Atas Nama Jodoh

Atas Nama Jodoh
Bab 36 : Maksudnya?


__ADS_3

Matahati bersinar cukup terik, dengan peluh yang membasahi wajahnya, gadis berjilbab hijau muda dengan rok senada itu menyeka keringatnya, ia mendongak menatap sang mentari yang tak secerah biasanya, selanjutnya pandangannya tertuju pada rumah berwarna putih sederhana yang nampak nyaman ditinggali. Namun, kenyataannya sama sekali tak seperti itu. Ia menarik nafasnya panjang, bekerja di kafe lumayan melelahkan, tapi ia bersyukur karena teman kerjanya baik. Ia harus berterima kasih pada Bilal yang telah memberinya pekerjaan.


Dengan melangkahkan kaki pelan hendak membuka pagar rumah, ia mengernyit kala pagar itu tak lagi dikunci. Selanjutnya pandangannya tertuju pada pintu yang terlihat sedikit terbuka dan dua pasang sandal yang berjejer disana. Gadis itu menarik nafasnya pelan, ia pikir orang tuanya tak akan kembali lagi. Dengan langkah kaki yang dipercepat untuk ingin segera merebahkan tubuh dikamar, ia terhenti kala mendengar perbincangan dua orang di ruang tamu


"Aku mau kita pisah"


"Aku pikir ini memang yang terbaik untuk saat ini"


"Bagaimana dengan Bela?"


"Aku ingin sendiri" Bela tiba-tiba datang dan menghentikan pembicaraan dua orang itu


"Aku ingin sendiri, tidak ikut pada ayah atau ibu. Terserah kemanapun kalian ingin pergi dan mengejar arti kata bahagia untuk diri kalian masing-masing. Aku tak mau ikut dengan orang egois seperti kalian yang hanya memberi luka" ucapnya kemudian masuk kedalam kamar dan menutup pintunya kencang, meninggalkan dua orang yang menatap pintu coklat itu dengan pandangan rumit


"Tuhan, apa aku segitu kuatnya sampai ujian ku seperti ini? Apa kau pikir aku mampu melewatinya?"


"Rangkul aku karena hanya engkau yang kupunya saat ini, aku tak ingin lagi bergantung pada manusia termasuk orang tuaku sendiri" gadis itu meringkuk dan memegang dadanya erat. Sebagaimana seorang anak lainnya, ia ingin keluarga yang utuh dan bahagia. Tapi mungkin ini memang jalan takdir kalau itu hanya sekedar mimpi. Mungkin perpisahan lebih baik untuk orang tuanya agar tak saling menyakiti masing-masing, dengan begitu tak ada lagi suara bentakan kasar ayahnya atau suara nyaring ibunya yang balik melawan. Biarlah mereka hidup dengan pasangannya masing-masing, meninggalkan ia yang tak pernah berharap takdir berjalan seperti ini


Setidaknya ia tak perlu lagi mendengar bentakan kasar, atau mulut tetangga yang terang-terangan berucap didepannya. Biarlah mereka pergi, karena sekarang ia hanya akan sendiri, bukankah dari dulu memang seperti itu?


.


"Kalau ada masalah jangan dibawa ketempat kerja" Bela yang sedang mengatur makanan untuk diatas nampan tersentak mendengar suara itu, ia melihat kedepan dan ternyata dari tadi ia sedang menata piring kosong untuk nampan yang akan diantar pada pelanggan


"Maaf" Bela menunduk merasa tak enak pada Bilal, ia juga tak menyangka kalau laki-laki itu bisa ada disini


"Fokus" peringatnya sekali lagi yang diangguki gadis itu, padahal sebelumnya bagaimanapun masalah dirumah ia tak pernah sampai kepikiran tapi hari ini mendengar kata cerai entah kenapa membuat sebagian jiwanya seperti ada yang hilang


Matahari sudah tergantikan rembulan, langit yang biru cerah terganti warna pekat, saatnya malam yang menyapa. Lampu-lampu disepanjang jalan juga dari kendaraan yang berlalu lalang menyala terang, dan seiring berjalannya malam suasana sunyi perlahan terasa


"Hah" Bela menyandarkan tubuhnya pada dinding saat ia baru saja membalik tanda 'Tutup' di pintu. Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, saatnya ia pulang kerumah untuk mengistirahatkan tubuhnya yang lelah


"Mau pulang?" Bela terlonjak kaget dengan reflek memegang dadanya. Ia pikir hanya tersisa ia sendiri disini karena bagian terakhir yang memastikan semua sudah terkunci


"Maaf" Bilal menggaruk tengkuknya, padahal nampak jelas suara sepatunya tadi tapi mungkin memang Bela tak menyadari

__ADS_1


"Aku pikir kamu sudah pulang"


"Belum, aku tadi ketiduran diruang kerja ayah" Bela menganggukan kepala, pantas saja ia tak melihat laki-laki itu tadi


"Udah jam sepuluh, kamu pulang pakai apa?"


