Ryu membuat Dicky tambah marah. Teman-temannya berusaha menenangkan Dicky. Mereka kemudian berbisik pada Dicky untuk merencanakan sesuatu.


"Ah… ide bagus." ucap Dicky kemudian kembali ke Ryu dan teman-temannya untuk memberikan usul, "Bagaimana kalau kita bertaruh?"


"Hah?...bertaruh?..." tanya Ryu kemudian.


"Ya. Siapa diantara kita yang akan menjadi ketua OSIS di tahun ini?" Dicky merasa akan menang. "Kalau gue terpilih menjadi ketua OSIS, lo harus menghapus semua video yang lo punya dan lo menjadi bawahan gue," tambah Dicky dengan bangga.


Ryu, Arif, Heri, dan Mirhan terlihat sedang berpikir sesaat. "Oke…" ucap Arif. "Tapi kalau salah satu dari kami yang terpilih, lo harus berhenti membully dan memalak murid kelas satu…" ucap Arif tanpa persetujuan teman-temannya mengambil keputusan.


"Oke…" jawab Dicky sambil tersenyum sinis pada mereka.


"Dan saat proses pemilihan ketua OSIS, lo jangan mengganggu anak-anak kelas satu, bagaimana? Setuju?" ucap Heri membuat Dicky terlihat marah.

__ADS_1


"Oke…Deal!" jawab Dicky kemudian meninggalkan Rio, Arif, Mirhan, dan Heri.


Bersambung...


__ADS_2