
Rumah bertingkat dua yang terlihat sederhana namun nyaman dengan warna biru muda yang mendominasi bagian dinding rumah. Layla menatap rumah itu dengan perasaan rindu, kenangan yang ada dalam rumah itu tak akan pernah bisa ia hapus
Pandangannya teralihkan pada sosok pria yang berusia kurang dari setengah abad, wajahnya tak terlihat seperti usianya yang dua tahun lagi menginjak lima puluh. Tak nampak uban putih pada rambutnya, sampai tak heran orang mengira dirinya berusia tiga puluhan
Sosok itu masih setia dengan kegiatannya hingga tak sadar putrinya sudah cukup lama melijatnya dari depan pagar rumah. Ia asik memberi makan burung dalam sangkar yang di pelihara sejak Layla masih kecil. Burung yang sering berkicau kala fajar menyingsing dan mungkin pernah menjadi teman curhat ayahnya, karena beberapa kali Layla pernah mendengar Naufal berbicara entah apa dengan burung itu. Sekedar bercerita, walaupun kepada hewan yang tak mungkin bisa mengerti bahasanya
"Assalamu'alaikum ayah" nampak raut terkejut samar yang ditampilkan dari wajahnya, mungkin tak menduga kedatangan putrinya yang sudah beralih tanggung jawab pada orang lain
"Wa'alaikumussalam" Layla tersenyum menyalami tangan ayahnya yang baru saja dibasuh dengan air keran di halaman rumah
"Gimana kabar ayah?" Naufal menaikkan alisnya sebelah nampak tak mengerti, tapi tak urung tetap menjawab "Alhamdulillah, baik"
"Tumben kesini, ada masalah?" Naufal hafal betul jadwal kuliah anaknya, sampai heran karena seingatnya Layla ada jadwal kuliah di jam ini
"Dosennya nggak masuk, cuma dikasih tugas" Layla menjawab dengan tersenyum. Ia menatap sekeliling dan memperhatikan figura foto yang terpasang pada tiap-tiap dinding. Penuh dengan kenangan dirinya bersama Bilal dari kecil sampai sekarang
"Ila nggak ada masalah, kesini cuma buat ketemu ayah" Layla tak mungkin juga menceritakan tentang Qais kemarin malam. Ia tau betul bagaimana perilaku ayahnya
"Ayah kesepian disini?"
Naufal mendengus kemudian menggeleng
"Bilal ada, kenapa ayah harus kesepian?"
"Kak Bilal kan sekarang makin jarang dirumah, ayah nggak pernah ngerasa sepi?"
"Burung-burung itu juga teman ayah, kadang-kadang Om Gempano atau Om Regan juga sering kesini buat main-main bareng"
Layla mendengarkan dan mengangguk tanda mengerti, pandangannya terjatuh pada figura Naufal dan Aqila berdua, dengan latar belakang pantai dan pemandangan senja. Jarak diantara mereka membuktikan, kalau saat itu mereka belum memiliki ikatan yang sah
"Bagaimana menurut ayah tentang bunda?" Tanyanya lirih nyaris tak terdengar
__ADS_1
"Bunda baik, dia wanita yang hebat dan kuat. Bahkan lebih kuat dari ayah" jawab Naufal. Ia turut melihat arah pandang putrinya
"Ila pernah dengar seseorang mengatakan, laki-laki bisa jatuh cinta pada lebih dari satu perempuan, tapi hati perempuan diciptakan tak ingin berbagi apalagi tentang cinta"
"Qais selingkuh?" Layla menggelengkan kepala, saat Naufal langsung mengatakan itu
"Ila belum selesai bicara" jawab Layla
"Tapi bagaimana menurut ayah jika perempuan itu telah pergi" Layla melanjutkan pertanyaannya dengan mata yang menatap Naufal seolah meminta penjelasan
"Terserah laki-laki itu bagaimana, tapi menurut ayah cinta sejati itu harus egois. Hanya untuk dirinya bahkan sampai maut datang menjemput"
"Orang lain kadang tak mengerti, ketika melihat seseorang ditinggalkan kekasih hatinya, mereka pikir harus mencari orang yang baru sebagai pengganti. Tapi, hati seseorang kadang diciptakan untuk hanya mencintai satu raga, satu jiwa dan pada satu rasa untuk orang yang sama"
"Tak peduli jika orang tersebut ada maupun telah tiada. Bagi ayah, terserah orang mau bilang ayah bodoh, kesepian, atau sendiri. Tapi, hati ayah sepertinya memang diciptakan untuk satu orang yang sama"
"Kenapa?" Tanya Layla, Naufal menatap putrinya sebentar kemudian kembali fokus pada figura didepan mereka
"Kenapa bertanya?" tanya Naufal menatap putrinya
"Kak Zain bilang ada kabar dari pondok kalau ayah bakal nikah lagi" cicitnya pelan
"Memang ada sahabat kakek yang mengusulkan, juga Paman Hasan yang melihat ayah seperti kesepian. Tapi seperti yang ayah bilang, ayah tidak pernah merasa kesepian walaupun raga bunda udah nggak ada" tanpa sadar Layla mengusap air disudut matanya. Sebegitu besarkah rasa diantara mereka berdua?
