Atas Nama Jodoh

Atas Nama Jodoh
Bab 42 : Dibuly?


__ADS_3

"Kesalahanku dimasa lalu bisa saja berdampak untuk masa depan. Saat terungkap, mungkin banyak yang akan menjauh dan aku takut kalau kamu salah satunya" Layla menatap Qais yang mengatakan kalimat itu dengan pandangan pada awan mendung yang perlahan menumpahkan bebannya. Gerimis ringan jatuh membasahi tanah yang tandus di waktu tengah malam. Menjadikan udara semakin dingin dan membuat irama pengantar tidur yang menenangkan untuk penduduk bumi yang beristirahat dari lelahnya


"Aku percaya Kak Qais melakukan itu karena ada alasan dibaliknya. Sama sepertinya hal The Devils, awalnya aku mungkin berpikiran sama seperti orang kebanyakan yang mengenal kalian. Hanya sekumpulan anak-anak nakal, yang hobinya membuat keributan dan mencari masalah. Awalnya seperti itu, tapi semakin kesini aku tau kalau ada alasan dibalik nama itu dan sikap kalian yang seperti itu, walau kadang tindakan kalian tak bisa dibenarkan"


"Kalian hanya butuh pelampiasan dari rasa sakit kan?" Qais termangu mendengarnya, ia menatap istrinya dalam dan tanpa sadar menghapus air yang menetes disudut matanya. Sejak bersama Layla, entah sudah berapa kali ia meneteskan air mata, sesuatu yang tak pernah sekalipun ia lakukan sejak terakhir kali di pemakaman orang tuanya


"Untuk kesekian kalinya, aku merasa tak pantas untukmu. Entah perbuatan baik apa yang aku lakukan sampai Allah mempertemukanku denganmu. Bersama denganmu adalah takdir yang paling aku syukuri"


"Kamu tau doa apa yang sering aku ucapkan ketika ingat sholat?" Layla menggeleng sebagai jawaban


"Dulu, aku sholat hanya saat aku ingin, bukan karena kewajiban. Dan aku selalu minta doa untuk dipertemukan denganmu, terdengar konyol memang kalau aku mendoakan gadis kecil yang kutemui tiga belas tahun lalu"


"Tapi kenyataannya memang seperti itu. Saat kita pertama kali bertemu di gang saat itu, aku pikir Allah sedang mempermudah jalanku. Aku semakin sering sholat dan meminta padanya walau kadang ada yang bolos setiap lima waktu" cerita Qais dengan sedikit terkekeh diakhir kalimatnya


"Aku pernah kebetulan mendengar, entah dimana saat itu begini 'satu-satunya cara mengubah takdir adalah do'a'. Karena kalimat itu membuatku sering merayu tuhan untuk dijodohkan denganmu"


"Atas nama jodoh yang sudah diatur bahkan sejak manusia belum dilahirkan kedunia, aku meminta Ila yang menjadi pendampingku"


"Itu adalah doaku sehabis sholat atau saat aku merenung sendiri mengingat pencipta" ucapan Qais membuat Layla menutup mulutnya tak percaya


"Tapi darimana Kak Qais tau namaku?"


"Karena saat bunda memanggilmu saat itu aku mendengarnya, Ila"


"Jadi, saat kejadian yang kamu alami malam itu, terlalu jahat mungkin kalau aku mengatakan diriku beruntung, tapi aku tau mungkin itu adalah cara Allah menjawab doaku"


"Tapi aku juga beruntung, mungkin saat itu aku masih belum bisa berpikir. Tapi sekarang aku sadar, kalau aku juga beruntung karena dicintai seperti itu oleh Kak Qais"


"Lalu kamu?" Tanya Qais balik membuat Layla sedikit menaikkan alis karena tak paham


"Lalu, apa kamu juga mencintaiku?" Bukannya menjawab pertanyaan itu, Layla justru menatap kearah suaminya

__ADS_1


"Maaf, aku harusnya sadar kalau..."


"Apa perlu kata-kata untuk diucapkan?" Pertanyaan Layla memotong ucapan Qais


"Maksudnya?" Tanya Qais kembali seperti tak ingin salah paham


"Aku juga"


"Juga apa?"


