Back To The Previous Dynasty

Back To The Previous Dynasty
Hari Mina dan Jihoon.


__ADS_3

Hari-hari berlalu dengan kebahagiaan bagi kedua insan yang tengah kasmaran, Jihoon dan Mina.


#Rumah Mina.


Hari itu, Mina sedang bersantai di bawah pohon sakura milik Hongsim sembari meneguk segelas teh.


“Bagaimana harimu?” tanya Hongsim sembari menuangkan teh pada gelas Mina yang sudah kosong.


“Semuanya berjalan dengan baik, bagaimana denganmu?” Mina balik bertanya.


“Aku rasa aku akan pindah dari desa ini,” jawab Hongsim.


Takk!!


Mina menjatuhkan gelasnya hingga pecah berkeping-keping. Matanya terbelalak, mulutnya terbuka, tampaknya dia sangat terkejut.


“Jangan berlebihan seperti itu.” Hongsim menyumpal mulut Mina dengan roti.


Barulah Mina berhenti mengeluarkan ekspresi kaget tingkat dewanya.


“Kenapa?” Mina mengunyah roti yang dimasukkan Hongsim ke mulutnya.


“Memang seharusnya seperti itu, orangtuaku menyuruhku pulang ke desa yang berjarak kurang lebih 11 km dari sini,” jawab Hongsim.


“Lalu bagaimana dengan pria yang kau cintai?” tanya Mina lagi.


“Aku terpaksa harus meninggalkannya, aku tidak punya pilihan lain,” jawab Hongsim.


Mina langsung memeluk Hongsim.


“Ada apa denganmu?” tanya Hongsim terkejut.


“Aku akan sangat merindukanmu....” ucap Mina.


“Aku juga akan merindukanmu, sekarang lepaskan aku....” Hongsim berusaha lepas dari pelukan Mina, tapi pelukan Mina terlalu erat, sehingga sulit bagi Hongsim untuk melepaskannya.


“Aku mulai sulit bernapas sekarang, lepaskan....” ucap Hongsim.


“Kau satu-satunya temanku di sini, kau satu-satunya orang yang bisa memberikan nasihat kepadaku....” Mina masih tidak mau melepaskan pelukannya.


Warga desa yang lewat selalu memandang mereka dengan perpaduan ekspresi heran sekaligus jijik.


“Hey Mina! lepaskan! orang-orang berfikir yang tidak-tidak tentang kita!” bisik Hongsim.


Mina langsung melepaskan pelukannya dan menjaga jarak dari Hongsim.


“Maafkan aku,” ucap Mina.


“Tidak masalah.” Hongsim membalasnya dengan senyuman.


“Apa kau akan kembali lagi?” tanya Mina.


“Aku tidak tahu, aku inginnya begitu, tapi mungkin aku akan selamanya tinggal bersama orangtuaku di sana.” Hongsim menundukkan kepalanya, raut wajahnya sedih.


“Hongsim, apa kau tahu?” tanya Mina.

__ADS_1


“Tau apa?” Hongsim kembali bertanya.


“Aku sebenarnya berasal dari masa depan,” ucap Mina.


“Apa? jangan bercanda.” Hongsim tidak percaya dengan apa yang dikatakan Mina.


“Aku tidak bercanda, aku tanpa sengaja datang kemari melalui sebuah portal aneh yang tiba-tiba muncul di kamarku,”


“Kau bilang portal?” Hongsim tampak terkejut.


“Iya, kenapa?” tanya Mina.


“Sebenarnya dulu pernah muncul rumor bahwa sang ratu berasal dari masa depan, dulu juga sempat diadakan penolakan besar-besaran oleh penduduk yang tidak setuju kalau wanita yang tidak jelas asal-usulnya dijadikan sebagai Ratu.” Hongsim menceritakan tentang rumor yang dulu sempat merebak seantero negeri.


Mina tampak terkejut sekaligus bingung, Ia pun kembali bertanya.


“Lalu jika masyarakat menolak, berarti dia tidak bisa menjadi seorang ratu?” tanya Mina.


“Seharusnya begitu, tapi... ratu yang aku maksud adalah ibunya putra mahkota Jihoon.” Hongsim berbisik ke telinga Mina.


Mina tampak sangat terkejut, sulit dipercaya bahwa ibu Jihoon yang juga merupakan seorang ratu berasal dari masa depan sama sepertinya.


“Dulu... sang raja memerintahkan jika ada yang berani melawan keputusannya, maka orang itu akan dijatuhkan hukuman yang sangat berat! itulah yang membuat raja kini tidak disukai oleh masyarakat,”


“Tapi kau tenang saja, putra mahkota Jihoon berbeda, bahkan orang-orang lebih menghormatinya ketimbang ayahnya.” Hongsim meneruskan ceritanya.


