Atas Nama Jodoh

Atas Nama Jodoh
Bab 53 : Zara dan Rio?


__ADS_3

Layla menghapus air matanya haru, saat melihat sahabatnya akhirnya resmi menikah. Akad dilaksanakan didalam penjara, disanalah Yusuf menjabat tangan Pak Rangga untuk mengutarakan niatnya. Narapidana lain dan beberapa petugas kepolisian menjadi saksi acara suci itu. Nessi menahan diri untuk tak menangis, tapi air matanya tumpah juga. Pak Rangga memeluk putrinya dan mengucap maaf berkali-kali. Ia juga melihat mantan istrinya dan hanya bisa meratapi penyesalan


Setelahnya resepsi acara dilakukan disalah satu hotel bintang lima. Dekorasi acara didominasi warna putih emas hingga terlihat mewah. Tamu yang datang juga cukup banyak, terutama dari kalangan bisnis dan teman kuliah


"Kak Zara kapan?" Layla melirik Zara yang duduk disebelahnya


"Mungkin dua bulan lagi" jawaban yang membuat Layla terkejut bukan main


"Sama siapa?" Rasa penasarannya tinggi mendengar itu


"Kepo" Zara menjawab dengan enteng, Layla pikir Zara belum melupakan Rio. Sesaat kemudian ia melihat Zara menerima telepon dan keluar sambil senyum-senyum sendiri, Layla sudah seperti orang yang baru keluar dari gua dan kehilangan informasi. Bukan bermaksud ikut campur, tapi selama ini Zara tak pernah menyinggung apapun tentang pernikahan


"Bengong aja, kamu nggak mau foto sama sahabatmu?" Layla terlonjak kaget karena tiba-tiba ada yang duduk dikursi kosong sebelahnya


"Ammar?" Ia pikir laki-laki itu tak datang kesini


"Udah lama kita nggak ketemu Ila, bagaimana kabarmu?"


"Aku baik" Layla menjawab seadanya, tapi kurang sopan rasanya kalau tak balik bertanya, jadi ia mengajukan pertanyaan yang sama


"Bagaimana denganmu?"


"Aku kurang baik" Layla mengernyitkan alisnya heran dan meneliti penampilan laki-laki itu, terlihat baik-baik saja


"Disini sakit" laki-laki itu menunjuk kearah dadanya


"Kamu punya riwayat asma?" Tanya Layla bingung, karena seingatnya dari kecil mereka bersama, laki-laki itu tak punya riwayat penyakit seperti itu


"Bukan, tapi hatiku yang sakit karena kamu tolak terus" barulah Layla sadar kalau Ammar menyindirnya


"Sudah berapa kali kukatakan Ammar, menungguku adalah ketidakpastian yang belum tentu juga terjawab" balas Layla


"Aku bisa menunggu lagi"

__ADS_1


"Jangan, menunggu bisa jadi hanya akan membuatmu sakit hati. Lebih baik pertimbangkan perempuan lain"


"Kenapa? Apa kamu masih mengharapkan laki-laki itu?"


Layla diam dan Ammar tau jawabannya. Ia menunduk kemudian menarik napas panjang


"Aku tak mau mengatakan ini, tapi apa itu bukan tindakan yang bodoh? Menunggu seseorang yang telah menyakitimu?"


"Karena itu jangan tunggu perempuan bodoh ini. Yang harus kau tau, kalau dia juga tak pernah menyakitiku" Ammar menatap tak mengerti dengan arah pikir perempuan yang duduk disampingnya ini


"Kamu berhak mendapat yang lebih baik Ammar, jangan hanya terpaku padaku. Lihatlah juga disekelilingmu, maaf tapi hati tak bisa dipaksakan. Sedari awal kukatakan, jangan menungguku. Maaf kalau kata-kataku terdengar kejam, tapi tolong mengertilah" Ammar menunduk pasrah, membuat Layla juga merasa bersalah. Tapi ia akan merasa lebih bersalah lagi jika memberi laki-laki itu harapan palsu. Karena ia tau kalau itu tak akan pernah terwujud


.


