Atas Nama Jodoh

Atas Nama Jodoh
Bab 21 : Selalu Terbuka


__ADS_3

Dengan menghela nafasnya yang cukup panjang, gadis bergamis maron itu merapikan sedikit jilbabnya kemudian akhirnya mengucap salam didepan gerbang yang sudah terbuka seolah menyambut dirinya


"Assalamu'alaikum"


"Wa'alaikumussalam" benar saja, sepertinya ia memang ditunggu karena jawaban salam yang langsung terdengar walau ia ucapkan cukup pelan


"Ila" nampak sekali raut bahagia di wajah wanita yang harusnya sekarang seumuran dengan bundanya itu, ia membawa dirinya kedalam dekapan hangat seorang ibu yang sudah tak bisa ia rasakan lagi


"Gimana kabar tante?"


"Kok masih panggil tante aja? Panggil Bunda aja" Layla hanya tersenyum simpul. Baginya panggilan itu hanya untuk satu orang yaitu wanita hebat yang telah melahirkannya.


"Tante baik, kamu sendiri kesini? Ilal mana?" Pertanyaan itu hal yang wajar karena mereka yang biasanya pergi kesana selalu bersama


"Dia katanya ada urusan tante, nggak tau mau kemana" tiba-tiba saja Bilal mengatakan mendadak ada urusan tadi pagi, padahal seingat Layla ketika hari minggu kakaknya itu hanya akan diam di rumah


"Wajar saja anak laki-laki dia pasti pergi ketemu temannya. Ammar juga gitu, tapi khusus hari ini bunda nggak bolehin keluar" Renata menjelaskan dengan nada kesal khas ibu-ibu yang jengkel dengan kelakuan anaknya


"Ayo masuk dulu didalam. Kita udah lama nggak ketemu, ngeliat kamu sama kayak bunda ngeliat Aqila. Kenangan kami masih tersimpan rapi sampai sekarang"


Disisi lain, Bilal menggerutu kesal karena sudah hampir tiga puluh menit menunggu tapi tak ada tanda-tanda kedatangan gadis yang ditunggunya


"Dia beneran mau nggak sih? Lima menit lagi kalau dia nggak dateng aku bakalan pulang" gerutunya


Tepat saat lima menit, sebelum ia sempat memakai helm dan menyalakan motor kembali, gadis yang ditunggunya datang. Tapi kini dengan penampilan yang berbeda sampai membuat Bilal mengucap istighfar karena menatap terlalu lama


"Maaf telat, aku pikir kamu nggak bakal dateng secepat ini" sesal gadis itu, ia merapikan sedikit jilbabnya yang agak ke depan. Mungkin karena baru pertama kali memakai penutup kepala itu

__ADS_1


"Nggak papa, aku juga yang salah karena tidak memberi waktu yang jelas" ucap Bilal mengangguk mengerti, padahal ia sudah bersiap mengeluarkan kata-katanya pada gadis itu tadi karena tak tepat waktu


"Ayo"


"Kita naik motor?" Tanya Bela, seingatnya kemarin laki-laki didepannya ini mengatakan lokasinya tak jauh dari sini


"Jaraknya sekitar lima ratus meter dari sini, memangnya kamu mau jalan kaki?" Tanya Bilal lagi. Ia sudah menyalakan motornya hingga mau tak mau Bela ikut naik


Sekitar kurang dari delapan menit, mereka sampai di cafe dengan huruf FC yang tertulis besar di bagian atas. Bela sedikit termenung sebentar kemudian menarik nafas panjang


"Ayo, kenapa diam"


"Tunggu dulu" Bela mengangkat sebelah tangannya, mengintruksikan laki-laki itu untuk berhenti


"Kenapa?" Bilal mengernyitkan alisnya bingung


"Namaku Fatih Bilal Alzam, biasa dipanggil Ilal"


"Namaku Isabela, panggilan saja Bela" gadis itu hendak mengulurkan tangannya, tapi ia tarik kembali karena sadar itu bukan hal yang wajar dalam agama.


Rasullullah pernah mengatakan "Sesungguhnya seorang diantara kalian jika ditusuk dengan jarum dari besi, itu lebih baik baginya daripada menyentuh seorang wanita yang bukan mahramnya"


Saking begitu mulianya derajat seorang wanita dalam islam. Tapi bisa kita lihat betapa jauh perbedaannya sekarang. Bersentuhan tangan bahkan zina adalah hal yang terdengar biasa sekarang.


