Back To The Previous Dynasty

Back To The Previous Dynasty
Gelang ikatan.


__ADS_3

#Paviliun Ibu Suri.


“Satu batang emas.” Jawaban Mina atas pertanyaan dari ibu suri membuat semua orang terkejut.


“Hanya satu batang emas? Apa putra mahkota Jihoon begitu rendah bagimu?!” tanya ibu suri terkejut.


Suasana hening seketika. Semua menunggu jawaban dari Mina.


“Katakan apa alasanmu menjawab demikian,” ucap ratu dengan nada bicaranya yang lembut.


“Itu harga yang sangat rendah,” ucap putri Min Seo.


Akhirnya Mina menjelaskan alasannya menjawab demikian.


“Mungkin satu batang emas adalah harga yang sangat rendah bagi para bangsawan. Tetapi bagi rakyat yang tidak mampu, jangankan satu batang emas, mereka saja hampir tak pernah mengenal atau melihat emas,” jawab Mina.


“Satu batang emas bisa membuat mereka tersenyum bahagia dan meneteskan air mata. Itu bisa membuat mereka begitu bersyukur. Membuat mereka bisa bernapas lega. Satu batang emas bagaikan harta karun yang tak ternilai harganya,” tambah Mina.


“Begitu juga dengan putra mahkota Jihoon, mungkin para bangsawan ingin menurunkannya dari tahtanya. Selalu terselip iri, dengki, dan kebencian. Tetapi bagi rakyatnya dia sangat berarti. Dengkurannya adalah tidur nyenyak bagi rakyatnya. Tangisannya adalah kesedihan rakyatnya. Senyum dan tawanya adalah kebahagiaan rakyatnya.”


“Ia laksana mentari yang menyinari bumi ini. Begitu berharganya dia bagi rakyatnya. Bukankah kebahagiaan rakyat lebih penting dari pada kekuasaan para bangsawan yang tamak? Kebahagiaan putra mahkota Jihoon, atau pewaris tahta raja dan rakyatnya terhubung menjadi satu.”


Penjelasan Mina membuat semua orang mengakui kecerdasan dan kebijaksanaannya. Bahkan sang ratu langsung memeluknya dan tersenyum.


“Kau sangat cerdas, kau putri yang baik. Orang tuamu telah membesarkan dan mendidikmu dengan sangat baik,” puji ratu.


Ratu sangat bahagia hingga ia menitihkan air mata. Betapa berartinya jawaban Mina baginya. Dia sangat bahagia putranya dicintai oleh gadis seperti Mina. Begitu bahagia sampai tak dapat berkata-kata lebih banyak lagi.


“Terimakasih... aku sangat berterima kasih padamu,” ucap ratu.


“Tolong jangan berterima kasih kepada hamba, hamba hanya mengungkapkan yang sebenarnya. Seharusnya hamba yang berterima kasih kepada ibunda ratu. Seharusnya yang muda yang berterima kasih kepada yang lebih tua,” jawab Mina.


Mereka berhenti berpelukan.


“Jihoon sangat tepat memilih pasangan seperti dirimu. Harus aku akui kami sangat beruntung,” ucap ratu.


Ibu suri hanya terdiam melihatnya. Tak disangka jawaban Mina begitu dalam. Walau demikian, ibu suri tetap tidak ingin Mina menjadi istri dari Jihoon.


Setelah itu....


Mina, Jinsil, dan Minseo berjalan-jalan setelah menjawab pertanyaan ibu suri.


“Jawabanmu tadi itu sangat hebat! Benar-benar luar biasa.” Putri Jinsil memuji jawaban Mina.


“Aku hanya mengutarakan pendapatku saja,” ucap Mina.


“Aku pasti terlihat bodoh diantara kalian, jawabanku terdengar sangat payah,” ucap Jinsil lagi.


“Aku cukup terkesan dengan jawabanmu, kau sangat cerdas,” ucap putri Min Seo.


“Tetapi... akan lebih baik jika jawabmu tidak hanya mengambil pemikiran rakyat jelata, tetapi juga dari sisi lainnya agar pendapatmu dapat berkembang dari rakyat tak mampu.” Min Seo meninggalkan Mina dan Jinsil.


“Dia hanya iri dengan jawabanmu, dia memang seperti itu,” ucap Jinsil.


“Tidak masalah,” ucap Mina sembari tersenyum.


“Oh iya, perkenalkan aku adalah putri Jinsil, aku teman dari putra mahkota Jihoon. Ayahku adalah kepala keamanan anggota kerajaan,” ujar Jinsil.


“Senang bertemu denganmu, dan... putri Minseo?” tanya Mina.

__ADS_1


“Dia anak ketua dewan kerajaan, dia sangat dekat dengan nenek ratu (ibu suri), mungkin suatu saat dia bisa melakukan sesuatu padamu, jadi kau harus hati-hati dengannya, mengerti?” ucap Jinsil.