"Kak Qais jangan pura-pura nggak ngerti deh" kesal Layla karena seakan Qais sengaja menggoda dirinya apalagi wajahnya saat ini pasti sudah memerah


"Rasanya bahagia banget, akhirnya aku bisa tau kalau perasaanku terbalas" balas Qais masih dengan tawanya, rasanya bahagia sekali sampai sulit ia ungkapkan


"Oh ya, tau nggak kenapa maharnya 99.500?" Tanya Qais


"Karena hanya itu uang yang dibawa kak Qais?" Layla ingat maharnya saat itu yang hanya kurang lima ratus perak. Dan memang hanya itu yang tersisa pada Qais


"Kalau besok kita juga ke makam orang tua Kak Qais bisa kan? Setelah dari makam bunda trus kesana"


"Bisa, aku juga udah lama nggak pergi kesana lagi"


.


Rutinitas pagi berjalan seperti biasa, bekas hujan semalam menyisakan udara pagi yang terasa lebih sejuk dari kemarin. Kebiasaan Layla untuk turun sebelum masuk area kampus masih juga ia lakukan walau Qais memaksa mengantar sampai depan fakultas teknik. Tanpa disadari ada seseorang dibalik mobil hitam yang melihat itu dan mengepalkan tangannya


"Ila, menurut kamu Kak Yusuf itu baik kan?" Untuk yang kesekian kalinya dalam waktu seminggu ini Nessi terus menanyakan hal yang sama pada Layla setiap ia melihat sahabatnya itu menginjakkan kaki dikampus


Maka jawaban Layla pun akan terus tetap sama


"Aku mengatakan ini bukan berarti membela dia karena dia saudaraku, tapi aku melihat ini sebagai sudut pandang perempuan. Menurutku dia laki-laki yang baik, didikan orang tuanya tak pernah salah"

__ADS_1


"Yakinkan dulu hati kamu Nes, istikharoh dulu"


"Tapi Ila, aku tiba-tiba ngerasa insecure pas ketemu ibunya, kenapa nggak bilang dari awal kalau dia pernah jadi ustadzah"


"Kamu kan nggak nanya" jawab Layla santai tanpa melihat wajah keruh sahabatnya


"Eh, artinya kalian udah ketemu?" Wajah Layla berubah cerah


"Hemm, nggak sengaja ketemu di supermarket tadi malam"


"Terus responnya kayak gimana?"


"Biasa aja, dia orangnya baik"


"Nahkan, kalau gitu artinya dia udah nerima. Tinggal yakinkan hati kamu aja buat nerima dia" jawab Layla dengan mengedarkan pandangannya pada sekitar


"Nes, boleh minta tolong anterin tasku sampai kelas, aku mau ke kamar mandi bentar" Nessi mengangguk dan berjalan kearah berlawanan


Setelah selesai dengan urusannya, Layla berniat membuka pintu kamar mandi tapi baru saja melangkahkan kakinya keluar, ia dibuat terkejut karena seseorang mengguyur tubuhnya dengan air


"Penampilannya aja sok suci, kelakuannya nggak lebih dari wanita penggoda" cibir orang itu membuat Layla mendongak


Ia memutar memorinya saat wajah tak asing itu masuk ke kepalanya, ia ingat sekarang, namanya Ratu, ia dikenal primadona di fakultas bisnis. Sedangkan dua orang yang berdiri dibelakang, ia tak kenal sama sekali


"Maksud kamu apa bilang kayak gitu?" Tanya Layla dengan nada sedikit bergetar. Bukan karena takut melainkan karena sedikit kedinginan akibat tubuhnya yang basah


"Jangan pura-pura bodoh kamu, apa tujuan kamu mendekati Qais hah?" Tanpa perasaan Ratu menarik jilbab Layla hingga hampir terlepas kalau tak ditahan gadis itu


"Dengarkan baik-baik perempuan sok suci, Qais itu milikku, hanya aku dan apa yang menjadi milikku tak akan pernah menjadi milik orang lain"


"PLAKKK"

__ADS_1


__ADS_2