"Kak, ini teman saya yang kemarin mau lamar kerja" Bilal berbicara dengan wanita berusia sekitar dua puluh lima tahun. Terlihat perempuan itu mengangguk dan menatap kearah Bela dengan tersenyum. Bela balik melemparkan senyumannya pada wanita itu. Ia bersyukur dalam hati setidaknya mereka tak galak seperti apa yang dibayangkannya


"Kamu bisa mulai kerja besok. Aku udah ngasih tau ayah juga karyawan disini"

__ADS_1


"Kita nggak perlu interview?" Tanya Bela bingung. Setaunya ia harus membawa berkas dan interview saat melamar kerja


"Kamu masuk kerja lewat jalur orang dalam. Nggak ada interview, aku udah jelasin kamu bisa kerja dan bisa diandalkan. Yang dicari itu aja, mau kerja, dan diandalkan termasuk untuk bertanggung jawab sama pekerjaan kamu" Bela mengangguk, bersyukur bisa bertemu orang dalam yang bisa diandalkan. Tapi walau begitu ia janji tak akan mengecewakan Bilal yang telah mempercayainya bekerja disini


"Terima kasih, nanti aku traktir saat gajian pertama" Bilal tertawa mendengarnya


"Belum mulai kerja kamu udah mikirin gaji. Kumpulin dulu uang buat segala keperluan kamu, traktirnya lain kali aja"


Bela sedikit mengusap tengkuk belakang kepalanya kemudian mengangguk canggung. Bilal benar, padahal belum masuk kerja dia sudah memikirkan gaji


"Hijab tak menghalangi kecantikan seorang wanita, justru itu membuatmu terlindungi" Bela mendongak kemudian menunduk. Bilal pasti mengatakan itu karena melihat penampilan dirinya yang berbeda


"Aku tau. Hijab ini termasuk langkah baruku untuk lebih dekat dengan pencipta. Aku hanya seorang hamba kotor yang berharap taubat dari-Nya"


"Allah itu maha penerima taubat hambanya. Sebesar gunung atau sebanyak buih dilautan dosa kita, pintu taubatnya lebih terbuka lebar untuk menanti kita kembali pada-Nya"


Bela menganggukkan kepalanya, ia memutuskan hal ini tepat kemarin. Saat itu sepulang dari melihat nilai kelulusan, kebetulan sekali ada kajian dekat mushola yang tak jauh dari rumahnya. Yang datang sepertinya seorang ustadz yang lumayan terkenal hingga banyaknya jamaah yang hadir


"Kata taubat Allah sebutkan sebanyak 87 kali dalam Al-Qur'an. Ia mengingatkan kita untuk selalu kembali padanya, manusia itu tak pernah lepas dari dosa. Karena itu Allah membuka lebar pintu taubat untuk hambanya"


"Apa kata Allah pada hambanya yang telah berbuat dosa? Ia tidak mengatakan wahai pendosa, wahai pezina, atau wahai orang yang jahat. Allah tidak mengatakan itu, tapi ia mengatakan "Katakanlah kepada Hamba-hamba Ku yang melampaui batas terhadap diri-diri mereka, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni semua dosa, sesungguhnya Dialah Zat Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Maka kembalilah kepada Tuhanmu dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datangnya azab kemudian kalian tidak dapat lagi mendapatkan pertolongan.” (QS. Az Zumar: 53-54)"


"Pintu taubat di depanmu terbuka lebar, dia menanti kedatanganmu, jalan orang-orang yang bertaubat telah dihamparkan, ia rindu pijakan kakimu. Selama ruh masih dalam jasad, selama matahari masih terbit di timur dan tenggelam di barat, selama itu pula Allah menanti hamba-hambanya yang memang benar bertaubat"


"Jangan salahkan dunia ini yang terlalu kejam, karena orang yang memang dekat dengan Allah tau, kalau Allah bersamanya. Bersama kesulitan itu ada kemudahan yang Allah datangkan padanya"


Disanalah Bela akhirnya memantapkan niat untuk memulai hijrahnya, dia yang jarang sholat karena tak terlalu peduli pada akan hal itu mulai mengambil wudhu dan melaksanakan sholat kala adzan dhuhur terdengar berkumandang dari rumahnya. Dalam sujudnya ia menangis karena perasaan dalam hatinya yang menyalurkan ketenangan. Rumah yang biasanya ia gunakan untuk menangisi takdirnya kini berganti untuk menangisi dirinya yang sudah melangkah terlalu jauh dari rahmat Rabbnya

__ADS_1


__ADS_2