
Waktu ibarat kedipan mata, mungkin istilah itu memang benar adanya untuk sebagian orang saking merasa cepatnya waktu berjalan tanpa kita sadari. Ribuan kenangan, ratusan tempat dan puluhan bulan bahkan serasa seperti baru saja terjadi. Enam tahun bukanlah waktu yang sebentar, enam tahun memberikan banyak pelajaran berharga untuk semuanya, terutama perempuan berjilbab biru yang sedang menatap takjub bangunan didepannya saat ini
"Tempat ini untuk sholat juga kah?"
"Hanya pada hari jum'at. Mereka melakukan sholat jum'at disini. Karena itu dihari jum'at kita tidak perlu bayar untuk masuk, tapi ramainya luar biasa" Layla terkekeh dan mengarahkan kameranya kearah bangunan indah itu
"Taj mahal benar-benar menggambarkan cinta sejati yang diimpikan banyak orang didunia"
Layla menatap temannya yang mengatakan itu dengan rasa ketertarikan tinggi, kameranya tak henti menjepret kenangan di bangunan megah marmer putih itu
"Oh ya?"
"Tidak mungkin Kak Ila belum mendengar ceritanya kan?" Layla tertawa menanggapi teman yang baru ditemuinya beberapa hari lalu itu
"Aku suka mendengar ceritanya beberapa kalipun dari mulut orang yang berbeda"
"Karena kamu bekerja sebagai tour guide ku hari ini, bukankah sudah kewajibanmu menceritakannya Amla?" Tanya Layla seraya tersenyum masih menatap takjub bangunan yang berdiri megah didepannya. Untungnya ia memiliki teman disini, Amla adalah salah satu mahasiswa yang mendapat beasiswa ke negara ini. Layla mengenalnya saat ia melihat gadis itu kebingungan di bandara karena dompetnya ketinggalan ketika hendak membayar taksi. Dari sanalah awal kedekatan mereka, dengan Layla yang mengajukan niatnya untuk mengunjungi bangunan bersejarah itu
"Taj mahal salah satu ikon India yang diakui UNESCO. Bangunan megah ini terbuat dari batu marmer putih yang indah, butuh waktu 22 tahun dan 20.000 pekerja untuk membuatnya seindah ini. Detailnya begitu halus, dengab kaligrafi arab yang indah"
"Ada yang mengatakan kalau Shah Jahan memotong jari pekerja dan arsiteknya agar tak ada yang bisa membangun bangunan seindah ini, tapi tak ada bukti sama sekali tentang hal itu, apalagi Shah Jahan terkenal sebagai pemimpin yang baik"
"Yang terpenting dari semua itu adalah kisah dibaliknya, simbol cinta abadi seorang raja pada ratunya. Shah Jahan memiliki banyak istri, tapi yang paling dicintainya adalah Mumtaz mahal, karena itu ketika Mumtaz meninggal dunia, ia begitu terpukul dan membuat makam ini sebagai bentuk cinta suci pada istrinya. Tapi sayang, ditahun-tahun terakhir hidupnya ia tak pernah menginjakkan kakinya lagi disini. Ia jatuh sakit dan terjadi perebutan kekuasaan antara dua putranya. Ia dipenjara dan diasingkan di benteng kecil di Agra seumur hidup, satu-satunya yang bisa ia lakukan adalah melihat keindahan Taj Mahal dari kejauhan melalui celah kecil dipenjaranya"
"Kisah cinta yang indah tapi tragis" sambung Layla
"Tapi kisah mereka menurutku masih lebih baik dari kisah dari Persia, Layla Majnun. Kisah Qais dan Layla yang tak pernah bisa bersama sampai akhir hayat mereka. Mumtaz Mahal dan Shah Jahan pernah bahagia dan bisa bersama walau akhirnya seperti itu, sedangkan kisah Layla Majnun, mereka hanya bisa mencintai tapi tak bisa bersama"
Layla terdiam, perkataan Amla kembali mengungkit kenangan masa lalu yang berusaha keras ia lupakan sampai pergi jauh-jauh dari negaranya. Ia bekerja sebagai programmer di salah satu perusahaan terkenal di Amerika, salah satu mimpinya terwujud. Pekerjaannya tak membuatnya harus tetap berada diperusahaan. Kebetulan ia sedang cuti, dan memilih pergi ke negara ini, India. Setelah perceraian ia berusaha menjauh dari segala hal yang berhubungan dengan Qais, benar kata orang kalau mencintai tak semudah melupakan. Ia pindah kampus diluar kota, jauh dari keluarga dan sahabatnya. Benar-benar berusaha membuka lembaran baru dengan meninggalkan banyak kenangan. Tapi, tetap tak bisa dilupakan. Setelah lulus kuliah ia diterima bekerja di perusahaan teknologi raksasa di Amerika sebagai programmer, walau penuh perdebatan panjang dengan ayahnya. Layla berpikir tak mungkin menyia nyiakan kesempatan itu, saat kuliah ia terpilih ikut pertukaran pelajar ke negara Paman Sam, disana ia belajar banyak hal hingga setelah lulus kemarin ia ditawari kerja disana. Alasan terbesarnya hanya satu, untuk melupakan
"Apa Kak Ila mau masuk kedalam? Kurang lengkap rasanya kalau belum melihat secara langsung makam mereka, karena tujuan Taj Mahal dibuat memang untuk itu kan?" Layla menggelengkan kepalanya mengusir berbagai pikiran yang melayang dikepalanya, namun maksudnya salah diartikan oleh Amla
"Tidak mau?"
