
Tiupan angin menerbangkan dedaunan kering yang berjatuhan, awan mendung menyelimuti langit siang itu hingga terasa lebih teduh dari biasanya
Dengan menarik nafasnya panjang, laki-laki yang baru turun dari motornya itu mengucap salam pada rumah bertingkat sederhana yang nampak asri dengan berbagai jenis bunga yang diletakkan dalam pot berbagai ukuran
"Assalamu'alaikum"
"Wa'alaikumussalam" terdengar sahutan salam dari belakang
Saat salam ketiga barulah sang pemilik rumah membuka pintu, dilihat dari sarung serta peci yang bertengger dikepala dapat ditebak ia baru saja selesai sholat
"Wa'alaikumussalam"
"Qais? Tumben sekali, ada apa?"
Qais diam sejenak, menatap laki-laki yang merawatnya setelah orang tua mereka meninggal. Kata-kata yang disusunnya sedemikian mungkin dikepala hilang entah kemana. Hingga apa yang keluar dari mulutnya membuat kakaknya terkejut
"Aku sudah membunuh orang" Kenzo diam sejenak seperti orang linglung
"Ayo masuk, bicarakan didalam" Kenzo membuka lebar pintu rumahnya, dan mengajak adiknya duduk disofa. Ia yakin pasti ia salah dengar tadi
"Apa yang kamu katakan tadi?, aku tak bisa mendengar dengan jelas"
"Aku membunuh orang kak, aku pembunuh"
Deg
Kenzo menatap adiknya dengan pandangan sulit diartikan
"A apa maksud kamu Qais? Jangan bercanda!" Kenzo menaikkan nada bicaranya, dirumah itu hanya mereka berdua karena istri dan dua anaknya sedang pergi mengikuti kegiatan yang dilakukan sekolah
"Tapi sialnya dia masih hidup"
"B*jing*n itu masih hidup!, harusnya dia mati saja!"
"QAIS!" Qais menunduk kemudian menatap kakaknya yang seperti belum mengerti apapun
"Aku membalas dendam untuk kematian orang tua kita, aku tak mungkin membiarkan..."
"Jadi kau pelakunya?" Potong Kenzo. Ia menatap adiknya dengan kecewa namun tersirat kesedihan
"Kau yang melakukannya?" Ulangnya sekali lagi dan Qais mengangguk. Kakaknya sudah pasti tau tentang berita yang heboh dipublik saat ini. Kenzo mengusap rambutnya frustasi
"Qais, berapa kali kakak mengingatkanmu kalau dendam hanya akan merusak dirimu sendiri!"
"Tapi aku tak terima dia bahagia saat dengan santai tangan kotornya membunuh orang lain hanya karena dendam tak masuk akal"
__ADS_1
"Dan kamu justru melakukan hal yang sama? Balas dendam? Apa itu membuatmu senang? Apa itu membuat hatimu puas?" Qais diam karena kakaknya memang benar
"Qais kakak tak percaya kamu bertindak sejauh itu. Kakak memang marah pada laki-laki itu, tapi bukan begitu cara yang benar untuk membalasnya. Kakak sedang berusaha mencari bukti dan saksi sebanyak-banyaknya untuk menyerahkannya pada hukum"
"Aku punya semua buktinya"
"Lalu kenapa kamu lakukan tindakan bodoh itu?"
"Karena dia belum tentu dihukum mati"
"Jadi alasan kamu melakukan semuanya sendiri agar dia mati? Lalu apa dia sudah mati sekarang?"
"Tidak kan? Justru kamu mengantarkanmu dirimu sendiri pada hukum" Lagi-lagi Qais diam, sesal dan perasaan lain yang tak bisa didefinisikan berkecamuk didalam dadanya
"Aku siap menerima hukumanku, karena bukti yang aku punya kuyakin bisa membuatnya mendapat hukuman mati" Kenzo ingin sekali berteriak dan menghajar adiknya itu habis-habisan, tapi ia tau kalau amarah hanya akan membawa pada hal yang tidak baik
"Qais apa kamu tak berpikir panjang sampai dengan mudahnya mengatakan itu? Apa kau tak memikirkan bagaimana nasib istrimu?"
"Aku mungkin akan menceraikannya"
PLAKKK
Kali ini Kenzo benar-benar melampiaskan amarahnya melalui tamparan itu
"Aku memikirkan semuanya dan aku yakin ini adalah jalan yang benar" bela Qais
"Darimananya sebuah perceraian adalah jalan yang benar?"
