
Pernikahan berlangsung sederhana diruang tamu rumah itu, Naufal hanya diam tak mengatakan apa-apa. Bahkan Bilal terus menggelengkan kepala sedari tadi, Kenzo yang baru datang sama terkejutnya tentang ini, Qais tiba-tiba menelpon dan dimatikan sepihak begitu saja.
"SAH" itu adalah suara warga yang menjadi saksi bagaimana pernikahan itu berlangsung dengan mahar seadanya yang dimiliki Qais saat itu, uang senilai 99.500 sesuai yang ada didompet laki-laki itu
"Nah sekarang kalian tidak perlu takut lagi, ayo cium tangan suamimu nak" Layla menatap Qais yang ternyata juga menatapnya. Mereka berdua nampak canggung sekali. Qais menjulurkan tangan, Layla dengan ragu dan sedikit gemetar mengambil tangan laki-laki itu untuk dikecup. Dengan dibimbing Naufal Qais meletakan tangan diubun-ubun istrinya dan membaca doa. Akhirnya resmi sudah dua manusia yang selalu bertolak belakang itu bersama sekarang
"Kami perlu bicara sebentar pak" Naufal undur diri yang diangguki mereka
Dan disinilah sekarang mereka berada, di gazebo bambu sederhana di belakang rumah itu
"Bisa kalian jelaskan apa yang terjadi?" Naufal angkat suara dengan nada tegasnya. Sejak berbicara didalam tadi, banyak yang menyela setiap Ila ingin menjelaskan dan mereka tak dibolehkan keluar dari ruangan itu sama sekali karena takut dianggap melarikan diri.
Setiap Naufal akan menjelaskan atau bicara pada mereka, ada saja yang menyela hingga kesabaran laki-laki itu hampir habis. Layla menggenggam tangan ayahnya dan menganggukkan kepala tanda ia memang setuju walau Naufal seperti keberatan
"Intinya hanya kesalah pahaman saja" Qais yang berbicara. Ia tak tega melihat Layla yang menunduk tak berani menatap ayahnya
"Saya baru pulang dari memb..." Qais langsung membekap mulutnya sendiri saat hampir keceplosan
"Memb?" Bilal mengulangi kalimat itu, ia jelas curiga
"Membantu teman saya yang ban motornya bocor. Kebetulan saya melihat perempuan diganggu sekitar lima laki-laki. Setelah saya mendekat ternyata itu Ila, jadi saya langsung membantu. Tapi setelah penjahat itu kabur, dua warga menemukan kami dan salah paham. Padahal saat itu saya hanya membantu Ila berdiri"
"Ila juga nggak mungkin ngelakuin hal kayak gitu ayah" ucap Layla pelan. Ia tau Naufal pastinya marah
"Bagaimana kamu bisa sampai kesini?" Tanya Naufal, jika Ila sampai disini otomatis ia tadi melewati jalan menuju rumah
"Mereka menghadang dijalan yang menuju rumah, Ila tak mungkin sempat berbalik dan langsung memilih jalan lurus begitu saja"
"Sebenarnya siapa mereka? Tak pernah ada hal seperti ini terjadi sebelumnya"
"Mereka bilang hanya disuruh" Qais yang angkat suara, ia mendengar apa yang dikatakan orang-orang itu
"Siapa yang nyuruh? Apa kamu punya musuh?" Layla langsung menggeleng, ia tak pernah mencari masalah dengan orang lain
__ADS_1
"Jangan-jangan orang yang mengintip kamu dipohon saat itu"
"Mengintip?" Semuanya menatap Bilal meminta penjelasan
"Dia berambut hitam panjang, berkulit putih dan memang terlihat seperti menaruh dendam untuk Ila"
"Tapi aku nggak kenal sama sekali" Layla ingat tak ada temannya seperti yang dibicarakan Bilal
"Hah, aku ingat sempat bertemu dia pagi ini. Perempuan itu memakai mobil merah dengan tato kupu-kupu dipergelangan tangannya" kini Qais yang mengepalkan tangan, ia sangat tau siapa yang Bilal maksud
"Kenapa kalian tidak berusaha menjelaskan pada mereka" kali ini Kenzo angkat suara
"Menjelaskan bagaimana? Selalu ada yang menyela dan menganggap kami penipu bahkan pezina"
"Astagfirullohaladzim" mereka yang mendengarnya mengucap istigfar
