Atas Nama Jodoh

Atas Nama Jodoh
Bab 22 : Dendam


__ADS_3

Waktu bagi sebagian orang adalah obat terbaik untuk peristiwa yang dirasa kurang beruntung dalam hidup. Seiring berjalannya detik, menit, jam, hari, minggu, bulan hingga pergantian tahun kadang waktu bisa mengubah segalanya, termasuk tentang hati. Belajar ikhlas, belajar menerima dan belajar untuk mengerti kalau hidup pasti penuh dengan misteri. Namun tak semua orang berpikir seperti itu, waktu mungkin berlalu tapi rasa sakit dari masa lalu tak bisa sepenuhnya hilang.Bukannya mengikhlaskan tapi tertanam menjadi dendam yang akan dibalaskan. Itulah yang dilakukan Qais Ammar Giltasa. Laki -laki yang kini menghisap rokoknya itu menatap lurus kearah rembulan malam yang indah dan tersenyum dengan gaya khasnya


"Aku tau yang aku lakukan mungkin salah. Tapi rasa sakit hatiku tak pernah hilang sebelum aku melihat laki-laki itu mati dengan mataku sendiri"


Dendam sudah menguasai hatinya. Ia jelas sadar dan tau kalau yang ia lakukan salah, tapi ia lebih memilih mendengar bisikan dendam dari hati daripada bisikan untuk berpikir dari otak


Masih teringat jelas dalam ingatannya, dengan memakai pakaian putih biru ia menenteng tas punggungnya di sebelah bahu. Dengan senyum sepulang sekolah seperti biasa, ia melangkahkan kakinya lebar, bersiap menyapa penghuni rumah seperti apa yang sering ia lakukan. Tapi, tak seorangpun nampak di rumah mewah itu. Bahkan sang ibu yang biasa duduk santai di sofa tak nampak batang hidungnyaa. Para pelayan yang biasa mondar mandir juga tak terlihat seorangpun.


Ini aneh, jelas sangat aneh. Qais baru menyadari sesuatu, bahkan satpam yang biasa berjaga didepan gerbang juga tak ada. Kenapa ia baru menyadari sekarang?


Jantungnya bergemuruh hebat, hatinya menolak kemungkinan negatif yang tiba-tiba muncul dikepalanya. Qais menggelengkan kepala, sekarang bukan hari ulang tahunnya atau hari penting lainnya. Tapi kemana semua orang rumah pergi?


Dengan jantung yang masih terpompa cepat, Qais menaiki tangga menuju kamar orang tuanya. Sejak menginjakkan kakinya pertama kali di lantai dua, keringat dingin mulai bercucuran bukan karen lelah, tapi tetesan darah yang menuju sebuah kamar dan itu adalah kamar orang tuanya.


Qais mengendap pelan, nalurinya memerintahkan seperti itu, seolah ada bahaya besar jika ia berteriak dan langsung berlari. Ditengah kegelisahan dan ketakutan hatinya, kakinya masih berusaha pelan walau sejujurnya ia ingin berlari secepat mungkin untuk melihat apa yang terjadi.


"Apa yang kau inginkan sebenarnya? Ambillah seluruh harta ini jika itu bisa membuat hatimu puas"

__ADS_1


Langkah Qais terhenti, ia hafal sekali kalau itu adalah suara ayahnya. Tapi bukan dengan mada tegas seperti biasa, melainkan dengan suara lemah dan nafas tersengal seperti menahan rasa sakit


"Harta? Aku ingin lebih dari itu. Hartamu dan kehancuranmu" terdengar tawa dari laki-laki yang entah siapa, Qais tak pernah mendengar suara itu sebelumnya


"Dasar serakah!, perbuatanmu ini akan menghancurkan dirimu sendiri"


"Hahaha, hancur? Apa kau bercanda?"


