Atas Nama Jodoh

Atas Nama Jodoh
Bab 52 : Aku pulang


__ADS_3

Diketinggian puluhan ribu kaki dari permukaan bumi, burung besi itu terbang dengan kecepatan rata-rata 900km/jam, melintasi langit biru yang cerah, dan awan putih yang nampak tak seindah dilihat dari bawah


Diketinggian ribuan meter itu, perempuan berhijab coklat muda mengamati bagaimana luasnya samudra membentang, bagaimana kecilnya manusia, dan hanya secuil daratan dibanding lautan yang nampak


Seiring pandangannya yang tertuju pada bawah sana, pikirannya terus bertanya, apakah siap? Siap kembali ketempat penuh kenangan, siap kembali ke tempat yang menorehkan luka. Mungkin sulit rasanya, tapi ia sudah katakan pada dirinya untuk berhenti berlari dan berbalik menghadapi. Enam tahun bukan waktu singkat, tapi seperti tak cukup untuk menyembuhkan luka yang berselimut atas nama cinta


Meninggalkan negeri Paman Sam, resign dari pekerjaan dan gaji yang diimpikan banyak orang tak membuatnya merasakan banyak kehilangan, walau ada beberapa teman kerja yang menyayangkan hal itu, karena pastinya ada cerita diantara mereka


Suara pramugari terdengar, memberitaukan para penumpang untuk bersiap-siap dan merapikan meja, karena pesawat akan mendarat sebentar lagi


Menginjakkan kakinya kembali ditanah kelahiran setelah terakhir pulang beberapa bulan lalu saat hari raya, merasakan udara tanah air yang terasa sedikit dingin karena memasuki musim penghujan, awan mendung membuat terik matahari tak sepanas terakhir kali ia kesini


Tak ada yang ia beritau mengenai kedatangannya, biarlah ini menjadi kejutan terutama untuk ayahnya, ia mengatakan akan pulang tiga hari lagi tapi hari ini ia sudah di tanah air


Dengan menyeret koper dan tas berukuran cukup besar, ia menuju jalan dimana biasanya banyak taksi berhenti, dan benar saja tak sampai tiga menit, sebuah mobil berhenti didepannya. Layla menghela nafas lega, tapi kemudian sedikit mengernyit karena mobil itu nampak tak asing sama sekali, dan begitu kaca mobil terbuka, ia tak percaya melihat siapa yang ada disana


"Kak Yusuf?"


"Ila?!" Yusuf seperti tak percaya melihat sepupunya disini


"Kamu di Indonesia?" Pertanyaan yang jelas konyol menurut Layla, padahal ia sudah dilihat langsung dan malah balik bertanya


"Cepat naik, kita bicara dimobil" ucapnya saat sadar pemberhentiannya mendapat teguran dari mobil dibelakangnya


Layla mengangguk, ia memasukkan koper ke garasi di bantu Yusuf, harusnya tak ada yang tau agar menjadi kejutan, tapi ada untungnya juga karena ia tak perlu mengeluarkan uang lagi untuk naik taksi


"Kok kamu bisa disini? Paman Naufal bilang tinggal tiga hari lagi"


"Aku juga nggak nyangka bakalan secepat ini untuk ngurus semuanya, jadi ya maju dari hari perkiraan" Yusuf mengangguk-anggukan kepala mengerti


"Hubungan kakak sampai Nessi udah sejauh mana"


"Kami akan nikah dua minggu lagi" Layla tersedak air yang diminumnya


"Kenapa nggak ada yang ngasih tau aku?!" Tanyanya tak terima


"Kamu sibuk di negera orang, rencananya mau dikasih tau saat tinggal tiga hari" jawab Yusuf santai


"Gila, aku nggak tau apa-apa tentang ini"


"Terus Kak Zara gimana?"


"Dia jadi dokter dirumah sakit"

__ADS_1


"Bukan itu, maksudku apa dia juga udah punya calon?" Zara begitu terpukul saat tau Rio juga terlibat, padahal laki-laki itu sudah berjanji padanya akan membuat dia bahagia jika mereka bersama


"Paman Darren udah ngenalin dia beberapa kali, mulai dari dokter, pebisnis, sampai pilot. Tapi Zara tetap nggak mau dengan alasan fokus dan ingin melanjutkan spesialis" Layla mengangguk mengerti. Di Amerika ia jarang bertukar kabar dengan Zara, selain karena jam yang berbeda, kesibukan masing-masing juga alasannya


"Mungkin dia belum melupakan Rio" Yusuf menatap kearah sepupunya sebentar, nampak ingin mengatakan sesuatu tapi kembali fokus kedepan


"Kemana kamu pulang?"