"Qais" suara Naufal berubah, ia menatap laki-laki itu dengan pandangan dalam
"Tanggung jawab putriku telah teralihkan padamu. Tolong jaga ia dengan baik, jangan bicara kasar, membentak apalagi sampai memakai tanganmu untuk menasihatinya. Aku yang membesarkannya hingga sebesar ini, tolong jangan buat ibunya kecewa padaku karena aku menyerahkannya pada laki-laki yang kurang tepat" Naufal menahan isakan tangisnya, ia tak pernah membayangkan kalau ini akan terjadi
"Aku sudah mencintainya jauh sebelum itu" batin Qais, ia menatap Layla yang menunduk meremas kedua tangannya
"Jika kamu sudah tak ingin bersamanya, kembalikan ia padaku dengan cara yang baik dan jangan sampai kamu membawa nama perempuan lain selama kalian masih bersama"
"Aku seorang laki-laki beruntung yang berhasil mendapatkan putrimu. Aku akan berusaha menjadi imam yang baik. Ilmu agamaku tak lebih banyak darinya, tapi aku akan terus belajar lebih banyak lagi" ucap Qais sungguh-sungguh
"Kalian bisa saling membimbing dan mengajarkan satu sama lain. Saling mengingatkan mana yang benar dan mana yang salah. Kalian tak lagi sendiri, terlepas bagaimana caranya kalian bisa terikat. Tapi tolong untuk mengingat tanggung jawab masing-masing" Keduanya hanya terdiam, Layla perlahan menitikkan air matanya. Sedangkan Qais merasa tersentil dengan setiap kalimat itu
"Ila, sekarang tanggung jawab ayah sudah berpindah pada laki-laki ini. Hormati dia sebagai suamimu dan belajar menjadi istri yang baik. Pernikahan bukan sehari dua hari, tapi ini adalah ibadah yang panjang. Maka jalanilah dengan ikhlas, sabar dan bersyukur"
Malam itu bintang-bintang yang memenuhi langit dengan membentuk berbagai rasi bintang juga sang rembulan yang bersinar terang menjadi saksi bagaimana Allah mempersatukan mereka lewat cara yang tak pernah mereka duga sekalipun
.
__ADS_1
"Aku pikir kita tidak akan pernah bisa bersama" Layla membuka suaranya, ia menatap dedaunan pohon yang bergerak seiring irama angin malam dari balik jendela kamarnya. Mereka memang memutuskan untuk pulang kerumah Ila untuk mengambil pakaian dan baru pulang kerumah Qais besok
"Kenapa?" Qais membuka suara, ia turut duduk disebelah istrinya
"Karena nama Qais dan Layla tak ditakdirkan bersama walau saling mencintai"
"Bisa aku mendengar ceritanya?" Qais menatap kearah Layla yang masih memperhatikan indahnya bintang. Tapi menurutnya perempuan yang didepannya ini lebih indah dari apapun
"Kisah ini berjudul Layla Majnun, kisah cinta..."
"Tapi namaku Qais bukan Majnun" ucap Qais menyela dan membuat Layla kesal
"Aku baru mulai dan kamu sudah menyelanya" Qais mengusap tengkuknya dan tercengir lebar
"Baik, aku tak akan menyela"
"Kisah cinta dua anak manusia bernama Qais bin Mulawwah dan Layla Al-Amiriyah. Kisah ini ditulis oleh pujangga asal Azerbaijan dengan nama pena Nizami Ganjavi"
"Kenapa Qais disebut majnun?" Tanya Qais memotong, padahal ia sudah mengatakan tak akan memotong cerita
"Karena cinta membuat dirinya gila"
"Apa mereka berdua saling mencintai?"
"Iya, mereka saling mencintai"
"Lalu kenapa mereka tidak bisa bersama?"
"Karena keluarga Layla menolak Qais menikah dengan Layla. Layla dinikahkan dengan orang lain dan itu yang menbuat Qais menjadi gila"
"Bukankah itu jelas berbeda?" kini Layla yang menatap Qais hingga pandangan mereka saling bertemu
"Keluargamu menerimaku tidak seperti Qais dan..."
__ADS_1
"Dan?" Layla mengernyitkan satu alisnya saat Qais sengaja menjeda ucapannya
"Layla mencintai Qais. Apa kamu juga mencintaiku?"