
Hari baru datang dalam hidup Mina. Mina memutuskan untuk tetap di rumahnya karena sedang bad mood .
Dia terus terdiam menatap orang yang lalu lalang di depan rumahnya untuk bekerja.
“Membosankan! Menyebalkan!” Mina merobek-robek daun yang dia pegang menjadi beberapa bagian.
Suasana hati Mina sedang buruk, jika ada yang membuatnya kesal maka tamatlah riwayatnya.
Lalu sebuah daun jatuh ke kepalanya dan membuatnya kesal.
“Ha!!! Jangan mengganggu!!!” Mina merobek-robek daun yang jatuh.
Dia bahkan mengamuk hanya karena sebuah daun. Tidak terbayangkan jika ada orang yang mengganggunya.
Tiba-tiba ada bola yang mengenainya. Itu membuatnya marah sehingga menendang bola itu melayang jauh dan akhirnya mengenai seseorang.
“HEY! SIAPA YANG MENENDANG BOLA PADAKU!!!”
Orang yang kepalanya terkena bola tendangan Mina ternyata kepala desa. Kepala desa itu menghampiri Mina.
“Kau yang menendang bola ini?!” tanya kepala desa kesal.
“Ti-dak,” jawab Mina gugup.
“Lalu siapa yang menendang bola ini?! Melayang sendiri mengenai kepalaku, begitu?!” bentak kepala desa.
“I-iya, mungkin seperti itu,” jawab Mina.
“Aish! Tidak masuk akal! Jawab dengan jujur!” seru kepala desa.
“Tidak ada yang tidak masuk akal di dunia ini, semuanya masuk akal! Mungkin anda kebanyakan dosa jadi....”
“Apa katamu!!” kepala desa menjadi sangat marah. Ia berjalan mendekati Mina untuk menakut-nakutinya, namun ia tersandung batu, Mina langsung bergeser dari tempatnya dan membiarkan kepala desa tersungkur mencium tanah.
“Oh pak kepala desa, anda tidak apa-apa?” Mina berusaha membantu kepala desa berdiri.
“Kenapa kau tidak menahanku agar tidak jatuh?!” tanya kepala desa.
“Anda begitu berat, aku tidak akan bisa menopang tubuh anda, jadi aku menghindar,” jawab Mina.
“Sekarang jujurlah!” seru kepala desa.
“Iya, aku yang menendangnya. Bola itu tiba-tiba datang dan mengenaiku, jadi aku berniat mengembalikan, tapi malah mengenai anda. Tolong maafkan aku.” Mina membungkuk sekilas untuk meminta maaf.
“Bagaimana kalau aku tidak mau memaafkanmu?!” tanya kepala desa.
“Ya begitu. Maksudku, anda seorang kepala desa yang dihormati, mana mungkin tidak bisa memaafkan orang biasa sepertiku yang tidak sengaja melakukannya,” ucap Mina.
“Baiklah, karena aku kepala desa yang baik, maka aku akan memaafkanmu.” Kepala desa berbalik hendak pergi.
“Dia merepotkan sekali,” gumam Mina.
Kepala desa berbalik karena mendengar perkataan Mina, “Apa katamu?!”
“Aku sudah merepotkan anda, maaf,” ucap Mina.
Kepala desa berbalik dan pergi meninggalkan Mina. Mina kembali duduk di teras rumahnya. Lalu datanglah Jihoon.
“Mina, kau sedang apa?” Jihoon duduk di samping Mina.
“Kau tidak lihat aku sedang duduk dan bernapas?” jawab Mina.
__ADS_1
“Benar, kau sedang duduk dan bernapas,” ucap Jihoon sabar.
“Mina,” panggil Jihoon.
“Ng?”
“Tidak ada, aku hanya memanggilmu supaya suasana tidak hening,” jawab Jihoon.
“Hey minggir sana!”
“Beli buah, beli buah, masih segar.”
Teng teng....
Suara orang memukul besi.
Suasana hiruk-pikuk dari depan rumah Mina bertolak belakang dengan apa yang dikatakan Jihoon.
“Apa ini suara hening yang kau maksud?” tanya Mina.
“Benar juga, suasana hiruk-pikuk, ” jawab Jihoon.
“Mina, kau kenapa?” tanya Jihoon.
“Memangnya aku kenapa? Aku baik-baik saja,” jawab Mina.
“Kau sedang kesal?” tanya Jihoon lagi.
“Menurutmu?” Mina balik bertanya.
“Tampaknya kau sedang kesal,” jawab Jihoon.
“Kalau sudah tau kenapa kau bertanya?!” seru Mina.
