Back To The Previous Dynasty

Back To The Previous Dynasty
Masalah hati.


__ADS_3

Keesokan harinya....


Mina berjalan-jalan di sekitaran desa, orang-orang berlalu lalang mengerjakan pekerjaan mereka.


“Dinasti Joseon maupun abad ke-21, sama saja sibuknya dan hiruk pikuknya. Yang berbeda adalah teknologinya, jika di dinasti joseon masih tradisional maka pada abad ke-21 teknologi sudah sudah semakin canggih.” Mina memerhatikan sekelilingnya.


Di tengah perjalanannya, Mina berpaspasan dengan pangeran Jisung. Mina yang masih merasa canggung atas pernyataan Jisung kemarin, memutuskan untuk berbalik pergi.


Namun, ia terlambat. Jisung sudah lebih dulu menangkap keberadaannya. Jisung menghampiri Mina dan menarik tangannya ke suatu tempat, yaitu di balik gerai salah satu pedagang desa.


“Apa yang kau lakukan?!” tanya Mina.


“Aku mencintaimu,” ucap Jisung.


Mina sudah menduga hal ini akan keluar dari mulut Jisung lagi.


“Aku akan meninggalkan semuanya. Kau tak perlu hidup sebagai istri pangeran, jika kau tak mau. Aku bisa tanggalkan gelar pangeran, aku bisa melepas segalanya. Aku tak keberatan meninggalkan semuanya. Mari ke tempat kita tak dikenali dan hidup bahagia disana. Kau bisa melakukan apapun dan pergi kemanapun, dan aku akan tetap disisimu. Hanya itu yang kumau.” Jisung menatap Mina dengan penuh harapan di matanya.


“Dunia kita bukanlah komik. Lari seperti itu terdengar seperti akhir indah jika kau berada di komik, tapi kenyataannya berbeda. Tak seperti buku yang punya akhir, kita harus tetap menjalani hidup kita, merasa terbebani dan dikejar-kejar. Seiring waktu, kita akan kelelahan dan kelak malah saling membenci. Kita kan menyesali pilihan yang kita ambil dan hidup dalam kebencian,” jelas Mina.


“Apa kau tidak percaya padaku?” tanya Jisung.


“Bukan kau yang tak aku percayai, tapi aku tak percaya diriku. Bagaimana jika kurasakan sedikit penyesalan? Andai perasaan itu tumbuh, lantas aku menyalahkan dan membencimu. Bisakah kau menanggungnya? Jadi kembalilah, hanya ini yang bisa kulakukan,” jawab Mina.


“Jadi akan menolakku?” tanya Jisung lagi.


“Aku akan menolakmu, tapi dengan sopan. Jangan menungguku, aku sudah menyukai orang lain. Sekalipun aku bangun dari mimpi itu, tetap aku tidak akan memilih bersamamu. Silahkan membenciku, sebenarnya kuharap kau membenciku. Kuharap kita tidak akan pernah membahas ini lagi, kumohon,” pinta Mina.


“Kau datang dengan sesuka hatimu dan pergi sesuka hatimu. Dia bukan orang bodoh yang akan bersama orang yang akan pergi! Kau pikir kalian bisa bersama sampai mati?!” ujar Jisung.


“Manusia juga akan pergi dan mati, tidak ada yang menemanimu hingga kau mati, aku paham benar soal itu. Jika sisa waktu kami tidak banyak, aku akan semakin mencintai dia agar tidak menyesali apapun,” ujar Mina.


“Sekali lagi kukatakan, aku menyukai orang lain. Semoga kau bertemu seseorang yang berjiwa besar yang bisa berada disisimu, memiliki harapan yang sama dan sepenuh hati mencintaimu. Kau bisa bertemu orang seperti itu.” Mina berlalu meninggalkan Jisung.


Jisung menatap kepergian Mina, “Sebenarnya aku tahu dari awal, jika kau tak akan pernah menjadi milikku. Tapi aku berusaha untuk menjadi egois, dan aku sadari bahwa aku salah.”


Mina pov :


Menolak perasaan seseorang tidak hanya menyakitkan bagi yang ditolak, tetapi juga menyakitkan bagi yang menolak. Rasanya seperti kau menghancurkan harapan seseorang, dan merasa bersalah.


Tetapi hati tidak bisa dipaksakan. Aku tidak mencintainya, dan aku tidak bisa menyangkal hal itu. Aku mencintai orang lain, dan itu kebenarannya.

__ADS_1


Tidak masalah bagiku untuk ditolak, tapi menolak? Itu jauh berbeda. Meskipun aku merasa melakukan hal yang benar, namun tetap saja perasaan bersalah terus datang menghantui.


