
Jihoon dan Jisung kembali ke istana dalam keadaan masih berselisih. Masih dalam suasana menegangkan antara kedua kakak-beradik itu.
#Istana kerajaan.
Mereka bergabung dengan para pria yang sedang dilatih kemampuan pedangnya.
“Lawan aku sekarang!” seru pangeran Jisung.
“Hyung-nim! ” seru putra mahkota Jihoon.
“Kenapa? Kau takut akan kalah?!” tanya Jisung terkesan meremehkan kemampuan adiknya itu.
“Tidak, tentu saja tidak!” tegas Jihoon.
Jisung mengeluarkan pedangnya dan melemparkan padang itu kepada Jihoon, Jihoon menangkap pedang yang dilemparkan kepadanya.
Jisung mengeluarkan pedang untuknya. Suasana menegangkan kembali menyelimuti keduanya.
“Aku harap kemampuan pedangmu sudah meningkat,” sindir Jisung.
“Aku tidak kalah darimu!” seru Jihoon.
Jisung mengayunkan pedangnya pada Jihoon.
Ting!!
Jisung berhasil menahan serangan dari kakaknya dan membalikkan serangan.
“Kemampuanmu meningkat, baguslah!” ujar Jisung.
“Jangan banyak bicara!” Jihoon menyerang kakaknya itu, namun kakaknya berhasil menghindar dan mencoba menyerang dari samping.
Ting!!
Dengan sergap, Jihoon kembali berhasil menahan dan menggagalkan serangan Jisung.
Mereka berdua mengayunkan pedang secara bersamaan, seperti akan memenggal kepala mereka satu sama lain.
Semua orang yang ada di sana tidak mengira kalau mereka berdua sedang berselisih dan bertarung dengan emosi. Kecuali satu orang, dia adalah Jong Min, pengawal pribadi putra mahkota Jihoon sekaligus sahabatnya yang setia.
“Aku akan mengalahkanmu!” ujar Jihoon.
“Jangan percaya diri dulu, aku akan mengalahkanmu seperti waktu kita kecil!” ujar Jisung.
Flash Back :
Sewaktu Jisung dan Jihoon kecil mereka sering berlatih pedang bersama.
“Hyung, ayo lawan aku!” seru Jihoon kecil yang masih berusia 9 tahun.
“Tidak mau, nanti kau terluka lalu menangis, jika kau menangis kau akan mengadu pada Ratu!” jawab Jisung yang saat itu berusia 11 tahun.
“Tidak... aku tidak akan menangis ataupun kalah, kali ini aku akan menang!” ujar Jihoon kecil percaya diri.
“Baiklah, ayo kita lihat kemampuanmu!”
Mereka saling mengadu kemampuan berpedang siapa yang paling bagus.
Awalnya, semua imbang, kemampuan Jihoon meningkat sehingga membuat Jisung bangga kepadanya. Namun saat Jihoon lengah, Jisung mengayunkan pedangnya sehingga membuat pedang Jihoon terlepas dari tangannya.
“Jangan lengah! Lihat, kau kalah!” ucap Jisung kecil.
Flash Back off.
Mereka berdua masih mengacungkan pedang ke leher satu sama lain.
__ADS_1
“Kau akan kalah!” Jisung melihat sisi lengah Jihoon dan langsung mengayunkan pedangnya sehingga membuat pedang Jihoon terlepas dari tangannya.
“Jangan lengah!” Jisung mengacungkan pedangnya ke leher Jihoon.
Jihoon menelan ludah, melihat pedang Jisung sudah berada di dekat lehernya. Jihoon menutup mata lalu membukanya secara perlahan.
“Kenapa kau berhenti? Lakukan sekarang! Penggal kepalaku! Bunuh aku sekarang! Dengan itu kau dapat memiliki semuanya, gelar, jabatan, kekuasaan, dan juga Kim Mina,” ucap Jihoon.
Jisung diam tak berkutik. Jihoon terus menyuruhnya untuk meneruskan pedangnya.
“Cepat bunuh aku!! Ini adalah kesempatan yang bagus, jadi jangan membuang waktu! Aku rela mati di tangan kakakku yang sangat aku sayangi,” ucap Jihoon.
Mendengar perkataan adiknya, hati Jisung mulai luluh, matanya mulai terbuka dan sadar atas tindakan gegabahnya.
“Sayangnya aku tidak bisa melakukan itu,” ujar Jisung.
Jisung menurunkan pedangnya dan membuangnya ke tanah. Jisung menatap adiknya itu, lalu berpaling pergi meninggalkan Jihoon.
“Hyung.... ” mata Jihoon berkaca-kaca menahan tangisnya.
Jisung bisa saja meneruskan pedangnya, namun dia tidak melakukannya karena dia masih sangat menyayangi adik tirinya itu.
Jihoon berani berkata demikian karena dia percaya bahwa kakaknya tidak akan tega membunuhnya hanya karena kemarahan sesaat.
