Atas Nama Jodoh

Atas Nama Jodoh
Bab 54 : Berujung Salah Paham


__ADS_3

"Astagfirullohaladzim, ya allah nak, ayahmu bisa marah kalau tau kejadian tadi" Layla langsung mengambil keponakannya dari tangan laki-laki yang tadi menolongnya


Layla yang panik membolak-balik tubuh balita itu untuk melihat luka yang mungkin diterimanya


"Ndak cakit" ucap bocah itu dengan suara cadelnya seolah mengerti kepanikan bibinya


"Lain kali jangan gitu lagi ya, kalau disuruh nunggu tetap disana, jangan keluar"


"Siap" balita itu mengacungkan jempol dan justru tertawa tak mengerti kepanikan bibinya


"Terima kasih atas bantuannya" terlalu sibuk dengan Athala, Layla sampai lupa mengucap terima kasih pada laki-laki yang tadi menolongnya. Melihat laki-laki itu yang diam tak merespon, Layla mendongakkan kepalanya


Bagai sebuah keajaiban, dengan rasa yang tak bisa digambarkan, sedih, rindu, terkejut dan bahagia, semuanya tercampur menjadi satu. Laki-laki yang tak banyak mengalami perubahan setelah enam tahun berlalu, hanya rambutnya yang tumbuh lebih panjang dan wajah yang nampak tirus


"Kak Qais?"


"Assalamu'alaikum Ila"


"Wa'alaikumussalam"


"Atha pengen minum" Layla baru tersadarkan saat keponakannya itu bicara


"Ayo disana" Layla menunjuk kursi panjang dibawah salah satu pohon. Dengan cekatan ia membuka tutup botol air mineral yang tadi dibelinya


"Dia anak yang pintar" ucap Qais memulai pembicaraan. Mereka bertiga duduk dibangku panjang itu dengan Athala diantara mereka


"Ayah dan ibunya juga pintar" balas Layla yang membuat Qais justru salah paham


"Ya benar, kamu juga pintar" gumamnya lirih hampir tak terdengar


"Apa?" Tanya Layla sekali lagi namun Qais hanya menggeleng dan tersenyum


"Matanya sangat mirip denganmu"


"Iya, ayah juga bilang begitu" jawab Layla berusaha santai, tak tau jawabannya membuat kesalahpahaman Qais semakin jauh. Jelas saja, ia dan Bilal memiliki mata yang sama warisan ibunya, tapi Naufal bilang bentuknya lebih mirip mata Layla walau warna bola matanya sama dengan Bilal


"Bukannya delapan tahun?" Layla membuka kembali pembicaraan setelah hening cukup lama. Ia penasaran alasan laki-laki itu ada disini


"Kami mendapat keringanan karena berbagai alasan, jadi dikurangi dua tahun" Layla mengangguk mengerti, dulu mereka divonis sepuluh tahun, tapi karena beberapa alasan hukumannya dikurangi dua tahun dan itu kabar terakhir yang Layla dengar sebelum akhirnya memilih pindah kampus diluar kota dan menutup aksesnya untuk berita itu


"Sejak kapan Kak Qais keluar dari penjara?"


"Satu minggu lalu?"


"Kenapa tidak beritau?"


"Karena aku mungkin tak sanggup saat menyadari kalau kamu bukan untukku lagi"


"Maksudnya?"

__ADS_1


"Jika aku menemuimu, aku seperti tak akan sanggup kalau melihatmu bersama..." belum Qais menyelesaikan ucapannya ponsel Layla berbunyi


"Sebentar dulu"


"Wa'alaikumussalam"


"..."


"Iya, sama aku bentar lagi pulang"


"..."


"Wa'alaikumussalam"


"Siapa yang telpon?"


"Ayah dia" ucap Layla menunjuk Athala yang masih fokus pada makanannya tak menghiraukan pembicaraan dua orang didepannya


"Kamu disuruh pulang?"


"Bentar lagi"


"Tadi Kak Qais ngomong apa?" Qais menarik nafasnya panjang


"Aku nggak mungkin sanggup ketemu kamu, sejak bebas dari penjara ingin sekali kakiku melangkah kerumahmu, tapi hatiku belum sanggup mengikhlaskan bahkan setelah enam tahun lamanya" Qais menahan nyeri dihatinya. Ia pikir Layla masih bisa bersamanya, walau terdengar egois tapi hatinya sakit kalau melihat mantan istrinya menikah dengan laki-laki lain dan sekarang ia benar-benar terlambat untuk itu


Sedangkan Layla terdiam masih mencerna semuanya termasuk perkataan Qais. Hening diantara keduanya tercipta, kebisingan disekitar taman tak membuat mereka pikiran mereka sunyi dengan berbagai pertanyaan


"antuk" gumamnya pelan dengan mata yang hampir terpejam


"Athala udah ngantuk, kami pulang duluan ya" saat Layla hendak menggendong balita itu, Qais lebih dulu sigap membawanya


"Eh"


"Ayo aku antar kemobil kalian" Layla mengangguk, ia berjalan dibelakang dan menunjuk lokasi parkir mereka tadi


"Tidurkan saja disini" Layla menyusun bantal di bangku belakang


"Apa ayahnya sibuk?"


