Back To The Previous Dynasty

Back To The Previous Dynasty
Dia jujur tentang perasaan.


__ADS_3

#Di rumah Mina.


Mina pov :


Pluk... pluk...pluk....


Terdengar suara kaki kuda yang semakin mendekat ke rumah Mina.


“Suara kuda siapa itu?” ucapku sembari keluar untuk memeriksanya.



Ternyata itu adalah putra mahkota Jihoon, yah... siapa lagi yang bisa semenyebalkan ini kalau bukan dia.


“Mina, mari jalan-jalan bersama!” ucapnya tanpa turun dari kuda yang ia tunggangi.


“Tidak, aku lelah!” tolakku.


Aku tidak mau duduk berdua dengannya diatas kuda seperti yang ada dalam drama, itu tidak akan nyaman. Dia pasti akan memohon padaku untuk ikut.


“Baiklah... cepat memohon padaku....” batinku.


“Baiklah kalau begitu, aku pergi saja!” ucapnya sembari perlahan pergi dengan kudanya.


Aku tidak percaya ini, bagaimana bisa dia berlalu begitu saja?! seharusnya dia berusaha membujukku! Lelaki macam apa dia ini!


“Tunggu!” teriakku.


Dia berhenti, lalu aku mendekati kuda yang dia naiki.


“Setelah aku pikir-pikir, sebaiknya aku tidak menolak ajakanmu, kau sudah mengajakku, tidak sopan jika aku menolaknya,” ucapku.


Kali ini dia pasti akan mengajakku duduk diatas kudanya.


“Tidak masalah, kau lelah, jadi istirahat saja, aku bisa sendiri,” ucap Jihoon.


“Kau ini bagaimana?! tadi mengajakku, sekarang kau menolak saat aku ingin pergi!”


“Tapi kau bilang kau lelah, jadi istirahat saja, bukankah aku perhatian padamu?” ucapnya.


Perhatian? apa hal itu bisa dianggap sebagai perhatian? kenapa dia sangat menyebalkan?! tadi itu kan aku hanya basa-basi agar dia mau memohon agar aku ikut, tapi ternyata zonk.


“Aku tidak lelah, aku mau ikut!” ucapku.


“Yaudah, ayo!”


Aku hendak menaiki kuda yang ia tunggangi.


“Eeh... kau sedang apa?” tanyanya.


“Aku ingin naik kuda, kenapa?” tanyaku.


“Kuda ini hanya untuk satu orang, kalau mau ikut, kau harus jalan kaki,” ucapnya.


“Apa?! jalan kaki?! bagaimana mungkin aku jalan kaki sedangkan kau naik kuda!”


“Kaki diciptakan untuk berjalan, kau harus menggunakannya, jika tidak digunakan untuk apa diciptakan,” ucapnya.


Apa pria ini sudah hilang akal? apa dia masih waras?

__ADS_1


Aku rasa dia sudah mulai tidak normal.


“Kau juga punya kaki, kenapa malah naik kuda?!” tanyaku kesal.


“Karena kuda ini diciptakan untuk ditunggangi olehku , jika tidak aku tunggangi , maka kuda ini akan merasa sedih, dia akan berpikir aku membencinya.” ucapnya sembari mengelus kuda itu.


“Hey Jihoon! apa kau sedang sakit? kenapa otakmu tidak berjalan hari ini?” tanyaku.


“Itu karenamu, otakku agak konslet jika berada di dekatmu,”


Pria ini benar-benar sudah kehilangan akal sehatnya, aku rasa dia harus banyak istirahat, dia selalu menyalahkan aku, dia selalu jahil kepadaku, tapi kenapa aku menyukainya?!


“Lupakan saja, aku tidak mau ikut!” ucapku sembari meninggalkan Jihoon beserta kudanya.


Aku pergi dengan kesal, di tengah jalan aku bertemu dengan pangeran Jisung.


“Mina, sedang apa kamu disini? tidak biasanya kamu jalan-jalan sendirian, dimana Jihoon?” tanya Jisung.


“Aku tidak tahu, aku tidak peduli padanya!” jawabku masih kesal.


“Bukankah kau harus peduli dengannya? aku dengar kau bekerja sebagai 'pengikut' nya,” ledek Jisung.


“Aku tidak tertarik bekerja sebagai pengikut yang dia maksud itu,”


“Kau sedang kesal ya?” tanyanya lagi.


“Tentu saja aku kesal! saudaramu itu sangat menyebalkan!” ucapku.


“Dia seperti itu hanya padamu, kau tau itu?”


“Tetap saja aku tidak suka!”


