Atas Nama Jodoh

Atas Nama Jodoh
Bab 32 : Tak Pantas


__ADS_3

Secepat itu waktu berjalan, bagai hembusan angin, siang dan malam bagai kedipan mata yang berlalu, satu bulan usia pernikahan dan entah bagaimana Layla merasa hubungan mereka bukan semakin dekat tapi seolah semakin jauh. Diantara dia dan Qais seolah ada dinding tak kasat mata yang menahan untuk tetap di posisi masing-masing tanpa menghampiri satu sama lain


"Kak Qais dari mana?" Laki-laki itu baru pulang dari pagi saat adzan magrib selesai berkumandang beberapa menit yang lalu


"Dari rumah teman"


"Kak Qais udah sholat magrib?" Gerakan Qais yang hendak membuka pintu kamar terhenti karena mendapat pertanyaan itu


"Kenapa kalau belum?"


"Kita bisa jamaah sama-sama kalau Kak Qais belum sholat" jawab Layla, entah mengapa ia merasa kalau Qais sepertinya sedikit merasa tersinggung dengan pertanyaannya


"Udah tadi" jawab Qais setelah itu masuk dan menutup pintu kamar. Meninggalkan Layla dengan sejuta pikiran rumit yang berkecamuk dalam kepalanya


.


"Kamu turun diperempatan lagi?" Baru menginjakkan kaki didepan fakultas teknik, pertanyaan itu sudah menyambutnya dari Nessi


"Iya"


"Kenapa? Padahal apa susahnya sih minta dianterin sampai parkiran? Emangnya kamu mau jualan?" Tanya Nessi dengan berkacak pinggang


"Terus kamu mau aku dibully mahasiswi sini karena dekat sama idola mereka?"


"Emangnya kamu nggak cemburu, suami kamu liat diliat terus sama mereka?"


"Ness, kamu jelas tau gimana ceritanya sampai kami bisa nikah" jawab Layla dengan menghela nafasnya


"Aku nggak percaya kalau sampai sekarang belum ada rasa" Layla diam dan menghela nafasnya. Entahlah ia juga bingung sendiri


Angin siang yang berhembus terasa menyejukkan di tengahnya teriknya panas matahari. Suara bising klakson di lampu merah juga turut menjadi saksi bagaimana teriknya hari ini sampai mempengaruhi suasana hati orang disana. Sahutan klakson menjadi pertanda bagaimana gerahnya suasana hati mereka saat itu


"Assalamu'alaikum Ila"


"Wa'alaikumussalam Kak Zain" Layla mendongak menatap laki-laki itu. Laki-laki yang pernah menjadi bagian hatinya


"Udaranya panas banget ya hari ini" Layla hanya membalas dengan deheman

__ADS_1


"Kamu lagi nunggu seseorang?"


"Iya, nunggu Nessi. Kami ada janji ngerjain tugas bareng"


"Sekarang kamu sama Bilal nggak pernah keliatan di pondok"


"Semenjak kuliah, kita sibuk sama tugas. Jadi jarang ada waktu" sebenarnya, bukan itu alasan utama Layla sekarang. Tapi karena hubungannya dengan Yasmin yang masih terbilang tak baik-baik saja


"Kakak bisa nitip sesuatu sama kamu?" Layla sedikit mengernyitkan alisnya kemudian mengangguk kearah laki-laki itu


"Tolong kembalikan pada Yasmin" Zain mengeluarkan tasbih berwarna putih yang indah dari dalam tasnya


"Kembalikan?" Tanya Layla bingung. Ia pikir benda ini milik Zain karena ia sering melihat laki-laki itu memakainya di ponpes


"Sejak awal aku membeli, niatku benda ini sudah milik Yasmin. Jadi sekarang aku kembalikan pada pemiliknya agar aku tidak terus terbayang, karena aku sadar kalau bukan aku yang dia harapkan" Layla hanya mampu mendengar tanpa memberi tanggapan, karena jujur ia bingung harus mengatakan apa pada laki-laki ini.


"Menurutmu imam seperti apa yang diinginkan perempuan untuk membimbing mereka?"


"Setiap perempuan pasti menginginkan imam yang bisa membimbingnya dalam hal agama atau membina rumah tangga" jawab Layla yakin


"Apa menurutmu Qais bisa?"