Mina terdiam kaku. Dia berpikir bahwa bisa jadi dia dan Jihoon juga bernasib sama.


“Mina, apa yang kau pikirkan?” tanya Hongsim sembari menggoyangkan pundak Mina.


“Kenapa bermenung?” tanya Hongsim.


“Aku hanya sedang memikirkan sesuatu,” jawab Mina.


“Memikirkan apa? memikirkan putra mahkota Jihoon ya?” ledek Hongsim.


“Tidak, aku tidak memikirkannya.” Mina mencoba mengelak.


“Yakin?? tuh liat kesana!” Hongsim mengarahkan pandangan Mina ke arah dinding tembok rumah Hongsim.


Ternyata ada putra mahkota Jihoon di sana, Mina mengalihkan pandangannya pada Hongsim.


“Kenapa malah menatapku? Pergi sana tatap putra mahkota Jihoon saja!” Hongsim menarik Mina mendekat ke Jihoon, lalu dia pergi meninggalkan mereka.



Jihoon menatap Mina dengan wajah tampannya sembari memperlihatkan senyuman manisnya. Sementara Mina terlihat biasa saja.


“Kenapa kau bisa ada di sini?” tanya Mina.


“Aku ingin berkunjung ke rumahmu, tapi ternyata kau disini,” jawab Jihoon.


“Hmm....” gumam Mina.


“Setiap kali bersama Hongsim kau jadi lupa denganku, sekarang kau harus menemani aku!” pinta Jihoon.

__ADS_1


“Menemanimu? kemana?” tanya Mina.


“Jalan-jalan keliling desa,” jawab Jihoon.


“Hariku sedang buruk,” ucap Mina.


“Karena itulah kau harus ikut denganku! aku akan membuat hari-harimu menjadi sangat indah.” ucap Jihoon sembari mencubit gemas pipi Mina.


“Ayo....” Jihoon melompati tembok pagar Hongsim, sehingga membuat Mina terkejut.


“Apa ada putra mahkota seperti ini?” ujar Mina.


“Aku hanya seperti ini kepadamu.” Jihoon menggenggam tangan Mina.


“Ayo!” Jihoon tersenyum kepada Mina, Mina membalas senyuman Jihoon.


Mereka pergi jalan-jalan bersama mengelilingi desa sembari bergandengan tangan.


Saat di tengah jalan, ada seorang wanita tua yang di ganggu oleh seorang pria yang masih muda, tak tinggal diam, Jihoon langsung menghentikan pria itu dan Mina membantu wanita tua itu.


“Jangan kasar kepada orang tua!!” seru Mina.


“Kalian siapa?! pergilah! aku ada urusan dengan wanita tua itu!” saat pria itu mencoba untuk meraih benda yang dipegang oleh wanita tua itu, Jihoon segera menarik pria itu hingga terjatuh ke tanah.


“Jangan menjadi pria yang tidak tau diri!” ucap Jihoon.


“Jangan sakiti putraku....” ucap wanita tua itu sembari memeluk pria kasar itu.


“Dia putra anda?” tanya Jihoon.


“Benar, ” jawab wanita tua itu.


“Lihat betapa sayangnya ibumu padamu, seharusnya kau bersyukur!” ucap Mina.


“Aku butuh uang! dan dia tidak mau memberikan uang peninggalan suaminya pada anaknya sendiri!” ucap pria itu.


“Kamu memakainya untuk berjudi, ibu tidak mau kamu terus seperti ini!” wanita tua itu mengeluarkan air mata.


Mina segera menghapus air matanya.


“Jangan menangis bu,” ucap Mina.


“Aku akan memberikanmu pekerjaan dengan syarat kau tidak boleh memperlakukan ibumu seperti ini!” ucap Jihoon.


“Baik-baik! Aku akan melakukannya!” jawab pria itu.


“Minta maaf pada ibumu dulu!” ucap Jihoon.


Pria itu menatap ibunya yang menangis di pelukan Mina, wanita tua itu langsung memeluk putranya tercinta.


“Ibu... maafkan aku,” ujarnya.


“Tidak masalah putraku, tidak masalah....”


Akhirnya masalah dapat terselesaikan, kejadian itu membuat Jihoon dan Mina sadar bahwa kasih anak tak sebanding dengan kasih sayang orangtuanya, sedalam apapun hati seorang ibu terluka oleh anaknya, ibu selalu menyayangi anaknya dan berharap yang terbaik bagi anaknya.

__ADS_1


Mina sadar bahwa seharusnya dia mendengarkan perkataan ibunya sebelum dia mengambil kesimpulan yang salah. Sementara Jihoon yakin bahwa walaupun seorang ibu tidak menuruti keinginan anaknya, tapi bukan berarti ibunya tidak menyayanginya, melainkan karena ibunya hanya ingin yang terbaik untuk anaknya tercinta.


__ADS_2