
Setelah berbaikan dengan kakaknya, Jihoon datang ke rumah Mina. Jihoon mengetuk pintu rumah Mina yang sudah tertutup.
Tok tok tok....
Mina membuka pintu rumahnya. Dia menatap Jihoon dengan mata layu yang menandakan kalau ia sudah mengantuk.
“Apa kau ingat kau masih harus melunasi hutangmu?” tanya Jihoon.
“Hutang? Kau masih membahas hutang? Aku kira kau sudah mengikhlaskan semuanya,” jawab Mina.
“Lakukan satu hal dan aku akan menganggap semuanya lunas!” tegas Jihoon.
“Lakukan apa? Jangan menyuruhku yang tidak-tidak!” seru Mina.
“Kau ini selalu berpikiran kotor!” Jihoon menjitak pelan kening Mina.
“Aaa! Kau tau tidak kalau itu sakit?!” seru Mina sembari memegang keningnya.
“Sungguh? Aku akan mengobatinya,” ucap Jihoon.
“Bagaimana kau akan mengobatinya?!” ujar Mina.
“Begini.” Jihoon mengecup kening Mina.
“Sudah baikan?” tanya Jihoon sembari tersenyum.
“Kau ini!” Mina memukul pelan lengan Jihoon.
“Sekarang, ayo ikut aku!” Jihoon menarik tangan Mina sembari berjalan menuju ke suatu tempat.
#Paviliun Jihoon.
Jihoon membawa Mina ke paviliunnya. Mina bingung kenapa Jihoon membawanya ke paviliun malam-malam begini? Mina mulai berpikiran kotor.
“Hey Mina!” panggil Jihoon.
“Iya? Kau tidak berniat buruk padaku, Kan?” Mina curiga kepada permintaan Jihoon kali ini.
“Kumohon berhentilah berpikiran seperti itu! Aku hanya ingin kau membacakan aku dongeng sebelum tidur, kau boleh pergi setelah aku tertidur,” ucap Jihoon.
“Dongeng? Kau bukan anak kecil lagi! Kenapa aku harus mendongeng untukmu?!” ucap Mina sewot.
“Apa tidak boleh aku bersikap manja seperti anak kecil padamu?” tanya Jihoon.
“Kau satu-satunya putra mahkota yang manja, aku belum pernah melihat yang sepertimu di dunia ini ataupun dalam film dan drama,” jawab Mina.
“Bukankah itu bagus? Aku satu-satunya di dunia ini yang bisa menaklukkan hatimu,” ucap Jihoon.
__ADS_1
“Baiklah, aku akan mendongeng untukmu,” ucap Mina.
Jihoon berbaring di tempat tidurnya, dan Mina duduk di sampingnya dan mulai mendongeng.
“Pada zaman dahulu, hiduplah seorang raja yang sombong dan kejam. Semua orang benci padanya. Hingga suatu saat datanglah seorang gadis dalam kehidupannya, seketika semua berubah, raja menjadi sangat dermawan dan disanjung rakyatnya.” Mina mengawali dongengnya dengan sangat baik.
“Teruskan,” ucap Jihoon yang sudah mulai mengantuk.
“Hingga suatu malam....”
Jihoon menutup matanya karena sudah mengantuk.
Mina meneruskan dongengnya.
“Hingga suatu malam, gadis itu diam-diam masuk ke dalam kamar sang raja dan... dia MENUSUK perut sang raja dan raja tewas seketika.”
Mata Jihoon yang sudah tertutup dan mengantuk menjadi terbelalak mendengar dongeng Mina yang tiba-tiba berubah jadi dongeng menyeramkan.
“Kenapa ceritanya jadi begini?” tanya Jihoon.
“Ceritanya memang seperti itu, mau bagaimana lagi?” ucap Mina.
“Ganti saja dongengnya! Kenapa menceritakan dongeng seperti itu?! Itu bukan dongeng pengantar tidur! Kau tau jika kau mendongeng kisah ini kepada orang lansia, maka mereka bisa-bisa kena serangan jantung!” ujar Jihoon.
“Memangnya kenapa harus mendongeng sebelum tidur? Dongeng bukan halusinogen yang menanamkan mimpi. Dongeng adalah fantasi kejam yang menggambarkan kebrutalan dan kekerasan dunia ini dalam bentuk paradoks,” ucap Mina.
“Jika dongengnya seperti itu maka tentu saja! Tetapi sebagian dongeng membawa kita mengetahui tujuan kita hidup dan terkadang membuat kita tersenyum. Walau dongeng tidak nyata, tetapi itu berguna,” ucap Jihoon.
