Atas Nama Jodoh

Atas Nama Jodoh
Bab 27 : Dendam Terbalas


__ADS_3

Tak ada tatapan belas kasih yang terpancar. Hanya dendam dan hawa nafsu yang menguasai hati, tanpa kata Qais mengangkat pistol itu tepat kearah jantung membuat orang yang dipanggilnya paman kurang dari lima menit lalu bergetar ketakutan


"Aku masih baik karena langsung membunuhmu, tidak menyiksamu seperti apa yang kamu lakukan pada orang tuaku"


"Kamu pikir aku bodoh dan tak tau apapun? Kamu pikir aku hanya seorang anak ingusan yang tidak mengerti apa-apa?"


"Aku harus membunuhmu hari ini karena ternyata bukan hanya aku yang menjadi korban sikap tamakmu itu melainkan banyak orang tak berdosa diluar sana"


"Ayahmu berdosa" Qais terdiam saat laki-laki didepannya bicara, ia menahan diri tak menarik pelatuk pistolnya walau tangannya sudah gatal ingin melakukan itu


"Ayahmu berdosa karena merebut kasih sayang ayahku. Dia tak lebih dari saudara tiri, tapi kenapa ia selalu mendapat lebih banyak dari yang aku dapatkan. Dia selalu dipuji dan dibanggakan, sedangkan aku? Aku baginya tak lebih dari sekadar barang yang terpakai disaat tertentu"


"Hanya ayahmu, ayahmu yang disebut seolah hanya ia yang ada. Sedangkan aku? Anaknya sendiri terabaikan" Pak Rangga menumpahkan isi pikirannya, mengeluarkan apa yang membuatnya sampai melakukan hal itu


"Apa ayahku pernah minta diperlakukan seperti itu?!. Jangan menyalahkan dia seolah kau merasa paling tersakiti, dari perangaimu sekarang kau sama sekali tak pernah berubah bahkan setelah mendapat apa yang kamu mau"


"Apa maksudmu?!" Pak Rangga balas bicara dengan suara tinggi


"Tak mungkin hanya orang tua Qais yang jadi korban jika itu semata karena alasan yang kau sebut barusan" Rio angkat bicara, sedari tadi ia hanya mendengar paman dan keponakan yang tak saling anggap itu beradu pendapat


Pak Rangga terdiam, mungkin ia tak menyangka jika orang lain tau kalau ia tak hanya membunuh dua orang tapi lebih dari itu


"Kenapa diam? Kamu pikir kami tidak tau?" Rio tersenyum miring, ia menatap laki-laki yang terikat dikursi itu nampak terdiam berpikir


"Jika orang tuamu melakukan itu, lantas kenapa juga kamu melakukan hal yang sama pada anakmu, apa itu termasuk balas dendammu juga?" Qais angkat suara. Ia benci melihat laki-laki tua itu diam seolah-olah menyesal, apa memang perlu digertak seperti ini dulu baru menyesal?


"Pikir baik-baik pak tua. Dimana hatimu setidaknya sebagai ayah, kamu memanjakan anak tirimu, sedangkan anak kandungmu tak kau anggap. Apa kau ingin melampiaskan dendammu padanya juga? Apa salahnya yang tidak tau apa-apa tapi menerima perlakuan seperti itu? Aku yakin Nessi tak seperti dirimu dulu hingga diperlakukan seperti itu" lagi-lagi Pak Rangga diam, Qais dan Rio saling pandang. Mereka benci saat dimana laki-laki itu merasa paling bersalah dan menyesal diakhir.

__ADS_1


"Apa Nessi suka mabuk? Berganti-ganti pasangan? Atau memakai narkoba seperti yang kau lakukan dulu?" Pak Rangga terlihat sedikit terkejut, ia menatap Qais hendak bicara


"Jangan tanya darimana aku tau semua itu, karena itu tak penting sama sekali untuk dibahas sekarang. Yang aku ingin kau tau hanya malam ini adalah malam terakhirmu menghirup udara bebas"


"Karena ajalmu sudah ditanganku" ucap Qais berbisik pelan ditelinga laki-laki itu


"Nessi" Qais tersenyum miring mendengar gumaman pria itu seperti penuh penyesalan


"Aku hanya ingin membalas kematian orang tuaku yang kau bunuh tanpa belas kasih"


"Dan kematian saudaraku yang tak bersalah demi memenuhi ambisimu itu"


"DOR"


"DOR"


Malam yang gelap menjadi saksi bagaimana hati manusia penuh akan rasa benci dan kecewa berubah menjadi dendam. Dendam yang menghancurkan dirinya tanpa ia sadari.