"Pesen online" ucap Bela menunjukkan layar handphonenya


"Ayo biar kuantar" Ucap Bilal mendadak yang ia sendiri bahkan tak menyangka kalimat itu akan keluar dari bibirnya


"Eh? Tapi..."


"Nggak baik ngerepotin orang di jam kayak gini, mereka pasti lagi istirahat sama keluarganya"


"Tapi mereka juga dibayarkan? Pasti senanglah dapat uang" jawab Bela dengan alasan logis


"Tetap aja mereka pasti lelah apalagi dijam kayak gini, hitung-hitung biar hemat ongkos" Bela berpikir sejenak, kemudian mengangguk. Benar juga pikirnya, lebih baik uangnya ditabung


"Emang nggak ngerepotin?" Ia bertanya pada Bilal karena merasa tak enak pada laki-laki itu


"Ayo"


"Bentar dulu aku ambil tas di loker" ucapnya menuju loker yang disediakan khusus untuk karyawan di cafe itu


"Tas? Bukannya itu dibahu kamu?" Pertanyaan Bilal membuat gadis itu menoleh dan menepuk jidatnya, ia benar-benar tidak bisa fokus untuk hari ini


"Kamu kayaknya lagi banyak masalah" ucap Bilal dengan tangan memegang kunci motor, tersisa motornya sendiri diparkiran


"Masalah biasa"


"Masalah biasa dan kecil kalau dibiarin bisa jadi masalah besar yang bakalan lebih sulit buat dicari jalan keluarnya"


"Mau cerita?" Lanjutnya yang membuat Bela nampak masih ragu


"Mungkin aku bisa bantu" Bela menghela nafasnya panjang dan menundukkan diri berselonjor kaki tepar didepan pintu kafe. Bilal mengikuti gadis itu melakukan hal serupa dan menatap gadis yang pertama kali ia temui sebagai preman pasar itu

__ADS_1


"Hahhh" terdengar helaan nafas panjang dari Bela


"Sebenarnya ini masalah biasa untukku dan sering terjadi. Tapi entah kenapa hari ini aku ngerasa kok aku lemah banget ya? Aku ngerasa kayak ada sesuatu yang hilang" ucapnya pelan


"Apa yang hilang?" Tanya Bilal penasaran, ia tak bisa menahan diri untuk tak bertanya


Bela terdiam sejenak, memperhatikan jalan raya didepannya yang masih dilalui pengendara kendaraan beroda walau tak sebanyak biasanya


"Entahlah aku tak tau apa yang membuatku merasa kehilangan. Kasih sayang mereka bahkan seperti tak pernah kurasakan, raga mereka bahkan jarang kudapati ada dirumah, lantas apa yang membuatku merasa hilang?" Tanyanya dengan nada serak seperti menahan tangis


"Orang tua?" Tanya Bilal ragu, ia pernah mendengar kalau Bela bahkan menganggap mereka sudah mati


"Hm" Bela membalas dengan anggukan dan deheman singkat


"Mereka pada akhirnya memilih cerai dan hidup masing-masing"


"Aku senang tak harus mendengar bentakan kasar mereka setiap hari, aku senang saat tak harus mendengar omongan tetangga yang terang-terangan menyindir, tapi kenapa aku merasa sebagian dari diriku ada yang hilang? Bukankah harusnya aku senang?" Tanyanya dengan nada lirih dan isakan pelan


"Karena kamu anak mereka" ucapan Bilal membuat Bela yang menunduk kini menoleh


"Seperti kata orang, darah lebih kental daripada air. Kamu darah daging mereka, dalam darah kamu mengalir darah mereka. Dan mungkin yang tak kamu tau, dulu kehadiranmu menciptakan tawa diwajah mereka. Kalian punya ikatan yang tak bisa diputus, ada benang tak kasat mata yang mengikatnya bagaimanapun cara salah satu diantara kalian berusaha memotongnya"


"Kalau aku bisa memilih mungkin sebaiknya aku memilih tak pernah ada" jawab Bela dengan pandangan yang kini mendongak menatap rembulan diatas sana


"Jangan mengatakan seperti itu, aku yakin ada hal yang membuat kita ingin hidup disini terlepas bagaimana kejamnya takdir mengatur. Jangan lupa, ada tuhan yang selalu bersama kita"


"Iya, hanya saja kadang aku merasa lelah sendiri menghadapi ini"


"Mau berbagi?"


"Apa?" Tanya Bela memastikan pendengarannya


"Agar tak merasa sendiri dan lelah menanggung semuanya sendiri. Apa kamu mau berbagi?"


"Maksudnya?" Tanya Bela yang masih berusaha untuk mencerna

__ADS_1


__ADS_2