"Karena laki-laki yang disukai Yasmin itu adalah Qais" jawab Zain saat menyadari Layla bingung dengan pertanyaannya


"Kenapa Kak Zain bertanya tentang itu, apa Kak Zain berfikir lebih baik dari Kak Qais?" Entah kenapa Layla justru tersinggung mendengar hal itu. Menganggap diri sendiri lebih baik dari orang lain bukan perilaku yang ia suka. Karena tak semua bisa dinilai dari penampilan termasuk manusia


"Jika berdasarkan pada jawabanmu, kurasa kamu pun tau. Qais, laki-laki itu adalah ketua geng motor yang hobi tawuran dan balapan. Bahkan..."


"Cukup" Layla menjeda ucapan laki-laki itu


"Aku rasa Kak Zain belum mengamalkan ilmu yang didapat di ponpes. Harusnya sebelum menilai orang lain Kak Zain pun tau kalau kita tidak boleh menilai hanya dari penampilan. Dan siapa kita yang bisa menilai manusia? Sedangkan kita saja belum tentu baik didepan tuhan yang menciptakan"


.


"Setiap perempuan pasti menginginkan imam yang bisa membimbingnya baik dalam hal agama atau membina rumah tangga"


"AKHHH"

__ADS_1


Qais terduduk dan berteriak frustasi kala kalimat itu terus terbayang dalam kepalanya. Kenapa ia menjadi seperti ini sekarang? Bingung dengan pilihannya sendiri. Ia melihat Layla berbincang dengan laki-laki ditaman, saat hendak beranjak menghampiri, kalimat itu justru terdengar keluar dari mulut Layla. Membuatnya menarik kesimpulan sendiri


Qais memegang kepalanya yang berdenyut pusing efek dari alkohol. Suara dentuman musik disekitar semakin membuat dirinya pusing. Dengan begini, ia berharap lupa akan masalahnya walau sejenak


"KAMU GILA!" Rio datang dan langsung menggebrak meja tempat Qais menangkupkan kepalanya. Ia menelpon laki-laki itu dan diangkat oleh Qais. Tapi tak ada jawaban, ia hanya mendengar suara bising hingga sudah tau dimana seharusnya laki-laki itu berada


"Aku yang menginginkannya, bahkan sampai berdoa pada tuhan. Kenapa sekarang aku menjadi seperti ini? Aku merasa tidak pantas untuknya sama sekali" ucap Qais merancau. Tapi Rio tau kalau Qais sedang mengeluarkan isi hatinya


"Baru sadar sekarang? Sebenarnya yang dihati dan pikiran kamu apa?"


"Aku mencintainya tapi aku merasa tak pantas dicintai olehnya"


"Aku merasa dia terlalu baik dan tertekan bersamaku"


"Aku merasa..."


"Itu hanya apa yang kamu rasakan!, Kamu belum bertanya apa yang dia rasakan" tekan Rio menatap laki-laki itu. Ia ikut frustasi melihat Qais seperti ini


"Apa perlu aku bertanya? Kalau jawabannya sudah pasti" lagi-lagi Qais terkekeh seperti orang gila


"Kamu bukan orang yang bisa dengar suara hati, kamu hanya menilai dari pandanganmu saja. Coba kamu tanya apa yang dia rasakan? Apa kamu pikir dengan kamu menjauh dia akan baik-baik saja? Hah?!"


"Aku tidak menjauh"


"Lalu apa namanya ini? Pergi pagi dengan alasan ke kampus dan pulang saat matahari terbenam. Setelah itu pergi lagi tengah malam, coba kamu pikir apa dia nggak sakit hati liat kamu kayak gini?"


"Pulang dan bicara sama dia. Jangan jadi pengecut yang lari dari masalah kayak gini" ucapnya mencoba mengangkat tubuh Qais untuk berdiri


"Kamu cuma bikin masalah kamu tambah rumit dan buat dia semakin kecewa sama kamu"


"Dari awal mungkin dia udah kecewa sama takdirnya karena milih aku sebagai pasangan" ucap Qais terkekeh


Rio tak peduli dengan racauan itu, ia meletakkan tangan Qais di bahunya dan menggiring laki-laki itu keluar


"BUGH" belum sampai pintu, seorang laki-laki tiba-tiba melayangkan pukulan kearah Qais hingga membuat laki-laki itu terjatuh karena Rio yang tak siap menahan beban tubuhnya


.

__ADS_1


Maaf kalau banyak Typo teman-teman. Maaf kalau ada penempatan kata yang kurang tepat...🙏😭


__ADS_2