“Apa katamu?! Kau sangat tidak sopan!” Mina mencubit pinggang Jihoon.
“Ah sakit, aku kan hanya bertanya saja,” ucap Jihoon.
“Tapi saat marah, kau jadi kelihatan lebih cantik,” rayu Jihoon.
“Tidak ada yang keliatan cantik saat marah, mereka terlihat seperti bom atom yang akan meledak, jadi jangan coba merayuku!” ucap Mina.
“Kurasa aku dalam masalah besar,” ucap Jihoon.
“Masalah apa?” tanya Mina.
“Hari esok di hidupku, kemarin, dan hari ini, selalu dipenuhi olehmu. Itu menjadi masalah bagiku, karena menyebabkan candu untuk selalu melihatmu,” jawab Jihoon.
“Kau ini!” Mina mulai salah tingkah, pipinya memerah.
“Pipimu memerah,” ucap Jihoon.
“Tidak, pipiku biasa saja,” jawab Mina.
“Baiklah, aku kembali ke istana kerajaan dulu, ada hal yang harus kuurus, jaga dirimu.” Jihoon mengelus rambut Mina.
#Istana Kerajaan.
Paviliun matahari :
“Jadi kau memutuskan untuk mengurungkan niatmu untuk menikahi Mina?” tanya Raja.
__ADS_1
“Benar, appamama (ayahanda raja),” jawab Jisung.
“Apa yang membuatmu berubah pikiran?” tanya raja lagi.
“Aku tidak ingin menikah. Aku jadi tahu, menikahi seseorang berarti kau harus menerima segala mengenai orang itu, tapi aku belum siap melakukan itu.”
“Jadi kau akan melajang seumur hidupmu?”
“Hal itu lebih baik daripada merebut seseorang yang bukan ditakdirkan untukku.”
“Hamba permisi.” Jisung membungkuk memberi hormat lalu pergi dari paviliun matahari.
“Ini pasti sangat sulit untukmu. Tidak ada yang lebih menyakitkan dari cinta sepihak, tapi putraku, aku bangga dengan keputusanmu untuk tidak merebut gadis yang ditakdirkan untuk adikmu,” ucap Raja.
Pangeran Jisung duduk di tempat latihan memanah sendirian.
“Lebih baik aku mati dari pada harus salahkan dan benci diriku seumur hidup,” gumamnya.
“Hyung-nim.”
Jisung melihat ke arah datangnya suara, ternyata orang itu adalah adiknya Jihoon. Jihoon duduk di samping sang kakak.
“Mau apa kau kemari?” tanya Jisung.
“Terimakasih,” ucap Jihoon.
Jihoon tiba-tiba berterima kasih, membuat Jisung bingung.
“Kenapa kau berterima kasih padaku?” tanya Jisung.
“Terima kasih sudah menjadi kakak terbaik bagiku,” jawab Jihoon.
“Kau salah paham, aku melakukan ini bukan untukmu,” sangkal Jisung.
“Kakak, hatimu sebenarnya sangat baik, kau tidak akan membuat hati adikmu hancur. Jujur saja, aku merasa aku belum menjadi adik yang baik untukmu,” ucap Jihoon.
“Mina menolakku, aku sadar dia tak akan menjadi milikku. Itu sebabnya aku menyerah. Maaf sudah bersikap egois,” ucap Jisung.
“Aku juga minta maaf, waktu itu aku sudah melawanmu, kita tersesat untuk beberapa saat,” ucap Jihoon.
“Bagaimana caranya agar aku bisa menjadi adik yang baik untukmu?” tanya Jihoon.
“Bahagia. Berbahagialah dengan Mina, aku sudah melepas Mina untukmu, jadi jangan buat aku kecewa,” jawab Jisung.
“Pasti, aku pasti akan membuatnya bahagia.” ucap Jihoon.
“Baguslah. Oh iya, tingkatkan lagi kemampuan pedangmu! Kau sangat payah dalam hal itu!” Jisung melangkah meninggalkan Jihoon.
“Hyung-nim! (kakak) kemampuan pedangku sudah bagus, walau tak sebagus dirimu.” Jihoon menyusul Jisung.
“Jangan mengelak, akui saja kalau kau memang tidak mahir dalam hal beradu pedang,” ucap Jisung.
“Aku akan mengasah kemampuanku lagi,” ucap Jihoon.
“Begitu baru bagus!” Jisung menepuk-nepuk punggung Jihoon.
Jihoon tersenyum. Sudah lama dia tidak mengobrol sedekat ini dengan kakaknya itu. Kini semua sudah seperti yang seharusnya.
.
.
__ADS_1
Ket : Hyung-nim : kakak (adik laki-laki ke kakak laki-laki).