
Hari itu, Jihoon menunggu datangnya Mina.
Jihoon pov :
“Dimana dia? kenapa belum datang juga?”
Aku sudah lama menunggu Mina. Akhirnya Mina datang.
“Hey, kau mana saja? kenapa baru datang? kau sedang bersama siapa tadi? jawab!” tanyaku berturut-turut.
“Ada apa denganmu? aku terlambat bangun, aku mimpi sangat...indah” ucap Mina sembari tersenyum.
“Mimpi apa sampai terlambat bangun begini?” tanyaku.
“Aku bermimpi... ada seorang pria berkuda putih datang melamarku, ” jawab Mina sembari tersenyum riang.
“Siapa pria yang di mimpi mu itu?” tanyaku lagi.
“Rahasia....” jawabnya.
Aku mengeluarkan ekspresi kesalku, aku pikir pasti yang dia mimpikan itu adalah kakakku pangeran Jisung.
“Kenapa ekspresimu jadi seperti itu? apa aku salah? kau kesal ya?” tanyanya.
“Tidak, aku tidak kesal!” ucap ku sembari meninggalkan Mina.
“Hey tunggu aku....” ujar Mina sembari menyusulku.
Aku terus berjalan, aku tidak tahu mau kemana, yang penting aku berjalan terus, dan Mina mengejarku.
Hingga sampailah kami di perpustakaan Istana. Mina berdiri di sampingku.
“Di istana ada perpustakaan, jadi kenapa kau waktu itu meminjam buku di perpustakaan desa?” tanya Mina heran.
Waktu pertama kali aku melihat Mina keluar dari portal itu, aku sudah penasaran dengan nya, apakah dia penyusup atau bukan, jadi aku mengikutinya, tidak kusangka dalam seketika aku merasa tidak ingin jauh darinya.
“Hey..., kenapa kau melamun putra mahkota?” tanya Mina.
“Aku hanya... sedang tidak ingin membaca disini waktu itu, ” alasanku.
“Apa kita boleh membaca di sini?” tanya Mina dengan mata penuh harapan.
“Boleh, tapi disini hanya ada buku sejarah,” jawabku.
Lalu aku melihat sebuah gelang di pergelangan tangan Mina yang sebelumnya tidak ada.
“Gelang dari siapa itu?” tanyaku.
“Ooh ini, ini gelang pemberian Pangeran Jisung, baguskan?” tanya Mina sembari memamerkan gelang pemberian kakakku.
“Hm, aku juga bisa membelikanmu gelang seperti itu,” ucapku.
“Tidak perlu, aku tahu maksudmu, kalau kau membelikan aku gelang itu berarti hutang ku bertambah, lebih baik gelang dari pangeran Jisung, gratis!” ucap Mina sombong.
“Terserah!” aku pergi ke arah yang berlawanan dari perpustakaan.
“Hei... kau bilang boleh membaca di perpustakaan Istana! kenapa malah pergi?!” ucap Mina yang tertinggal olehku.
__ADS_1
“Jihoon, kau jujur saja, kau cemburu kan?” tanya Mina yang berjalan di samping ku.
“Aku cemburu? tidak mungkin, hahaha” aku tertawa.
“Kenapa tertawa? tidak lucu,” ucap Mina kesal.
“Kau... sedang menyukai seseorang atau tidak?” tanya Mina dengan ekspresi serius.
“Tidak. ” aku tersenyum kepadanya.
Sangat menyenangkan mengganggu Mina.
Mina pov :
Jihoon sangat menyebalkan, aku bertanya serius padanya, dan dia malah menjawab sambil tersenyum seperti itu.
“Apa kau suka gadis yang lebih muda?” tanyaku.
Aku berharap dia menjawab tidak masalah lebih muda.
“Aku lebih suka wanita yang seumuran atau lebih tua,” jawabnya.
Hancur harapanku, aku lebih muda dua tahun darinya, dan dia tidak tertarik pada gadis yang lebih muda, masih adakah kesempatan untukku....
“Aku mau bertemu pangeran Jisung. ” ucapku hendak pergi.
“Tidak boleh!” Jihoon menarik tanganku, alhasil kepalaku menghantam tubuhnya.
“Sakit....” rengekku.
“Maafkan aku. ” ucapnya sembari melepaskan tanganku.
“Dadaku juga terasa sakit.” ucapnya sembari memegang dadanya.
“Apa dadamu baik-baik saja? haduh... ayo ikut denganku. ” aku membawa Jihoon ke paviliun nya.
#Paviliun Jihoon.
Jihoon duduk di atas tempat duduknya.
