
"Janji saya, tante bisa memegang janji saya"
"Heh, janji laki-laki tak pernah bisa dipercaya" Bu Dami menggelengkan kepala dengan sedikit kekehan
"Semua laki-laki berbeda tante, tolong jangan samakan saya dengan orang lain" Yusuf tak mengatakan secara langsung kalau orang lain yang dimaksud adalah Ayah Nessi. Mendengar cerita Nessi, sepertinya ia pun akan enggan mengakui laki-laki itu sebagai ayahnya
"Datang hanya karena penasaran, menawarkan rasa cinta semu dan pergi ketika bosan dan menemukan yang lebih baik. Begitulah kalian para laki-laki" ucap Bu Dami menatap Yusuf
"Laki-laki yang seperti itu artinya tak punya pendirian dalam agamanya. Saya tak mengatakan saya sangat paham agama, tapi untuk menjadi pemimpin suatu hubungan saya paham dalam agama apa yang harus dilakukan kala janji suci sudah disaksikan langsung oleh Allah dan para malaikat"
"Laki-laki yang tante sebut tadi adalah ciri laki-laki pengecut yang pasti akan menyesal kemudian hari" lanjut Yusuf. Tanpa sadar ia beberapa kali menaikkan nada bicaranya
Bu Dami terdiam, Nessi melihat wajah ibunya yang murung. Ia tau perkataan Yusuf pasti mengingatkan pada ayahnya. Selanjutnya ia memberi kode pada Yusuf yang untungnya langsung ditangkap laki-laki itu
"Maaf kalau mungkin perkataan saya menyakiti hati tante. Tapi saya serius dengan janji saya dan tak semua laki-laki sama seperti apa yang ada dalam pikiran tante. Saya akan kembali lain kali dengan niat yang sama"
"Assalamu'alaikum"
Yusuf paham, trauma itu pasti masih ada. Bu Dami hanya ingin putrinya tak mengalami hal yang sama dengannya. Ia ingin Nessi mendapat laki-laki yang tepat, laki-laki yang bisa menjadi cinta sejatinya sampai maut bukan seperti cinta pertama yang pergi meninggalkan luka
"Artinya Kak Yusuf emang butuh usaha lebih, wajar bagi seorang ibu untuk takut hal yang sama terjadi pada putrinya" Layla mengatakan itu pada Nessi setelah ujian selesai, karena terlarut dalam cerita tadi hampir saja mereka telat masuk kelas, apalagi jarak fakultas Yusuf cukup jauh membuatnya kelimpungan sendiri
"Tapi Ila sejujurnya aku takut"
"Takut kenapa?"
Mereka masih didalam kelas, hanya berdua. Mahasiswa yang lain sudah keluar dan mungkin memilih pulang karena ujian hari ini selesai
__ADS_1
"Orang bilang, setiap anak akan mendapatkan karma buruk dari apa yang dilakukan orang tuanya. Ada juga yang bilang, bagaimana seorang suami memperlakukan istrinya. Maka anak perempuannya akan merasakan hal yang sama dari suaminya kelak" Layla memegang pundak Nessi dan menggelengkan kepalanya
"Kak Yusuf orang yang baik. Jangan pernah percaya perkataan itu. Saat mendengar ceritamu, aku yakin dia justru bersikap lebih baik agar tak melakukan kesalahan yang sama dengan ayahmu"
"Hilangkan pikiran itu Ness karena dia yang akan membuatmu tertahan dan takut untuk melangkah. Takdir manusia ditangan Allah, kita hanya menjalani. Tapi kita juga perlu berdoa, karena satu-satunya yang bisa mengubahnya adalah doa"
"Jangan terpaku dengan perkataan-perkataan itu, yakin dan serahkan semuanya pada Allah. Minta yang terbaik"
"Tapi, aku justru merasa tak pantas untuk Kak Yusuf. Dia berasal dari keluarga terpandang, sedangkan ibuku hanya seorang desainer yang tak begitu dikenal, apalagi dengan status ayahku sekarang" Nessi menarik nafasnya dan menautkan jarinya bingung
"Ya ampun Nessi, silsilah keluarga memang penting. Tapi bukan sebuah acuan kaya dan miskin. Kak Yusuf itu keluargaku, ibunya berasal dari keluarga sederhana, dan lihatlah dia bahagia bersama suaminya sekarang. Tak ada yang mengungkit-ungkit status, lagi pula hubungan itu bukan untuk ajang pamer harta orang tua kan?" Layla sedikit terkekeh diujung kalimatnya membuat Nessi menarik sudut bibir seperti menyetujui pemikiran sahabatnya
"Yakinkan dirimun dulu, istikharoh. Setelah itu yakinkan juga bundamu kalau Kak Yusuf memang laki-laki yang baik"
.
