
Bumi berotasi menciptakan pergantian siang dan malam, kadang bahkan tanpa disadari manusia, waktu berjalan begitu cepat. Entah karena banyaknya kesibukan atau terlena dengan dunia.
"Berhasil nggak?" Layla menatap Nessi kemudian beralih menatap laptop didepannya yang menampilkan error, ia menatap Nessi kembali dan menggelengkan kepalanya
"Bisa-bisa, otak aku yang ikutan error" Nessi mengusap kepalanya dan meregangkan tubuhnya. Mereka sedang membuat program sederhana, tapi entah kenapa coding itu masih error padahal mereka merasa sudah membuat dengan benar
"Kamu mending errornya cuma satu, lah aku sampai lima gini" keluh Nessi lagi melihat Laptop Ila dan laptopnya
"Kamu lupa naruh titik koma disini" Ila menoleh pada laki-laki itu yang ternyata turut memperhatikan, kemudian menatap kembali pada coding yang sudah ditulis. Ia menepuk jidatnya pelan dan ternyata benar saja, setelah ditambahkan akhirnya programnya bisa berjalan
"Makasih Ren" laki-laki bernama Rendi itu mengangguk tersenyum
Layla menoleh pada Nessi yang justru terlihat kesal? Atau marah?, Layla bingung mendeskripsikannya. Hanya saja ekspresi Nessi langsung berubah, tidak seperti tadi
"Kenapa?" Layla bertanya tanpa bersuara, hanya saja ia yakin kalau sahabatnya itu pasti mengerti
Nessi menggeleng kemudian fokus lagi pada laptop didepannya. Melihat respon sahabatnya Layla jadi berpikiran macam-macam. Apa mungkin ia punya hubungan dengan Rendi dan cemburu karena interaksi mereka.
"Astagfirulloh" Layla menggelengkan kepalanya dan mengenyahkan pikiran negatif itu dari kepalanya
.
Sementara disisi lain kampus, di fakultas bisnis tepatnya seorang gadis dengan surai panjangnya berjalan dengan gaya angkuh, menghampiri laki-laki yang duduk didekat salah satu tangga.
"Hai Qais"
Laki-laki yang disapa itu menoleh sebentar kemudian kembali fokus pada Rio didepannya. Seolah menganggap dirinya tak ada
Gadis itu mendengus dan menghentakkan kakinya kesal, entah sudah berapa kali ia menyapa laki-laki itu dan jawaban yang diterima juga masih sama. Bahkan kadang-kadang untuk menoleh saja Qais enggan
"Besok malam ulang tahunku, kamu dateng kan?" Ia menyerahkan undangan dengan desain cukup mewah pada dua orang itu. Rio menerima keduanya karena menunggu Qais sampai kiamatpun ia tak akan mengambilnya
"Pokoknya kalian harus dateng" peringatnya, lebih tepatnya terdengar memaksa untuk Qais
Setelah kepergian gadis itu, Qais tersenyum miring menatap Rio
"Bukankah tepat sekali? Ia pasti tak menduga hadiah yang kita kirimkan"
"Benar-benar kejutan" balas Rio dengan seringainya
__ADS_1
"Apa kau bahkan yakin pesta itu berjalan besok malam, jika nanti sumber uangnya kita lenyapkan?" Bisiknya pada Qais yang membuat Qais justru tertawa terbahak mendengarnya
Sementara Ratu yang melihat itu berpikir berbeda, ia tak mendengar tapi melihat interaksi mereka yang seperti itu ia bisa menebak jika itu karena undangan yang baru saja ia bagikan
Senyum terbit dibibirnya. Ia mengambil benda pipih di dalam tasnya yang berbunyi, melihat nama si pemanggil ia segera menuju tempat yang cukup sepi
"Nanti malam"
"...."
"Aku akan bantu mengalihkannya, kalian pastikan ia pulang dengan tak baik-baik saja"
"..."
"Terserah, lakukan apa yang kalian mau. Karena Qais hanya untuk Ratu bukan yang lain"
Ia tersenyum miring menatap layar ponselnya yang mati
"Apa Qais masih mau menerima gadis sok suci seperti itu? Dia pikir siapa sampai berhak dicintai laki-laki seperti Qais?"
Ia menyalakan ponselnya dan membuka salah satu aplikasi pesan, ia mengirim gambar perempuan dengan jilbab biru yang tersenyum cantik kearah kamera
"Qais hanya untuk ratu bukan untuk yang lain" gumamnya pelan kemudian mengirim satu pesan lagi pada seseorang
"Kalian harus secepatnya mundur atau disingkirkan"
.
