
Angin sore berhembus mengantarkan udara dingin yang cukup membuat tubuh menggigil. Kemilau senja pada cakrawala mulai menampakkan jingga. Air tenang sungai yang nampak dalam, menjadi pusat pandangan seorang wanita berhijab hitam dan sang putri yang berdiri disebelahnya
"Dia sudah pergi bu, tuhan telah mengambilnya"
"Apa kamu tidak sedih? Apa kamu tidak merasa kehilangan?"
"Ada atau tidak ada dia di dunia ini, tetap tidak ada bedanya bu" Jawab Nessi dengan pandangan datar kearah air sungai yang nampak dalam dibawah sana. Jembatan itu menjadi saksi bagaimana semalam seseorang terjatuh menghantam tebing dipinggir sungai. Terlihat dari pagar pembatas dan mobil yang masih dibawah, sedangkan sang korban entah pergi kemana. Tapi melihat kondisi, orang sudah pasti berpikir ia tak selamat dan terbawa arus.
Garis polisi masih terpasang dengan rapi dan orang-orang datang silih berganti untuk melihat atau sekedar memotret hingga menjadi sampul koran esok hari atau berita yang viral di media sosial
"Dia ada tapi aku tak pernah dianggap ada bu. Jadi apa bedanya kalau dia tidak ada?" Ibu Raya hanya diam tanpa membalas ucapan putrinya. Benar, tapi kenapa ia tak rela walau pernah disakiti?
"Jatuh cinta boleh bu, tapi tolong jangan bodoh dengan itu"
"Kau benar, dan tolong jangan seperti ibu. Biarkan ibu sendiri yang bodoh karena cinta pada laki-laki seperti dia, kamu jangan. Cari pasangan yang baik bukan seperti ayahmu"
"Luka ini biarlah ibu sendiri yang merasakan. Jangan sampai kamu juga kena"
Nessi menghela nafas panjang dan menggelengkan kepala. Ia sudah tak tau ingin mengatakan apalagi pada ibunya. Tadi pagi berita di Televisi mengejutkan mereka, "salah seorang pengusaha terkenal menabrak pembatas jembatan dan terguling jatuh kedalam jurang" itulah judul berita yang menghebohkan mereka tadi pagi
Berbondong-bondong wartawan langsung datang ke lokasi kejadian, petugas kepolisian dan pihak terkaitpun dengan sigap memasang garis polisi untuk penyelidikan dan pencarian korban yang diduga terbawa arus
.
"Nessi pasti juga merasa kehilangan walau ia tidak menunjukkan apa-apa" Layla menatap siaran berita ditelevisi. Beritanya masih tentang seputar kecelakaan pengusaha yang cukup terkenal di negri ini
"Untuk seorang anak yang tak pernah mendapat kasih sayang ayah, kehilangan seperti apa yang ia rasakan? kasih sayang?, Bukankah sebelumnya juga sudah hilang. Lantas apa bedanya?"
"Darimana Kak Qais tau tentang itu?"
"Yusuf" jawaban yang langsung terlintas dipikiran Qais. Tanpa sadar kebohongan mulai tercipta untuk menutup kebohongan yang lain
Layla mengangguk saja, antara yakin atau tidak. Tetapi mengingat hubungan Nessi dan Yusuf yang memang cukup dekat, ia percaya
__ADS_1
"Maaf untuk kedua sepupumu" ucap Qais tiba-tiba
Layla melihat sebentar kearah laki-laki itu dan kembali memusatkan perhatian pada televisi didepannya yang masih menyorot mobil yang terperosok kedalam sungai
"Harus mengatakan apalagi? Semua sudah terjadi"
Sudah bisa ditebak bagaimana reaksi Zara dan Yasmin. Mereka sakit hati tapi tak menunjukkan secara langsung, seperti kebanyakan perempuan pada umumnya yang memilih menjauh karena merasa dihianati hingga tanpa sadar hubungan saudara mereka merenggang. Padahal sudah dikatakan jelas kalau ini adalah kesalahpahaman, tapi untuk perempuan yang sakit hati tak peduli apapun alasannya, hati mereka akan terus menyangkal dengan berbagai alasan
.
