
Katakanlah hati itu memang membingungkan. Bisa berubah kadang tanpa bisa dicegah. Seperti halnya Bilal saat ini, laki-laki itu terdiam menatap gadis di bawah pohon rindang sembari membuka buku. Sepertinya memeriksa tugas-tugas yang diberikan dosen padanya tadi
Pertemuan pertama karena kasus pencurian tas itu, Bilal hanya menganggap gadis itu orang biasa, keesokan harinya ia tau gadis itu ternyata teman satu sekolah, kemudian tau kalau mereka ternyata teman satu jurusan walau beda kelas, semakin dekat lagi saat ia membantu gadis itu menemukan pekerjaan. Mereka menjadi teman dekat, tapi apa bisa menjadi teman hidup?
"Astagfirulloh" Bilal mengusap wajahnya kasar, kenapa pula memikirkan hal itu sekarang. Sebelum beranjak ia melihat laki-laki menghampiri gadis itu, keliatannya mereka akrab mungkin saja satu jurusan. Hatinya terasa berbeda, itu yang tidak dimengerti oleh Bilal. Bukankah itu wajar? Tapi kenapa ada rasa tidak suka?
"Astagfirulloh" lagi-lagi ia mengucapkan istigfar entah sudah keberapa kali. Ia mengambil handphone dalam saku celananya saat mendengar benda pipih itu berbunyi. Nama saudari kembarnya ada disana, tanpa menjawab panggilan telepon itu, ia langsung berlari kearah parkir karena seolah bisa membaca apa yang ingin dibirakan Ila diseberang sana. Memangnya apalagi? Gadis itu pasti marah karena ia terlambat menjemput
.
"Lama!" Benar saja, baru sampai didepan gedung fakultas teknik, gadis itu langsung menghampirinya
"Maaf, tadi nemuin Kak Yusuf dulu sebentar" jawab Bilal dengan cengengesannya
"Nessi mana?"
"Ngapain nanya Nessi?" Layla memicing curiga. Mungkin takut kakaknya itu memiliki hubungan yang tidak ia ketahui dengan sahabatnya itu dibelakang. Memang seoverthinking itu pikirannya jika Bilal mulai membahas atau bertanya tentang perempuan
"Nanya doang. Biasanya kalian berdua bareng terus. Jadi agak lain rasanya kalau salah satu nggak ada"
"Dia sakit, jadi nggak masuk" Bilal mengangguk mengerti. Tapi tiba-tiba matanya tertuju pada perempuan didekat pohon. Rambut hitam panjangnya tertiup angin, Bilal tidak takut karena bukan kunti. Tapi ia merasa sedikit aneh dengan tatapan perempuan itu yang menatap Ila, seperti dengan tatapan benci? Apa ia tidak salah liat?
"Cepat jalan! Ngapain bengong disini?" Layla menepuk pundak kakaknya cukup keras. Sedari pagi laki-laki yang berstatus saudara kembarnya itu membuat dirinya emosi. Bagaimana tidak? Mulai dari motor Bilal yang tiba-tiba mogok sampai mereka harus berangkat bersama, sampai telat menjemput seperti janjinya dan sekarang malah bengong entah melihat apa. Mending di tempat yang teduh, tapi disini suhu bahkan menyentuh angka tiga puluh empat derajat
Bilal mengangguk saja dan pergi tanpa mau diamuk lagi. Ia sadar diri juga sebenarnya karena membuat saudaranya kesal dari pagi.
"Kenapa sih?" Layla merasakan kakaknya menunjukkan gerak gerik aneh sejak mereka pergi meninggalkan gedung fakultas teknik
"Kamu nggak punya salah sama orang kan?"
"Hah? Salak?" Layla malah salah tangkap. Salah Bilal juga yang mengajak bicara ditengah jalan dengan bising suara kendaraan dan angin. Apalagi kepala mereka berdua terlindung helm.
__ADS_1
"Iya salah sama orang? Kamu nggak bikin teman kamu marahkan?"
"Haram?" Layla malah kesal sendiri mengartikan karena tak bisa menangkap dengan jelas
"Apa yang haram sih?"
Bilal diam, walau tak mendengar jelas apa kata Ila, tapi ia tau sekarang kalau perkataan mereka dari tadi tidak nyambung
.
