
Gemersik dedaunan pohon yang tertiup angin menjadi irama pengantar malam dengan suara katak dan cacing tanah yang berpadu. Hewan nokturnal mulai keluar dari sarang mereka untuk mencari makan demi bertahan hidup kala sebagian penghuni bumi yang lain sudah terlelap dengan alam mimpi mereka
Melihat jam yang menunjukkan pukul setengah satu dini hari, Layla menguap lebar dan mendengus kesal mendengar bel rumahnya yang berbunyi keras. Ia melirik disamping tempar tidur, Qais tidak ada disana. Tapi Qais punya kunci cadangan jika ingin masuk, jadi ia berpikir kalau jelas bukan laki-laki itu yang memencet bel seperti itu
"Sebentar!" Teriaknya cukup keras agar orang itu berhenti memencet bel hingga mengganggu tetangga disebelah mereka
Ceklek
Suara pintu terbuka membuat Layla bisa melihat Gabril yang sedang merangkul seseorang yang sedang menunduk dan merancau tak jelas
Tanpa aba-aba, Gabril masuk dan melepas Qais di sofa begitu saja
"Kak Qais" Layla terkejut melihat kondisi suaminya yang babak belur dengan lebam berwarna keunguan disekitar pelipis dan bibir
"Kak Ila" Gabril memegang pundak sepupunya itu seraya menggelengkan kepala. Anak dari Regan dan Kirana itu membimbing Layla untuk duduk disofa seberang yang tak ditempati Qais
"Katakan, apa laki-laki itu setiap malam seperti ini?!" Tanyanya dengan penekanan. Ia tak mungkin membiarkan Layla menderita karena laki-laki seperti Qais. Terlepas dari ibunya yang sudah menganggap Layla sebagai anaknya, ia juga menganggap Layla sebagai kakak perempuan yang harus ia lindungi
"Gabril, tolong jangan beritau siapa-siapa" Layla menatap laki-laki itu dengan penuh permohonan
"Tidak.." Layla memegang tangan laki-laki itu sebelum Gabril sempat menyelesaikan ucapannya. Layla menggeleng pelan
"Ini pertama kalinya" jawab Layla yakin walau sebenarnya ia pun kurang tau mengenai Qais
"Apa dia menyakitimu?" Layla menggeleng dengan tegas. Qais tak pernah menyakiti fisiknya
"Tolong jangan beritau siapapun, karena itu akan menjadi kehancuran dalam rumah tangga kami"
"Seharusnya dari awal laki-laki ini tidak bersamamu kak, dia bukan laki-laki baik"
"Jangan mengatakan itu lagi!, hanya Allah yang pantas menilai baik buruknya manusia" tekan Layla pada kalimatnya. Ia tak suka ketika seseorang menyebut suaminya bukan laki-laki baik, walau mungkin itu benar dalam pandangan manusia. Karena menurutnya, baik atau buruk seseorang pasti ada penyebabnya dan ia belum menemukan penyebab itu dalam diri Qais
__ADS_1
"Tolong jangan beritau siapaun Gabril, cukup kamu yang tau"
Gabril menghela nafasnya panjang kemudian beralih menatap Qais yang entah bergumam apa
"Jika aku melihatnya seperti ini lagi atau berani menyakitimu, ku pastikan ia terbaring di ranjang rumah sakit" Layla hendak membantah, tapi langsung mengangguk saat melihat Gabril masih menahan emosi
"Sekarang pulanglah, jangan buat orang tuamu mengkhawatirkanmu dirumah. Aku tau kau pasti diam-diam kabur" Gabril mendengus tapi tak urung bangkit dari tempat duduknya menuju pintu keluar
Dengan pandangan rumit dan tak dapat diartikan, Layla menghampiri Qais dan menangis disamping laki-laki itu. Sungguh, ia sangat kecewa melihat Qais seperti ini. Tapi ia tau pasti ada alasan dibalik itu yang tak ingin Qais ceritakan padanya. Sebenarnya rumah tangga seperti apa yang sedang mereka jalani saat ini?. Saling menyembunyikan sesuatu tanpa pernah sekalipun berniat untuk membuka diri
