
Menjelang sore, panas matahari terasa menyengat. Jalanan beraspal sudah pasti membuat seseorang tak akan tahan menginjakkan kaki tanpa alas. Jalanan cukup lenggang sebelum masuk waktu asar itu. Diseberang jalan, ia melihat seorang perempuan berlari, melihat jas yang sama dengan kampusnya, bisa dipastikan kalau mereka satu kampus. Biasanya Rio abai, apalagi ditengah cuaca panas ini, tapi justru motornya menuntun mengejar seseorang yang diduga pencopet, sudah pasti pelaku itu berhasil ditangkapnya walau ada sedikit perlawanan yang tentu dimenangkan Rio
"Kalau mau uang itu kerja! Jangan nyopet orang!" Bentaknya pada si pencuri. Orang itu berdiri tertatih dan lari dengan kaki pincang, sepertinya pukulan Rio membuat dia keseleo
"Terima kasih pak" ucapan perempuan itu membuat Rio mengernyitkan alisnya
"Pak?" Ulang Rio sekali lagi untuk memastikan pendengarannya
"Bapak?" Perempuan itu malah mengulangi ucapannya
"Aku bukan bapak kamu" Jawab Rio mendengus dan mengembalikan tas perempuan itu yang langsung diambil
"Kak" ulangnya lagi
"Aku bukan kakak kamu"
"kalau gitu kenalin namaku Zara, nama kamu siapa?" Zara menangkupkan tangan didepan dada
"Anggrio Dion Prataya, panggil saja Rio" Zara nampak memperhatikan wajah laki-laki didepannya lebih jelas kemudian teringat sesuatu
"Ohhh temennya Qais ya?" Serunya langsung saat teringat wajah yang tak asing itu
"Kenal Qais?" Zara mengangguk kemudian menggeleng kemudian mengangguk lagi membuat Rio heran
"Kenal" jawabnya ragu-ragu
"Qais anak bisnis kan?" Tanya Rio untuk memastikan
"Iya"jawab Zara
"Kalau gitu kenapa tadi manggil bapak?" Rio sepertinya masih tersinggung perihal panggilan pertama Zara padanya
"Maaf, soalnya tadi dari belakang kukira bapak-bapak" jawab Zara meringis malu
"Terus kenal Qais dimana?" Zara terdiam sejenak, Rio melihatnya seperti menimbang-nimbang sesuatu
"Dia suami sepupuku artinya dia juga adik iparku" ekspresi Zara sudah tertebak oleh Rio, nyatanya nada cemburu dan tatapannya terlalu terlihat jelas
__ADS_1
Rio hanya menganggukan kepala, ia pikir itu adalah pertemuan pertama dan terakhirnya dengan gadis jurusan kedokteran itu, nyatanya mereka sering bertemu dalam kondisi tak disengaja dengan kasus yang hampir sama saat seseorang ingin mengambil barang gadis itu. Bahkan Zara pernah mengobatinya akibat pisau yang dibawa sang pencuri tak sengaja mengenai lengannya. Rio menolak segala kode hatinya, tapi pada akhirnya ia tak bisa bohong pada perasaan sendiri. Ia sering melihat gadis itu dari kejauhan walau fakultas mereka sendiri terbilang cukup jauh juga. Dan sialnya lagi, Qais mengetahuinya dan menyarankan sesuatu yang jarang sekali Rio lakukan, apalagi kalau bukan menghadap sang pencipta.
.
