Atas Nama Jodoh

Atas Nama Jodoh
Bab 55 : Kembali


__ADS_3

"Hah? Suami?" Layla mengulangi pertanyaan Qais yang membuat laki-laki itu mengangguk kebingungan


"Iya, anak laki-laki ditaman tadi..."


"Astagfirulloh, itu anak Kak Bilal" baru sekarang Layla mengerti kalau pertanyaan Qais sejak ditaman tadi memang ambigu. Jadi dia berpikir itu adalah anaknya? Padahal wajah Athala lebih mirip ke ibunya daripada Bilal. Hanya matanya saja yang berwarna sama dengan Layla.


"Anak Bilal? Jadi..."


"Aku belum nikah Kak Qais" Layla geregetan sendiri memberitau, Bilal dan Bela hanya cekikikan sedangkan Naufal hanya tersenyum menggelengkan kepalanya


"Alhamdulillah" Qais bersyukur dengan kerasnya, hampir ia mengguncang bahu Naufal yang duduk disebelahnya, tapi ia urungkan dan kembali menunduk


"Ila, apa kau mau bersamaku lagi? Kita mengulang masa disaat kita bersama, kali ini dengan lebih baik lagi"


"Nggak nanya dulu, Ila udah punya calon atau belum?" Tanya Bilal, Qais kembali mendongak terkejut. Ia lupa akan hal itu. Jadi, apakah ia sudah terlambat? Tapi sebelum terjalin ikatan resmi masih bisa kan ia tikung? Padahal hatinya sudah bahagia tapi dihempaskan begitu saja


"Tapi belum halalkan?" Tanya Qais. Ia berbalik menghadap Naufal dan memegang tangan mantan ayah mertuanya erat


"Ayah, izinkan aku kembali bersama putrimu. Aku berjanji menjaga dan membimbingnya menjadi imam yang baik"


"Kenapa tidak kamu tanyakan pada putriku? Apa dia masih mau lagi bersamamu setelah semua kejadian itu?" Qais perlahan menatap wajah mantan istrinya yang duduk disebelah Bilal

__ADS_1


"Ila, apa kamu mau membuka hatimu untukku lagi?"


"Maaf kalau aku mungkin terkesan memaksa, namun asal kau tau bahkan namamu tak pernah absen dalam doa ku. Aku tersiksa menghadapi semuanya, tapi yang paling membuatku tersiksa adalah saat kamu bukan lagi halal untukku" Layla tertegun. Apa mungkin itu yang membuat dirinya juga tak mudah melupakan Qais?. Ia pernah dengar, jodohmu mungkin bukan orang yang selalu kau sebut namanya dalam doamu, tapi siapa yang paling sering menyebut namamu dalam doanya. Ibarat Layla meminta melupakan Qais, tapi Qais berdoa lebih sering sebaliknya


"Terimalah nak, jika memang hatimu masih sama. Kalian sudah sama-sama dewasa untuk mengerti. Bukan lagi remaja labil seperti enam tahun lalu. Sekarang bukan waktunya lagi bermain-main seperti ini. Kesampingkan ego dan emosi kalian, masa dewasa bukan masanya lagi permainan seperti itu" Naufal menepuk bahu Qais dan menatap putrinya


"Aku tak pernah bisa bohong tentang perasaanku, enam tahun itu sulit untuk lupa walau aku ingin. Jadi, tolong bimbing aku dengan baik, jadilah imamku yang bisa membimbingku menuju surga-Nya"


"Pasti" Qais mengangguk dengan yakin, lebih yakin dari enam tahun lalu


"Aku akan belajar lebih banyak lagi" jawabnya semangat tanpa keraguan sama sekali


"Tapi, apa kamu tak malu dengan statusku yang mantan seorang narapidana?" Bahu Qais merosot lagi, mantan napi, nama itu seperti akan terus tersemat dalam dirinya bagai gelar kriminal. Kebanyakan orang menganggap kalau mereka orang jahat dan tak pantas hidup, padahal bisa saja jeruji besi membuat mereka belajar dan lebih baik lagi


Qais tersenyum dan mengangguk, hal yang paling ia syukuri, Allah masih menjaga hati seorang Asma Layla Husna untuknya. Enam tahun dalam jeruji besi yang dingin, hal yang paling ia takuti keluar saat hatinya belum sembuh dan tak bisa melupa. Ia berdoa, jika memang Layla ditakdirkan untuk dirinya persatukan kembali mereka, namun jika memang bukan ajari ia untuk ikhlas. Mencoba lupa namun Qais tak akan pernah bisa, nama Asma Layla Husna seperti sudah mengikat dengan hatinya


.


Tak membutuhkan waktu yang lama dari malam itu, berjarak enam hari saja kini taman bagian depan rumah sederhana itu disulap sebagai tempat duduk para tamu undangan untuk menyaksikan acara sakral, pengucapan janji suci yang dilakukan pasangan yang pernah bersama namun harus berpisah. Menurut Layla ini terlalu cepat, tapi Naufal bilang semakin cepat semakin baik, untuk menghindari dosa zina sebelum menikah


Pernikahan yang tak megah, hanya sederhana dengan tamu undangan yang tak kurang dari seratus orang. Layla yang meminta, karena bagaimanapun juga, ia mengerti Qais pasti belum siap bertemu banyak orang

__ADS_1


"Padahal aku duluan yang ketemu Rio, kenapa kamu yang duluan nikah?" Sewot Zara sambil memeluk sepupunya itu erat


"Jodoh dan masa depan kan nggak ada yang tau" balas Layla


"Paman Darren udah restuin Rio?"


"Udah, walau sempat adu urat akhirnya setuju juga apalagi pas denger kamu juga balikan sama Qais"


"Jadi, pas bilang kemarin tinggal dua bulan di acara Nessi itu belum dapat restu?" Tanya Layla mengingat percakapan di hari itu


"Iya, cuma rencananya kalau ayah nggak setuju aku tetap maksa" Layla ingin sekali menoyor sepupunya yang berprofesi sebagai dokter itu. Tapi mengingat acara ini ia tak mungkin melakukan itu


"Putri ayah sudah besar dan dewasa sekarang, kamu sudah menemukan pendampin. Jadi istri yang baik dan hamba yang selalu taat pada perintah tuhannya" Naufal mengelus kepala Layla yang berbalut hijab putih dengan hiasan bunga kecil diatasnya, ia lalu berbalik dan menatap Qais


"Untuk kedua kalinya aku titipkan putriku padamu. Jangan sakiti dia lagi, saat melihatnya menangis aku merasa gagal menjadi ayahnya" Qais mengangguk dengan tersenyum


"Jangan katakan itu, ayah tetap yang terbaik" Layla menggeleng tak terima mendengar itu


"Sekarang tanggung jawab ayah sudah berpindah lagi, kali ini jadikan hubungan kalian yang dulu sebagai pelajaran. Belajar dari kesalahan yang dulu kalian lakukan, ayah berdoa semoga kalian tetap bersama sampai maut yang menjadi jurang pemisahnya" Layla menghapus air matanya, pernikahan impiannya seperti orang tuanya, bagaimana setianya cinta Naufal hanya untuk ibunya yang telah pergi


"Aku berjanji, hanya Layla yang jadi pendampingku sampai maut menjemputku, ayah bisa percaya padaku" Qais mengenggam tangan Naufal, membuat pria paruh baya berusia hampir enam puluh itu tersenyum

__ADS_1


"Ayah percaya padamu Qais, tolong jangan kecewakan ayah"


"Aku tak akan membuat ayah kecewa"


__ADS_2