
Cahaya rembulan yang mengintip dibalik celah jendela menjadi saksi bagaimana seorang Qais akhirnya bersujud dihadapan sang pencipta. Bersujud dengan air mata yang membasahi sajadahnya. Malu, satu kata yang membuat hatinya ragu. Malu untuk kembali, malu pada perbuatannya sendiri, ia menganggap diri terlalu kotor untuk menghadap pada tuhan yang maha suci.
"Kalau terus malu untuk minta maaf, lantas apa yang kita bawa nanti jika diakhirat. Padahal hidup kita didunia ini adalah bekal untuk akhirat. Lantas, apa bekal kita jika kita terus malu untuk bertaubat pada sang pencipta yang membuka pintu taubat seluas-luasnya"
Kata-kata Layla menyentilnya hingga Qais tersadar. Benar, bukankah dunia ini fana dan akhirat kekal? Lantas jika ia terus merasa tak pantas dan malah menjauh dengan melanggar larangan Allah, apa yang akan ia bawa sebagai bekal akhiratnya?
Satu lagi kata yang mengganggu pikiran Qais
"Apakah Allah memaafkan dosanya?"
"Kita harus selalu berikhtiar sebagai manusia, ampunan Allah begitu luas, ia akan memaafkan hambanya yang tulus bertaubat. Perbanyak istigfar dan jangan mengulangi dosa yang sama. Sesungguhnya taubat sang pendosa lebih disukai Allah daripada ahli ibadah yang merasa sombong dengan amalnya" jelas seorang ustadz disalah satu kajian subuh. Setelah bersujud penuh air mata, ia memutuskan sholat subuh berjamaah di mushola komplek yang tak jauh dari rumah mereka
Qais yang mendengar itu menunduk, kenapa baru sekarang ia sadar kalau ia sudah melangkah terlalu jauh, mungkinkan Allah mempersatukannya dengan Layla untuk membuat dirinya sadar. Bukan semakin jauh tapi semakin dekat. Bukannya merasa tak pantas menjadi pemimpin dan menjauh, tapi berusaha untuk memantaskan diri menjadi pemimpin dunia akhirat
.
Suasana parkiran di kampus cukup ramai menjelang jam sembilan, mungkin karena banyaknya mahasiswa yang memiliki mata kuliah pada jam itu. Qais melepas helm dan memarkirkan motornya, ia melihat ke belakang untuk melihat Layla yang masih baru memasuki gerbang. Laki-laki itu menghela nafasnya, istrinya selalu turun di perempatan dengan alasan tak ingin dilihat banyak mahasiswa lain dan menjadi fitnah
"WOY" Rio menepuk bahunya pelan, membuat laki-laki itu tersentak kaget
"Gimana semalam? Maaf yang nganter kamu pulang itu sepupu Layla. Jadi aku nggak bisa nolak"
"Siapa?" Tanya Qais, ia mendadak tak ingat apa-apa tadi pagi. Ia hanya merasa sakit pada bagian wajahnya dan mengira itu akibat dirinya terjatuh. Layla juga tak mengatakan apa-apa tentang itu, mungkin saja ia lupa memberitau
"Gabril"
__ADS_1
"Namanya nggak asing"
"Anak geng sebelah yang sering ikut tawuran" Qais hanya menganggukkan kepalanya, ia tak begitu kenal dengan keluarga jauh Layla. Yang ia tau hanya sebagian keluarga Bramadja
"Aku harus siap nanggung resiko semisal dia lapor ke ayah Naufal" gumam Qais yang bisa didengar dirinya sendiri
"Qais" atensi itu menarik perhatian sebagian mahasiswa di parkiran, satu bulan semenjak kematian ayahnya terdengar, baru kali ini Ratu masuk kampus. Mereka berpikiri gadis itu pasti cukup tertekan
"Apa?" Qais menanggapi dengan nada datar seperti biasa, jika Layla mendengar ia mungkin tak menyangka suaminya bisa bicara seperti itu
Tanpa disadari, Qais mengepalkan tangan, ia masih memiliki dendam pribadi pada perempuan ini. Menurut pengakuan salah satu preman yang berhasil di tangkap anggota mereka, ia mengaku kalau disuruh seorang mahasiswi dengan imbalan cukup besar. Rio menunjukkan foto Ratu yang dianggap paling mencurigakan dan preman itu langsung mengangguk mengiyakan
"Kenapa pas kematian ayah, aku nggak liat kamu disana?" Terdengar menyedihkan mungkin bagi orang yang mendengarnya. Tapi bagi Qais suara itu cukup memuakkan
Ratu menunduk, mungkin malu karena banyak yang memperhatikan dan mendapat penolakan terang-terangan. Padahal tak pernah ia mendapat penolakan dari mahasiwa di kampus ini, mereka akan senang hati menerima
"Jasad ayahku belum ditemukan. Mereka pikir ia hanyut di sungai dan kemungkinan buat hidup sangat kecil" cicitnya dengan suara pelan membuat Qais atau Rio yang disebelahnya mendengus mendengar itu. Mereka pikir akan berakhir seperti yang lain? Tersentuh dan berempati padanya?
