Atas Nama Jodoh

Atas Nama Jodoh
Bab 48 : Mungkin bukan sekarang


__ADS_3

Malam hari yang dingin, awan mendung mulai menurunkan gerimis ringan dengan tiupan angin lembut yang cukup membuat kulit menggigil kedinginan


"Kak Qais pasti berantem lagi kan?" Qais terkekeh kemudian meringis nyeri karena luka sobek diujung bibirnya


Andai Layla tau kalau yang melakukan ini adalah Bilal, entah bagaimana reaksinya. Setelah menyelesaikan kalimatnya tadi, tiba-tiba Bilal langsung memberi pukulan pada wajahnya hingga membuatnya sampai terjatuh karena belum siap dengan serangan dadakan itu. Entah sejak kapan saudara kembar istrinya itu datang dan mendengar semuanya


"Tapi tumben nangis, apa sangat sakit?" Qais menggeleng kemudian mengangguk. Hatinya jauh lebih sakit dari luka kecil ini, saat menatap istrinya tangisnya semakin kencang sampai membuat Layla kebingungan sendiri


"Kita kerumah sakit aja ya, kayaknya sakit banget. Apa ada bagian lain juga yang sakit?"


"Disini sakit" Qais menunjuk dadanya


"Mungkin tulang Kak Qais ada yang patah disini" Qais menggeleng, ia menarik istrinya dalam pelukan. Hal yang tak mungkin bisa ia lakukan lagi


"Maaf Ila, maaf"


"Kenapa minta maaf? Kak Qais nggak salah"


Qais semakin mengeratkan pelukannya dan mengucap maaf berkali-kali


"Sebenarnya ada apa?" Layla mengusap punggung suaminya yang bergetar karena menangis


"Sebelumnya aku sudah memberitahu tentang the devils dan orang tuaku yang dibunuhkan?" Qais mengatakan itu tanpa melepas pelukannya sama sekali


"Iya pernah"


"Aku membunuh orang itu Ila" Qais dapat merasakan tubuh istrinya menegang, tapi ia tak melepas pelukannya malah memeluknya semakin erat


"Siapa orangnya?"


"Pak Rangga, ayahnya Nessi" Layla ingin melepas pelukan itu untuk melihat wajah suaminya, namun Qais tak membiarkan, ia ingin terus memeluk perempuan yang dicintainya sebelum perpisahan mereka


"Dia melaporkanku pada polisi Ila dan aku pasti dihukum"

__ADS_1


"Tapi dia juga salah"


"Aku juga akan melaporkannya karena sudah banyak bukti yang terkumpul. Itu cukup membuatnya dihukum mati"


"Lalu bagaimana dengan Kak Qais"


"Sepuluh tahun mungkin" balas Qais masih dengan isakannya. Layla ikut menangis mendengar semuanya, ia paham kalau tak mudah bagi seorang anak melepas pembunuh orang tuanya apalagi jika ia melihat dengan matanya sendiri. Namun tindakan Qais juga tak bisa dibenarkan, ia tak ingin melakukan penghakiman dengan turut menyalahkan Qais, ia hanya menangis dan semakin mengeratkan pelukan pada suaminya yang selama ini selalu terlihat baik-baik saja


"Jangan menangis, aku semakin merasa bersalah padamu"


"Kak Qais nggak salah"


"Istriku dengarkan aku" Qais melepas pelukannya dan memegang kedua pundak istrinya


Ia menatap mata Layla yang memerah karena menangis, ia usapkan jarinya untuk menghapus air mata yang mengalir dari sana


"Jangan pernah menangis lagi"


"Bersamamu dan mencintaimu adalah hal terindah dalam hidupku. Sebuah mimpi yang tak kuduga jadi kenyataan"


"Apa maksud Kak Qais ngomong gitu?"


