Back To The Previous Dynasty

Back To The Previous Dynasty
Tetaplah bersamaku.


__ADS_3

Rumah Mina.


Jihoon terduduk sembari memegang hidungnya yang terhantuk pintu.


“Hidungku yang mancung kini berkurang tingginya setengah cm.” gerutu Jihoon sembari membuat ekspresi wajah yang imut.


Mina yang menguping dari dalam terkekeh mendengar perkataan Jihoon.


“Mina... buka pintunya!” ucap Jihoon memelas.


“Tidak mau!” seru Mina dari dalam. Gadis itu tertawa kecil karena kelakuan Jihoon yang seperti anak manja bila di dekatnya.


“Jika tidak mau buka, aku akan dobrak pintunya!” seru Jihoon.


“Dobrak saja...!” seru Mina dari dalam rumahnya.


“Yang benar saja, aku tidak akan membuang tenagaku hanya untuk mendobrak pintu ini,” gumam Jihoon.


Jihoon kemudian mencari akal agar Mina mau membukakan pintu untuknya. Jihoon berjalan bolak-balik mencari ide brilian.


“Apa yang dia lakukan di luar? Kenapa hening sekali?” tanya Mina dari dalam rumahnya.


“MINAAAAA!!!!”


Tiba-tiba terdengar suara teriakan Jihoon dari luar rumah. Mina panik dan langsung keluar untuk menghampiri Jihoon. Saat Mina keluar, Jihoon hanya berdiri dan menatapnya.


“Apa yang terjadi? Kenapa kau berteriak? Apa kau terluka? Kau baik-baik saja kan?” Mina terus bertanya sembari memeriksa tubuh Jihoon, apa ada yang lecet atau tidak.


Jihoon tersenyum melihat tingkah sang pujaan hati yang begitu mencemaskan dirinya.


“Kenapa kau tersenyum?! Aku bertanya padamu!” seru Mina.


“Hidungku....” Jihoon menunjuk hidungnya sendiri.


“Ada apa dengan hidungmu?” Mina memegang hidung Jihoon guna memastikan hidungnya tidak apa-apa.


“Tidak berdarah, apa kau ingusan? Kau pilek? Kau demam?” tanya Mina sembari memeriksa suhu tubuh Jihoon dengan cara menaruh tangannya di kening Jihoon.


“Tidak juga,” jawab Jihoon.


“Lalu apa yang terjadi?!” tanya Mina lagi.


“Aku hanya ingin kau keluar dari rumahmu dan harus meminta maaf padaku karena kau sudah membuat hidungku turun setengah cm,” jawab Jihoon.


“Apa? Hidungmu turun setengah cm? Kau lucu Sekali!Haha.” Mina bertepuk tangan sembari tertawa.


“Aku sangat suka ketika kau kesal dan tertawa, aku selalu ingin membuatmu merasa bahagia, aku rela menjadi pria yang jauh dari kesan seorang putra mahkota hanya untuk membuatmu bahagia,” ucap Jihoon sembari menatap gadis pujaannya dengan tatapan yang mempesona.


Mina berhenti tertawa. Dia larut dalam tatapan maut Jihoon. Jantungnya berdetak kencang. Mata Jihoon tak berkedip sekalipun saat menatap Mina.

__ADS_1


Dunia seakan berhenti bergerak, waktu seakan berhenti berputar, hanya ada suara hembusan angin. Lalu tiba-tiba Mina berkedip dan mengalihkan pandangannya.


“Sesuatu masuk ke dalam mataku.” Mina memejamkan matanya.


“Coba aku lihat.” Jihoon mengalihkan pandangan Mina agar menghadapnya.


“Buka matamu,” ucap Jihoon.


“Ng?”


“Buka matamu, kau bilang tadi ada sesuatu yang masuk ke matamu.”


Mina perlahan membuka matanya, menatap langsung ke wajah Jihoon nan mempesona. Jihoon mulai meniup pelan mata Mina agar sesuatu yang masuk itu keluar dari matanya.


“Apa perih?” tanya Jihoon lembut.


“Se-sedikit,” jawab Mina gugup.


Jihoon terus menipu pelan mata Mina, lalu dia berhenti meniupnya. Mina terus menatap Jihoon.


“Apa sudah baikan?” tanya Jihoon lagi.


“Iya, sudah.”


“Berhentilah menatapku, aku tau wajahku sangat mempesona, tapi jika menatapku terus nanti matamu kemasukan lagi,” ucap Jihoon sembari merangkul Mina.


“Tidak, bukan debu yang masuk ke matamu,” sangkal Jihoon.


“Lalu apa?” tanya Mina.


“Cintaku, cintaku masuk ke dalam matamu, sampai sekarang aku masih melihatnya di matamu,” gombal Jihoon.


