
Rembulan malam itu tertutup awan mendung, salah satu pertanda akan turunnya hujan. Langit terlihat lebih gelap dari biasanya karena tak ada pancaran sinar bulan atau jutaan bintang yang menghiasnya
"Besok, tepat dua puluh tahun kematian bunda kalian, kita pergi ke kuburnya sama-sama" Layla dan Bilal kompak mengangguk. Mereka berkumpul diruang tamu usai sholat magrib dan membaca Qur'an. Berbagai dekorasi yang terpasang kemarin sudah dilepaskan.
Masih dengan pakaian sholat masing-masing, kelima orang itu menatap langit dibalik jendela sementara menunggu waktu isya datang
"Diantara banyaknya keraguan di dunia ini, hanya ada satu hal yang pasti yaitu kematian" keempat orang itu kompak menoleh kearah Naufal
"Benarkan? Kematian itu adalah hal yang pasti" Mereka yang mendengarnya mengangguk setuju
"Karena itu, Allah berikan kita hidup untuk kita jalani dengan baik. Harta, pasangan, keluarga dan kenikmatan dunia ini tak lain hanya titipan. Siap atau tidak, kita akan kehilangannya. Hanya menunggu waktu cepat atau lambat datangnya"
"Ayah rindu bunda ya?" Entah kenapa setiap Naufal mengatakan hal yang berbau kehilangan, Layla dan Bilal berpikir ayah mereka sedang merasakan rindu yang dalam
"Sudah ayah katakan, rindu itu pasti setiap hari dan tak pernah berkurang sejak dia pergi. Andai kalian tidak ada sebagai penyemangat ayah. Entah bagaimana rasanya hidup ayah saat itu"
"Sekarang kalian sudah dewasa dan mendapat pasangan yang baik, bisa mengerti kalian, yang mencintai kalian dan yang pastinya bisa membuat kalian bahagia"
"Ayah merasa hutang ayah pada bunda kalian sudah lunas, saat ayah sudah bisa menjaga kalian sampai sebesar ini, bunda kalian pasti bangga jika dia masih ada saat ini. Dia akan sangat bahagia melihat kalian bahagia"
"Ayah rindu dia" Naufal berucap lirih dan mengusap air disudut matanya
"Ayah jangan nangis, kita juga ikut nangis kalau ayah kayak gini" Naufal terkekeh dan menggeleng, ia mengusap kepala Layla dan Bilal yang bersandar pada pundaknya
"Kalian sudah dewasa sekarang, jangan seperti anak kecil lagi"
"Bela, terima kasih sudah menjadi istri yang baik untuk Bilal dan menerimanya sebagai pembimbingmu" Bela yang sedari tadi diam disebelah Bilal menggelengkan kepalanya
"Justru Bela yang berterima kasih banyak pada Bilal, karena Bela sadar masih banyak kekurangan"
"Qais, terima kasih untuk cintamu pada putriku. Dia adalah tanggung jawabmu sekarang, jangan buat aku kecewa lagi" Qais mengangguk pasti
"Aku berjanji ayah"
__ADS_1
Naufal tersenyum dan mengangguk, tak lama setelahnya adzan isya berkumandang. Mereka berdiri dan kembali mengambil saf masing-masing, kali ini Naufal yang memimpin sebagai imam
Setelah rakaat kedua, hujan terdengar mengguyur deras diluar sana. Bau tanah yang terkena hujan sangat khas menenangkan. Udara semakin terasa lebih sejuk
Disujud terakhir sholatnya, Layla merasa sedikit lebih lama dari biasanya. Tak ada tanda-tanda takbir untuk bangkit, hingga beberapa saat terdengar takbir dari suara yang berbeda, bukan ayahnya, Layla kenal itu adalah suara Bilal. Berusaha terus fokus pada sholat mereka masing-masing, hingga salam terdengar sebagai akhir dari rukun sholat
"Ayah?"