"Ila, hukumanku memang bisa kurang dari sepuluh tahun. Tapi tetap itu bukanlah waktu yang sedikit"


"Sayang, aku tak ingin namamu rusak karena suamimu berstatus narapidana, aku tak mau kau menyandang gelar istri seorang pembunuh" Layla menggelengkan kepalanya, tau maksud suaminya


"Mungkin ini cara Allah menegurku, mungkin dengan cara ini Allah mempermudah jalan hijrahku, mungkin dengan cara ini aku bisa jadi lebih baik dan mungkin dengan cara ini Allah sedang mengujiku" Qais menyatukan kening mereka dan menatap mata istrinya


"Yang harus kamu tau, kalau aku sangat mencintaimu. Tapi, takdir kita mungkin bukan saat ini atau hanya sampai disini"


"Aku mencintaimu istriku, aku mencintaimu Asma Layla Husna. Nama indah yang akan selalu kuingat sampai nanti"


"Aku juga mencintaimu, sangat" Qais semakin menangis, perasaan bahagia yang datang disaat yang salah

__ADS_1


"Aku bahagia mendengarnya, itu adalah kalimat indah yang ingin selalu kudengar. Aku senang saat perasaanku terbalas, tapi aku minta maaf karena gagal mempertahannya" Layla menggeleng


"Aku bisa menunggu..."


"Tidak, jangan menungguku. Raihlah kebahagiaanmu sendiri, raihlah mimpi dan cita-citamu setingginya. Aku tak ingin namamu ikut buruk karena suamimu ini"


"Biarkan takdir berjalan, jika kita memang berjodoh kembali, aku pasti jadi laki-laki paling beruntung didunia"


"Kejar mimpimu, gapai cita-citamu, hiduplah dengan baik dan..."


"Dan apa?"


"Aku tak sanggup mengatakan semoga kamu mendapat yang lebih baik dariku" Layla terkekeh kecil saat air matanya masih mengalir


"Aku minta tolong, jangan pernah temui aku didalam jeruji, karena itu akan membuatku tersiksa akibat perasaanku padamu" lirih Qais


Qais mengecup setiap inci wajah istrinya dan lebih lama mengecup keningnya sebelum mereka tak bisa lagi bersama setelah ini


"Maafkan aku, maaf"


"Bismillahirrohmanirrohim, Asma Layla Husna sekarang kamu bukan lagi istriku, aku menjatuhkan talak padamu"


Qais melepaskan pelukan mereka dan menangis sesenggukan. Layla tak dapat menahan isakannya, hingga ia merasakan seseorang mendekap tubuhnya dari belakang. Dekapan hangat yang selalu menemaninya dari kecil


"Ayah" lirihnya menatap wajah laki-laki yang begitu dicintainya itu dan menumpahkan tangis dalam pelukannya


"Sakit ayah"


"Ikhlaskan nak, benar kata Qais mungkin bukan saat ini" Naufal memeluk tubuh putrinya yang menangis tersedu, ia sedikit mengusap sudut matanya yang berair


Perpisahan adalah hal yang tak pernah ia harapkan pada pernikahan anak-anaknya. Ia tau bagaimana rasa sakitnya kehilangan orang yang kita cintai. Tapi mau bagaimana lagi, manusia tetaplah makhluk pembuat rencana, keputusan tetap ditangan sang pencipta


"Hukuman dunia tak seberapa dengan hukum akhirat, lebih baik dihukum didunia daripada akhirat. Jadikan ini sebagai intropeksi diri dan jadilah lebih baik. Buktikan saat kamu keluar nanti, kamu bukan lagi Qais yang dikenal badboy kampus" Qais mengangguk, ia membalas pelukan mantan kakak iparnya itu

__ADS_1


Bilal menepuk pundak Qais yang lebih tinggi darinya, ia tau laki-laki ini salah, tapi ia juga bangga karena Qais mau mengakui dan berjanji untuk berubah. Soal pukulan yang ia lakukan tadi sore, anggaplah sebagai pelampiasan rasa sakit yang ia berikan karena laki-laki itu yang membuat adiknya menangis


__ADS_2