“Lepas bajumu,” ucapku.
“Apa?! jangan macam-macam padaku!” serunya.
Aku rasa dia berpikir yang tidak-tidak. Padahal aku hanya ingin memeriksa apakah dadanya baik-baik saja.
“Buka baju lapisan pertama saja, aku hanya ingin memeriksa dadamu, jangan berharap banyak padaku!” gurauku.
“Siapa yang berharap banyak padamu!” ucapnya sembari membuka lapisan pertama hanbok nya.
“Eh... jangan dibuka semua.” ucapku sembari menghentikan Jihoon yang ingin membuka hanbok lapisan kedua.
“Kalau begini tidak bisa kelihatan!” ucapnya.
Lalu aku mencoba untuk memeriksa dadanya, aku gugup, badanku bergetar, Jihoon tampak tersenyum, lalu tiba-tiba Kasim masuk.
“Yang Mulia....” ucap Kasim yang langsung berbalik badan sembari menutup mata.
Aku segera menjauh dari Jihoon.
__ADS_1
“Tolong jangan salah paham, dadanya sakit jadi aku... hanya ingin membantu, tapi karena anda sudah disini, maka anda saja yang memeriksanya, aku pergi dulu. ” aku langsung pergi ke luar.
Jihoon pov :
Mina langsung pergi ketika Kasim masuk ke Paviliun.
“Apa hamba mengganggu?” tanya Kasim sembari membuka mata.
Aku mengenakan kembali lapisan hanbok yang kubuka.
“Ya! kau sangat mengganggu!” jawabku sembari tersenyum.
Kasim ini mengganggu saja, tapi karena dia Kasim kesayanganku maka aku tidak akan menghukumnya, Mina masih ada disini, jadi aku tidak perlu marah.
“Kelihatannya Yang Mulia benar-benar menyukai Putri Kim Mina,” gumam Kasim.
“Aku mendengar yang kau katakan....” ujarku.
“Sebenarnya kenapa kau datang begitu tiba-tiba?” tanyaku.
“Hanya mengingatkan jadwal latihan memanah,” ucap Kasim.
“Hanya itu saja tapi sampai menggangguku begini,” gurauku.
“Hamba tidak akan masuk saat Putra Mahkota sedang bersama Putri Kim Mina. ” ucap Kasim sembari membungkuk.
Aku tersenyum melihat tingkah Kasim yang sudah bersamaku sejak aku kecil ini.
“Bagaimana kalau kita bermain bola bersama? sudah lama tidak memainkannya, terakhir aku bermain bola saat umur 15 tahun,” ajakku.
“Iya-iya hamba mau,” jawab Kasim.
“Ngomong-ngomong pangeran Jisung ada dimana?” tanyaku.
“Mungkin berkeliling di Desa,”
“Ayo kita cari dia,” ajakku.
Kami pun pergi ke Desa mencari kakakku Pangeran Jisung, dulu kami sering bermain bola bersama.
#Di Desa.
Saat aku tiba di desa, aku melihat kakakku pangeran Jisung sedang memegang tangan Mina sembari membawanya ke suatu tempat, aku merasa cemburu, bagaimana bisa baru bertemu sudah sedekat itu?!
“Apa kita perlu mengikuti Pangeran Jisung dan Putri Kim Mina lagi? apa kali ini hamba harus membawa kaca pembesar atau teropong?” tanya Kasim.
“Ayo kita ambil dulu ke Istana,” ajak Kasim.
“Kalau kita ke Istana, nanti bisa ketinggalan jejak, kau saja yang ambilkan,” ucapku.
“Mengapa selalu diriku yang repot begini ... mengapa tak seorangpun peduli....” Kasim bernyanyi.
Aku tersenyum, sudah lama sejak Kasim bernyanyi, terakhir kali mendengarnya saat aku masih kecil,saat itu aku terus menangis, sedangkan sang Ratu yang tak lain adalah ibuku sedang sakit, dan Ayah ku sang Raja sibuk mencari tabib terbaik untuk mengobati Ratu. Kasimlah yang selalu menyanyi agar aku berhenti menangis.
“Aku peduli padamu.” ucapku sembari tersenyum.
Kasim tersenyum.
“Sekarang cepatlah! kita sudah ketinggalan! jejak mereka sudah tidak ada, ini semua salahmu! ” ucap ku sembari menyalahkan Kasim.
__ADS_1
“Mengapa... selalu aku yang salah... tak rela... diriku tak rela... tapi demimu ku tak masalah....” Kasim kembali menyanyi.
Aku tersenyum, kami ketinggalan jejak pangeran Jisung dan Mina.