Back To The Previous Dynasty

Back To The Previous Dynasty
Bermalam bersama.


__ADS_3

#Paviliun.


Jihoon dan Mina beristirahat di paviliun, Mina kehilangan banyak tenaga karena Nanjang yang dijalaninya.


“Minum ramuan hebat yang tabib berikan,” ucap Jihoon.


“Baiklah.” Mina meminum ramuan herbal yang dibuatkan oleh tabib.


Mina memperlihatkan raut wajah yang lucu hingga membuat Jihoon tertawa.


“Kenapa ekspresimu begitu?” tanya Jihoon sembari tertawa kecil.


“Ramuan ini sangat pahit,” jawab Mina.


“Semua obat memang rasanya begini, Kan?” tanya Mina.


“Tidak, ada satu obat yang terasa sangat manis dan dapat menyembuhkanmu,” ucap Jihoon.


“Apa ada obat seperti itu? Semua obat yang aku coba semuanya pahit dan tidak enak,” ucap Mina.


“Kau mau tahu?” Jihoon menatap Mina dalam-dalam.


“Ya... aku sedikit merasa penasaran,” ucap Mina sembari memalingkan wajahnya.


“Aku tidak jadi memberitahumu,” ucap Jihoon.


“Kenapa?!” Mina heran.


“Kau yakin tidak tahu apa yang aku maksud?” tanya Jihoon.


“Tidak, kalau tahu aku tidak akan bertanya,” jawab Mina.


“Obat yang aku maksud adalah rasa cintaku padamu,” ucap Jihoon sembari tersenyum.


“Kau ini! Seperti anak-anak saja.” Mina salah tingkah dibuatnya.


“Bukankah aku pria yang romantis??” goda Jihoon.


“Tidak juga, biasa saja,” ucap Mina.


“Tentu saja kau merasa biasa, ini pertama kalinya bagimu, sebelumnya kau tidak pernah berkencan,” ejek Jihoon.


“Aku sebelumnya tidak berkencan karena... Satu, orang yang aku suka tidak menyukaiku. Dua, karena aku terlalu membosankan. Tiga, karena para pria menghindariku karena cara berpikirku yang kuno. Tapi mereka yang rugi karena telah menyia-nyiakan gadis seperti aku,” jelas Mina.


“Kau benar, mereka rugi sekali karena telah menolak gadis se-cerewet dirimu,” goda Jihoon lagi.


“Berhentilah menggodaku!” Mina cemberut.


Jihoon tersenyum kepada Mina.


Plak....


Suara terdengar dari luar paviliun, Jihoon dan Mina membuka jendela dan melihat dari mana suara itu berasal.


Ternyata seorang dayang menjatuhkan kendi di depan kasim sehingga membuatnya terkejut.


“Maafkan hamba... hamba tidak sengaja menjatuhkan kendinya,” ucap Dayang yang dulu pernah dibantu oleh kasim.


“Oh, kau...dayang yang waktu itu, kan?” tanya kasim.


“Benar,” jawab dayang.


“Kita bertemu lagi,” ucap kasim.


“Benar, terima kasih untuk waktu itu,” ucap dayang.

__ADS_1


“Tidak masalah, aku akan menyesal kalau membiarkan seseorang terjatuh begitu saja,” ujar kasim.


Dayang itu melemparkan senyumannya kepada kasim, kasim yang melihat senyum manis itu ikut terbawa suasana.


“Apa seperti ini rasanya jatuh cinta,” batinnya.


Usia yang sudah menua tak menutup kemungkinan mereka bisa jatuh cinta pada lawan jenis yang seumuran, lebih tua atau lebih muda.


Mina dan Jihoon melihat dari jendela paviliun.


“Aku pikir sekarang kasim menemukan cintanya,” ucap Jihoon.


“Diusianya sekarang apa hal itu mungkin?” tanya Mina.


“Tentu saja, cinta tak pandang usia,” ucap Jihoon.


“Benar juga ya,” ujar Mina.


“Sebaiknya kita tidak mengintip.” Jihoon menutup jendelanya.


“Kenapa ditutup? Aku mau melihat mereka,” ucap Mina.


“Tidak boleh,” ucap Jihoon.


“Kenapa tidak boleh?” tanya Mina.


“Karena hari sudah menjelang malam, kau harus istirahat,” ucap Jihoon.


“Padahal kan bisa istirahat sembari menonton mereka,” ujar Mina.


“Mereka bukan pertunjukan.” Jihoon membereskan tempat tidur Mina.


“Tidurlah.” Jihoon membaringkan Mina perlahan.


“Kenapa aku diperlakukan seperti anak kecil?! Aku tidak suka,” ucap Mina.