Dijalan depan sana, mulai nampak perumahan warga. Layla tak tau ia ada dimana, ia hanya menuruti kemana jalan membawanya. Niatnya menuju perumahan warga berharap mendapat pertolongan terpaksa gagal karena motornya yang mendadak mati kehabisan bensin. Dengan tubuh yang masih gemetar, ia berusaha berlari sekencang mungkin menuju gapura masuk perumahan itu. Sayang, kecepatannya tak bisa menandingi motor yang dari tadi mengincar dirinya


Srekkk


"Akkh" Layla berteriak kala jilbabnya ditarik salah satu pemotor itu hingga hampir terlepas dan terdengar sampai robek


Badannya yang gemetar membuat Layla kesulitan mengatur nafas untuk berlari sekencang mungkin. Otaknya tak bisa berpikir dengan jernih


"Tolong!" ia berusaha berteriak, namun suara yang keluar justru hanya gumaman kecil akibat tubuhnya yang gemetar

__ADS_1


"Kau tak bisa lari lagi dari kami!" sekelompok laki-laki berbadan kekar itu turun dari motor dan berlari kearahnya. Layla tau ia tak mungkin bisa berlari lebih cepat lagi, hatinya tak henti meminta pertolongan pada Allah karena percaya Allah selalu melindungi hambanya


Srekkk


"Akh" kali ini salah satu dari mereka menarik lengan bajunya hingga robek. Layla terjatuh dengan memeluk tubuhnya sendiri


"Ja jangan" hanya itu yang bisa ia ucapkan pada laki-laki yang kini perlahan mendekat kearahnya


"Kami disuruh seseorang, dia membayar kami jadi kami hanya akan mendengar apa yang dia perintah. Bukan mendengar apa yang kamu perintah" temannya yang lain tertawa mendengar itu membuat Ila semakin menunduk ketakutan. Ia sudah menangis hebat dengan tubuh gemetar


"Cantik sekali, tak sia-sia kami menerima tugas ini" ucap yang lain dari mereka dengan nada yang tak sepantasnya


BUGH


BUGH


Hantaman keras terdengar mengenai kepala salah satu dari mereka hingga jatuh terlentang kejalan


"Ulangi apa yang kamu katakan padanya tadi, aku ingin mendengar mulut kotormu itu berbicara"


Layla yang sudah gemetar ketakutan perlahan mendongak dengan pipi memerah dan air mata yang masih mengalir, ia melihat siluet laki-laki dengan pandangan agak buram nampak sedang menginjak-injak mulut salah satu dari lima orang itu yang sudah jatuh terlentang


"Kak Qais" gumamnya setelah memastikan laki-laki itu adalah orang yang selalu mengejar-ngejar dirinya


"Jangan ikut campur masalah kami!" Salah seorang dari mereka dengan rambut kribo mendorong bahu Qais


"Masalahnya adalah masalahku. Dia calon makmumku dan sudah jelas kalau aku akan menolongnya"

__ADS_1


Qais memukul balik orang itu. Pertempuran sudah tak dapat dielakkan lagi. Layla terdiam menatap Qais yang beradu dengan lima orang berbadan kekar itu. Ia tak bisa membantu karena tak pandai dalam hal itu. Selalu saja ia membantah kalau disuruh oleh Bilal atau Naufal untuk belajar beladiri. Alasannya karena ada dua laki-laki itu yang selalu bersama dan melindunginya. Namun kini Ila sadar kalau tak mungkin juga selamanya bisa bersama.


Qais nampak cekatan menghalangi mereka, seolah-olah ia sudah biasa dengan semua itu. Serangan mereka dari berbagai arah bisa ia baca dengan mudah, Layla hanya mampu diam menatapnya tanpa kata. Ia bersyukur Allah membantunya lewat perantara Qais, laki-laki yang entah sejak kapan sering membayanginya


__ADS_2