"Gimana sama rencana kita? Kapan bisa jalan?" Qais menatap laki-laki didepannya yang sedang mengepulkan asap rokok
"Kamu benar-benar yakin buat bantu aku Rio?" Qais tak meragukan laki-laki itu, hanya saja sepertinya Rio juga punya dendam dengan orang yang sama, karena ketika Qais menceritakan rencananya, Rio langsung semangat dan menjawab 'IYA' tanpa berpikir
"Setelah sejauh ini, apa kamu pikir aku masih bercanda?" Rio melirik Qais dan kembali menghisap nikotin ditangannya
"Kamu nggak punya dendam pribadi sama dia juga kan?" pertanyaan itu akhirnya Qais luncurkan karena rasa penasaran yang lumayan tinggi
"Dia yang buat aku kehilangan saudaraku satu-satunya, orang yang paling peduli sama aku" suara Rio berubah datar dengan tangan terkepal yang menunjukkan betapa besar dendam pemuda itu
"Bagus kalau gitu, bagaimana kalau malam jum'at besok?"
"Ganti malam yang lain" balas Rio dengan cepat
"Kenapa? Takut?" Qais malah tertawa sesaat membaca sedikit ketakutan diwajah pemuda itu. Agak aneh rasanya karena mereka lebih banyak menghabiskan waktu dengan dunia malam yang tenang , tapi bisa-bisanya Rio masih takut dimalam itu
"Entah kenapa aku ngerasa malam itu kayak beda banget. Kayak tiba-tiba ada energi negatif dan aura yang beda kalau aku keluar malam itu"
"Itu karena pikiran kamu udah di setting. Kamu yang buat diri kamu kayak gitu Rio, ketakutan itu ada karena kamu sendiri yang menciptakannya dalam imajinasimu" Rio terdiam sejenak kemudian menggaruk pelipisnya yang tak gatal sama sekali. Kemudian mengangguk
"Artinya tiga hari lagi" ucapnya yang diangguki langsung oleh Qais
__ADS_1
"Pastikan rencana kita berhasil dan dia lenyap agar tak ada orang yang menjadi korban dari kelakuan iblisnya"
.
"Kamu punya masalah nggak sama teman kamu? Teman satu kelas? Satu jurusan atau satu Fakultas? Atau mungkin kamu udah bikin salah sama anak lain di kampus?" Layla yang baru membuka helmnya langsung diserbu pertanyaan itu oleh Bilal. Gadis itu tentu mengernyit bingung, seingatnya memang ia tak punya salah dengan siapapun dikampus. Ia berpikir dulu sebelum bicara karena tau lisan manusia itu tajam dan sakit hati seseorang bisa berakibat fatal
"Kayaknya nggak" walaupun yakin kalau ia tidak salah, ia tetap ragu menjawab untuk mengatakan tidak
"Yakin?"
"Emangnya kenapa sih?" Layla semakin lama kesal juga ditanyai seperti ini. Dirinya seperti di introgasi dan dianggap penjahat?
"Tadi ada mahasiswi yang natap kamu tajam banget. Kayak punya dendam gitu. Dibawah pohon, rambutnya panjang hitam"
Alih-alih takut, Layla malah menyimpulkan hal lain
"Bukan kunti kan?"
"Sembarangan! ngapain kunti pakek almamater kampus? Lengkap dengan totebag dan ponsel? Emang mau nelpon siapa? Emang di alamnya ada sinyal?" Pembahasan yang semula serius malah beralih menjadi hal seperti ini
"Siapa tau ada" jawab Layla menanggapi dengan sedikit kekehan
"Tapi serius Ila, kamu nggak punya masalah kan?" tanya Bilal kembali ke topik mereka
"Nggak ada!" Layla menjawab sedikit ngegas. Ia seperti dituduh pelaku kejahatan
"Terus kenapa dia ngeliatin sampe segitunya?"
Layla terdiam sejenak, kemudian memeluk tubuhnya sendiri. Bilal sampai heran melihatnya entah apa yang dipikirkan saudari kembarnya itu
"Dia nggak lesbi kan? Dikampus kita nggak pernah ada cerita mahasiswi lesbi kan?"
__ADS_1
Bilal menatap Layla dengan pandangan datar, apa Layla berpikir sejauh itu?