"Dia kembali Rio" Qais mulai membuka suara. Ia menatap Rio dengan pandangan yang tak bisa diartikan. Gelapnya ruangan membuat suasana semakin hening, tak ada suara sama sekali
"Aku pikir hanya berhalusinasi melihatnya kemarin, apa dia tidak mati setelah kita buang kesungai?" Rio menjawab dengan pandangan tak lepas dari mata Qais
"Artinya ini nyata, kamu tau? Bukan hanya aku yang melihatnya tapi Layla juga. Artinya ini bukan semata halusinasi kita"
"Aku pikir setelah dia pingsan dan kita buang kesungai, ia akan tenggelam dan hanyut sampai membusuk" jelas sekali nada amarah terselip dalam suara Rio. Mengingat bagaimana kelakuan Pak Rangga selama ini yang membuat nyawa orang lain bagai mainan
"Apa yang akan kita lakukan selanjutnya?"
"Perlukah kita mencari dan membunuhnya lagi?" Usul Rio yang langsung dihadiahi tendangan di bagian tulang kering oleh Qais
__ADS_1
"Dia sepertinya masih mengumpulkan kuasa. Karena tak mungkin semua orang percaya begitu saja kalau dia sudah kembali"
"Karena itu sebelum ia kembali berkuasa, bukankah lebih baik kita membunuhnya saat dia lemah"
"Rio" nada suara Qais berubah, seperti ada hal yang cukup sulit untuk dikatakan
"Aku tak akan berani melakukan itu lagi, aku sudah berjanji pada diriku sejak aku ingin menjadi lebih baik"
"Lalu kamu ingin dia melapor pada polisi dan kita dipenjara?!" Nada suara Rio naik satu oktaf, seperti kesal dengan keputusan Qais
"Kita bisa melaporkan dia dengan kasus yang lebih berat, aku yakin hakim akan menjatuhinya hukuman mati. Bukti yang kita kumpulkan sudah lebih dari cukup untuk menjeratnya dalam jeruji besi selamanya"
"Kalau dia melapor, apa dia punya bukti?" Lanjut Qais lagi "Kalaupun ada, aku anggap dia melakukan tindakan yang bodoh"
"Lalu apa yang harus kita lakukan padanya?"
"Lindungi saja diri kita dulu dan orang terdekat, aku takut dia membalaskan dendam dengan cara itu" Qais berdiri menciptakan derit kursi di keheningan ruangan itu, ia menepuk punda Rio dan menarik sesuatu ditelinga laki-laki itu
"Anting itu untuk perempuan, laki-laki tak memakai hal seperti ini" ucapnya melihat anting jepit, untung tak membuat lubang, karena mungkin telinga Rio akan robek akibat tarikan Qais tadi
"Aku sering melihatmu mengamati salah satu anak fakultas kedokteran, dia sepupu istriku. Apa perlu kukenalkan?"
"Cih, dia bahkan juga menyukaimu" Rio berdecih
"Tapi aku tidak, cintaku hanya untuk istriku" balas Qais
"Biar kuberitau bagaimana caranya, perempuan seperti itu jangan dirayu Rio, tapi rayu tuhannya sama seperti caraku mendapat istriku" Qais menepuk pundak laki-laki itu sebelum akhirnya keluar dari ruangan gelap itu, menyisakan Rio yang termenung dengan pikirannya.
__ADS_1
.