"Ayah sudah janji pada bunda untuk jadi pelangi yang tak akan hilang walau dia udah nggak ada"
.
Langit yang biru cerah dengan pantulan mentari sudah tergantikan langit malam dengan jutaan bintang dan rembulan sebagai penghiasnya. Kicauan burung tergantikan suara cacing tanah dan hewan nokturnal lain yang memenuhi gendang telinga dalam pekatnya malam
"Assalamu'alaikum" pandangan Layla langsung tertuju pada seseorang yang sedari tadi ditunggunya. Jam sudah menginjak angka sembilan lebih dua puluh lima tapi belum ada tanda kepulangan sosok itu sejak keberangkatan mereka tadi pagi
__ADS_1
"Wa'alaikumussalam" Layla memperhatikan Qais yang nampak lebam di beberapa bagian wajahnya dan beberapa luka yang terlihat sedikit basah di sudut bibir dan pergelangan tangan
"Kak Qais kenapa? Habis berantem?"
Qais diam dan duduk disofa, Layla segera mengambil peralatan P3K untuk mengobati luka laki-laki itu
"Mereka duluan yang nyari masalah" akhirnya laki-laki itu membuka suara setelah diam cukup lama. Layla yang sedang mengobati luka ditangan suaminya menoleh dan menaikkan sebelah alisnya tanda tak mengerti
"Mereka siapa?"
"Geng sebelah. Padahal kami sudah memilih jalur damai, tapi mereka tetap menyerang" Layla diam tanpa ekspresi mendengar ucapan laki-laki itu. Ia sering mendengar tentang geng itu sebelum menikah dengan Qais, dan kemarin setelah menikah Bilal memberitahunya kalau Qais termasuk salah satu ketua geng yang cukup terkenal
"Aku ingin keluar, tapi anak-anak yang lain belum setuju" Layla menghela nafasnya dan menatap kearah Qais yang menunduk seperti telah melakukan kesalahan besar
"Asal tidak melakukan maksiat dan melanggar perintah boleh aja. Tapi kalau lebih banyak mudharat atau keburukannya lebih baik keluar daripada menjerumus kepada maksiat" tutur Layla menutup kotak P3K karena sudah selesai digunakan
"The Devil, namanya saja yang menyeramkan. Orang hanya tau kami suka balapan dan kebut-kebutan dijalan, pesta miras, sampah masyarakat dan menganggu ketenangan orang lain"
"Tapi sebenarnya tujuan awal geng ini dibentuk untuk kemanusiaan"
"Kemanusiaan?" Layla mengangkat sebelah alis tak mengerti. The Devil artinya iblis, dilihat saja dari namanya dari mana asal muasal kemanusiaan?
"Nama The Devil, bukan untuk melambangkan kami. Tapi melambangkan sosok iblis yang membuat kami menjadi seperti ini"
"Maksudnya kalian korban iblis?" Tanya Layla polos yang dibalas anggukan oleh Qais
"Iblis yang kami maksud adalah orang-orang terdekat atau keluarga yang tak pernah bisa mengerti, terlalu memaksakan kehendak atau sering bertindak kasar. Rata-rata anak the devil adalah korban dari apa yang mereka sebut iblis, entah itu orang tua, teman atau keluarga mereka yang lain"
"Maksudnya tujuan kemanusiaan?"
"Ya, kami sering menggalang dana untuk anak panti. Selain itu, arti lainnya kami bisa bergabung dan saling mengerti sebagai korban dari orang berwatak iblis"
__ADS_1
"Siapa yang Kak Qais anggap sebagai iblis?" Tanya Layla menatap laki-laki itu yang langsung diam tapi menunjukkan eskpresi yang sulit dimengerti dari raut wajahnya