Atas Nama Jodoh

Atas Nama Jodoh
Bab 30 : Kesempatan itu ada


__ADS_3

Layla masih termenung memikirkan apa yang ditanyakan Qais. Benar, nama mereka sama persis dengan kisah cinta tragis ratusan tahun silam, tapi dengan alur yang berbeda. Layla dan Qais dalam syair indah pujangga saling mencintai, tapi bukan seperti itu yang terjadi di antara mereka. Atau lebih tepatnya, Layla menolak untuk mempercayai perasaannya sendiri.


Ia menatap langit-langit kamarnya yang kuning temaram dari cahaya lampu tidur, dengan pikiran melayang jauh akan hari esok. Apa yang akan ia katakan pada Zara? Apa alasan yang bisa ia berikan untuk Yasmin? Kedua sepupunya mencintai orang yang sama, namun kini dirinya yang bersama dengan orang itu.


Andai cinta dan segala tentang rasa tidak serumit ini, Layla yakin populasi manusia yang mengalami depresi pasti tidak semeningkat ini.


"Hahhhh," tanpa sadar ia menarik nafas panjang dan menoleh ke samping kanan. Sesaat kemudian, ia terkejut sendiri melihat Qais menatap ke arahnya. Reflek, ia mundur hingga hampir terjengkang ke belakang.


"Laki-laki seperti apa yang kamu suka?" tanyanya pada Layla.


"Hah?"


"Laki-laki yang rajin sholat? Ngaji? Taat ibadah? Punya ilmu agama tinggi?"


"Kenapa kamu bertanya seperti itu?"


"Karena aku ingin menjadi tipe laki-laki yang kamu suka."


"Setelah itu?" Qais mengernyitkan alisnya mendengar pertanyaan itu.


"Apalagi? Jatuh cinta dan hidup bahagia," Layla fokus menatap langit-langit kamar mendengar jawaban Qais, andaikan memang sesimpel itu.


"Nyatanya kita dan manusia lain punya hati. Dan hati itu kadang dengan kurang ajar memilih hati yang menjadi milik orang lain."


"Maksudnya?" Qais bertanya dengan mengernyitkan sebelah alisnya, membuat Layla menarik nafas panjang dan menatapnya.


"Sepupuku, Kak Zara dan Kak Yasmin, menyukaimu."


Mereka terdiam. Layla mengamati bagaimana ekspresi yang akan dikeluarkan oleh laki-laki itu. Diluar dugaan, Qais malah tertawa dengan kerasnya, membuat Layla bergidik.

__ADS_1


"HAHAHA."


"Kenapa kamu tertawa?" tanyanya.


"Aku bahkan tidak mengenal mereka. Kenapa kamu sudah takut aku menyukainya?" Layla membuka mulut tak percaya mendengar tingkat kepercayaan diri laki-laki ini. Jadi ia berpikir Layla cemburu?


"Bukan seperti itu maksudku! Kak Qais tidak akan pernah tahu bagaimana gilanya perempuan yang sudah jatuh cinta. Dan yang paling merasa bersalah di sini adalah aku, karena secara tak langsung aku menyakiti mereka." Layla sampai menendang selimut saking kesalnya.


"Ila, sebuah hubungan ada bukan karena satu hati. Tapi karena dua hati dan adanya timbal balik. Kita tidak bisa mencegah orang suka pada kita, tapi kita bisa menentukan kepada siapa kita akan memberikan hati ini. Apa kamu mengerti?"


"Yang suka kamu pasti banyak diluar sana, tapi pada akhirnya takdir menggaris kita bersama," lanjut Qais saat Layla hanya terdiam.


"Intinya kamu jangan pernah merasa bersalah karena masalah ini. Urusan orang lain patah hati adalah urusan dia dengan hatinya sendiri. Tuhan memberikan hidup ini untuk kita, kenapa kita harus memberikannya pada orang lain?"


"Apa kamu menyesal menikah denganku? Apa kamu menyesal karena aku yang ternyata datang menolongmu?" Setelah suasana sempat hening, Qais kembali bertanya pada Layla yang masih sibuk dengan pikirannya, menatap langit-langit kamar.


"Jujur, aku bukanlah orang baik, bahkan mungkin lebih buruk dari yang kamu pikirkan. Aku juga mungkin jauh dari kriteria laki-laki yang kamu impikan." Layla terdiam kala Qais mengatakan itu.


