
Dengan memantapkan hatinya, Layla melangkahkan kakinya masuk pada bangunan yang berdiri megah didepannya. Terhitung hampir dua bulan sejak terakhir kali ia melangkahkan kaki menuju bangunan itu. Suasananya yang asri dengan lantunan sholawat adalah hal yang selalu membuat hati terasa rindu dengannya. Bangunan ini pernah menjadi saksi biksu bagaimana ayahnya melewati masa kecil penuh kenangan
"Ila" Layla menatap Sarah, mereka sering menghabiskan waktu bersama dulu saat ia sering ke ponpes
"Assalamu'alaikum"
"Wa'alaikumussalam"
"Kukira bukan kamu, udah lama banget nggak dateng kesini"
"Lagi banyak tugas" jawab Layla tersenyum, walau itu sebenarnya bukan hal yang utama
"Kamu pasti dateng karena denger lamaran Kak Zain akhirnya keterima sama Kak Yasmin kan?"
"Ha?" Layla sedikit membuka mulutnya menunjukkan ekspresi terkejut mendengar itu
"Padahal dulu kita sering banget bahas Kak Zain kan? Ternyata jodohnya emang Kak Yasmin. Anak-anak ponpes banyak yang patah hati dari santri putra atau santri putri" Layla tak fokus mendengarkan Sarah yang terus berbicara, ia masih mencerna hal tadi dalam otaknya
"Sarah aku duluan ya, ada urusan. Assalamu'alaikum" langsung saja ia melangkahkan kakinya pergi kerumah berpagar coklat kayu yang sudah lama tak ia kunjungi tanpa mendengar terlalu jelas apa yang dikatakan sarah selanjutnya
Melihat dua mobil hitam yang tak ia kenal terparkir dihalaman membuatnya tau kalau mereka ada tamu, karena itu Layla memilih melangkahkan kakinya menuju pintu belakang
Ceklek
"Eh, astagfirulloh" orang yang berada didapur terkejut karena pintu itu memang terhubung langsung dengan dapur
"Hehe maaf bik, Assalamu'alaikum" Layla menangkupkan tangannya didepan dada tak lupa dengan cengiran di wajahnya. Beruntung disana hanya Bik Imah, karena sudah pasti yang lain sedang menyambut tamu
"Non Ila kenapa masuk lewat sana"
"Didepan ada tamu bik, nggak sopan"
"Oh iya, hari ini ada kunjungan dari keluarga Nak Zain. Sepertinya membahas masalah pernikahan"
"Bibik tehnya udah jadi?" Kedua orang itu menoleh pada seseorang yang baru saja memasuki dapur
__ADS_1
"Assalamu'alaikum ummi" dia ibu dari Yasmin, alih-alih memanggil dengan bibik ia disuruh memanggil dengan ummi sama seperti yang lain
"Loh Ila? Kamu udah lama banget nggak kesini"
"Tugas kuliah banyak" ucapnya sedikit sungkan karena itu bukan alasan utama. Yasmin juga sepertinya belum memberitau tentang hubungan mereka
"Kebetulan kamu disini, ayo temani Yasmin bersiap-siap. Dia pasti senang ada kamu disini" Layla tersenyum tipis dan mengangguk. Tak mungkin baginya menolak, terhitung ini juga sebagai pendekatannya pada Yasmin
Menatap pintu coklat didepannya dengan ragu, Layla akhirnya memberanikan diri mengetuk pintu itu
"Masuk aja, pintunya nggak dikunci" jawabann seseorang dari dalam justru membuat Layla semakin ragu untuk menarik knop pintu. Entah bagaimana reaksi Yasmin nanti, ia tak bisa bayangkan
"Kak Yasmin" akhirnya ia beranikan diri menyapa setelah pintu itu terbuka. Nampak raut terkejut terlihat dari wanita bergamis putih yang duduk di tepi kasur, jelas ia tak menduga kalau yang datang adalah sepupunya
"Ila?" Tanyanya seperti tak percaya
"Boleh aku masuk? " pertanyaan ini jelas tak pernah ada sebelumnya. Namun Ila sadar bagaimana hubungan keduanya saat ini
"Ayo masuk" meski suasana terasa canggung, Ila perlahan menapakkan kaki memasuki kamar yang didominasi warna hijau muda itu
"Gimana kabar Kak Yasmin?"
"Yakin baik? Tapi kenapa yang aku liat Kak Yasmin nggak baik-baik aja?" Mendengar hal itu sontak membuat Yasmin menoleh menaikkan sebelah alisnya penuh tanda tanya
"Maksud kamu?"