Awan kelabu menghias langit malam dengan pekat, semakin menciptakan suasana gelap gulita. Rembulan yang biasanya bersinar dengan jutaan bintang kini tersembunyi karena awan mendung yang seperti siap menumpahkan air hujan
Angin berhembus pelan, sedikit menyejukkan malam yang terasa lebih panas dari biasanya. Tirai berwarna biru tua melambai terkena angin karena jendela yang dibiarkan sedikit terbuka oleh sang pemilik kamar. Suasana gelap gulita, hanya lampu tidur yang nampak menyala diatas nakas
"Kalau dipikir-pikir lagi, takdir kita aneh ya" Laila membuka pembicaraan dengan menatap Qais didepannya yang hanya terhalang meja kayu bundar. Pasangan itu memilih menatap langit kelabu padahal jam sudah menunjukkan pukul setengah dua belas. Waktu yang sering dihabiskan manusia untuk overthinking dengan memikirkan bagaimana hidup kedepannya
"Aneh? Maksudnya?" Qais menatap istrinya yang kini memusatkan pandangannya pada luar jendela. Melihat beberapa lampu teras rumah yang dibiarkan menyala oleh si pemiliknya
"Aneh aja menurutku, Kak Qais tiba-tiba muncul menghadang ditengah jalan saat aku ngehindarin razia, trus malah langsung ngegombal, keliatan banget playboynya" kekeh Layla
"Dari sekian banyak perempuan yang aku temui, hanya kamu yang menganggapku playboy" Qais menarik pelan telinga istrinya membuat Layla mengaduh dan tertawa
"Tapi kalau di ingat-ingat lagi, itu lucu juga" Qais meneguk air putih digelas kemudian tertawa pelan
"Apalagi saat itu kamu malah bilang mau diculik om-om" Layla tertawa dan kembali melihat langit malam yang semakin larut
"Aku penasaran, kenapa Kak Qais bersikap kayak gitu, padahal itu kayak pertama kalinya ya kita kenal?" Tanya Layla sembari mengingat-ingat kepingan memori otaknya
"Memangnya sebelum itu kita pernah ketemu?" Layla malah menggaruk kepalanya bingung
"Kamu nggak inget, sekitar tiga belas tahun lalu" jawab Qais
"Emmm mungkin" lanjutnya kemudian menampirkan cengirannya
"Tiga belas tahun lalu? Kayaknya aku masih TK"
"Memang, saat itu kita ketemu. Kamu nggak inget?" Layla berusaha mengingat-ingat kepingan memori yang sudah tertimbun tiga belas tahun lalu
"Hah aku ingat, anak SD yang pake baju acak-acakan dan mulut belepotan itu ya?" Tebak Layla yang tak meleset sama sekali
"Kenapa harus inget bagian itunya, harusnya inget kalau saat itu aku juga udah ganteng"
"Idih, Kak Qais narsis" Layla tertawa kemudian terdiam saat teringat sesuatu
__ADS_1
"Kenapa?" Tanya Qais yang menyadari perubahan raut wajah istrinya
"Tiba-tiba aja jadi kangen bunda kalau keinget itu, saat itu padahal bunda keliatan baik-baik aja" ucap Layla menerawang ingatannya
"Orang tua nggak mungkin nunjukkin rasa sakit didepan anak-anaknya" jawab Qais
"Besok gimana kalo kita ziarah ke makam bunda? Aku nggak pernah kesana" lanjut Qais kemudian
"Boleh, besok sore gimana?" Tanya Layla yang diangguki Qais
"Emm Kak Qais" Layla seperti ragu untuk bertanya
"Kenapa?"
"Sejak kita nikah, aku nggak tau gimana cerita orang tua Kak Qais, Kak Kenzo cuma bilang kalau mereka meninggal karena kecelakaan"
"Maaf kalau ini membuat Kak Qais terluka, tapi kalau nggak dijawab juga nggak papa kok" ucap Layla buru-buru saat melihat keterdiaman suaminya
"Nggak papa, kejadiannya juga udah lama"
"Tapi yang perlu untuk kamu tau, mereka tidak meninggal karena kecelakaan tapi dibunuh dengan sadis" Layla menutup mulutnya tak percaya, apalagi Qais mengatakan itu tanpa ekpresi sama sekali
"Aku menjadi saksi bagaimana kedua orang tuaku ditembak karena haus kekuasaan, itu yang menyebabkanku menjadi pribadi seperti ini"
"Artinya Kak Qais tau siapa yang bunuh mereka?"
"Tau, kalau kamu tau maka kamu juga tak mungkin percaya"
"Siapa?" Tanya Layla penasaran
"Belum saatnya untuk kamu tau, akan ada saat yang tepat untuk mengungkap segalanya"
"Artinya iblis yang dimaksud Kak Qais adalah dia? Kak Qais kan pernah bilang kalau The Devils itu dibangun untuk anak-anak yang menjadi korban dari yang mereka sebut iblis" Qais menganggukan kepalanya menjawab pertanyaan itu
"Ila, jika dimasa depan kamu mengetahui semua hal yang buruk tentang masa lalu ku, apa kamu masih mau menerimaku?"
"Manusia punya fase dalam hidupnya. Tak terus menerus benar atau terus berada dalam kesalahan, manusia makhluk yang tak pernah lepas dari dosa. Demikian halnya masa lalu, sesuatu yang sudah berlalu. Cukup tinggalkan dan jadikan pelajaran untuk masa depan, bukan untuk terus dikenang"
__ADS_1
"Jadi jawabannya?"
"Iya, kenapa enggak. Sekarang Kak Qais adalah imamku yang akan membimbing ku. Kita jalani saja untuk hari ini dan kedepannya. Masa lalu cukup dijadikan pelajaran untuk berubah jadi lebih baik"