Aku berjalan tak tentu arah, hingga aku tersadar sudah sampai di suatu tempat, yaitu seongsuchong. Tempat dimana para shaman (peramal) tinggal.


“Mengapa aku kemari?” tanyaku pada diriku sendiri.


Karena aku sudah berada di sini, aku memutuskan untuk menemui shaman Jang.


#Seongsuchong.


Saat berjalan mencari dimana shaman Jang, tiba-tiba seseorang menepuk pundakku. Aku berbalik secara perlahan, dan ternyata orang itu adalah orang yang kucari, shaman Jang.


“Kau mencariku?” tanyanya.


“Benar,” jawabku.


“Ikut aku.”Shaman Jang membawaku ke ruangannya.


“Kau mau menyatakan sesuatu?” tanya shaman Jang.


“Iya, aku ingin bertanya apakah waktu di abad ke-21 terhenti saat aku berada di sini?” tanyaku.


“Tidak, waktu terus berjalan.”


“Jadi... orangtuaku mengira aku menghilang? Itu tidak masuk akal!”


“Bukankah kedatanganmu kemari juga tidak masuk akal? Jika kau pikirkan baik-baik, tidak ada yang tidak masuk akal. Setiap kejadian dan peristiwa punya alasan dibaliknya, hanya terkadang manusia tidak menyadarinya.”


Entah mengapa aku sedikit meragukan perkataan shaman Jang. Dia seperti sedang berbohong.


“Kau berbohong?” tanyaku.


Matanya berpaling dariku, “tidak, aku mengatakan yang sebenarnya.”


Walaupun banyak pertanyaan terbesit si benakku, aku memutuskan untuk tidak bertanya. Aku pergi dari seongsuchong.


Aku datang ke desa sebelah, tempat Hongsim pindah. Sebelum pergi, Hongsim memberikanku alamat barunya agar aku datang berkunjung. Dan kini saat yang tepat untuk berkunjung.


#Rumah Hongsim.


Aku sampai di teras rumahnya. Aku melihatnya sedang menyulam benang di teras rumahnya.

__ADS_1


“Hongsim!” seruku.


“Oh, Mina? Kau disini?” tanyanya tak percaya.


“Seperti yang terlihat,” jawabku.


“Mina....” Hongsim langsung memelukku.


“Aku kesulitan bernapas,” celetukku.


Hongsim melepaskan pelukannya. Kami duduk di teras rumahnya.


“Aku sedang bingung, suatu hari nanti aku akan kembali dan akan menganggap semua ini hanyalah mimpi,” ucapku.


“Kau tidak bisa melepas Jihoon kan?” duganya.


“Iya,” jawabku.


“Apa yang kau khawatirkan?” tanyanya.


“Aku khawatir dia akan kecewa nantinya,” jawabku.


“Kau merindukannya saat dia pergi dan kau senang bertemu dengannya. Bahkan hal-hal sepelepun membuatmu khawatir. Cinta itu seperti batuk, kau tidak bisa menahannya.”


“Aku akan berpikir cara agar tidak ada yang akan tersakiti,” ucapku.


“Pada akhirnya, yang membantu masalahmu mengatasi rintangan bukanlah otak, tapi seseorang yang akan memegang tanganmu dan tak akan membiarkanmu pergi. Dan orang itu adalah putra mahkota Jihoon,” ucap Hongsim.


“Melepaskan butuh lebih banyak keberanian dari pada mempertahankan. Ini sangat sulit bagiku,” ucapku.


“Saat kau bingung atau ragu atas pilihanmu kelak, maka ikuti saja kata hatimu, maka kau tidak akan menyesal,” ujar Hongsim.


Aku merenungi semua perkataan Hongsim dan shaman Jang secara bersamaan, membuatku semakin tersesat dan tidak percaya diri mengambil keputusan.


“Hidupmu kau yang menentukan. Kau akan melepaskan atau malah mempertahankan, semua tergantung pada keputusanmu. Karena ini hidupmu, bukan hidup orang lain.”


“Masalahnya, aku tidak percaya pada diriku sendiri untuk mengambil keputusan dalam hidupku. Aku merasa tersesat, aku merasa aku tidak bisa, aku tidak mampu, aku takut mengambil keputusan yang salah.”


“Buang saja pikiran burukmu, dan mulailah berpikir positif.”


Dia benar, jika aku tidak bisa menentukan jalanku, maka siapa yang akan menentukannya untukku? Tidak ada.

__ADS_1


__ADS_2