Atas Nama Jodoh

Atas Nama Jodoh
Bab 43 : Jalur Hukum


__ADS_3

PLAKK


Kepala Layla tertoleh ke samping akibat tamparan yang lumayan keras itu. Tak sampai disitu Ratu menarik paksa jilbabnya sampai terbuka membuat auratnya yang begitu dijaga kini terlihat. Layla berusaha merebut kain penutup kepalanya yang kini sengaja semakin dibasahi oleh teman-teman Ratu


"Memangnya hubungan apa yang kamu punya dengan Qais sampai mengklaim kalau dia milikmu?" Tanya Layla menatap Ratu tanpa peduli kalau Ratu menatapnya dengan tatapan remeh


"Yang pasti lebih dari hubungan dia dengan kamu" tunjuk Ratu dengan pongahnya membuat Layla tertawa


PLAKKK


Tangan Layla mendarat mulus diwajah Ratu setelah ia selesai mengatakan itu


"Aku pikir kamu pintar, ternyata cukup bodoh, tidak tau diri dan tidak punya malu" ucap Layla tanpa takut


"Maksud kamu?" Ratu bertanya dengan nada marah


"Qais tak pernah mengakuimu, hanya kamu yang mengakui dirimu sendiri, pantaskah satu perasaan sepihak itu disebut hubungan spesial?" Tanya Layla dengan sedikit kekehan


"Jangan sok tau kamu" meskipun sedikit terdiam sebentar akhirnya Ratu menjawab dengan nada tinggi


"Kalau begitu bisa jelaskan, hubungan apa namanya itu?"


"Kami pacaran" jawab Ratu dengan cepat


"Hahahaha, sempat-sempatnya kamu bercanda disaat seperti ini. Apa kamu sedang bermimpi sekarang?" Layla bertanya dengan nada ejekan diakhir kalimatnya


"Kurang ajar!" Ratu geram dengan segera ia menjambak rambut Layla sedangkan dua temannya yang lain memegang kedua tangan Layla hingga ia tak bisa berkutik


BRAKKK


Pintu kamar mandi tadi yang sengaja dikunci kini terbuka paksa. Qais masuk kedalam dan melihat keadaan istrinya yang basah kuyup dan rambut acak-acakan


"Qais ini tidak seperti yang terlihat, dia yang lebih dulu melakukan ini padaku" kebohongan Ratu tentu tak akan membuat Qais percaya saat ia tau bagaiman liciknya perempuan itu, juga mustahil bagi istrinya sendiri untuk memulai hal tak berguna seperti tadi

__ADS_1


"Dia bilang cemburu karena melihat kita sering bicara" jawab Ratu


"Dia bahkan menamparku" Ratu menunjukkan pipinya yang memerah pada Qais yang kini membuka jaketnya untuk dipasangkan pada istrinya


"Kenapa istriku melakukan hal tak berguna seperti itu saat dia bahkan bisa meminta suaminya sendiri untuk melakukannya? Dan satu lagi, kapan kita pernah bicara? Bahkan kita mungkin tak saling kenal"


Ucapan Qais membuat mereka terkejut, terlebih perlakuan laki-laki itu pada Layla


"A apa?"


"Yang kamu perlakukan seperti ini adalah istriku, kami sudah menikah. Jadi atas dasar apa kamu memperlakukan istriku seperti ini?" Suara bentakan Qais membuat ketiga orang yang tadi membuly itu seketika terdiam


"Qais, jangan bercanda. Ini tidak lucu sama sekali" Ratu menggelengkan kepala berusaha menolak fakta yang baru saja didengarnya


"Untuk apa aku bercanda dalam urusan seperti ini?" Tanya Qais dengan wajah datarnya. Sedangkan Layla kini sedang dibantu Nessi memakai jilbab yang lain, karena untungnya ia selalu membawa cadangan dalam tasnya. Nessi juga yang melapor pada Qais saat ia sadar pintu kamar mandi tak bisa dibuka dan terdengar suara gaduh dari dalam. Ia takut terjadi apa-apa pada Layla karena sudah lumayan lama tapi belum kembali. Lorong sekitar juga cukup sepi karena mahasiswa kebanyakan memilih kamar mandi yang berbeda, juga jam masih pagi hingga tak banyak yang datang. Untungnya Qais masih didepan Fakultas Teknik sedang berbincang entah dengan siapa, dan ekspresi laki-laki itu langsung berubah mengerikan


"Kamu pikir aku tidak tau saat kamu menyuruh orang lain untuk menyakitinya? Kamu rela mengeluarkan banyak uang untuk membuat dia menderita, kamu pikir aku tidak tau?"