“Kau mau bawa aku kemana?” tanyaku.


“Ikut saja....”


#Di Sungai.


Pangeran Jisung mengajakku ke tepi sungai.


“Untuk apa kita ke sungai? ah... Jangan-jangan kau...” negative thinking.


“Tidak... aku tidak akan menyentuhmu, apa yang kau pikirkan? kau kira aku akan macam-macam padamu?” tanya Jisung sembari tersenyum.


“Aku pikir kau akan... ah sudahlah, lupakan saja,”


Jujur saja aku kira Jisung akan macam-macam padaku, karena orang bilang ada gubuk di pinggir sungai yang terkenal sebagai tempat pasangan bercinta.


“Kau tenang saja, bukan sungai ini yang terkenal sebagai tempat pasangan bermesraan,” ucap Jisung.


“Bagaimana kau tahu pikiranku?” tanyaku.


“Aku hanya menebak, hebat bukan?”


“Tebakan yang sangat tepat, kau hebat!” ucapku sembari memasukkan kakiku kedalam air sungai.


“Dinginnya....” celetukku.


“Mina, apa kau sedang menyukai seseorang?” tanya Jisung begitu tiba-tiba.

__ADS_1


“Kenapa kau bertanya begitu?” tanyaku.


“Aku hanya bertanya saja, sebenarnya aku sedang menyukai seorang gadis,” ucapnya.


“Benarkah? siapa gadis itu? beritahu aku... maka aku akan menjadi peri cinta kalian, aku akan menembakkan panah cinta pada kalian berdua,” ucapku.


“Bagaimana kau akan melakukannya kalau gadis yang aku sukai itu dirimu sendiri,” ucap Jisung.


Aku sangat terkejut dengan apa yang dikatakan.


“Apa maksudmu? aku tidak mengerti, ” ucapku.


“Aku menyukaimu,” ucap Jisung.


Wajahnya tampak sangat serius, aku tidak terbiasa dengan suasana semacam ini, baru pertama kali ada pria yang mengungkapkan perasaannya padaku.


“Apa kau menyukaiku karena aku mirip dengan sahabat lamamu?” tanyaku.


“Bukan, aku menyukaimu sebagai Kim Mina,” ucapnya.


“Bagaimana mungkin? maksudku... sejak kapan?” tanyaku gugup.


“Sejak pertama kali kita bertemu,”


“Kau sangat jujur tentang perasaanmu, kau langsung menyatakannya tanpa basa-basi, itu membuat aku sedikit terkejut,” ucapku.


“Aku tidak suka tarik-ulur tentang perasaanku ,” ucapnya.


“Tapi aku....”


“Aku akan beri kau waktu untuk berpikir, aku akan menerima apapun jawabanmu.” ucapnya sembari pergi meninggalkan aku.


Aku masih tidak percaya atas apa yang baru saja aku dengar, aku belum pernah mendengar pernyataan cinta sejujur itu, bahkan tanpa kata-kata mukadimah ( pendahuluan/pembuka ).


Aku memutuskan untuk kembali kerumahku.


#Dirumahku.


Apa jawaban yang harus aku berikan? aku sangat bingung, tidak apa jika aku ditolak, tapi menolak seseorang itu sangat berbeda, aku tidak tega menolak pernyataan cinta yang sejujur itu.


Aku harus bagaimana? Jihoon yang aku harapkan akan mengatakan hal itu, malah Pangeran Jisung yang mengatakannya.


Apa Pangeran Jisung adalah yang terbaik untukku? dia memang baik, jauh dari si menyebalkan itu, tapi... tetap saja aku menyukai si menyebalkan!


Dulu aku bahkan tidak pernah dekat dengan siswa dikelasku, dan ketika aku di dinasti ini, aku langsung mendapatkan pernyataan cinta, ini seperti mimpi, tidak nyata.


Seperti halusinasi, tapi tetap saja harus ada jawaban atas segala pertanyaan, dan juga harus ada alasan untuk penolakan. Sedangkan jika aku terima, sama saja aku membohongi perasaanku.


Aku terima, lalu bagaimana perasaanku kepada putra mahkota Jihoon?


Aku tolak, aku tidak tega menolak pria selembut pangeran Jisung....


Aku gantungin, jika perasaan digantungin itu rasanya sangat tidak enak, itu terlalu kejam.


“Ah! kepalaku pusing sekali!!!”


“Mengapa dia mengatakan perasaannya secepat ini?Aku bahkan belum makan, bagaimana mau berpikir?!”


Aku tidak mau melukai perasaan siapapun, JADI HARUS BAGAIMANA?????

__ADS_1


__ADS_2