"Kak Qais" Layla mengompres wajah lebam laki-laki itu dengan air es
"Aku tak pantas untuknya" kalimat itu meluncur keluar dari bibir Qais begitu saja. Kalimat yang sedari tadi terus digumamkan
"Aku harusnya sadar, kalau aku tak pantas"
"Kak Qais" Layla menepuk pipi laki-laki itu lumayan keras, menurut yang ia baca diinternet cara paling mudah untuk meredakan mabuk adalah dengan air putih hangat
"Minum dulu" Layla membantu Qais bangun dan meminum air yang dibawanya
"Aku malah semakin berhalusinasi melihatmu. Ila, aku mencintaimu tapi aku tak mungkin pantas untukmu" rancau Qais yang masih menganggap dirinya berhalusinasi
"Sadarlah Kak Qais, ini bukan halusinasi. Tapi aku memang istrimu" Layla mengguncang tubuh laki-laki itu. Tanpa sadar ia terisak pelan
"Tolong hiks jangan seperti ini lagi" Layla sudah tak tau akan mengatakan apa. Kecewa, sedih dan marah, berbagai perasaan itu campur aduk dalam hatinya
Pusing, itu yang dirasakan Qais saat membuka mata, ia mengedarkan pandangannya sekeliling dan tempat ini seperti tak asing, ia memijit pelipisnya pelan dan menyadari lengannya terasa berat. Laki-laki itu menoleh kesamping dan refleks bangun dari tidurnya yang membuat kepalanya semakin pusing. Layla tak kalah terkejut karena merasakan pergerakan tiba-tiba yang membuatnya langsung membuka mata
"Kak Qais baik-baik aja?" Layla menatap laki-laki itu yang diam dan menunduk
"Maaf"
__ADS_1
"Maaf Ila, aku jadi orang yang gagal bimbing kamu. Aku gagal jadi imam yang menuntun makmumnya. Seharusnya dari awal aku sadar dengan diri aku sendiri. Tidak egois dengan perasaanku tanpa memikirkan bagaimana perasaanmu. Seharusnya aku menyadari kalau hati tak bisa dipaksakan karena hanya akan menyakiti satu sama lain"
"Memang benar.." Qais menatap Layla yang mengatakan itu, kemudian kembali menunduk. Sejujurnya ia sakit mendengar itu secara langsung
"Tapi Kak Qais lupa sesuatu kalau Allah tak mungkin menyatukan kita kalau kita tak berjodoh. Kita bukan bertemu lalu berjodoh, tapi karena berjodoh lalu kita bertemu"
"Kadang takdir Allah tak bisa diduga-duga. Yang pasti ada hikmah dibalik semuanya. Yang kita perlu yakin, kalau apa yang diberikan Allah artinya itu yang terbaik untuk kita"
"Bohong kalau mengatakan aku tidak kecewa dan marah malam itu, tapi aku sadar artinya itu yang terbaik dari Allah untukku"
"Kamu tak pantas dengan seorang pendosa sepertiku Ila, aku bahkan lupa kapan terakhir kali aku belajar ilmu agama"
"Sejujurnya aku kecewa tadi malam. Karena Kak Qais memilih menenangkan diri dengan minuman haram itu daripada mendekatkan diri pada-Nya"
"Aku kecewa karena Kak Qais memilih pelampiasan pada tempat yang haram, daripada bersujud diatas sajadah"
"Maaf"
"Apa Kak Qais mau berubah? Bukan karena diriku, tapi karena hati Kak Qais benar-benar ingin lebih dekat dengan pencipta"
"Apa Allah mau mengampuni semua dosaku? Aku makhluk yang kotor Ila"
"Ampunan Allah lebih luas daripada langit bumi beserta seluruh isinya, ia mengampuni hambanya yang bertaubat dengan sungguh-sungguh dan kembali pada jalan yang benar"
"Dosa apapun itu?" Tanya Qais sekali lagi yang dibalas anggukan oleh Layla
"Termasuk membunuh?" itu hanya kalimat yang mampu Qais ucapkan dalam hati
"Dosa apapun kecuali menyekutukannya"
"Dari hati kita harus berjanji tak mengulangi itu lagi dan dengan sungguh-sungguh meminta pengampunannya"
__ADS_1
.
Banyak Typo...😭🙏