"Kamu tidak sepertinya tidak mengenal baik ayahmu sampai menyimpulkan seperti itu, harusnya mungkin dari dulu saja agar tidak banyak korban keserakahannya" suara Qais nyaris seperti bisikan yang hanya mampu didengar Ratu. Perempuan itu menatap punggung Qais yang menjauh, sesaat kemudian pandangannya teralihkan pada sesosok perempuan berhijab biru muda yang sedang asik berbicara dengan temannya dibawah pohon dan melakukan kontak mata dengan Qais, ia mengepalkan tangan. Harusnya hari itu ia mendapat kabar bahagia kalau perempuan yang ia anggap saingan yang terluka bukan berharap sosok yang menjadi tabungannya itu.
.
"Ila" panas matahari yang cukup terik membuat Layla menutup bagian atas matanya dengan telapak tangan untuk melihat dengan jelas sosok yang baru saja memanggil namanya
"Kak Zain?" Ia mengangkat alis heran melihat laki-laki itu. Ya, laki-laki yang pernah mengisi hatinya
__ADS_1
"Kenapa?" Tanya Layla. Entahlah, tapi mereka baru bertemu terbilang kemarin, dan laki-laki itu membuat suasana hatinya cukup buruk
"Aku nggak ke ponpes dan belum ketemu sama Kak Yasmin. Kalau mau, titip aja langsung sama orangnya" ucap Layla seolah peringatan sebelum laki-laki itu kembali menanyakan tentang Yasmin, sepupunya.
"Nggak, aku kesini ketemu kamu buat nanya hal penting"
"Apa?"
"Aku nggak tau ini benar atau nggak, tapi rumornya di ponpes beneran Ustadz Naufal mau nikah lagi?"
"Apa?!" Suara Layla nyaris seperti pekikan, ia menatap laki-laki itu dengan alis yang mengerut dalam
"Jangan sembarang sebar berita hoax, nggak ada berita kayak gitu" sembur Layla dengan nada tak terima. Sampai kapanpun ia hanya akan mengakui satu ibu, tak peduli walau dibilang egois sekalipun
"Jadi salah ya? Kemarin aku dengar saat ada pak kyai dari pesantren lain yang berkunjung ketemu Ustadz Hasan, yang aku denger sih kayak gitu"
"Sejak kapan Kak Zain ganti profesi jadi penguntit?" itu jelas sebuah sindirian Layla untuk laki-laki itu
"Aku nggak bermaksud kayak gitu, cuma mastiin berita itu benar atau nggak. Soalnya beritanya udah nyebar di ponpes"
"Tapi bukan aku yang nyebarin" Zain mengangkat sebelah tangannya saat Layla seolah menatapnya tajam dan menuduh sebagai pelaku
"Sejak kapan Kak Zain jadi orang kepo gini?" Layla menatap laki-laki itu dan kembali mengalihkan pandangan kedepan, arah jalan raya yang terpantau ramai lancar
"Intinya nggak ada hal kayak gitu, aku percaya sama ayah nggak pernah khianatin atau duain bunda, sekalipun bunda udah pergi" jawab Layla pelan. Gadis itu memijit pelipisnya pelan yang terasa berdenyut
__ADS_1