Atas Nama Jodoh

Atas Nama Jodoh
Bab 50 : Bela dan Bilal


__ADS_3

Dibalik jendela yang menghubungkan dengan halaman yang nampak asri, seorang pria paruh baya menatap rintik demi rintik air hujan yang turun dari langit, jatuh ketanah membasahi bumi. Saat mendengar suara sambungan telepon diterima, ia langsung mengalihkan pandangannya pada sofa, tempat yang diduduki anak laki-lakinya. Ia memberi kode untuk memperbesar suaranya, suara yang sangat dirindukannya


"Halo, Assalamu'alaikum" suara salam dari seberang sana


"Wa'alaikumussalam. Kamu diapartemen?" Pertanyaan pertama yang Bilal tanyakan pada adiknya yang kadang bisa pulang di akhir tahun atau hari raya


"Nggak, aku di India" jawaban yang membuat Naufal dan Bilal tak percaya


"Kenapa disana? Mau jadi rakyat prindavan kamu?"


"Aku butuh liburan, ditempat yang sunyi" jawaban Layla yang menurut Bilal tak masuk akal sama sekali


"Sunyi apanya? Suara pawai klaksonnya kedengaran sampai disini" Terdengar kekehan adiknya dari seberang sana


"Sepertinya aku memang butuh ini" jawaban adiknya yang membuat Bilal turut merasakan


"Tentang surat resign itu jadi kamu tuliskan? Ayah katanya nggak sanggup liat kamu jauh-jauh disana" Naufal melotot tapi tak digubris oleh Bilal


"Masih belum kuserahin tapi udah kutulis"


"Serahin cepat, balik ke negara sendiri jangan terlalu lama di negara orang sampa lupa bangsa dimana kita dilahirkan" jawab Bilal dengan nada Nasionalisnya yang keluar


"Iya. Bilang sama ayah jangan banyak pikiran terutama mikirin aku, aku baik-baik aja disini. Kalau udah resign aku langsung pulang" Bilal mengalihkan pandangan pada ayahnya, sudah pasti ayahnya sedih dengan semua peristiwa ini


"Iya nanti kubilangin. Jaga kesehatan disana, Assalamu'alaikum"


"Wa'alaikumussalam"


"Dia baik-baik aja ayah, bahkan bisa sampai ke negara orang sendiri"


"Ayah khawatir Bilal, adikmu sedang mencari suara berisik untuk menghibur hatinya yang sunyi. Tapi tetap dia butuh seseorang untuk mengisinya"


"Ammar terus bertanya, tapi sepertinya dia trauma dengan rasa cinta" tebak Bilal


"Apa kau tak dapat merasakannya? Dia bukan trauma, tapi hatinya masih tertaut untuk satu laki-laki yang pernah hidup bersamanya"

__ADS_1


"Maksud ayah adalah Qais?" Naufal memukul kepala putranya dengan gulungan koran diatas meja


"Memang berapa kali adikmu menikah dan hidup bersama orang lain?"


"Masih ada dua tahun lagi sampai hukumannya berakhir. Tapi aku kasihan dengan Ammar, walau kukatakan beberapa kali untuk menyerah, ia masih kekeh pada pendiriannya"


"Biarkan adikmu yang memberi jawaban padanya. Laki-laki sepertinya bisa mundur saat mendengar langsung dari orang yang dicintainya"


"Kenapa bukan ayah yang nelpon langsung?"


"Kalau ayah yang nelpon langsung, dia bakal selalu bilang baik-baik aja. Lagipula ayah baru selesai nelpon dia tadi malam, ayah takut dia merasa terbebebani" Bilal menghela nafasnya panjang dan memijit pelipisnya pelan


Ia melihat layar handphonenya diatas meja menyala, ia mengambil benda pipih itu dan melihat panggilan masuk dari istrinya


"Aku mau jemput Bela dulu ayah" Naufal mengangguk dan kembali menatap rintik hujan yang belum menunjukkan tanda akan reda


"Ila, maaf kalau aku gagal menjaga putri kita"


.