“Kau menjadi buta untuk sesaat, tapi aku selalu ada di sisimu untuk membantumu membuka mata dan melihat kenyataannya, walau menyakitkan,” ujar Jihoon.
Jihoon berjalan menuju paviliunnya. Di tengah perjalanan ia bertemu dengan ibundanya, sang Ratu.
“Eomma mama.” Jihoon memberi salam kepada ibundanya.
“Putraku Jihoon, bisakah ibunda bicara denganmu?” pinta Ratu.
“Tentu saja,” jawab Jihoon penuh hormat.
#Paviliun Bulan.
Sang ratu dan putranya Jihoon sedang berbincang-bincang.
“Ibu dengar kau menyukai seorang gadis bernama Kim Mina, apa itu benar?” tanya ratu ramah.
“Benar, aku menyukai Kim Mina.” ucap Jihoon sembari menundukkan kepalanya.
“Mengapa? Apa ada masalah? Apa karena Kim Mina berasal dari zaman yang berbeda?” tanya Ratu lagi.
“Bukan karena itu, tapi karena....” Jihoon ragu untuk menceritakan bahwa kakaknya Jisung juga menyukai gadis yang sama.
“Karena apa, Putraku?”
“Lupakan saja, aku senang ibunda bisa menerima Mina dengan sepenuh hati.”
“Tentu saja, Putraku. Ibu akan mendukung dirimu sepenuhnya.”
“Terimakasih, Eomma mama.”
Jihoon keluar dari paviliun bulan, Ratu memanggil dayang kepercayaannya.
“Ada yang bisa hamba bantu, mama? ” tanya dayang Min.
“Bisakah kau cari tahu apa yang terjadi hingga membuat putra mahkota Jihoon terganggu?” pinta Ratu.
“Hamba akan melakukannya sesuai dengan kehendak mama,” jawab dayang Min.
Dayang Min mulai mencari tahu apa yang mengganggu putra mahkota Jihoon, sesuai dengan perintah sang ratu.
Dayang Min menemui Kasim putra mahkota.
“Kasim Cho,” panggil dayang Min.
__ADS_1
“Ada apa? Dayangnya ratu ya?” tanya kasim.
“Benar, saya dayang Min, dayang sang ratu. Saya ingin bertanya, apa ada sesuatu yang belakangan ini mengganggu pikiran putra mahkota Jihoon? Ratu mencemaskannya.”
“Setau saya tidak ada, tapi akan saya tanyakan nanti.”
“Baiklah kalau begitu, terimakasih.” Dayang Min pergi.
#Paviliun Jihoon.
Kasim Cho masuk ke dalam paviliun Jihoon.
Jihoon terlihat termenung.
“Putra mahkota Jihoon,” panggil kasim.
“Ng?” barulah Jihoon tersadar dari lamunannya.
“Apa ada yang mengganggu pikiran Jeonha belakangan ini?” tanya kasim.
“Tidak ada, aku baik-baik saja, aku rasa aku terlalu sering melihat wajahmu, jadi sedikit pusing,” goda Jihoon.
“Sudah aku duga, aku lagi yang kena,” gumam Kasim.
“Aku bisa mendengarmu,” ucap Jihoon.
“Hehe, kalau begitu hamba permisi dulu.” Kasim keluar dari paviliun.
Kasim lalu bertemu dengan Jong Min, pengawal pribadi Jihoon.
“Permisi, apa kau tau apa yang mengganggu pikiran putra mahkota Jihoon belakangan ini?” tanya kasim.
Jong Min teringat saat di tempat latihan berpedang, Jihoon bertarung dengan Jisung tidak seperti biasanya, seperti ada pertikaian diantara mereka.
“Kenapa kau malah melamun?!” ujar Kasim.
“Saya harus bertemu dengan putra mahkota Jihoon, permisi.” Jong Min masuk ke paviliun Jihoon.
Dia pergi tanpa menjawab pertanyaan kasim.
“Anak muda memang sering seperti itu, aku sudah tua untuk mencampuri urusan mereka. Lihatlah Jihoon yang dulunya anak yang baik tapi nakal, sampai sekarangpun masih sama.” kasim tersenyum.
*****
“Jong Min, apa ada masalah?” tanya Jihoon.
“Ada,” jawab Jongmin.
“Masalah apa?”
“Apa yang terjadi antara jeonha dengan pangeran Jisung?”
“Tidak ada masalah apapun.”
“Kau bisa menyembunyikannya dariku sebagai pengawalmu, tapi kau tidak bisa menyembunyikan apapun dariku sebagai seorang sahabat.”
Next episode....
Ket: eomma mama : Ibunda ratu.
Appa mama : ayahanda.
Daebi mama : ibu suri.
Jeonha : putra mahkota(formal) .
Mama : Ratu (formal)
__ADS_1
Seperti biasa, author ada rekomendasi Novel.