Atas Nama Jodoh

Atas Nama Jodoh
Bab 51 : Bantu Aku


__ADS_3

Hembusan angin dingin membuat gadis berhijab hitam itu mengeratkan jaketnya, hujan rintik mulai turun, gadis itu menghembuskan nafas lega karena setidaknya ia sudah sampai ditempat tujuan. Ia menatap bangunan didepannya dengan helaan nafas panjang, bangunan yang tak pernah sekalipun ia pikirkan akan berada disini hari ini dan menemui orang yang mungkin tak ingat padanya


"Selamat siang pak, saya izin mengunjungi narapidana atas nama Pak Rangga" polisi seperti melihat penampilannya sejenak, kemudian mengangguk dan membawanya keruangan khusuu kunjungan


"Panggil narapidana nomor 056" ucapnya pada salah satu temannya


Nessi dibawa keruangan khusus, tak lama setelahnya seorang pria paruh baya dengan tangan yang diborgol dituntun polisi masuk keruangannya. Berbatas dengan meja, Nessi bisa melihat langsung perubahan wajahnya sejak terakhir kali. Dibalik ruangan berdinding kaca itu, ada polisi yang selalu mengawasi dari liar gerak geriknya


"Waktunya hanya tiga puluh menit" ucap seorang polisi kemudian kembali keluar. Nessi mengangguk mengerti, namun sudah lima menit berjalan hanya keheningan yang ada diantara dua orang itu, seorang anak dan ayah yang memiliki hubungan lebih kental dari air namun sekarang seperti orang asing yang tak pernah bertemu


"Kenapa kamu kesini? Untuk mengejekku?" Tanya Pak Rangga yang membuka pertanyaan


"Apa salah seorang anak merindukan ayahnya?" Pertanyaan Nessi membuat pria baruh baya itu terkejut, nampak dari gestur tubuhnya yang tak menyangka kata-kata itu akan keluar dari mulut putrinya. Iya, putri yang tak pernah ia dampingi sampai sebesar sekarang


"Aku sebenarnya tak tau harus menyebutmu apa, bagaimanapun juga kau ayahku walau semua perbuatanmu tak mencerminkan sosok ayah"


"Apa kau datang kesini hanya untuk mengatakan itu?" Pak Rangga bertanya dengan senantiasa wajahnya yang tak menunjukkan sedikitpun rasa bersalah


"Bukan, aku datang untuk minta tolong"


"Aku dipenjara, bagaimana aku bisa menolongmu"


"Aku juga tak mau, tapi hanya kau yang bisa"

__ADS_1


"Aku akan menikah minggu depan, jadilah wali untukku, kalau tidak mau melakukannya sebagai seorang ayah, lakukan untuk sebuah perkerjaan, aku akan membayarnya"


Nessi tau kata-katanya terlalu kejam, tapi inilah bentuk pertahanan dirinya agar tak jatuh dalam lubang yang sama. Sebuah rasa sakit yang selalu menghantui dan tak pernah berakhir


"Aku menemukan seorang laki-laki yang memberiku hatinya, sesuatu yang tak pernah kutemukan dalam dirimu"


"Kita mungkin pernah bermain bersama, naik ayunan bersama dan mandi dipantai bersama. Tapi semenjak ay..." Nessi menjeda kalimatnya


"Tapi semenjak kau pergi aku pikir aku hanya punya orang tua dalam satu raga. Bunda bisa jadi ayah dan bunda yang baik. Aku bahkan bisa sebesar ini walau tanpa bantuanmu. Tapi kau tetaplah laki-laki yang membuatku hadir didunia, terima kasih untuk itu" Nessi menghapus air yang mengenang disudut matanya sebelum menetes dan membuat laki-laki didepannya menganggao dirinya lemah


"Saat kau lebih memberikan kasih sayang untuk anak orang lain daripada anakmu sendiri, aku mengerti saat itu kalau aku sudah tak diinginkan oleh ayahnya"


Nessi menarik nafasnya panjang dan lagi-lagi mengusap sudut matanya yang berair, ia benci saat menangis dihadapan laki-laki yang telah memberinya luka, laki-laki yang ia harapkan membimbingnya tapi malah meninggalkan trauma untuknya memulai sebuah hubungan, laki-laki yang harusnya jadi cinta pertama setiap anak perempuan


