
Cahaya rembulan menerobos masuk melalui celah ventilasi udara, sedikit memberikan penerangan pada ruangan gelap yang kini dihuni dua manusia yang sibuk dengan pikirannya masing-masing
"Apa kau takut?" Setelah cukup lama hening, akhirnya satu dari dua laki-laki itu bersuara, ia menatap temannya dengan pandangan sulit diartikan
"Sejujurnya memang aku sempat merasa bersalah saat kita membunuhnya, tapi melihat dia masih hidup sekarang justru aku menyesal tidak langsung menembak jantungnya saja" ucapnya dengan sedikit kekehan diakhir kalimatnya
"Bagaimana Rio? Kita bisa saja mengancamnya untuk tak membeberkan bukti itu pada polisi dengan menggunakan banyak kejahatannya. Tapi aku tak rela kalau dia berkeliaran seperti orang tak berdosa sama sekali"
"Lagipula aku yakin dia akan mendapat hukuman mati atau penjara seumur hidup, sedangkan kita mungkin paling lama lima sampai sepuluh tahun" Rio menarik nafasnya panjang dengan pandangan tertuju pada Qais
Hari ini semuanya mendadak runyam, Pak Rangga yang mereka pikir sudah tiada nyatanya sekarang kembali bahkan tadi pagi berita digemparkan dengan dia yang muncul lagi didepan publik setelah dikabarkan meninggal, terlebih kata-katanya yang mengatakan akan segera melaporkan siapa yang melakukan ini, bahkan ia dengan jelas mengatakan tentang rekaman CCTV itu. Qais tau, itu dilakukan dengan sengaja, agar Pak Rangga merasa dia yang menang dalam permainan ini. Tapi, Pak Rangga tak pernah tau bukti apa yang juga mereka simpan
"Disaat aku merasa bahagia dan menemukan tujuan hidupku, kenapa b*j*ngan itu kembali lagi?"
"Lalu apa yang harus kita lakukan?" Rio sampai meremas rambutnya frustasi
__ADS_1
"Jika kita tertangkap, mungkin apa yang kita miliki sekarang hilang. Entah itu cinta, teman atau bahkan mungkin keluarga. Tapi jika kita membiarkan dia terus berkeliaran, entah hidup berapa banyak orang yang akan terancam" Qais menutup wajahnya dengan kedua tangan. Disaat ia mulai berhijrah menjadi lebih baik, kenapa ujiannya terasa semakin berat?
"Kita bisa saja mengancam dengan bukti yang kita punya, tapi itu tidak adil Rio, kesalahannya berlipat-lipat bahkan sampai membuat hilang beberapa nyawa. Sedangkan kita hanya kasus pembunuhan gagal, apa itu pantas?" Tanpa sadar Qais menitikkan air matanya. Bingung dan amarah menjadi satu dalam hatinya. Pilihan yang begitu sulit
"Aku sudah menyatakan perasaanku padanya Qais, bahkan sudah mengenal dekat kedua orang tuanya. Apa aku sanggup kehilangan dia lagi?" Qais menatap Rio dengan pandangan rasa bersalah
"Maaf, aku yang mengajakmu melakukan ini. Jika tidak, mungkin kamu masih bisa hidup dengan tenang. Aku bisa mengaku kalau itu semua rencanaku, aku akan bilang kalau kamu tidak tau apa-apa dan hanya menuruti perintahku" Rio menggelengkan kepalanya mendengar itu
"Jangan gila Qais. Kita teman yang seperti saudara, dan saudara tidak akan meninggalkan saudaranya hanya demi hati yang belum tentu ia miliki" Qais menarik lengan Rio dan memeluknya erat. Mungkin tak ada yang pernah menyangka, dua orang yang dikenal badboy itu kini menangis. Menumpahkan beban hati mereka, keputusan sudah diambil. Tak mungkin mereka egois membiarkan laki-laki itu berkeliaran, walau pada akhirnya mereka harus rela merasa kehilangan
.