Udara dingin menyapu permukaan kulit, hembusan angin pagi terasa begitu menyejukkan, suara burung mulai terdengar kala mentari mulai mengintip dari ufuk timur
"Kak Qais udah sholat?" Layla menatap laki-laki yang meringkuk di sofa ruang tamu
"Udah" jawabnya dengan suara serak khas bangun tidur
Layla mengangkat sebelah alisnya, kenapa ia ragu dengan kata-kata itu? Ia menggelengkan kepala untuk menepis pikiran itu. Tak baik berperasangka buruk untuk hal yang belum pasti
"Suka aja. Aku mandi dulu, nanti kita berangkat kuliah bareng" setelah mengusap kepalanya laki-laki itu pergi dan meninggalkan Ila dengan banyak pertanyaan. Qais seperti menyembunyikan sesuatu
.
Seperti dugaan, Nessi tak masuk kuliah hari ini. Berita kematian pengusaha terkenal di negri ini menyebar secepat hembusan angin. Berita ini menjadi perbincangan hangat para mahasiswa, tentu karena anak pengusaha itu menuntut ilmu ditempat yang sama dengan mereka. Tentu yang dimaksud bukan Nessi tapi Ratu dan Rendi. Bahkan mungkin tak mahasiswa lain yang tau kalau Nessi juga anak dari pengusaha itu
"ILA!" Ammar berteriak memanggil dirinya ketika baru keluar dari kelas, sepertinya laki-laki itu sudah menunggu dari tadi
"Kita perlu bicara" Layla sudah mengerti arah pembicaraan ini, entah siapa yang memberitahunya, tapi ia yakin ini tentang status barunya
"Bisa bicara disini saja?" Sejujurnya Ila takut karena pastinya membuat laki-laki yang sudah menjadi sahabatnya itu kecewa. Tapi siapa yang tau bagaimana takdir manusia berjalan?
Ammar menatap sekelilingnya, cukup banyak mahasiswa berlalu lalang ditempat itu
"Kita bicara di taman belakang, kurasa pembicaraan ini tak baik didengar orang lain"
__ADS_1
Tanpa menjawab apapun Ila mengikuti langkah laki-laki didepannya menuju tempat yang dimaksud. Taman belakang yang lumayan teduh dengan pohon beringin besar yang menaungi tempat itu. Dedaunan kering banyak berjatuhan, berterbangan tertiupa angin yang seolah menyambut kedatangan mereka
"Apa..."
"Kenapa harus laki-laki itu?" Belum sempat Ila menyelesaikan pertanyaannya, Ammar sudah menyela dan menyatakan maksudnya
"Memangnya kenapa kalau dia?"
"Kamu tidak mengenalnya dengan baik. Dia bukan laki-laki yang baik Ila. Dia ketua geng motoe terkenal, hobinya tawuran dan balapan liar. Apa kamu pikir bisa bahagia dengan laki-laki kayak gitu?"
"Kenapa enggak bisa?. Dia memperlakukanku dengan hormat sebagai wanita, dia juga tidak menyakitiku" jawab Layla dengan yakin
"Apa dia juga berhasil menjadi pemimpin yang baik. Bukannya kamu pernah bilang, kalau bakal milih suami yang paham agama dan bisa bimbing kamu jadi lebih baik?"
"Apa Qais begitu? Apa dia menjadi laki-laki yang kamu mimpikan?" Pertanyaan beruntun terus Ammar lontarkan seolah tak percaya dengan apa yang tak sengaja didengarnya tadi karena percakapan ayahnya dan Naufal
"Takdir manusia itu sudah dibuat Ammar. Manusia hanya makhluk yang bisa merencanakan. Hasilnya tuhan yang menentukan"
"Sebaik apapun rencana kita, bagaimanapun kita berdoa, Allah tetap tau yang terbaik untuk hamba-Nya. Karena yang kita doakan belum tentu baik untuk kita, tapi yang Allah berikan sudah pasti yang terbaik" Ammar terdiam membisu, ia tak dapat membantah kata-kata itu
"Jika dia menyakitimu, ada sahabatmu disini yang selalu bersamamu. Biar aku yang memberikan pelajaran pada laki-laki itu langsung" Layla tersenyum dan mengangguk samar, Ammar tidak marah dan menjauh seperti dugaannya. Laki-laki itu tetap menjadi sahabat yang layaknya saudara.
.
Maaf baru bisa up sekarang teman-teman...🙏🙏🙏
Beberapa hari ini author banyak pikiran jadi nggak bisa fokus nulis, kalau dipaksain yang ada ceritanya bikin bingung dan banyak kosa kata yang kurang tepat seperti bab-bab sebelumnya...🙏😭
Author ngucapin terima kasih sebanyak-banyaknya buat kalian yang masih setia baca cerita ini...❤️❤️❤️
Sampai jumpa ...😁
Semoga kalian sehat selalu
__ADS_1