Nessi menutup wajahnya terisak, tetap saja ia tak bisa jika dihadapkan pada kondisi seperti ini


"Tolong bantu aku sekali ini saja"


"Aku akan membantumu" Nessi mendongak melihat wajah ayahnya yang mengatakan itu


"Berapa yang kau minta sebagai bayarannya?" Genangan air disudut mata Pak Rangga tak bisa bohong, kalau hatinya sakit mendengar putri kandungnya sendiri bicara seperti itu


"Aku melakukannya sebagai ayah bukan sebagai pekerjaan" lirihnya dengan senyum sendu

__ADS_1


"Aku akan menjadi wali untukmu nanti. Tapi aku ada syaratnya"


"Apa syarat yang kau mau?" Tanya Nessi lagi, Pak Rangga tersenyum pedih mendengarnya. Bahkan jika diberikan kesempatan ia tak akan pernah melakukan syarat apapun


"Bisakah kau memanggilku ayah dan bolehkah aku memelukmu sebagai putri kecilku Nessi?" Pak Rangga berdiri, memajukan tangannya yang diborgol sebagai isyarat


Nessi diam bergeming ditempatnya, tak sedikitpun beranjak dari tempat duduknya, ia menatap wajah pria baruh baya didepannya, bukan lagi wajah sombong, tegas dan angkuh. Sekarang hanya tersisa wajah tirus dengan mata sendu


Grepp


"Aku benci mengatakan kalimat ini, tapi entah kenapa aku merindukanmu" lirih Nessi dengan pelan, tapi karena berbicara dekat telinga ayahnya, Pak Rangga bisa mendengarnya dengan jelas. Ia semakin tenggelam dalam penyesalan, dan hal yang paling ia sesali karena putrinya tak menganggap dirinya sebagai ayah. Ia dikalahkan ego dan nafsu untuk mengejar harta dunia dan segala kemewahannya, sampai meninggalkan perempuan yang mencintainya dengan tulus juga putri kecilnya yang masih butuh bimbingan


Ia meninggalkan putrinya berjuang sendiri selama belasan tahun, sedangkan ia malah melimpahkan kasih sayang pada anak orang lain yang tak menganggap dirinya dalam keadaan seperti ini. Penyesalan seperti tiada ujung akan terus menghantui sisa hidupnya dalam jeruji besi yang dingin. Namun, setidaknya sekarang ada setitik kehangatan dalam hatinya dari putri kecilnya yang sudah tumbuh dewasa bahkan akan menikah dengan orang lain


"Maafkan ayah yang gagal, maafkan ayah yang meninggalkan luka untukmu, maafkan ayah yang membuatmu hidup seperti itu, maafkan ayah yang tak bisa selalu melindungimu dan maafkan ayah untuk semuanya"


"Masa kunjungan sudah habis" Nessi melepas pelukannya dan menatap ayahnya, ia menghapus kasar air matanya


"Acaranya dua minggu lagi, terima kasih untuk bantuannya" ucapnya seolah tak pernah terjadi apa-apa. Ia langsung beranjak pergi dari sana. Meninggalkan ayahnya yang merasakan kekosongan, ia telah kehilangan putrinya. Hatinya yang sempat menghangat kembali kosong, harusnya ia sadar dan tak berharap. Harusnya ia dihukum mati saja daripada hidup dalam penyesalan yang tak pernah berujung. Memandang punggung putrinya yang kian jauh, ia sampai lupa menanyakan siapa gerangan laki-laki yang bisa meyakinkannya


"Siapapun dia, aku tau dia lebih baik dariku. Semoga hidupmu bahagia"


Nessi berlari ke tempat parkir dan segera masuk kedalam mobil, ia menutup wajahnya dengan telapak tangan dan menumpahkan tangisnya disana, seharusnya ia tak lemah dengan permohonan laki-laki itu. Seharusnya ia benci, seharusna ia marah, tapi hatinya terlalu sulit untuk membenci, kata-kata kebencian yang keluar dari mulutnya nyatanya tak sejalan dengan hatinya

__ADS_1


__ADS_2