“Apa maksudmu?” tanya Jihoon terkejut.
“Dulu waktu kami masih kecil, ibunya sering membacakan dongeng untuk kami, lalu sahabatku mulai menginginkan sesuatu yang tidak akan pernah bisa terwujud. Lalu dia mengalami gangguan psikologis dan menjatuhkan diri ke laut lepas.” Mina mengingat sahabat kecilnya yang telah tiada.
“Dia sangat berarti bagiku, dia satu-satunya orang yang akan membelaku saat aku tersudut. Tapi setelah kepergiannya, aku berusaha melupakan kenangan buruk itu dengan belajar tanpa henti, hingga akhirnya aku sadar aku salah,” tambah Mina.
“Maaf, aku membuatmu mengingat kenangan burukmu,” ucap Jihoon.
“Tidak masalah. Mungkin aku yang terlalu berlebihan.” Mina pergi dari paviliun Jihoon.
Jihoon merasa bersalah, ia tidak menyangka dongeng akan membuat Mina begitu sedih. Dongeng adalah sesuatu yang bisa mengasah daya imajinasi pembacanya. Namun segala yang berlebihan juga tidak baik, harus diperlukan pemahaman kalau tidak semua yang ada di dongeng bisa menjadi kenyataan.
Saat Mina keluar mencari udara segar untuk menenangkan pikirannya, ia bertemu dengan ibu suri.
Mina mengenal ibu suri, karena pernah melihatnya beberapa waktu lalu.
“Apa kau Kim Mina?” tanya ibu suri.
“Benar, hamba,” jawab Mina.
__ADS_1
“Ikut aku,” pinta ibu suri.
#Paviliun ibu suri.
“Kau adalah gadis yang disukai oleh Jihoon?” tanya ibu suri.
“Benar,” jawab Mina.
Sebenarnya Mina sangat gugup, tangannya berkeringat memegang tali hanboknya.
“Apa kau sungguh menyukai putra mahkota atau hanya memanfaatkannya?” tanya ibu suri.
Pertanyaan ibu suri membuat Mina terkejut dan bertambah gugup.
“Tidak, hamba sungguh menyukainya,” jawab Mina.
“Apa kau bahagia karena sudah berhasil merebut hati putra mahkota?” tanya ibu suri lagi.
“Hamba bahagia bisa bersamanya dan mendampinginya hingga saat ini,” jawab Mina.
“Jangan anggap mudah hal ini. Para wanita disini menghabiskan setiap hari dengan rasa malu dan rasa sakit yang abadi. Kau tidak dalam posisi untuk bahagia, kau harus tetap waspada,” ucap ibu suri.
Mina sedikit bingung dengan perkataan ibu suri. Memangnya ada masalah apa sehingga ibu suri ingin bertemu berdua saja dengannya.
“Masuklah!” seru ibu suri.
Lalu tak lama kemudian, sang ratu beserta dua orang puteri kerajaan datang dan duduk di samping Mina.
“Aku punya pertanyaan untuk kalian, menantuku sang ratu ingin mengetahui siapa yang lebih pantas untuk Jihoon,” ucap ibu suri.
Sang ratu terlihat terkejut sekaligus heran. Ia tidak pernah meminta ibu suri untuk melakukan hal ini, karena ia tau Jihoon hanya mencintai Mina.
“Jika putra mahkota Jihoon adalah barang, maka kalian akan menjualnya dengan berapa batang emas?” tanya ibu suri.
“Dimulai dari putri Jinsil,” tambah ibu suri.
“Hm... 1000? Ah tidak, maksudku 10.000. Aku tidak tahu!” jawab putri Jinsil.
“Putri Min Seo, giliranmu!” ucap ibu suri.
“Menurutku, jika putra mahkota adalah barang maka itu pasti adalah barang yang sangat berharga. Aku tidak akan menjualnya, karena dia tak ternilai dengan sebanyak apapun batang emas,” jawab putri Min Seo.
“Jawaban yang cukup bagus, selanjutnya Kim Mina,” ucap ibu suri.
“Satu batang emas,” jawab Mina singkat.
Semua dibuat terkejut dengan jawaban Mina.
__ADS_1
“Satu batang emas? Apa nilai Jihoon serendah itu dimatamu?” tanya ibu suri.
Suasana seketika hening. Mereka semua menunggu jawaban dari Mina.