“Omong kosong apa yang kau bicarakan?” Mina menjadi salah tingkah akibat gombalan Jihoon, Pipinya merah merona.


“Bukankah aku pria yang romantis?”


“Hm... bisa dibilang begitu.”


Mina dan Jihoon tersenyum satu sama lain. Jihoon mengubah rangkulannya menjadi pelukan hangat bagi Mina.


“Hanya satu yang aku pinta di dunia ini,” ucap Jihoon.


“Apa yang kau pinta?” tanya Mina.


“Dirimu, aku ingin dirimu selalu ada bersamaku, berjalan berdampingan denganku, berdiri di sampingku, menangis bersama dan tertawa bersama. Hanya itu pintaku.”


Permintaan Jihoon begitu dimengerti oleh Mina. Mina juga menginginkan hal yang sama, namun waktunya terbatas, dia harus kembali, meninggalkan semua ini, bahkan tak bisa mengingat semua kenangan manis yang berharga ini lagi.


“Aku ingin terus hidup bersamamu seumur hidupku. Jika kau berada dalam kesulitan, maka datanglah padaku dan menangislah, jika kau bahagia, maka datanglah dan kita akan tertawa dan berbahagia seperti saat ini.”

__ADS_1


Kata-kata Jihoon sungguh membuat Mina bahagia sekaligus sedih. Ia tak sanggup pergi meninggalkan segala kebahagiaan ini dan menghapus seluruh kenangan manis yang ada di dalamnya.


Tak terbayangkan, dimana saat itu tiba. Saat dimana semua hilang bak ditelan bumi, semua sirnah seperti kelopak bunga yang jatuh dari pohonnya dan tertiup angin.


Mina berusaha menahan air matanya, ia menatap pria yang ia cintai dan mempererat pelukannya.


“Waktuku terbatas, aku tidak akan melewatkan satu kebahagiaan kecilpun saat bersamamu, aku akan berusaha mengingatnya di memoriku walau akhirnya akan terhapus,” batin Mina.


“Aku mencintaimu,” ujar Mina.


“Aku juga mencintaimu, kau belahan jiwaku,” ucap Jihoon.


“Aku senang aku kini memiliki kekasih seperti dirimu,” ucap Mina.


“Aku juga, calon ratuku,” bisik Jihoon di telinga Mina.


Mina perlahan melepaskan pelukannya. Ia menatap pria itu dan tersenyum, berusaha menyembunyikan kebenaran bahwa dia tidak akan pernah bisa menjadi pendamping hidup Jihoon.


“Permintaanmu hanya satu itu saja?” tanya Mina mencoba mengganti topik pembicaraan.


“Kenapa? Terlalu sedikit ya? Sebenarnya... aku punya banyak permintaan, tetapi intinya adalah aku ingin selalu berada di sisimu,” jawab Jihoon.


“Akankah hal itu menjadi kenyataan? Apa kita sungguh bisa bersama-sama seumur hidup?” batin Mina.


“Akan kulakukan segala cara untuk membuatnya menjadi kenyataan,” batin Jihoon.


Mereka berdua saling bertatapan satu sama lain. Tanpa mereka sadari, kasim sedari tadi mengintip di sebalik tembok tetangga.


“Cinta mereka suci dan bersih seperti sungai yang mengalir di tempat suci, kenapa perbedaan zaman harus menjadi tembok pemisah antara mereka berdua? Sangat menyebalkan!” sewot Kasim dari balik tembok tetangga.


Lalu tiba-tiba Hongsim yang saat itu bersiap-siap untuk pindah memergokinya.


“Hey pak, kenapa anda ada di halaman rumahku?” tanya Hongsim.


“Saya tersesat.” Jawaban Kasim sungguh melantur, sudah jelas dia tidak tersesat, melainkan sedang mengintip.


“Oh, anda tersesat atau mau mengintip Mina dan putra mahkota Jihoon sedang bermesraan?” tanya Hongsim.


“Hm... sudahlah, kau sepertinya hendak pindah rumah, jadi saya mampir sembari ingin menanyakan alamat. Tapi tiba-tiba mata saya menangkap keberadaan pasangan yang tengah kasmaran, jadi saya melihatnya sebentar,” alasan Kasim.


“Jangan mengintip pasangan yang sedang bermesraan, urus saja istri, anak, dan cucu anda di rumah,” ucap Hongsim.


“Saya belum menikah.”


“Oh benarkah? Maaf, saya kira anda sudah menikah, karena wajah anda sudah keriput.”


“Sudahlah.”


Kasim pergi, ia tidak meneruskan niatnya untuk menonton Jihoon dan Mina yang sedang bersama hingga akhir. Setelah kasim pergi, Hongsim merasa penasaran dan ikut mengintip.

__ADS_1


__ADS_2