__ADS_1
"Hah? Apa?"
"Lihat makam mereka, Kak Ila nggak penasaran?"
"Aku penasaran, ayo kita liat"
"Tapi didalam kita nggak boleh bawa kamera" Layla mengangguk mengerti dan memasukkan kamera kedalam tasnya. Mereka harus menggunakan pelapis alas kaki agar tak mengotori tempat disana
"Bahkan setelah meninggal, mereka dikubur berdampingan ditempat khusus yang hanya milik mereka berdua" Layla mengangguk setuju, makam Shah Jahan berada tepat disamping makam istrinya
Suara ponsel menarik atensi dua orang yang sedang menikmati makanan khas india ditepi jalan. Suara klakson menjadi irama baru untuk Layla, lebih padat dari Indonesia. Klakson ibaratnya sebuah lagu dijalan yang tak pernah sepi
"Halo, Assalamu'alaikum"
"..."
"Nggak, aku di India"
"..."
"..."
"Sepertinya aku memang butuh ini" Layla sedikit terkekeh menjawab si penelpon diseberang sana
"..."
"Masih belum kuserahin tapi udah kutulis"
"..."
"Iya. Bilang sama ayah jangan banyak pikiran terutama mikirin aku, aku baik-baik aja disini. Kalau udah resign aku langsung pulang"
"..."
__ADS_1
"Wa'alaikumussalam"
"Hah" Layla menarik nafas panjang setelah memasukkan kembali benda persegi itu kedalam tasnya
"Disuruh pulang?" Tebak Amla yang tepat sasaran
"Kok kamu tau?" Layla memicingkan matanya curiga
"Aku ini anak rantau kak, yang ditanyain itu mulu tiap telponan, walau udah berkali-kali kubilang sama ibuku kalau aku belum libur"
"Artinya mereka rindu kamu"
"Giliran sampe rumah, disuruh beres-beres doang" Layla tertawa dan menganggukkan kepala setuju
"Mungkin itu cara mewujudkan kasih sayangnya sama kamu"
"Kasih sayang apanya kalau dijadiin kayak babu"
"Tapi jujur kamu rindu itu saat sampai disinikan?"
"Emang sih, sejauh-jauhnya kita pergi, rumah tetap jadi tempat kembali yang paling nyaman. Saat kita bisa jadi diri kita sendiri, apalagi omelan ibu yang ternyata aku rindu saat disini"
"Buat mereka bangga sama kamu, kuliah dengan baik dan jadi orang sukses yang berguna buat banyak orang" Amla mengangguk dengan antusias
"Ini mungkin kayaknya hari terakhirku disini, besok aku harus kembali ke Amerika"
"Nggak seru, masa liburan cuma satu hari"
"Gimana ya bilangnya, kayaknya aku juga mau ngajuin resign"
"Tapi kenapa? Tempat Kak Ila kerja bagus, gajinya juga banyak banget, kenapa harus resign?"
"Bahagia nggak selalu tentang uang, seperti yang kamu bilang sejauh kaki melangkah, rumah tetap jadi tempat kembali yang terbaik walau tidak untuk semua orang" Layla menarik nafasnya sejenak
__ADS_1
"Lagipula sepertinya aku harus berhenti melarikan diri dan berbalik menghadapi"