Dilihatnya dua sajadah bahkan sudah terbentang, ternyata Qais menyiapkan semuanya, tak menunggu lama ia mengambil air wudhu dan mukena untuk sholat bersama. Dalam setiap gerakannya juga lantunan takbir yang keluar dari bibir Qais, Layla berucap syukur karena dipertemukan dengan laki-laki itu, laki-laki yang mau belajar dan membimbingnya. Qais melakukan hal serupa, tapi ia menangis karena hatinya sakit membayangkan kalau mungkin ini detik-detik terakhir kebersamaan mereka
"Ya Allah, apa ini adalah ujian hijrahku atau sebuah karma yang aku tuai dari perbuatan yang aku lakukan? Aku seorang hamba yang lemah ini memohon ampun atas segala dosaku bila memang ini balasan perbuatan kejiku. Namun jika ini caramu menguji hijrahku, jadikan aku kuat menghadapinya, kuatkan imanku dan teguhkan hatiku pada agamamu. Kuatkan hatiku untuk rasa kehilangan yang mungkin menyakitkan, engkau maha mengetahui segalanya, berikan aku yang terbaik. Jika itu mungkin sebuah perpisahan, tolong kuatkan hati kami, aamiin"
__ADS_1
Doa Qais pada sepertiga malamnya, ia hanya berharap yang terbaik, terbaik untuk dirinya dan untuk istrinya.
.
Publik dibuat gempar dengan berita kembalinya pengusaha yang sempat dikabarkan meninggal dunia, Pak Rangga menghiasi layar televisi dikebanyakan stasiun berita, ia langsung diserbu berbagai pertanyaan netizen yang tentu sebagian besar tentang apa yang sebenarnya terjadi
"Saya masih hidup, saat itu saya memang hanyut disungai tapi diselamatkan seorang nelayan. Kematian saya juga direncanakan, saya akan membuat laporan beserta bukti kalau orang itu adalah pelaku yang akan menerima hukuman seberat-beratnya"
Kalimat Pak Rangga dalam cuplikan wawancara yang membuat geger publik dan penasaran tentang apa yang sebenarnya terjadi disini? Banyak netizen yang penasaran tapi Pak Rangga berkata akan menjadikan ini hanya sebuah kejutan besok
"Aku nggak nyangka dia masih hidup, tapi aku nggak heran kalau ada orang yang mau bunuh dia, malah aku mau berterima kasih sama orang itu. Sayangnya aku juga kecewa, kenapa dia nggak mati aja?" Nessi mengatakan itu dengan kalimat datar tapi tatapan matanya tak pernah bisa bohong, penuh luka dan rasa kecewa
"Bagaimanapun juga dia ayah kamu Nes, terlepas bagaimana sikap dia sama kamu dulu" Layla memeluk sahabatnya dan menepuk punggungnya pelan beberapa kali
"Pantaskah aku menyebut dia ayah Ila? Sedangkan ia mungkin bahkan tak pernah menganggap aku anaknya" Nessi menangis menenggelamkan wajahnya di leher Layla yang masih memeluknya. Mereka ada di pinggir danau buatan yang terbilang sepi karena memasuki waktu siang, beda cerita lagi kalau sore pastinya sudah ramai pengunjung
__ADS_1
"Aku sakit hati dengan dia, apalagi mengetahui kalau bundaku belum juga bisa melupakan laki-laki itu. Laki-laki yang membawa luka dan trauma hingga aku takut untuk percaya lagi pada laki-laki" Layla menggelengkan kepalanya mendengar itu
"Aku benci dia walau dia ayahku, dia bukan cinta pertama anak perempuan untukku, bahkan cinta terakhir juga tak akan ada untuknya. Dia manusia yang tak pantas menerima cinta. Dia hanya manusia egois berhati iblis yang hanya memikirkan dunia dan segala hartanya"