"Kau terlalu serakah untuk hidup, kau tak pernah merasa puas dengan apa yang kau miliki, kau terlalu fokus untuk mengejar fatamorgana yang penuh tipuan"


"Oowh saudaraku, apa kau sedang membaca puisi terakhirmu sebelum pergi?"


Qais masih terdiam, kepalanya bingung mencerna percakapan ayahnya dengan laki-laki itu. Ia memberanikan diri mengintip


DORRR


Tembakan yang tepat mengenai dada ayahnya membuat ia refleks ingin berteriak, tapi sebuah tangan menutup mulutnya dan membawanya menjauh dari sana. Raganya seperti mati rasa, seluruh anggota tubuhnya mendadak lemas tak bisa bergerak, pandangan matanya kosong, dan hatinya dipenuhi rasa sakit yang tak bisa dijelaskan.

__ADS_1


Kenzo yang tadi menarik adiknya juga hanya bisa ikut terdiam, ia tak tau apa yang sebenarnya terjadi, tapi ia menyadari sesuatu sejak melihat tetesan darah di lantai dua dan jelas itu bukan sesuatu yang baik. Melihat Qais mengintip dikamar orang tua mereka, ia turut menyadari kalau ada seseorang disana, hingga bunyi tembakan terdengar, gerakan tangannya refleks menutup mulut Qais agar tak ada yang tau kalau mereka mendengarnya. Ia menyurut tubuh lemah adiknya menuju ruangan disebelahnya yang kebetulan terbuka


"Qais, kakak tidak tau harus mengatakan apa, tapi mari kita tumbuh untuk menjadi kuat" Kenzo menyandarkan kepala Qais di bahunya. Sedang Qais hanya terdiam, dari posisinya tadi, ia bisa melihat jelas bagaimana wajah laki-laki itu. Laki-laki yang disebut oleh ayahnya sebagai laki-laki serakah. Ia mengepalkan tangan, ia berjanji dalam hati kalau laki-laki itu akan merasakan apa yang pernah dirasakan orang tua mereka, bahkan mungkin lebih pedih dari itu.


Suara langkah kaki terdengar menjauh, dan mereka yakin kalau orang itu memang sudah pergi. Barulah mereka keluar untuk melihat semuanya dengan jelas. Tubuh mereka merosot kelantai, dengan tangan gemetar, Kenzo meletakkan telunjuknya didepan hidung orang tuanya yang sudah dipenuhi darah disekujur tubuhnya.


"Innalilah"


Tangisan tanpa suara sudah cukup menjelaskan betapa sakit dan hancurnya mereka kala itu. Melihat sendiri bagaimana orang tua yang tadi pagi masih tersenyum dan bercanda di meja makan kini telah tiada dengan cara yang tak pernah bisa diduga. Kenzo mungkin perlahan bisa ikhlas tanpa mencari lebih jauh lagi, tapi Qais tidak bisa seperti itu, dia benci orang itu. Pembunuh yang sayangnya hingga kini masih bisa ia lihat hidup dengan baik


Jika mengadukan pada pihak kepolisian ia tak punya bukti yang kuat, bisa saja laki-laki itu menuntut dirinya balik, jadi menurut Qais lebih baik ia sendiri yang menangani sekaligus mengobati rasa sakit hatinya. Apalagi mendengar teriakan kesakitan laki-laki itu. Bukankah itu sesuatu yang menyenangkan?


.


Selamat Hari Raya Idul Fitri 1444 H teman-teman, Mohon maaf lahir dan batin...🙏🙏🙏


Maafin author yang baru bisa update sekarang...😭😭😭

__ADS_1


HP author rusak jadi perlu waktu, akun novel author juga sempat hilang ...😔😭


Apalagi kemarin kerjanya sampai malam terus, bahkan nggak sempat buat liat hp... Maaf buat yang udah nunggu dan terima kasih karena kalian ternyata masih ada yang nungguin author buat up bab selanjutnya...😭😭😭


__ADS_2