Matahari bersinar cukup terik pagi itu, tak seperti hari-hari kemarin yang dipenuhi langit mendung dan awan kelabu


"Ayah, aku mau ngajak Athala ketaman" Layla menghampiri ayahnya yang sedang menggendong balita itu melihat berbagai jenis ikan di kolam belakang rumah mereka


"Justru itu biar dia dapat cahaya matahari yang cukup. Itu bagus buat tubuh dia, dari kemarin hujan terus jadi nggak bisa keluar"


Athala yang masih berusia dua tahun itu berseru senang mendengar kata taman, yang ada dibayangan anak itu adalah mainan yang ada disana


"Ya udah, kasih tau kakakmu dulu"


"Udah tadi, dia juga setuju"


Naufal akhirnya mengangguk, dan membiarkan balita itu dibawa pergi. Athala tak henti-hentinya bertepuk tangan karena senang


"Bawa mobil ayah, jangan pakai motor" teriak Naufal karena melihat putrinya sudah menjauh, Layla berbalik badan dan hanya mengacungkan jempol sebagai jawabannya


.


Layla membawa keponakannya itu ketaman, di samping taman ada playground atau tempat bermain anak-anak yang tak terlalu ramai.

__ADS_1


"Athala mau naik perosotan?"


"Mau" balita laki-laki itu dengan semangat naik ke tangga dan meluncur kemudian tertawa


Layla akui kalau keponakannya itu cepat sekali berinteraksi, ia bahkan sudah bermain dengan anak-anak lain disana, berlarian kesana kemari. Melihat itu, ia justru kembali teringat kenangan masa kecilnya dulu, dengan segera ia menghapus air matanya karena takut dipikir macam-macam oleh orang lain


Mereka dengan semangat berlari dan tertawa lepas karena bermain, mereka tertawa saat melihat adegan lucu atau mendapat makanan yang mereka mau. Mereka menangis saat terjatuh dan terluka. Itulah dunia anak-anak yang jauh berbeda dengan orang dewasa. Karena itu kebanyakan orang kadang mengatakan ingin kembali ke masa kecil saja


"Athala, bibi mau cari minum dulu bentar. Tetap disini ya, jangan kemana-mana" anak laki-laki itu mengangguk dan kembali bermain dengan temannya yang lain. Layla melihat sekitar, banyak orang tua yang juga ada disana, jadi harusnya ia tak khawatir


Tak jauh dari sana, ada pedagang air mineral dan berbagai makanan ringan lain. Layla mengalihkan pandangannya pada seseorang disebelahnya yang baru datang dan membeli air mineral, dari postur tubuhnya, laki-laki itu nampak tak asing. Namun karena memakai hodie yang menutup kepalanya dan masker yang menutup sebagian wajahnya, ia tak bisa melihat jelas


"Rio, udah?" Layla membuka mulutnya tak percaya kalau melihat Zara juga ada disana, dan apa tadi ia tak salah dengar?


"Kak Zara"


"Ila?" Mereka berdua sama terkejutnya. Laki-laki yang dipanggil Rio tadi juga menoleh dan membuat jantung Layla seperti berhenti berdetak


"Ka kamu?" Tanyanya gugup, bukankah seharusnya laki-laki itu masih dipenjara dua tahun lagi? Bukankah itu keputusan terakhir pengadilan yang ia dengar. Kenapa ia bisa bebas disini berkeliaran? Melihat penampilan Rio yang serba tertutup Layla justru berpikiran lain


"Dia tidak kabur dari penjara" Zara sepertinya tau arah pikir sepupunya karena itu ia langsung menyela sebelum Layla berpikiran negatif


"Kapan Kak Rio bebas?"


"Satu minggu lalu"


"Artinya..."


"Hey, anakmu tadi keluar" Layla gelagapan saat seseorang ibu tiba-tiba menepuk pundaknya membuatnya tersadar meninggalkan keponakannya cukup lama. Tanpa peduli pada Zara dan Rio, ia berlari kembali ke playground tadi, tapi Athala tak ada disana. Dengan panik, ia celingukan dan melihat anak laki-laki itu dipinggir jalan mengejar bola


Dengan panik ia berlari apalagi saat melihat kendaraan roda empat melaju disana


"ATHALA" teriaknya saat nyaris anak itu terserempet mobil, untungnya ada seseorang yang sigap menggendongnya

__ADS_1


__ADS_2