"Aku sudah pasti dihukum karena kasus ini, aku tak akan membiarkan dia menyandang status istri seorang narapidana! Tak akan kubiarkan namanya hancur hanya karena aku suaminya" Teriak Qais, sesaat kemudian ia menangis tergugu karena bagaimana mungkin juga ia bisa melakukan itu pada istrinya, perempuan yang begitu dicintainya
"Apa yang akan kau katakan pada ayahnya? Kupikir tak mungkin semudah itu"
"Aku akan menemuinya sekarang, bagaimanapun juga baj*ngan itu kemungkinan besok sudah melapor pada polisi"
Kenzo menarik nafasnya panjang, inginnya ia memaki adiknya itu dengan sebutan bodoh dan lain sebagainya, tapi ia ingat kalau kedatangan Qais kesini yang ia butuhkan adalah sebuah dukungan
"Kakak akan mencari pengacara terbaik untukmu, berusaha agar kau dihukum seringan-ringannya"
.
Langit kelabu masih menjadi pemandangan kala surya perlahan menuju ufuk barat. Udara makin terasa dingin, seiring langit yang perlahan berubah gelap. Dengan memantapkan langkahnya, Qais memasuki pekarangan rumah bertingkat dua yang nampak sederhana namun asri karena banyaknya jenis bunga yang ditanam disana
"Assalamu'alaikum"
"Wa'alaikumussalam" terdengar sahutan salam dari belakang
__ADS_1
Dengan memantapkan niatnya Qais menuju area belakang, mertuanya ternyata sedang duduk dikursi sambil memberi makan ikan-ikan dikolam
"Qais?" Naufal mengernyitkan alisnya
"Aku datang sendiri" Qais menyadari kebingungan ayah mertuanya yang melihat kebelakangnya. Sepertinya ia menduga kalau Ila ikut bersamanya
"Tumben sekali, apa ada hal penting yang ingin dibicarakan?" Naufal meletakkan pakan ikan ditangannya ketempat semula kemudian mengajak Qais masuk kedalam rumah
"Ayah ambilkan minum sebentar"
"Tidak usah ayah, aku hanya ingin mengatakan sesuatu setelah itu pergi"
"Apa sebenarnya yang ingin kamu katakan?" Naufal menaikkan sebelah alisnya curiga, dari kemarin entah kenapa perasaannya tidak enak
"Sebelumnya aku ingin meminta maaf pada ayah karena keputusanku sudah pasti menyakiti hatimu sebagai seorang ayah"
Perasaan Naufal semakin tak enak, karena jika sudah menyangkut putrinya ia tak akan bisa diam
"Apa yang ingin kau katakan sebenarnya?"
Qais menarik nafasnya panjang, matanya memerah menahan tangis, sejujurnya ia seperti tak akan pernah sanggup mengatakan ini.Ia menarik nafasnya panjang, kemudian menatap mata ayah mertuanya yang juga sedang menatapnya
"Sebelumnya aku ingin memberitau ayah sesuatu kalau aku terjerat kasus hukum" tangan Naufal mulai mengepal
"Kasus apa?"
"Percobaan pembunuhan" lirih Qais yang mampu membuat emosi Naufal meningkat, namun ia segera beristigfar untuk tetap tenang. Bagaimanapun juga kata-kata yang akan keluar saat marah adalah perkataan yang tak pernah baik
"Ayah sudah pasti tau berita yang ramai diperbincangkan publik sekarang. Pak Rangga pebisnis yang kini kembali setelah sempat diberitakan meninggal"
"Kau pelakunya?" Qais mengangguk saat Naufal bertanya
"Dia membunuh kedua orang tuaku, dan aku melihat dengan mata kepalaku sendiri" tetesan air mata jatuh dari matanya namun segera ia hapus
"Jadi kau balas dendam?" Qais mengangguk kedua kalinya
"Balas dendam adalah hal yang tak boleh dilakukan bagaimanapun bencinya kamu, karena Allah sudah menyiapkan balasan seseorang sesuai dengan apa yang diperbuatnya" nasihat Naufal yang membuat Qais semakin menunduk
"Aku seharusnya sudah tau itu, tapi hatiku terliput dendam yang semakin menjadi. Aku tak bisa melihat ia dengan bangga duduk dikursi perusahaannya saat sadar itu alasannya membunuh orang tuaku"
"Jadi ayah kedatanganku hari ini adalah hal yang sebenarnya tak pernah ingin aku lakukan" Qais menarik nafasnya panjang kemudian menatap mata ayah mertuanya yang seperti sedang menunggu jawabannya
"Aku akan masuk penjara dan menyandang gelar narapidana dan aku tak ingin nama istriku buruk karenanya. Oleh karena itu ayah, aku kembalikan putrimu karena aku tak ingin dia dikenal buruk oleh perbuatanku"
BUGH
__ADS_1