UAS sebenarnya sudah selesai, Layla kesini hanya ingin mengembalikan buku yang dipinjamnya, sedangkan Qais mengatakan akan mengurus beberapa hal dengan anak buahnya yang lain sebelum libur


.


"Mana yang sakit?" Layla menggeleng saat pertanyaan itu ditanyakan Qais yang kesekian kalinya


"Maaf, harusnya tadi aku dateng lebih cepat"


"Tidak masalah, aku juga sempat membalasnya tadi" Layla terkekeh sendiri saat ingat tangannya sampai sakit karena menampar wajah Ratu


"Harusnya biar aku yang melakukannya, tanganmu sampai memerah seperti ini" Qais malah fokus kepada rasa sakit yang mungkin dirasakan Layla


"Maaf, ini karena aku gagal. Harusnya aku tidak membiarkan ini terjadi padamu" Layla menggelengkan kepala tanda tak apa


"Kak Qais tadi bilang kalau Ratu menyuruh orang lain untuk menyakitiku, maksudnya?" Qais menghela nafas sejenak

__ADS_1


"Kamu tak mungkin lupa orang-orang yang berniat buruk padamu dimalam saat kita dinikahkan paksa karena kesalahpahaman warga"


"Orang itu suruhan dia?" Layla nampak terkejut sampai menutup mulutnya


"Iya, dia yang melakukan itu"


"Dia bisa terkena pasal karena membahayakan nyawa orang lain, bahkan termasuk pembunuhan berencana"


"Astagfirullohaladzim"


"Karena itu, aku akan membawanya ke jalur hukum. Buktinya sudah banyak, kejahatannya tak bisa diteloransi lagi. Biar polisi yang menanganinya"


"Kak Qais tau kalau Ratu itu saudara tiri Nessi?" Qais mengangguk. Bagaimana ia tak tau kalau ayah mereka yang membuat ia kehilangan orang tuanya


"Aku sempat bertanya pada Nessi, ternyata Nessi juga melihat orang yang sama dengan apa yang kita lihat malam itu. Orang yang mirip dengan wajah ayahnya Nessi"


"Apa ada kemungkinan kalau dia masih hidup?" Qais bahkan ragu sekarang. Apa benar orang itu belum mati?. Mereka memang tak membunuhnya langsung saat itu, sebuah tembakan mengenai dadanya dengan darah yang mengucur setelah itu mereka membuangnya di sungai yang mengalir deras juga mobilnya agar seolah-olah kecelakaan. Mereka pikir ia tak akan selamat, tapi kemungkinan besar jika ada orang baik yang menolongnya


"Kalau dia masih hidup, sulit kemungkinan untuk membawa Nessi kejalur hukum. Ayahnya pasti bertindak, apalagi aku dengar dari Nessi kalau ayahnya begitu memanjakan anak tirinya"


Qais terdiam, memikirkan sesuatu untuk menyambungkan kepingan puzzle peristiwa-peristiwa yang terjadi saat ini.


"Jika membawa Ratu kejalur hukum bisa membuat orang itu keluar dari persembunyian dan membuka identitas dirinya yang sudah kembali. Maka, mudah untuk memasukkan mereka berdua sekaligus"


"Satu tindakan dengan begitu dua kasus itu selesai" batin Qais yang menyusun rencana dalam kepalanya


"Assalamu'alaikum" sedang termenung dengan pikiran masing-masing, dua orang itu sedikit terkejut suara salam terdengar dari luar


"Wa'alaikumussalam" Qais yang lebih dulu beranjak dan membuka pintu


"Ayah" ia sedikit terkejut saat melihat Naufal berdiri didepan pintu juga Bilal dibelakangnya. Qais mencium tangan ayah mertuanya dan mempersilahkan masuk, sedang Qais dan Bilal nampak bingung sendiri harus bagaimana, Bilal adalah kakak iparnya tapi usianya bahkan lebih tua dari laki-laki itu. Jadinya Qais hanya mengulurkan tangan yang disambut Bilal. Namun, tanpa diduga Bilal mencium punggung tangannya mungkin karena beranggapan kalau Qais lebih tua darinya, membuat Qais melakukan hal yang sama


"Kenapa kalian berdua berdiri seperti orang bodoh berpegangan tangan disana?!" Akhirnya suara Naufal menginterupsi membuat mereka tersadar dan segera melepas jabatan tangan masing-masing

__ADS_1


__ADS_2