"Nes, kok kamu natap Rendi kayak gitu? Kamu ada masalah sama dia?"
Nessi hanya diam sebagai tanggapan yang justru membuat Layla merasa bersalah entah karena apa
"Kamu cemburu ya karena tadi" Nessi yang sedang meneguk minumannya sampai terbatuk dan menatap Layla dengan tatapan tak habis pikir akan pikiran gadis itu
"Maaf kalau memang..."
"Asma Layla Husna, kayaknya otak kamu perlu dibedah deh biar nggak mikir kejauhan" ucap Nessi pada akhirnya karena gemas sendiri dengan pikiran sahabatnya itu
"Makanya kamu juga ngomong. Jangan diam aja, aku justru mikir aneh-aneh kalau gini caranya" Layla membalas dengan nada yang sama
__ADS_1
"Pokoknya kalau Rendi minta bantuan sama kamu, tolak La"
"Kenapa?"
"Dia adik ratu" lirih Nessi dengan suara pelan
"Ratu? Saudara tiri kamu?" Layla langsung menutup mulutnya saat muka Nessi langsung berubah
"Aku nggak punya saudara kayak dia"
"Sorry, maksudku bukan kayak gitu"
"Nggak papa, santai aja. Darimana dapat hubungan saudara coba?" Nessi sedikit tertawa. Tapi Layla mengerti kalau gadis itu memang sudah tak menganggap ayahnya ada
"Keadaan ibu gimana?"
"Sudah membaik, ia banyak kegiatan dirumah. Sampai rumah pasti masih berantakan sekarang, dia lagi belajar bikin kue kering"
"Aku tau itu sebagai bentuk pengalihan dia, aku sedikit bersyukur tapi cemas juga takut dia kecapean, apalagi harus ngurus butik juga"
"Semua butuh proses Nes, mungkin jalan cinta mereka dulu terlalu indah sampai ia tak pernah menyangka kalau ini bisa terjadi"
"Memang, aku jadi sulit banget percaya sama laki-laki karena ini" Nessi meletakkan kepalanya diatas meja kantin
"Jangan sampai kayak gitu, mereka tak semuanya sama. Kalau kamu mikir kayak gini terus Kak Yusuf gimana dong?" Nessi mengangkat kepalanya, menatap Layla yang menarik sebelah alisnya seolah menggoda dirinya
"Kenapa bawa-bawa dia?"
"Kalian pikir aku nggak tau kalian dekat? Cocok tuh dibikin novel, judulnya cinta dilorong rumah sakit" sindirnya. Kalau saja tak menemukan sepupunya senyum-senyum sendiri kemarin malam, ia takkan tau kalau mereka ternyata saling kenal
"Kamu mikirnya kejauhan, dia cuma bantuin aku pas dirumah sakit aja. Itupun cuma sebentar" bantah Nessi. Ia mengulang ingatannya beberapa bulan lalu, saat ibunya mendadak dibawa kerumah sakit karena darah tingginya kambuh. Hari dimana ia melihat ayahnya juga ratu dirumah sakit, saat itulah ia mengenal Yusuf. Laki-laki yang tak sengaja ditabraknya. Ia meminta tolong laki-laki itu mencari kamar ibunya, entah karena terlalu banyak orang dan ruangan atau karena panik ia tak bisa konsen dengan pikirannya sendiri
"Dia laki-laki baik Nes, dia perhatian banget, dia..."
"Kenapa masih bahas dia?" Layla tertawa melihat wajah Nessi yang terlihat sekali menghindari pembicaraan tentang topik ini
"Oke nggak lagi"
"Ila, pokoknya kamu berusaha semaksimal mungkin buat jauhin Rendi. Bukan karena apa, tapi aku ngerasa Ratu juga suka sama Qais, dilihat dari cara dia yang nyapa Qais. Aku cuma takut, kalau Ratu punya niat buruk sama kamu melalui Rendi"
__ADS_1
"Tapi aku kan nggak suka Qais" ucap Layla pelan
"Kamu mungkin belum suka. Tapi dia udah suka dan nggak sungkan buat nunjukkinnya bahkan didepan mahasiswi lain. Aku cuma takut ratu buat macam-macam hanya karena iri sama kamu" Layla diam dan mengangguk pelan. Bersama Qais hanya juga hanya akan membuat regangnya hubungan dengan kedua sepupunya, dan Ila tak ingin itu terjadi. Jadi caranya bukankah tak bersama laki-laki itu?