Atas Nama Jodoh

Atas Nama Jodoh
Bab 38 : Siapa?


__ADS_3

Lega, itu yang dirasakan Layla. Setidaknya masalah dengan Yasmin selesai, mengurangi sedikit beban pikirannya yang beberapa hari ini tidak bisa tenang


Ceklek


Pandangannya teralihkan pada pintu yang baru saja terbuka, sekali lagi ia menghela nafas melihat penampilan suaminya yang pulang babak belur, sedangkan yang ditatap hanya menampilkan cengirannya kemudian meringis saat luka disudut bibirnya terasa


"Kalau Kak Qais kayak gini lagi, aku bisa alih profesi jadi dokter" Layla menggerutu dan mulai mengambil peralatan kesehatan juga es batu untuk mengompres memar laki-laki itu


"Cukup jadi dokter pribadi aku aja"


"Dihhh" Layla merasa geli sendiri mendengarnya


"Berantemnya sama siapa lagi?"


"Sepupu kamu" jawab Qais santai


"Kayaknya dia punya dendam banget ke aku sampai dijadiin target" kekehnya namun kemudian meringis karena bibirnya yang masih sakit


"Gabril emang kayak gitu, nanti aku coba bicara ke dia"


"Nggak usah, aku suka gimana cara dia ngelindungi kamu" Layla menaikkan sebelah alisnya


"Maksudnya?"


"Dia nonjok aku sambil bilang buat jangan pernah sakiti kamu, kamu bilang pas aku mabuk dia yang bawa aku pulang, kayaknya dia masih dendam karena itu" Layla tak lagi bicara, ia memilih fokus pada luka Qais yang seolah menjadi rutinitas minimal sekali seminggu. Diperingati Qais malah mengatakan kalau musuh sering muncul tiba-tiba. Layla mengerti, itu resikonya menjadi ketua geng yang dimusuhi geng lain


"Cantik"


"Hah?" Layla menaikkan sebelah alisnya


"Kamu cantik"


"Apaansih?" Layla menunduk menyamarkan wajahnya yang memerah karena malu


"Cieee malu"


Dengan sengaja Layla sedikit menekan pada lebam yang membuat Qais memekik kesakitan


"Rasain tuh"


"KDRT loh ini" gumamnya namun tak digubris Layla yang sedang membereskan peralatan P3K itu dengan telaten


"Gimana tadi, udah selesai?" Layla mengangguk, ia mengambil duduk disebelah Qais. Ia memang memberitau kalau akan ke ponpes dan memperbaiki hubungan dengan Yasmin

__ADS_1


"Kak Yasmin ternyata udah nerima lamaran Kak Zain" ucapnya pelan dan menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa


"Cemburu?" Layla kembali menegakkan tubuh mendengar ucapan Qais


"Maksud Kak Qais?" Kini giliran Qais yang menarik nafasnya panjang


"Kamu cemburu sama dia yang nerima Zain?" Entahlah, Layla antara ingin tertawa atau marah mendengar pertanyaan itu


"Kenapa Kak Qais bilang gitu?"


"Bilal bilang, kamu suka dia" ucapnya menunduk seperti telah melakukan kesalahan


"Kapan?" Tanya Layla penasaran. Kenapa pula Bilal menceritakan ini pada Qais, padahal ia sudah pernah bilang untuk tidak menceritakan pada siapapun


"Pas aku mabuk" jawab Qais semakin pelan, kalau Layla tak duduk persis disampingnya, ia bahkan tak mungkin mendengar apa yang Qais katakan


Layla terdiam mencerna, hari itu juga kebetulan ia bertemu dengan Zain ditaman dan malam harinya Qais mabuk. Ini seperti peristiwa yang berurutan, apa jangan-jangan saat ia bicara ditaman Qais lihat dan salah paham?


"Iya aku liat" ucap Qais seolah bisa membaca pikirannya


"Kak Qais liat?" Tanya Layla sekali lagi


"Iya aku liat kalian bicara berdua ditaman"


"Kak Qais denger"


"Terus Kak Qais ambil kesimpulan sendiri dan pergi ke club?" Bagai anak yang telah melakukan kesalahan Qais menunduk dan mengangguk dengan menautkan kedua jarinya membuat Layla membuka mulut tak percaya melihat kelakuan suaminya yang jauh berbeda sebelum mereka bersama


"Kak Qais cuma denger setengah makanya mikir kayak gitu" ucapan Layla sontak membuat Qais mendongak menatap wajah istrinya


"Seperti yang aku bilang sama Kak Qais, asalkan mau usaha dan kembali kejalan yang benar itu nggak masalah. Kita bisa belajar bareng, nggak perlu ngerasa rendah kayak gitu. Aku juga sadar masih punya banyak kekurangan"


"Jadi..."