Bilal keluar dari mobil dengan menggunakan payung, hujan deras belum menunjukkan tanda reda. Ia memasuki sekolah menengah pertama yang menjadi tempat istrinya mengajar, Bella lebih memilih jadi Guru Biologi daripada Bilal yang fokus pada pertanian untuk mengaplikasikan ilmunya


"Itu udah tugasku, jangan merasa terbebani kayak gitu, aku ini suamimu"


"Iya pak suami" Bela tertawa dan Bilal dengan mesra merangkul pundak istrinya agar tak basah terkena hujan


Setelah berbagai kode yang diberikan namun tak kunjung membuat Bela paham apa maksudnya seperti saat Bilal mengatakan


"Aku tak ingin kamu sendiri lagi"


Bela malah beranggapan kalau Bilal ingin ia tinggal dipanti asuhan, karenanya ia jadi sedikit segan meminta tolong pada Bilal karena berpikir ia terlalu merepotkan. Akhirnya Bilal kembali melakukan hal yang sama, saat ini ia yakin kalau Bela pasti mengerti. Karena itu sepulang Bela bekerja, ia sengaja menunggu dan mengajaknya ke tepi danau buatan yang tak begitu ramai sore itu, karena awan mendung mungkin mereka berpikir akan turun hujan. Disanalah Bilal kembali mengatakan dengan lebih jelas maksudnya


"Izinkan aku mendampingimu dan menjadi imammu, jadilah makmumku dan biarkan aku yang membimbingmu"


Tapi bukannya terharu atau dengan bahagia menerima, jawaban Bela justru membuat Bilal menjatuhkan rahangnya tak percaya

__ADS_1


"Sebenarnya aku udah sholat asar tadi sebelum pulang, kalau jadi imam sholat magrib gimana?"


Hingga Bilal sampai berani bercerita pada ayahnya, memang sedikit membantu tapi tentunya setelah ditertawakan dulu sampai puas


"Mungkin Bela mengerti maksudmu, hanya saja dia takut kamu hanya bermain-main dan berakhir salah paham, karena itu ia pura-pura tak tau"


"Tapi bisa juga Bela tak terlalu mengerti dengan istilah seperti itu, hidupnya yang keras seperti yang kamu bilang, membuatnya terbiasa secara gamblang tanpa banyak istilah-istilah seperti itu. Hanya kalimat sederhana tanpa makna ambigu yang mempunyai lebih dari satu makna itu yang biasa ia dengar"


Bilal mengangguk saat Naufal mengatakan itu, hingga saat itu ia menunggu Bela bekerja yang kebetulan mendapat sift sore, artinya pulang saat jam sembilan malam. Saat itulah tanpa ragu, Bilal mengatakan maksudnya tanpa istilah apapun


"Menikahlah denganku"


Kalimat yang membuat Bela terdiam menatapnya


"Menikah, menjalin rumah tangga, hidup sebagai suami istri.."


"Aku tau tanpa perlu kau jelaskan maksudnya, tapi apa kamu sungguh-sungguh mengatakan itu untuk perempuan sepertiku?"


"Memangnya kamu kenapa?" Bilal mengernyitkan alis tak mengerti


"Aku anak broken home, aku pernah jadi preman pasar dan aku juga cuma pelayan kafe biasa"


"Aku tidak menilai dari semua itu, aku hanya ingin kamu tanpa melihat latar belakang itu"


Akhirnya resmilah mereka bersama di tahun terakhir perkuliahan, saat itu Layla marah-marah tak jelas karena tak dikenalkan sejak awal dan tiba-tiba saja sudah menikah. Walau begitu ia bahagia melihat kakaknya bahagia, doanya agar kejadian yang terjadi padanya tak terjadi juga pada kakaknya.


"Athala nggak rewel kan?" Bela bertanya saat sudah masuk dalam mobil. Athala anak laki-laki mereka yang baru berusia dua tahun


"Dia sedang tidur"


"Aku nggak enak sama ayah, gimana kalau dia bangun dan nangis"


"Ayah justru senang, dia tak merasa kesepian. Ada yang menemani, dia bahkan kadang lebih pintar mengurus Athala dari kita" Bilal sedikit terkekeh diakhir kalimatnya, mungkin karena Naufal terbiasa mengurus Ia dan Layla dari kecil, apalagi setelah kepergian bundanya


.

__ADS_1


Bentar lagi end..😅😌


Menurut kalian Ila sama Qais gimana?


__ADS_2