
Ujian Akhir Semester semakin dekat, mahasiswa mulai nampak rajin terlihat, karena tentu untuk mendapat nilai bagus dan tak perlu mengulang. Tapi sepertinya itu berlaku untuk sebagian besar, karena yang lain justru masih nampak santai entah karena pasrah akan nilai atau karena mereka memang sudah yakin dengan kemampuannya sendiri, salah satunya Qais. Laki-laki itu nampak berbincang dengan Rio dibawah pohon beringin fakultas teknik terlihat seperti perbincangan serius dilihat dari raut wajah mereka. Entah apa yang mereka lakukan disana, padahal jarak fakultas mereka tak kurang dari lima ratus meter
"Kayaknya suami kamu pinter banget Ila" ucap Nessi spontan saat pandangannya tertuju pada sana
"Katanya udah belajar" jawab Layla dengan pandangan yang sama
"Sombong amat" Layla menoleh pada asal suara, ia melihat Yusuf yang entah sejak kapan berdiri disebelah Nessi
"Suka banget iri sama orang"
"Kamu belain dia?" Yusuf melotot tak percaya
"Jelaslah, kenapa harus belain Kak Yusuf" jawab Layla setengah ketus
"Hatiku sakit loh denger kamu kayak gitu" Layla memutar bola mata jengah sekali lagi. Ia heran kenapa Yusuf jadi banyak drama sekarang
"Kak Yusuf ngapain disini?, perasaan Fakultas bisnis nggak pernah pindah" sindir Layla pada sepupunya yang sedang sibuk-sibuknya mulai menyusun skripsi sekarang
"Nes, untuk kejadian tadi malam aku bakal berusaha buat yakinin bundamu lagi" kini Yusuf menatap kearah Nessi yang memang terlihat sejak tadi menghindari pandangan laki-laki itu
"Aku minta maaf..." belum selesai Nessi bicara, Yusuf sudah memotong dengan menangkupkan tangan didada dan menggelengkan kepala
"Nggak, jangan bilang kamu nolak aku"
"Maksudku..."
"Aku janji bakal lebih usaha lagi"
"Iya, tapi..."
__ADS_1
"Aku..."
Kini giliran Layla yang mencubit pinggang sepupunya itu karena gemas, belum selesai Nessi bicara sudah ia potong begitu saja. Padahal belum jelas Nessi akan mengatakan apa. Layla sampai heran dengan tingkah laku Yusuf yang dikenal berwibawa itu, tak nampak sekalipun aura wibawanya saat ini
"Dengerin kalau orang ngomong sampai selesai, jangan motong-motong kayak gitu. Nggak sopan banget"
"Ila, lebih baik pukul aku deh. Sumpah, cubitanmu lebih sakit dari sengatan lebah" Yusuf masih menggosok pinggangnya yang seperti diambil kulitnya, cubitan sepupunya itu memang tak main-main
"Kak Yusuf kenapa banyak drama gini"
"Aku juga minta maaf kalau perkataan bunda bikin Kak Yusuf sakit hati. Aku mau Kak Yusuf mengerti" Nessi melanjutkan apa yang sempat ia tunda tadi sebelum pertengkaran dua sepupu itu lebih serius
"Tunggu tunggu, kok aku baru ngeh sekarang. Kalian abis ngapain kemarin malam?" Kini Layla menatap dua orang itu serius
"Kemarin malam..."
Rembulan bersinar malam itu. Menerangi malam di balik kegelapan yang terasa mencekam, seperti apa yang dirasakan laki-laki berkemeja biru muda yang baru saja memarkirkan mobilnya di pekarangan rumah minimalis yang nampak asri
"Wa'alaikumussalam" ucapnya tiba-tiba membuat orang yang disana terkejut terutama Nessi. Ia pikir Yusuf hanya bercanda yang mengatakan akan kerumahnya nanti malam saat mengantarnya pulang kampus tadi
"Eh Assalamu'alaikum" ucapnya menundukkan kepala dan langsung meraih tangan wanita yang masih nampak muda walau umurnya mendekati setengah abad
"Wa'alaikumussalam" ucap mereka kompak dengan secari garis yang tercipta disudut bibirnya. Pastilah merasa lucu melihat tingkahnya barusan
"Teman kamu Nes?" Wanita itu menatap putrinya yang belum mengalihkan pandangan dari Yusuf sejak
"Emmm..."