"Aku emang tidak tahu diri banget sampai memintamu jadi jodohku dengan Allah, padahal aku berlumur dosa," Qais sedikit terkekeh kala mengingat semuanya. Ia jarang sekali menghadap pada Sang Kuasa, tapi bukankah Allah terlalu baik padanya sekarang?


"Semua manusia pasti punya dosa," jawab Layla.


"Kamu tidak akan pernah tahu betapa buruknya aku," ucap Qais dengan tulus.


"Jika suatu saat nanti kamu tahu betapa buruknya aku, apa kamu masih akan menerimaku?"


"Masih ada waktu untuk merubah segalanya menjadi lebih baik. Semua wanita pasti ingin laki-laki yang sholeh untuk menjadi imamnya dan membimbing ke surga. Tapi bukan berarti tak ada kesempatan untuk berubah," kini Qais yang terdiam berpikir. Apa memang begitu?


Pagi-pagi sekali, Qais menutup mulutnya yang menguap lebar. Ia perlu terbiasa sekarang dengan segala aturan baru. Ia yang bahkan tidak mengenal shalat tahajud, kini mulai belajar, walau kantuk yang luar biasa menyerang. Saat shubuh tadi, ia bahkan malu pada Bilal yang mengumandangkan adzan dengan merdunya di masjid komplek. Bahkan, ke masjid saja mungkin hanya bisa dihitung jari dalam hidupnya.

__ADS_1


"Kamu pasti terbiasa. Laki-laki itu lebih baik sholat jamaah di masjid. Hukumnya sunnah muakkadah atau mendekati wajib. Pahalanya juga lebih besar," itu kata-kata Naufal saat mereka baru pulang dari masjid. Qais mengangguk saja, biasanya ia pasti masih nyaman dengan tempat tidur di jam seperti ini.


"Kamu harus bisa menjelaskan kesalahpahaman ini kepada keluarga besar. Aku tidak bisa membayangkan reaksi mereka, yang pastinya sulit bagi mereka untuk menerimanya secepat ini." Naufal menepuk pundaknya beberapa kali. Ia menduga kalau reaksi keluarga Bramadja kemungkinan besar kecewa atau bahkan marah karena tidak ada yang memberitahu tadi malam. Ia sendiri tidak tahu apa yang akan ia katakan, mungkin saja mereka akan kecewa padanya.


"Aku yang akan bicara pada mereka dan menanggung semua akibatnya. Kamu tidak perlu takut." Layla menggelengkan kepalanya, bukan itu yang ia takutkan, tapi ia merasa sangat bersalah pada Zara.


"BAGAIMANA BISA?!" Itu adalah reaksi yang sudah sempat Naufal duga. Mereka akan terkejut karena berita ini.


"Seperti yang dikatakan, ini adalah kesalahpahaman," ucap Naufal, masih berusaha menjelaskan dengan tenang.


"Bagaimana bisa kamu membiarkan ini terjadi? Apa kamu tidak bisa menjaga Ila dengan baik?" tanya Layla sambil menggenggam tangannya satu sama lain. "Ini bukan kesalahan ayahnya, tapi memang siapa yang bisa menduga kalau hal itu akan terjadi?"


"Maaf, tapi..." jawab Naufal, ayah Ila.


"Ayah Naufal bukan orang yang bisa memprediksi masa depan. Bagaimana ia bisa tahu kalau hal itu akan terjadi?" sela Qais. Ia bukan tipe orang yang bisa menjelaskan dengan lemah lembut setelah dituduh atau dibentak.


"Qais," tegur Naufal sambil menggelengkan kepalanya, memperingatkan laki-laki itu untuk diam.


"Tapi..."


"Ini bukan saatnya untukmu bicara. Ini diluar kendaliku sebagai seorang ayah dan manusia. Aku tak pernah tahu kalau terjadi hal itu, karena belasan tahun kami lewat jalan itu, ini adalah kali pertamanya hal seperti ini terjadi," jelas Naufal


"Lalu, apa kamu yakin kalau dia laki-laki yang baik untuk Ila?" tanya Devano, ayah dari Yusuf


Visualnya sudah di-posting oleh penulis di Instagram... 😁


Jangan lupa untuk mengikuti akun Instagram penulis di @mukarromatul28.


Koreksi typo... 🤗❤️🙏

__ADS_1


__ADS_2