Mina tidur di kasurnya, dan Jihoon tidur di kasur terpisah yang masih bersebelahan dengan Mina.


“Apa kau tidur dengan lilin menyala?” tanya Jihoon.


“Tidak, biasanya aku mematikan lilin saat hendak tidur,” jawab Mina.


“Bagaimana kalau kita matikan saja lilinnya?” tanya Jihoon lagi.


“Baiklah, terserah kau saja,” jawab Mina lagi.


Jihoon bengun dari kasurnya dan mematikan semua lilin itu.


Setelah semua lilin padam, Jihoon kembali berguling ke kasurnya.


Jihoon memalingkan badannya menghadap Mina. Namun, Mina menghadap ke arah yang berlawanan.


“Mina, kau sudah tidur?” tanya Jihoon.


“Belum,” gumam Mina.


“Tidurlah menghadapku, jangan memunggungiku,” pinta Jihoon.


“Tidak mau,” celetuk Mina.


“Kalau kau memunggungiku, nanti aku akan berada dalam masalah,” ujar Jihoon.


“Masalah ala yang timbul hanya karena aku memunggungimu?” tanya Mina yang masih memunggungi Jihoon.


“Kalau kau buang gas, nanti baunya akan langsung manyengat hidungku,” goda Jihoon.

__ADS_1


Mina memalingkan badannya dan menatap Jihoon sinis.


“Aku tidak akan buang gas!” ucap Mina.


“Aku hanya khawatir kau akan buang gas nanti,” ucap Jihoon.


“Tidak akan!” Mina kembali tidur memunggungi Jihoon.


“Biasanya setelah meminum ramuan herbal itu, orang akan buang gas,” goda Jihoon lagi.


Mina kembali memalingkan badannya menghadap Jihoon.


“Benarkah?” tanya Mina.


Jihoon mengangguk.


“Yasudah, aku akan tidur menghadap dirimu,” ucap Mina.


Jihoon menatap Mina dalam-dalam, tangannya memegang pipi Mina.


“A-apa yang akan kau lakukan?” tanya Mina gugup.


Jihoon tidak menjawab, dia mulai mendekatkan wajahnya kepada Mina, Mina menutup matanya, tampaknya mereka akan berciuman, saat bibir Jihoon mulai mendekat....


“Yang mulia putra mahkota.”


Tiba-tiba kasim masuk membawa pelita, alhasil Jihoon kembali menjauh dari Mina, mereka berdua menjadi salah tingkah.


“Kenapa datang larut malam begini?!” tanya Jihoon.


“Aku hanya mau memastikan kalau Yang Mulia tidak akan menyentuh putri Mina,” ucap Kasim sembari duduk di antara Jihoon dan Mina.


“Putri Mina, apa dia menyentuhmu?” tanya kasim.


“Ti-tidak, dia tidak melakukannya,” jawab Mina gugup.


“Syukurlah, Yang mulia belum boleh menyentuh putri sebelum menikah, setelah menikahpun, kalian harus menunggu sampai malam penyatuan yang telah ditentukan,” jelas Kasim.


“Aku tidak akan menyentuhnya, pergilah! Aku tidak bisa tidur, kau tahu, jika ada dua orang dalam satu ruangan, maka yang ketiganya adalah...?” tanya Jihoon.


“Arwah,” jawab Kasim.


“Kalau be-begitu, kalian tidur saja, aku akan pergi.” kasim langsung pergi setelah apa yang dikatakan Jihoon.


Membuat Jihoon dan Mina tertawa, Jihoon langsung menggenggam tangan Mina, dan Mina tidak keberatan akan hal itu.



Di luar paviliun....


“Kenapa aku harus keluar? Bagaimana kalau putra mahkota menyentuh putri?! Aku benar-benar bodoh, semakin tua otakku semakin lelet saja!” celetuk kasim.


Kasim berbalik ke arah paviliun. Namun, perkataan Jihoon kembali menggema di telinganya. Alhasil, kasim memutuskan untuk mempercayai Jihoon.


“Aku yakin putra mahkota Jihoon akan menuruti perkataanku kali ini, walau biasanya dia tidak menurutiku,” ucap kasim sembari berlalu begitu meninggalkan paviliun.


Kasim terus berjalan selangkah, lalu menatap ke belakang, kemudian dia kembali berjalan, dan kembali menatap paviliun. Kasim tidak bisa percaya sepenuhnya terhadap Jihoon, karena Jihoon selalu pandai mencari akal untuk membuat kasim menuruti kemauannya.


.


.


Sembari menunggu Back to the previous dynasty update, author sarankan untuk membaca beberapa novel yang alur ceritanya keren abis! Daripada melamun gak ada kerjaan, mendingan baca novel yang author rekomendasikan.


__ADS_1



__ADS_2