"Jadi?" Layla menaikkan sebelah alisnya menuju kelanjutan kalimat Qais


"Jadi kita bisa tetap bersama sampai kedepannya?"


"Kenapa nggak?" Tanya Layla balik


"Walau bagaimanapun aku dimasa depan? Walau kamu tau semua kekurangan dan kesalahanku?" Layla mengangguk pasti


"Aku udah bilang sama Kak Qais, biar bagaimanapun tugas pasangan itu saling mengingatkan satu sama lain. Jangan merasa rendah, aku juga masih punya banyak kekurangan dan perlu belajar lebih banyak lagi"

__ADS_1


ucapan Layla membuat Qais menggenggam tangan istrinya erat seolah menyalurkan perasaan dari hatinya


"Mau keluar?" Tanyanya lanjut


"Malam-malam kayak gini?" Layla melirik jam di dinding hampir menunjukkan pukul sebelas


"Aku liat orang masih cukup ramai ditaman"


"Itu orang?" pertanyaan Layla malah membuat Qais mengerutkan alis bingung


"Maksudnya?"


"Bukan hantu kan?" sempat terdiam sejenak kemudian Qais tertawa terbahak membuatnya kemudian meringis karena luka disudut bibirnya seperti bertambah lebar


"Itu manusia kok, emang jam segini kadang masih rame apalagi sekarang malam minggu" Layla terdiam seperti berpikir kemudian menoleh pada Qais yang menanti jawabannya


"Tapi kondisi Kak Qais lagi banyak luka kayak gini. Bukannya lebih baik istirahat?"


"Aku kuat kok, lagian ini cuma luka kecil" ucap Qais meraih jaket motornya dan berdiri


"Kalau luka kecil, ngapain teriak sakit kayak orang kecelakaan" gumam Layla, namun tetap melangkahkan kakinya mengambil jaket karena udara diluar lumayan dingin


Menempuh perjalanan dengan motor hanya dengan waktu kurang dari sepuluh menit, mereka sampai ditaman yang terlihat lumayan rame terutama oleh muda mudi dan gerobak pedagang yang masih berjejer dengan lampu menyala di pinggir jalan


"Tuhkan, itu manusia" seakan masih menertawakan hal yang tadi, Qais kembali mengungkit perkara yang membuat Ila segera memukul lengan laki-laki itu


"Mau beli apa?" Qais bertanya setelah melepas helm dan memarkirkan motornya. Layla mengamati sekeliling, banyaknya pedagang disana membuatnya bingung


"Kak Qais mau apa?" Tanyanya balik


"Es krim mau?" Qais menunjuk minimarket yang masih terbuka diseberang jalan. Layla mengerutkan kening kemudian mengangguk, ia juga masih kenyang jika harus membeli makanan berat


"Kalau kesini cuma beli es krim, mini market didepan rumah juga masih buka" kekeh Layla sambil membuka plastik es krim coklat yang baru saja mereka beli. Dua orang itu kini memilih duduk dibawah pohon besar samping minimarket itu. Cukup terang karena tempatnya tersorot lampu dari minimaeket


"Tapi suasananya beda" jawab Qais membuat Layla mengangguk dan tak lagi membalas. Ia sibuk memperhatikan sekeliling sampai matanya tertuju pada satu objek yang membuatnya mengenggam tangan Qais ketakutan


"Kenapa?" Tanya Qais mengerutkan kening bingung


"Kak Qais liat disana" Layla menunjuk seseorang dengan kaos pendek berwarna biru yang duduk disebelah rombong bakso


"Siapa?" Qais tak melihat begitu jelas karena tempat orang itu temaram dan tak tersorot lampu sekitar


"Bentar, tadi dia kemana?" Layla kembali melihat namun orang itu entah pergi kemana

__ADS_1


"Memangnya siapa?" Tanya Qais semakin penasaran


"Dia seperti ayahnya Nessi yang kemarin meninggal karena jatuh dari jurang" Qais tak sadar menjatuhkan es krim ditangannya mendengar itu. Entah kenapa perasaannya tak enak sekarang


__ADS_2