Back To The Previous Dynasty

Back To The Previous Dynasty
Pemberian Gelang.


__ADS_3

Masih dalam suasana yang sama. Mina menunggu jawaban dari Jinsil. Mina bertanya untuk siapa Jinsil membuat gelang ikatan tersebut.


“Kenapa kau diam saja? Ayo katakan padaku... kenapa kau malu-malu seperti itu?” Mina menggoda Jinsil hingga Jinsil tak tahan menahan senyumannya.


“Aku membuatnya untuk....”


“Untuk apa?”


“Untuk Pangeran Jisung,” jawab Jinsil.


Mina terdiam sejenak.


“Hey, sekarang kau yang diam.”


Mina kembali menggoda teman barunya itu.


“Kalian sudah berpacaran?” tanya Mina.


“Belum,” jawab Jinsil.


“Kenapa belum?” tanya Mina lagi.


“Aku takut mengungkapkan perasaanku padanya,” jawab Jinsil sembari menundukkan kepalanya.


“Apa yang kau takutkan?”


“Aku takut dia malah semakin menjauh dariku. Selama ini dia selalu baik kepadaku, dia sangat ramah, dan juga perhatian. Aku tau dia tidak menyukaiku.”


“Kenapa kau bisa berpikir demikian?” Mina tetap bertanya walau dia tau jawaban dari setiap pertanyaannya.


“Aku pernah bertanya kepadanya, kenapa dia masih sendiri dan kenapa dia belum melamar gadis pujaannya, lalu dia menjawab kalau dia sudah menyukai seorang gadis dan akan mengungkapkan perasaannya kepada gadis itu.”


Mina tau betul, gadis yang dimaksud adalah dirinya. Mina tidak mau mengatakan kepada Jinsil kalau dialah gadis yang dimaksud oleh Pangeran Jisung.


“Berusahalah!” seru Mina, membuat Jinsil terkejut.


“Aku yakin jika kau terus berusaha, maka kau akan semakin dekat dengannya, dan kelak mendapatkan hatinya!” tambah Mina.


“Apa itu terdengar mungkin? Aku akan mengejarnya seperti orang gila.”


“Kejarlah cintamu sampai ke ujung dunia.”


“Hingga pada akhirnya tetap tidak akan mendapatkan cintanya,” sela Jinsil.


“Kau ini, apa salahnya berusaha!” seru Mina.


“Dia sudah menyukai orang lain, bagaimana bisa aku terus mengejarnya.”


“Kau tidak boleh mengejarnya kalau mereka berdua saling mencintai. Gadis yang disukai Pangeran Jisung tidak balik menyukainya, jadi tidak masalah.”


“Benarkah? Kau tau darimana?” tanya Jinsil.


“Aku... hanya menebak saja,” jawab Mina.


“Aish! Aku langsung percaya dengan perkataanmu, mana mungkin ada gadis yang akan menolak Pangeran Jisung yang tampan, manis, dan baik hati.”


“Bisa saja gadis itu sudah menyukai pria lain. Cinta gadis itu begitu besar pada pria lain hingga dia tak bisa memandang apalagi berpaling dari pria yang dia sukai. Mereka saling mencintai, dan Pangeran Jisung tidak boleh memisahkan mereka.”


“Kau berkata seakan yang kau katakan adalah sebuah kebenaran.”


“Percayalah padaku! Itu adalah firasatku, biasanya setiap firasatku selalu benar dan tepat!”

__ADS_1


“Baiklah...”


“Kau akan berusaha, Kan?”


“Aku akan berusaha!” seru Jinsil.


“Bagus sekali!” celetuk Mina.


“Kalian sedang apa?” Jihoon tiba-tiba datang membuat kaget dua gadis yang sedang asik mengobrol itu.


“Kau mengagetkan saja!” celetuk Mina.


“Maafkan aku, tapi kalian sedang membicarakan apa? Keliatannya asik sekali,” ucap Jihoon.


“Oh Jihoon, aku sudah menyiapkan kejutan untukmu!” ucap Mina.


“Kejutan apa? Jangan bilang mahkota bunga itu lagi!” ujar Jihoon.


“Bukan itu,” ucap Mina.


“Lalu apa?” tanya Jihoon sembari memperlihatkan senyuman manisnya.


“Tunggu... tunggu!” Jinsil mensela perbincangan Mina dan Jihoon.


“Ada apa?” tanya Jihoon.


“Aku mau permisi saja. Aku tidak tahan melihat kalian bermesraan sementara aku sendiri menonton tanpa ada yang menemani,” jawab Jinsil.


“Baiklah, pergi sana!” celetuk Jihoon.


“Kau benar-benar mengusirku?!” seru Jinsil.


“Aku hanya bercanda. Lagipula melihat kami berkencan nanti kau bisa mimisan, jadi sana pergilah dan cari pasanganmu,” ledek Jihoon.