“Baiklah, aku mengerti,” jawab Mina.


“Oh, apa kau pernah membuat gelang ikatan sebelumnya?” tanya Jinsil.


“Gelang ikatan? Apa itu?” tanya Mina tidak tau.


“Gelang ikatan adalah gelang yang kita buat untuk seseorang yang memiliki ikatan dengan kita. Kabarnya jika kau membuat gelang itu dengan kasih sayang yang tulus, maka ikatanmu dengan orang itu akan semakin kuat.”


“Begitu ya....” celetuk Mina.


“Ayo kita membuatnya besok dan berikan kepada orang yang kita sukai!” ajak Jinsil.


“Baiklah,” jawab Mina.


“Kalau begitu, sampai jumpa besok pagi.”


“Baiklah, mimpi indah ya.”


Mereka berpisah. Mina menuju ke rumahnya, dan Jinsil menuju ke kamarnya.


Keesokan harinya....


Mina pergi ke istana kerajaan untuk menemui Jinsil. Mereka rencananya akan membuat gelang ikatan hari ini.


#Istana Kerajaan.


Mina secara tak sengaja bertemu dengan Jihoon.


“Mina,” panggil Jihoon.


“Tidak biasanya kau bangun sepagi ini untuk menemuiku. Kau rindu berat padaku ya?” tanya Jihoon percaya diri.


“Tidak, aku kemari pagi-pagi tidak untuk bertemu denganmu, tetapi bertemu dengan putri Jinsil,” jawab Mina.


“Jinsil? Kau mengenalnya?”


“Iya, aku kemarin bertemu dengannya. Aku juga mengenal putri Min Seo.”


“Lalu...kenapa kau ingin menemuinya pagi-pagi sekali?”


“Hm... rahasia,” jawab Mina sembari tersenyum.


“Kalau begitu aku ikut!”


“Tidak boleh!”


“Kenapa tidak boleh?”


“Karena ini rahasia....”


“Rahasia apa yang kalian sembunyikan dariku? Apa kalian berencana untuk membuat...”


Mina curiga bahwa Jihoon sudah tau rencana mereka.


Apa dia tau rencanaku dan Jinsil?


Mina menunggu Jihoon meneruskan perkataannya.

__ADS_1


“Kalian pasti berencana membuat mahkota bunga lagi ya?” terus Jihoon.


Fyuu... untung saja dia tidak tahu, kalau dia tahu jadi tidak seru!


Mina bernapas lega, ternyata Jihoon sama sekali tidak mengetahui rencananya dan Jinsil.


“Lebih baik jangan membuat mahkota bunga lagi, kepalaku jadi gatal memakainya,” ucap Jihoon.


“Kepalamu gatal karena mahkota bunga itu atau karena kutu?” ledek Mina.


“Kau ini yang benar saja! Aku tidak punya kutu di kepalaku! Kutu tidak bisa hinggap di kepala pria tampan sepertiku!” ujar Jihoon.


“Terserah kau saja, sana minggir!” Mina berjalan melewati Jihoon.


Jihoon berusaha untuk mengikuti Mina.


“Jangan mengikutiku!” seru Mina sembari tetap melihat kedepan.


“Aku tidak mengikutimu!” seru Jihoon sembari berbalik pergi.


Mina melihat kebelakang.


“Dia sungguh tidak mengikutiku,” celetuk Mina.


Mina menemui Jinsil di bawah pohon dekat tembok istana.


“Oh, kau sudah datang,” ucap Jinsil.


“Iya.”


“Duduklah disampingku,” pinta Jinsil.


Mina duduk di samping Jinsil dan memerhatikan alat dan bahan membuat gelang yang sederhana.


“Kau belum pernah membuat ini sebelumnya?” tanya Jinsil.


“Belum,” jawab Mina.


“Kalau begitu, mari mulai membuatnya!”


Jinsil mulai membuat gelang ikatannya. Mina mengikuti setiap langkah-langkah dari Jinsil.


“Ah.” Jari Mina tak sengaja tertusuk oleh jarum.


“Kau tidak apa-apa?”


“Tidak apa-apa, hanya tertusuk sedikit saja.”


“Apa itu sakit?” tanya Jinsil lagi.


“Tidak sakit sama sekali.”


“Kau membuatnya penuh kasih sayang hingga rasa sakit tertusuk jarum tak terasa sakit bagimu,” ucap Jinsil.


Mina tersenyum dan meneruskan membuat gelang ikatan. Akhirnya gelang ikatan mereka selesai. Masing-masing membuat satu gelang ikatan.


“Kau membuatnya untuk Jihoon ya?” tanya Jinsil.


“Benar. Kalau kau membuatnya untuk siapa?” tanya Mina.

__ADS_1


Jinsil tersenyum sembari memandang gelang buatannya.


__ADS_2