Atas Nama Jodoh

Atas Nama Jodoh
Bab 23 : Benci Dia


__ADS_3

Masa kuliah tak seindah bayangan, berpikir hanya ke kampus pulang pergi menenteng tote bag, nyatanya tak semudah itu. Semakin tinggi pohon semakin tinggi anginnya. Semakin tinggi jenjang yang di tempuh maka semakin besar pula tanggung jawab yang harus ditanggung


"Ternyata bertanggung jawab sama diri sendiri itu lebih sulit" Layla menoleh pada Nessi yang terlihat menghela nafasnya.


"Kuliah itu lebih santai, lebih bebas dan lebih bisa dikontrol. Kita punya kendali untuk masa depan kita sendiri" jawab Layla


"Itu susah menurut aku. Karena ternyata bertanggung kawab sama diri sendiri itu lebih sulit"


"Jalanin aja Nes, semua pasti tiba-tiba berlalu begitu saja. Kalau kebanyakan ngeluh waktu akan terasa berjalan lebih lambat"


Layla menatap kearah Nessi yang tiba-tiba diam dengan pandangan lurus kedepan. Ia mengikuti arah pandang sahabatnya. Laki-laki dengan jas yang disampirkan dibahu berjalan mendekati mereka


"Assalamu'alaikum calon makmum" Layla diam dan menunduk walau tau yang dimaksud laki-laki itu adalah dirinya


"Tolong jaga batasan kamu sebagai laki-laki" jawabnya sebelum akhirnya berdiri dan menggandeng tangan Nessi menjauh dari sana. Ia tak habis pikir dengan Qais, padahal fakultas teknik cukup jauh dari fakultas bisnis. Tapi kenapa laki-laki itu bisa sering muncul disana?. Tidak mungkin sekedar untuk menemuinya kan?


"Kayaknya dia emang beneran suka sama kamu La"


"Terus?" Layla menjawab dengan memutar malas bola matanya. Ia tak benci pada Qais tapi sikap laki-laki itu kadang menjengkelkan, terlebih lagi ia ingin menghindari salah paham dengan dua sepupunya


"Tapi kenapa saat liat aku ekspresi dia langsung berubah? Seolah ada rasa dendam dan amarah dibalik matanya. Ekspresinya berubah begitu saja"

__ADS_1


"Jangan pikirin Nes, asalkan kita udah yakin nggak buat salah sama dia"


"Tapi kadang aku ngerasa nggak nyaman ditatap kayak gitu"


"Yang natap kamu kayak gitu cuma dia doang kan? Jadi nggak usah ambil pusing buat pikirin. Ngehindar aja kalau perlu" Nessi mengangguk saja mendengar saran sahabatnya. Tapi jujur ia penasaran apa yang membuat laki-laki itu menatapnya seperti itu


.


"Menurut kamu, antara doa dan garis takdir mana yang akan terjadi?"


Yusuf menoleh, melihat Qais yang tiba-tiba bertanya hal itu. Laki-laki itu mengajak bertemu dengan alasan ingin menyampaikan sesuatu penting. Apa pertanyaan ini sesuatu penting yang dimaksud?. Tapi kenapa harus mengajak bertemu di tepi jembatan dengan jalan sepi seperti ini? Yusuf mengusap lengannya karena merinding


"Aku nggak terlalu paham masalah kayak gini. Tapi aku pernah dengar paman Naufal ngomong, doa adalah salah satu bentuk ikhtiar hamba kepada rabb-Nya. Bisa dikatakan salah satu bentuk perjuangan kita. Takdir kita tidak bisa ditebak, tapi doa adalah satu-satunya yang bisa merubahnya"


.


"Pikirkan baik-baik sebelum kamu melakukannya, ini adalah rencana besar yang menyangkut nyawa seseorang. Apa kamu sudah yakin?"


Qais menatap Rio dengan diam. Menurutnya teman yang dulu menjadi musuhnya ini bawel sekali. Tapi dia cekatan juga sampai Qais mengangkatnya menjadi tangan kanan dalam anggota motornya 'The Devils'


"Aku tidak pernah ragu bahkan sejak pertama kali aku melihat wajahnya. Aku tidak pernah ragu melakukan hal itu, untuk orang yang bahkan tak ragu membunuh kedua orang tuaku" Qais mengelus pistolnya dan memperhatikan setiap detail yang ada pada benda tersebut

__ADS_1


"Pastikan saja laki-laki itu terpancing. Kemudian tembak kepalanya dan selesai. Apa aku tidak terlalu baik karena membiarkan dia langsung mati tanpa menyiksa dulu seperti apa yang dia lakukan pada orang tuaku?" lanjut Qais membuat Rio menggelengkan kepalanya. Tapi ia juga pasti akan melakukan hal yang sama jika itu terjadi padanya


"Aku hanya berharap hal ini tidak terbawa pada jalur hukum" gumam Rio. Ia memang terbiasa ikut tawuran sampai membuat anak lain pingsan dan babak belur. Tapi ini berbeda, menyangkut nyawa, dendam dan rantai alur kehidupan yang berkaitan


.


Darah lebih kental daripada air. Seberapa benci dan seberapa besar usaha apapun yang dilakukan Nessi, nyatanya ia tak bisa untuk tidak iri pada apa yang dilihatnya saat ini.Laki-laki yang ia anggap br*ngs*k dan tak pernah ingin ia lihat lagi. Yang sayangnya lagi adalah laki-laki yang sempat menjadi cinta pertamanya di dunia, seorang ayah.


Ia tak bisa menahan hatinya untuk tidak iri saat bagaimana dia melihat ayah kandungnya sendiri memperlakukan putri tirinya dengan baik. Seperti yang ia lihat saat ini, ayahnya membuka pintu mobil dan mengelus rambut putrinya kemudian melambaikan tangannya sebagai bentuk perpisahan. Hal yang sering ia lakukan dulu


"Si*l, kenapa aku nangis untuk laki-laki kayak dia?" gumamnya pelan dengan menghapus air matanya


"Benci dia sedalam-dalamnya. Agar kamu tak merasa menyesal esok hari" Nessi tersentak mendengar bisikan itu. Ia melihat punggung laki-laki itu yang sudah menjauh. Apa maksud Qais membisikinya seperti itu?


"Nes, sorry lama. Kak Yusuf tadi lupa naruh bukunya dimana. Jadi aku bantu cari dulu" Layla mengatur nafasnya setelah berjalan terburu-buru karena takut terlambat


"Kamu kenapa?" Ia menatap Nessi yang sedari tadi diam. Padahal biasanya Nessi akan protes dan mengomel


"Nggak ada. Ayo cepetan, sebelum terlambat" walau agak bingung, Layla mengikuti saja


"Aku memang membencinya sejak dia sudah tak menganggap kami keluarganya. Aku memang membencinya karena telah berkhianat. Tapi aku juga membenci diriku yang kadang merindukannya" batin Nessi mengingat ucapan Qais tadi

__ADS_1


.


Banyak Typo...🙏🙏🙏


__ADS_2