"Kerumah ayah, memangnya kemana lagi?"


"Kamu sudah memberitau paman Naufal tentang kedatanganmu?"


"Belum, aku ingin memberinya kejutan. Oh ya, Kak Yusuf tadi ngapain di bandara?"


"Nganter klien, salah satu proyek perusahaan untuk kerja sama dengan mereka berhasil"


"Emang harus sampai nganter ke bandara?"


"Sebagai bentuk formalitas dan kesopanan aja"


"Emang harus Kak Yusuf yang nganterin?"


"Banyak tanya, kita udah sampai"


"Kenapa lagi?"


"Aku harus ngomong apa ke ayah?"


"Kenapa nanya aku? Kamu pikirin sendiri, siapa suruh pulang nggak bilang-bilang" ingin sekali Layla memukul wajah mengesalkan Yusuf saat mengatakan itu


Tanpa kata lagi, sepupunya itu kembali menutup pintu dan membuka bagasi untuk mengeluarkan koper, membuat Layla kelagapan apalagi saat melihat ayahnya keluar dari rumah


"Yusuf?"


"Assalamu'alaikum paman" Yusuf menyalami tangan Naufal yang tiba-tiba sudah berdiri didekatnya


"Ini koper siapa? Kamu diusir dari rumah?" pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulut Naufal tanpa rasa bersalah sama sekali


Alih-alih menjawab pertanyaan pamannya, Yusuf malah membuka pintu disamping kemudi dan menarik sepupunya keluar. Layla yang panik semakin gelagapan tak mengira Yusuf akan melakukan itu


"Dasar sepupu penghianat" cibir Layla kemudian keluar dan menyalami ayahnya yang masih syok dengan kepulangannya


"Assalamu'alaikum ayah, Ila pulang"

__ADS_1


"Niatnya mau ngasih kejutan tapi nggak jadi" lanjutnya saat ayahnya hanya diam


"Dasar nakal, apa segitu betahnya tinggal di negara orang" Layla hanya menampilkan cengirannya saat Naufal menjitak keningnya pelan


"Yang penting sekarang Ila udah pulang dan bisa sama ayah lagi"


"Ayah belum nyiapin apa-apa buat nyambut kepulangan kamu"


"Ila nggak butuh sambutan kayak gitu, Ila cuma butuh ayah"


"Ayo masuk kedalam, rumah masih sepi karena kakak dan istrinya masih kerja"


"Athala dimana?"


"Dia ikut ibunya, kata Bellasedang ada acara disekolah, jadi nggak ngerepotin kalau dibawa" Layla mengangguk mengerti


"Ayo Yusuf"


"Maaf paman, aku harus balik ke kantor soalnya masih ada kerjaan"


"Mau nikah pekerjaan masih aja numpuk"


"Ini makanya dikerjain lebih awal, biar bisa libur setelah nikah"


"Yaudah hati-hati" Yusuf mengangguk. Ia mengucap salam dan mengemudikan mobilnya kembali kekantor


"Beda banget suasana disini sama Amerika"


"Baru pulang kerumah udah pengen pergi lagi?" Sindir Naufal membuat Layla tertawa


"Bukan gitu maksudnya ayah, Amerika sekarang sedang musim panas, tapi disini langit malah mendung"


"Begitulah, kadang panas kemudian tiba-tiba hujan"


"Aku punya sesuatu untuk ayah" Layla tampak membongkar isi tasnya guna mencari benda yang dimaksud


"Ini" Ia menyerahkan kotak yang bertali pita merah


"Taj Mahal?" Tanya Naufal saat melihat miniatur bangunan terkenal diindia itu dalam kotak kaca yang indah


"Ya, aku membeli itu saat disana. Taj Mahal punya cerita indah yang menarik"


"Lalu apa yang kau dapatkan disana?"

__ADS_1


"Aku belajar banyak hal disana, tentang kebiasaan penduduknya, sampai kisah terbentuknya bangunan ini, kisah cinta tragis yang indah"


__ADS_2