"Ayah?" Bilal menepuk pundak ayahnya yang tak kunjung bangun
"Ayah?" Layla melakukan hal yang sama, tepukan yang pelan perlahan sedikit keras. Air mata Layla sudah menggenang, Bela yang disebelahnya memeluk untuk tetap berusaha tenang
Qais memberi isyarat pada Bilal, namun Bilal justru menggeleng tanda tak sanggup. Akhirnya ia yang maju, menekan leher dan meletakkan jari didepan hidung
"Inalillahiwainna illaihi roji'un"
Tak ada yang percaya, air mata cukup menjadi saksi betapa kehilangan tanpa perlu kata-kata sebagai ucapan
"Ayah bilang besok kita ke makam bunda, bukan artinya ayah pergi nyusul bunda kan?" Layla mengenggam tangan ayahnya yang masih terasa hangat. Ia menggelengkan kepala tak percaya, pelukan Naufal kemarin adalah pelukan terakhirnya. Nasihat yang Naufal beri tadi adalah nasihat terakhir untuk mereka
"Tunggu kami di surga bersama bunda, kami sayang kalian"
.
Dengan senyuman di bibirnya, seorang perempuan dengan pakaian serba hitam berjongkok disalah satu kuburan yang mulai sedikit ditumbuhi rumput liar
"Apa ayah bahagia disana?"
"Apa ayah senang udah ketemu sama bunda?"
"Kalian pasti bahagia disana kan?"
"Bahkan kuburan kalian bersebelahan" Layla terkekeh namun tidak dengan matanya yang berlinang
__ADS_1
"Aku datang lagi ayah, bunda. Aku rindu kalian, Kak Ilal akan datang nanti belakangan, dia bilang masih ada urusan dikantor. Dia yang tak pernah mau terlibat bisnis dulu, sekarang malah sibuk dengan bisnisnya"
"Cinta kalian membuatku iri, aku berdoa semoga aku bisa seperti kalian. Berpisah hanya karena maut"
"Semoga kita dipertemukan kembali kelak dalam surga-Nya. Aamiin"
"Belum selesai?" Layla mendongak untuk melihat wajah suaminya yang sudah berdiri dibelakangnya. Layla mengusap sedikit air matanya dan mengangguk
"Sudah selesai"
"Nisa sudah bangun di mobil, dia menangis mencarimu" Layla tersenyum dan bangkit. Nisa adalah anak perempuan mereka yang berusia empat tahun
"Maaf Ila tak bisa lebih lama lagi disini, Ila pulang dulu, Assalamu'alaikum" Layla berjalan kearah gerbang pemakaman sedangkan Qais kini berjongkok di samping makam keduanya
"Terima kasih sudah mempercayakan Layla untukku ayah, aku sangat mencintai putrimu. Bunda, aku juga mau ngucapin terima kasih karena dulu mempertemukan aku dengan Layla saat masih kecil walau itu karena ketidak sengajaan" Qais terkekeh kecil kemudian berdiri
"Sebegitu indahnya kisah cinta kalian, kalian berhasil membuatku iri dari kebanyakan kisah cinta yang lain"
Qais menghapus setitik air matanya yang menetes. Hanya ungkapan syukur yang ia ucapkan untuk semua yang telah tuhan berikan, mulai dari kehilangan, perpisahan, sampai hukuman dunia. Ia sadar, hal itu mengajarinya banyak hal, dan membuatnya semakin berpikir dewasa
"Atas nama jodoh yang kau gariskan untukku, aku mengucapkan banyak rasa syukur. Terima kasih sudah menjadikan Asma Layla Husna tulang rusukku, pasangan hidupku, pelengkap hidupku dan salah satu sumber kebahagiaan terbesarku"
...TAMAT...
Akhirnya End...😭😭😭
Author mau ngucapin rasa terima kasih yang sebanyak-banyaknya untuk kalian yang udah dukung novel ini...❤️❤️❤️
Rencana target author kemarin tamatnya sebelum agustus, sekarang malah diakhir agustus...🤧😅
Author juga mau ngucapin kata maaf, karena sering lama up dan banyak typo atau kalimat yang membingungkan...🙏
Maaf kalau endingnya tidak sesuai dengan ekspetasi kalian...🙏
__ADS_1
Sampai ketemu di novel selanjutnya...❤️