"Iya, dia bekerja di salah satu perusahaan yang bergerak di sektor pertanian sebagai peneliti, ia lebih banyak menghabiskan waktunya di dalam laboratorium"


Qais tersenyum miris, laki-laki baik dan pekerja keras, laki-laki itu pasti beruntung memiliki Layla, begitupan Layla yang pastinya beruntung karena mendapat yang lebih baik. Tapi hatinya sakit mendengar ini semua


"Apa Kak Qais mau mampir?"


"Memang boleh?"


"Boleh, datanglah kerumah. Pintunya selalu terbuka lebar"

__ADS_1


"Nanti malam bisa?"


"Bisa, kami akan senang hati menyambut Kak Qais"


Qais tersenyum pedih, apa bisa ia melihat Layla bahagia dengan orang lain, begitu pikirnya


"Apa suamimu tak akan marah?" ingin sekali Qais menanyakan kalimat itu. Tapi ia urungkan, lebih baik ia melihat sendiri nanti


"Baik, kalau gitu sampai ketemu nanti malam. Assalamu'alaikum"


"Wa'alaikumussalam" Qais memandang mobil itu yang berjalan menjauh dengan perasaan sedih tapi juga bahagia. Doanya dari dulu selalu sama, Layla yang menjadi pendampingnya jika memang takdir mengizinkan, namun sepertinya kebahagiaan Layla bukan ada pada dirinya


Laki-laki itu menghapus air yang mengenang disudut matanya, hanya Layla perempuan yang membuatnya merasakan sakit karena cinta sampai sedalam ini


"Keliatan bahagia banget masaknya, siapa sih yang bakal dateng?" Layla terlonjak kaget, ia malu kedapatan senyum-senyum sendiri sambil mengaduk adonan yang siap dipangganya


"Kak Bela, jangan tiba-tiba muncul kayak gitu, aku kaget"


"Hehehe sorry, habisnya tumben liat kamu semangat ceria kayak gini"


"Kakak liat aja nanti malam"


"Tapi udah izin sama ayahkan? Jangan sampai laki-lakinya udah dateng malah diusir sama ayah"


"Darimana Kak Bela tau kalau laki-laki?" Bela yang sedang meminum air, sampai tersedak mendengar pertanyaan itu


"Laki-laki?, padahal aku nebak aja loh tadi. Siapa?" Layla menggelengkan kepala tak mau menjawab biarlah jadi kejutan nanti. Ia hanya memberitau Naufal, dan reaksi ayahnya tentu terkejut, tapi tetap setuju dengan tangan terbuka menerima Qais berkunjung


.


Sore berganti malam, langit biru muda yang cerah berganti langit biru pekat dihiasi rembulan dan jutaan bintang yang bersinar terang


"Assalamu'alaikum" Bilal yang paling penasaran saat tamu adiknya laki-laki langsung bergegas paling depan membuka pintu begitu terdengar suara salam


"Wa'alaikumussalam"


"Qais? Kok kamu?"


"Iya, udah bebas dari seminggu lalu" balas Qais tersenyum. Bilal mengangguk sedikit canggung dan mempersilahkan laki-laki itu masuk, perubahan yang dilihatnya paling tampak adalah wajah laki-laki itu yang nampak tirus dan cara berpakaiannya. Dulu ia lebih sering melihat Qais dengan celana jeans robek-robek dan jaket kulit, kini laki-laki itu memakai sarung batik hitam dan baju koko berwarna abu muda tak lupa juga peci hitam yang bertengger dikepalanya


"Bagaimana kabarmu nak?" Naufal menepuk punggung Qais saat laki-laki itu mencium tangannya


"Alhamdulillah baik ayah, apalagi setelah bisa menghirup udara segar lagi"


"Jadikan pelajaran, jangan diulangi lagi" Qais mengangguk dan duduk disofa yang berhadapan langsung dengan Bilal. Ia sedikit mengernyitkan alisnya karena orang yang ingin ia temui tak ada, hanya ada Bilal, Layla, Naufal dan seorang perempuan yang ia ketahui adalah istri Bilal. Ia ingin bertemu laki-laki beruntung yang berhasil menggantikan dirinya sebagai imam Layla. Bukan ingin membandingkan diri, tapi ia ingin tau sepantas apa laki-laki itu. Akhirnya, ia beranikan dirinya bertanya


"Maaf Ila, apa suamimu belum pulang?"


"Hah?"

__ADS_1


 .


Maaf ya kalau kalian ngerasa alurnya kecepatan atau nggak nyambung...🙏🙏🙏


__ADS_2