“Aku pergi... jangan mencariku...!” Jinsil mengambil langkah untuk pergi.


“Kami tidak akan mencarimu, jangan khawatir akan hal yang sudah pasti!” seru Jihoon.


Jinsil berbalik ke belakang, lalu berjalan lagi meninggalkan Jihoon dan Mina.


“Dia itu aneh sekali, haha,” ucap Jihoon sembari tertawa.


“Oh iya, kejutan apa yang kau siapkan untukku?” tanya Jihoon.


“Taraa!” Mina memperlihatkan gelang ikatan buatannya.


“Woah itu adalah gelang ikatan, kau bisa membuatnya?” tanya Jihoon sembari tersenyum bahagia.


“Tentu saja, Putri Jinsil mengajariku membuat gelang ikatan ini,” jawab Mina sembari membalas senyuman Jihoon.


“Pasangkan di pergelangan tanganku,” pinta Jihoon sembari menjulurkan tangannya agar Mina bisa memasangkan gelang itu di pergelangan tangannya.


“Baiklah....” Mina memasangkan gelang buatannya pada pergelangan tangan Jihoon.


“Terima kasih, Mina-ku.” Jihoon memeluk Mina dengan sangat lembut.


“Lepaskan! Bagaimana kalau ada yang melihat?!”


“Biarkan saja mereka melihat!”


Mina hanya bisa pasrah dalam pelukan Jihoon. Sebenarnya Mina tidak melepaskan sendiri pelukan Jihoon karena ia ingin merasakan kehangatan dan kelembutan pelukan Jihoon yang kelak mungkin tak bisa ia rasakan lagi.

__ADS_1


Disamping itu....


Jinsil sedang berjalan-jalan di sekitaran istana. Ia ragu akan memberikan gelang ikatan buatannya itu kepada pangeran Jisung atau tidak.


Di tengah perjalanan, ia tak sengaja berpapasan dengan Jisung.


“Jinsil, sudah lama tidak bertemu,” sapa Jisung.


“Benar, aku kembali setelah pelajaran moralku selesai,” jawab Jinsil.


“Sekarang kau sudah terbebas dari hukumanmu itu, jadi jangan mengejek ibu suri lagi!” ujar Jisung sembari tersenyum.


Flash Back :


Saat itu Jinsil, Jisung, dan Jihoon yang sewaktu itu mereka masih kecil sedang bercerita di depan paviliun ibu suri.


“Kemarin ayah membawaku berjalan-jalan di desa, aku melihat banyak makanan enak, kami makan dengan lahap!” ucap Jinsil.


“Daebimama (nenek ratu) bilang makanan di desa itu kotor dan tidak enak, jadi aku tidak boleh memakan makanan dari desa,” ucap Jihoon.


“Aku sering makan makanan desa,” ucap Jisung.


“Lagipula kenapa kau mendengarkan kata 'gong berisik' itu?! Dia hanya bisa mengoceh semuanya!” seru Jinsil mengejek Ibu suri.


Suara Jinsil terdengar jelas sampai ke telinga ibu suri, ibu suri langsung keluar menghampiri ketiga anak kecil itu.


“Siapa yang mengatakan hal buruk itu?!” tanya ibu suri.


“Lihat, dia mengoceh lagi,” bisik Jinsil.


“Putri Jinsil jaga ucapanmu! Apa begini ayahmu mendidikmu?!” seru ibu suri.


“Ayahku selalu mendidikku dengan baik, Daebimama selalu membentaknya dan menghukumnya karena kesalahan yang tidak ayahku perbuat!” seru Jinsil.


“Jaga ucapanmu! Kau masih bocah berusia 10 tahun!” seru ibu suri.


“Kenapa Daebimama sangat kejam pada ayahku...hiks hiks.” Jinsil menangis tersedu-sedu. Jisung dan Jihoon berusaha menenangkan temannya itu.


Sejak saat itu, Jinsil dihukum pergi ke pendidikan moral istana yang lokasinya cukup jauh.


Flash Back off.


“Jangan mengingat itu lagi, aku jadi malu!” seru Jinsil.


“Oh, apa itu?” tanya Jisung melihat gelang yang dipegang Jinsil.


“Bukan apa-apa.” Jinsil menyembunyikan gelangnya.


“Coba lihat!” Jisung mengambil gelang itu dari Jinsil.


“Ini adalah gelang ikatan, kau membuatnya untuk siapa?” tanya Jisung.


“Itu untuk....”


“Untukku saja ya?” pinta Jisung.


“Ha?” Jinsil terkejut.


“Aku mau gelang seperti ini, untukku saja.” Jisung memasang gelang itu pada pergelangan tangannya.


“Terima kasih.” Jisung pergi meninggalkan Jinsil.

__ADS_1


Jinsil tersenyum sembari memperhatikan Jisung yang semakin menjauh.


__ADS_2