"Iya tante, calon temen hidup" jawab Yusuf santai dengan cengirannya, Nessi memelototkan matanya sedangkan ibunya menautkan alis bingung
__ADS_1
"Ayo duduk dulu Kak Yusuf" Nessi menarik lengan kemeja laki-laki itu sebelum pembahasan semakin jauh. Saat ibunya pergi kedapur untuk mengambilkan minum, Nessi langsung menatap laki-laki itu yang bahkan tak menunjukkan rasa bersalah sama sekali
"Kak Yusuf kenapa nggak ngomong dulu kalau mau kesini?" ucapnya pelan saambil sesekali melihat kebelakang dimana posisi ibunya tak jauh dari mereka saat ini, hanya terhalang pintu kaca yang terbuka
"Bukannya tadi siang pas nganterin kamu udah?" Nessi mengusap tengkuk belakang kepalanya, mungkin ia juga tak sadar sekarang kalau hanya memakai baju tidur doraemon
"Aku pikir Kak Yusuf bercanda"
"Sama kamu, aku nggak pernah bercanda" jawab Yusif tegas. Nessi menatap pria itu, memutar kembali ingatan awal kedekatan mereka. Kala itu saat ia masih memakai pakaian putih abu berlari dikoridor rumah sakit karena penyakit darah tinggi ibunya kambuh, ia menabrak seseorang yang ternyata adalah Yusuf. Sejak tau Yusuf sepupu Layla, entah kenapa mereka sering bertemu entah saat bersama Layla atau kala ia sendiri. Seiring berjalannya waktu, nyatanya hubungan mereka lebih dekat apalagi sejak Layla meminjam telponnya untuk menghubungi Yusuf karena telpon sahabatnya itu mati kehabisan baterai. Sejak itu, Yusuf sering mengirim pesan kemudian berasalan salah sambung. Tapi siapa sangka, laki-laki itu kini datang sendiri kerumahnya untuk menemui ibunya. Nessi pikir pembahasan Yusuf tadi siang tentang hubungan serius agar terjauh dari zina hanya bercanda. Jadi ia hanya meladeni saja, tak taunya kenapa malah seperti ini?
"Maaf ya, rumah tante sedikit berantakan" Dami, Ibu Nessi membereskan meja kaca diruang tamu itu yang penuh dengan kertas-kertas desain pakaian setelah meletakkan tiga cangkir teh dan beberapa kue ringan
"Saya paham, maaf menganggu waktu tante dengan kedatangan mendadak seperti ini" Yusuf menundukkan sedikit kepalanya merasa tak enak
"Justru itu, Nessi pertama kalinya nerima tamu laki-laki dirumah. Jadi saya juga agak terkejut" ucap Bu Dami lalu duduk disofa sebelah bersebrangan dengan Yusuf
"Oh ya? Kedatangan saya untuk silaturrohmi, berkunjung dan mengenal Nessi lebih dekat"
"Tunggu, tunggu dulu kok bunda nangkepnya ini ke arah serius ya?" Bu Dami sedikit terkekeh, sedang Yusuf menatap Nessi yang menautkan jemarinya seperti gugup
"Iya, memang seperti itu. Putri tante berhasil membuat saya nekat datang sekarang untuk menjalin hubungan lebih dekat"
"Maksudnya menikah?" Nessi yang sedari tadi diam akhirnya bersuara. Ia membekap mulutnya kemudian kala pandangan dua pasang mata mengarah pada dirinya
"Saya menghindari zina, jadi bukankah itu lebih baik" jawab Yusuf setelah berdehem karena merasa tenggorokannya tercekat
"Kenapa kamu memilih Nessi?" Bu Dami menatap laki-laki didepannya dengan dalam, pandangan seorang ibu yang begitu takut terjadi sesuatu pada anaknya
"Karena dia Nessi bukan orang lain. Saya mencintainya tapi saya tau cinta saja tak akan cukup untuk membina suatu hubungan"
__ADS_1
"Apa yang bisa membuat saya percaya dengan kamu?" Suara Bu Dami terdengar menuntut tegas, Yusuf terkesiap seperti tak menyangka perubahannya secepat itu