"Tubuh Kak Yasmin mungkin baik-baik aja. Tapi apa hati Kak Yasmin juga baik-baik saja?" Layla menepuk mulutnya pelan setelah berkata seperti itu. Tapi memang seperti tak ada raut kebahagiaan yang terpancar seperti yang biasanya terjadi pada sebagian orang saat menyambut calonnya
"Ternyata tetap saja aku tak bisa berbohong didepanmu" Yasmin tersenyum tipis. Dia menatap Layla dan selanjutnya tanpa bisa ditahan, air mata keluar dari kelopak matanya
"Aku nggak suka dia Ila" lirihnya pelan
"Dia baik, tapi hatiku seperti terpaksa menerima kehadirannya. Aku nggak tau kenapa bisa kayak gitu, padahal aku udah berusaha buat suka sama dia" Layla terdiam, tahu apa yang dimaksud oleh Yasmin disini
"Lalu kenapa diterima?"
__ADS_1
"Alasanku sepertinya terdengar jahat, tapi aku berharap saat bersamanya aku bisa melupakan Qais" Layla memejamkan mata saat nama suaminya disebut, selanjutnya ia mengangguk mengerti. Kadang untuk melupakan sesuatu yang lama kita harus menghadirkan suatu hal yang baru
"Maka berusahalah untuk menerimanya" jawab Layla
"Mungkin benar untuk sebagian orang, cinta bertumbuh seiring berjalan waktu. Setelah hidup bersamanya Kak Yasmin pasti akan tau hal apa dari dirinya yang membuat Kak Yasmin jatuh cinta"
"Dia baik, paham agama dan pasti tau caranya memperlakukan perempuan dengan baik. Aku yakin tak sulit untuk jatuh cinta dengan orang seperti itu, karena aku pernah merasakannya" tentu kalimat terakhir hanya berani Layla ucapkan dalam hati. Tak mungkin ia terang-terangan mengatakan itu didepan Yasmin
"Apa benar begitu?"
"Untukku iya, Kak Yasmin mungkin nggak tau, tapi sebelum bersama dengan Qais, aku tak pernah terpikir bisa bersamanya. Yang aku lihat hanya hal buruk yang ada pada dirinya, itu yang membuatku sulit menanamkan rasa itu dalam hatiku. Tapi seiring berjalan waktu kami bersama, aku sadar kalau pasti ada hal dari dirinya yang akan membuat kita jatuh cinta dan itu hanya bisa kita lihat setelah bersamanya"
"Jadi cinta bisa tumbuh seiring berjalan waktu, itu mungkin benar untuk sebagian orang termasuk aku dengan syarat keduanya harus bisa untuk membuka hati satu sama lain" ucap Layla memegang kedua pundak sepupunya untuk meyakinkan
"Apa dia bisa menerima segala sikapku nanti yang mungkin belum ia tau" suara Yasmin masih terdengar ragu "aku takut" lanjutnya pelan
"Kalau dia udah berani datang kesini untuk menyampaikan niat baiknya, artinya dia juga udah siap bagaimana konsekuensi kedepannya kalau kalian bersama"
Yasmin mengerjap kemudian mengangguk mengerti meyakinkan dirinya, ia memeluk Layla dan mengucapkan kata maaf, bahkan pada ummi nya ia tak berani bercerita tentang ini
"Kenapa Kak Yasmin nggak pernah cerita kalau nerima lamaran Kak Zain?"
"Aku pikir kamu marah karena sikap aku hari itu. Makanya nggak pernah berkunjung lagi kesini, aku bahkan malu buat nemuin kamu pas dikampus"
"Justru aku yang ngerasa salah saat itu. Aku terlalu takut kalau Kak Yasmin masih marah sama aku. Jadi aku pikir untuk ngejauh, tapi itu justru buat perasaanku semakin tak tenang" jawab Layla menghela nafas panjangnya
"Aku memang sempat kecewa saat itu, tapi tidak sampai dendam yang bisa membutakan hati"
"Paman Naufal tau, emang dia nggak cerita?"
"Ayah nggak pernah ngomong apa-apa" jawab Layla. Mungkin ini cara Naufal agar ia sendiri yang datang kesini dan memperbaiki hubungannya dengan Yasmin
"Oh ya, untuk lamaran putri kyai..."
"Ditolak" jawab Layla cepat saat menyadari kemana arah pembicaraan itu
__ADS_1
"Ayah bilang dia cuma setia sama bunda dan cukup bunda, dia bilang nggak pernah ngerasa kesepian kalau keinget bunda"
"Kisah cinta mereka berdua emang bikin iri walau satu raga udah nggak ada"