
Sore hari, alana sedang termenung di dalam kamarnya mengingat kejadian pagi lalu. Dirinya benar-benar penasaran siapa rayhan sebenarnya. Rayhan memberi pilihan rumah yang akan di belinya.
Awalnya, alana berfikir mungkin rayhan akan membelikan rumah yang sederhana. Toh mereka juga hanya tinggal berdua serumah fikirnya. Tapi, alangkah terkejutnya alana bahwa rayhan telah memberi pilihan rumah yang sangat mewah semua bag alana.
Alana benar-benar ingin tahu semua secara detail tentang rayhan.
" Huft... Sebenarnya kamu siapa sih mas, nggak mungkin kan seorang sopir bisa membeli rumah bak istana?"
*flashback on*
" Emm mas, kelihatannya yang ini bagus." ucap alana setelah turun dari motor rayhan. Mereka masih berada di pinggir jalan raya karena rumah yang akan dituju rayhan masih tertutup pagarnya.
" Bukan yang ini al, yang itu!" ucap rayhan sambil menunjuk rumah yang ada diseberang jalan.
" Hah!"
" Ayo kesana!" ajak rayhan yang langsung disambut tawa oleh alana.
" Hahaha mas, duh jangan kelebihan candanya. Nanti kalau aku beneran ingin membeli rumah yang kayak gitu gimana? Hahaha." ujar alana masih dengan tawanya.
" Mas nggak bercanda!" ucap rayhan dengan wajah serius, membuat alana langsung berhenti tertawa.
" Mas?" masih berfikir.
" Ayo! Mau ku tinggal disini?" ajak rayhan lagi.
' Glek...... Jadi beneran dia nggak bercanda? Ini bukan rumah, tapi istana.' batin alana. Dilihat dari segi pagar yang menjulang tinggi serta pemandangan atas rumah itu yang masih terlihat jelas dari jalan yang alana pijak.
" Malah bengong, ayok mau ikut apa nggak?" ucap rayhan sedikit kesal karena alana benar-benar tak percaya dengan dirinya.
Tanpa menunggu jawaban alana, rayhan segera menarik tangan alana mengajaknya segera masuk ke halaman rumah itu. Alana langsung sadar ketika tangannya di tarik paksa oleh rayhan.
" Loh mas, ini sepeda motornya kenapa di tinggal?" ucap alana dan rayhan diam tak peduli.
Segera rayhan membuka pagar rumah yang menjulang tinggi dan mengajak alana masuk kedalam.
" Wahh luas banget halamannya mas, ini kita kesini mau ngelamar kerja?"
Rayhan kaget dengan pertanyaan alana. " Iya, nanti aku majikannya kamu cukup bekerja melayani aku sepenuh hati dan jiwa." jawab rayhan.
__ADS_1
Plak...
" sttt duh..."
" Ihhh mas, ini aku beneran loh tanyanya?" ujarnya sambil cemberut.
" Ini bener rumah yang aku pilih al, kenapa? Kurang bagus? Kurang nyaman? Atau kurang besar? Bilang saja mana yang kamu tidak suka, atau mau aku carikan lagi rumah yang lebih besar dari ini?" tanya rayhan.
" Hah?" sungguh kepala alana pusing mendengarnya.
" Menurutku sih ini halamannya sudah cukup luas al, memang kamu mau halaman dua kali lipat dari ini?"
" Hah! Lapangan dong."
Rayhan tertawa renyah melihat ekspresi alana yang terlihat menggemaskan baginya.
" Ayo masuk, coba lihat dalamnya." ajak rayhan. Lalu mereka berdua masuk ke dalam rumah. Alana memandangi setiap sudut rumah dengan seksama, terlihat semua pajangan dan perabotan tertata rapi.
" Wahh mas, melebihi hotel ya."
" Nggak mau lihat kamar?" tawar rayhan.
Mereka mulai melihat setiap sudut ruangan mulai dari kamar, dapur, ruang istirahat dan semua yang ada dalam rumah itu.
" Mas, apa ini tidak berlebihan? Mending uangnya di tabung aja deh." ucap alana setelah turun dari lantai atas.
" Uang tabungan masih ada!" jawab rayhan santai. Mata alana memicing melihat rayhan yang dengan santainya berkata tabungan masih ada, padahal untuk membeli rumah sebesar semewah ini butuh uang triliunan.
" Kamu bukan sopir kan mas? Kamu punya pekerjaan apa sampai bisa beli rumah sebesar dan semewah ini? Atau jangan-jangan kamu mafia ya?" tanya alana mendadak bulu kuduknya merinding.
" Hahahaha mafia? Kalau iya kenapa?"
' hah? Beneran? Duh aku istrinya mafia? Aku bakalan di cincang besok.'
" Bwahahaha " tawa rayhan pecah sekencang kencangnya melihat reaksi alana yang ketakutan. ' sungguh lucu.' batinnya.
Keberanian alana menciut untuk bertanya lagi, niat ingin kabur tapi kakinya terasa kaku tuk melangkah.
" Aku bercanda kog, aku bukan mafia." ucap rayhan setelah dia berhenti tertawa.
__ADS_1
Huft..... Syukurlah batin alana.
" Lalu apa sebenarnya pekerjaan kamu mas?" tanya alana.
" Aku ya sopir al."
" Nggak mungkin seorang sopir bisa membeli rumah ini mas."
" Buktinya aku bisa al."
" ini ysng dipakai uang halal kan?"
" In syaa allah halal kog, tenang. Jadi gimana kamu mau rumah yang ini atau kita lihat-lihat lagi pilihan rumah yang lain." tawar rayhan.
'huft... Yang ini aja udah besar banget, apa lagi yang lain nanti. Mending pilih yang ini aja deh, ini aja bisa remuk semua badanku kalau bersih-bersih sendiri apalagi yang gedenya dua kali lipat huft....' batin alana meronta.
" Kalau nggak jawab, ya udah ayo kita lihat pilihan rumah yang lain yang lebih besar." ucapan rayhan membuat mata alana melotot seketika.
'gila!' alana.
" Nggak mas, nggak usah, mending yang ini aja." jawab alana cepat.
" Yakin? Nggak mau yang lebih besar lagi?"
" Nggak!" sahutnya lagi dengan cepat.
" Hmm baiklah, dil yang ini ya. Terserah kamu mau pindahan kapan, yang penting kita sudah punya rumahnya."
" Hem."
Akhirnya alana pasrah dengan semua keinginan suaminya, mending menurut saja dari pada nanti bisa tambah menjadi jutaan keheranannya.
*flashback off*
" Huh... Mending mandi dan segera sholat dari pada pusing mikirin mas rayhan." ucap alana lalu beranjak ke kamar mandi.
bersambung....
jangan lupa dukungannya ya 🙏🏻 tinggalkan like, komen, vote Dan jadikan favorit ya 🙏🏻😚😚😚 terima kasih 🙏🏻🙏🏻🙏🏻
__ADS_1