
" Hah,,,, sebanyak ini ray?" alana mengerjapkan matanya berkali-kali melihat tumpukan uang lembaran merah di depannya.
" Apakah masih kurang?" jawab rayhan.
" Tidak ray." sahut alana cepat. " Ini juga sudah lebih dari cukup ray." jawabnya lagi.
" Hem baiklah, kalau masih kurang atau kamu butuh apapun itu kasih tau saya." jawab rayhan dengan entengnya.
'gila! Uang segini dia bilang masih kurang? Aku juga tidak akan bisa menghabiskan semua uang ini untuk semua keperluan pribadiku.' batin alana.
" Sudahlah ray, nanti kalau uang tabungan kamu habis gimana? Pasti kamu sudah lamakan menabung uang sebanyak ini?" ujar alana.
" Tabunganku masih ada. Bilang saja nanti kalau kamu butuh sesuatu dan jika uang yang ku beri sudah habis, kamu boleh meminta lagi kepadaku." jawab rayhan enteng dengan wajah datarnya.
" Ray,,,,"
" Hem."
" Ini uang halal kan?" tanya alana ragu.
" Ini uang halal alana. Percayalah padaku kalau aku tidak akan berbuat secela itu." jawab rayhan dengan wajah penuh keyakinan membuat alana bernafas lega mendengarnya.
" Lalu, kenapa uangnya banyak sekali ray? Memangnya gaji kamu sebulan berapa?" tanya alana. Namun, belum sempat rayhan menjawab suara tarkhim spiker di masjid sudah terdengar nyaring.
" Saya ke masjid dulu, kamu sholat maghrib dirumah saja." pamit rayhan.
" Baiklah, hati hati ray!" jawabnya yang dibalas anggukan kepala oleh rayhan sambil tersenyum.
'aishh lesungnya,,,,,,' batin alana.
*****
Setelah sholat maghrib, alana masih betah berdiam diri di kamar. Sesekali dia mencoret-coret buku gambarnya, melatih kreasinya sedari kecil yang terpendam.
'besok, setelah aku sukses aku ingin memiliki butik dan menjadi seorang desainer terkenal aamiin' do'a alana dalam batinnya..
Dan tak lama adzan isya'pun berkumandang. Segera alana mengambil wudhu dan langsung sholat isya'.
Setelahnya alana pun turun ke bawah guna untuk memberi titipan rayhan kepada ibunya.
" Bu,,,,," panggil alana.
" Hem iya." jawab ibu. Alana pun menyodorkan beberapa uang merah ke depan ibu.
" Ini dari mas rayhan untuk membeli kebutuhan dapur." ujarnya. Ibu pun langsung berbinar melihat setumpuk uang merah di depannya.
" Wah,,, banyak juga duit suamimu al." sahut ibu.
" Alhamdulillah bu." jawab alana sambil tersenyum.
" Ya sudah ibu ke kamar dulu ya al, mau menyimpan uang ini untuk bepanja bulanan besok." pamit ibunya.
" Iya bu." jawab alana.
__ADS_1
'semoga ibu bisa menerima mas ray dengan baik, tidak pilih kasih terhadap menantu-menantunya.' batin alana.
Setelahnya terdengarlah bunyi klakson mobil milik reza datang. Selang beberapa menit terlihatlah reza dan siska yang bergelayut manja di lengan suaminya.
" Terima kasih ya sayang,,,, kamu memang paling the best deh." ujar siska di depan alana. Sengaja ia ingin memanas manasin alana yang kebetulan melihatnya tengah membawa beberapa barang belanjaan.
" Iya." jawab reza singkat.
" Pasti baby kamu di dalam perut sini senang banget melihat daddy nya mau melakukan apapun demi mommy dan dedek." ujar siska sambil bergelayut manja di lengan suaminya dengan sesekali mengelus perutnya yang masih rata.
" Iya, yang penting anak kita sehat." jawab reza. Siska tersenyum puas mendengar jawaban reza. Sedangkan alana hanya memasang wajah datarnya, dirinya malas berdebat dengan mereka berdua.
Tak lamapun rayhan datang masih dengan baju koko, sarung serta pecinya. Alana tersenyum melihat suaminya datang dan segera menyambutnya.
" Sudah pulang mas?" sambut alana sambil menjulurkan tangannya guna untuk salim.
'mas? Terdengar manis, pasti karena di depan mereka berdua.' batin rayhan.
" Iya, kamu udah sholat?" tanya rayhan sambil mengelus pipi alana lembut. Alana yang mendapat perlakuan seperti itu tersenyum dan menjawab "sudah mas."
'secepat itu kamu berpaling al? Apakah tidak ada lagi namaku di hatimu?' batin reza.
" Ckck pasangan seorang sopir dan pelayan cafe memang cocok yah." sindir siska.
" Meskipun suamiku sopir, tak ada yang beda. Yang penting penghasilan yang di dapat halal." sahut alana membuat rayhan tersenyum mendengarnya.
" Paling penghasilan lima ratus ribu perbulan. Kayak kami dong, pekerja kantoran penghasilan berjuta-juta." sindir siska lagi.
" Ya sudah ayo, aku pijitin deh di kamar." jawab siska sambil menarik lengan suaminya untuk pergi.
" Dah,,, sopir dan pelayan cafe." pamit siska sambil melambaikan tangan tanpa menoleh ke arah mereka.
" Issh awas saja kalian berdua!" jawab alana lirih dan terdengar oleh rayhan.
" Emm jadi yang tadi akting?"
" Emm enggak kog, ya udah kamu ganti baju dulu gih! Aku mau membantu ibu di dapur."
" Heem." jawab rayhan lalu melangkah menuju kamarnya.
*****
Saat makan malam, semua penghuni rumah menikmati hidangan makanannya. Sesekali siska yang manja minta di suapin oleh sang suami. Selain untuk mendekatkan diri dengan reza, dirinya juga ingin memanas-manasi alana.
" Enak sayang kalau disuapi kamu." ujar siska.
" Makan yang banyak ya nak, agar cucu ibu sehat di perutmu." sahut ibu ratna.
" Pasti bu, kan siska punya suami yang siap siaga, punya segalanya lagi." jawabnya dengan wajah yang berbinar. Reza hanya tersenyum menanggapinya sambil melirik alana untuk melihat reaksinya.
'kenapa al bersikap biasa saja? Apa dia sudah tak punya rasa cemburu untukku?' batin reza.
Alana yang mendengar itu semua hanya diam tanpa menanggapi pembicaraan mereka. Begitu pun dengan rayhan.
__ADS_1
" Sudah mas?" tanya alana terhadap rayhan yang sudah menghabiskan isi piringnya lalu meneguk minuman yang di siapkan istrinya.
" Hem, saya ke kamar dulu." ujarnya kepada seluruh penghuni meja makan. Alana hanya mengangguk menanggapinya.
" Cih! Pengantin baru itu kayak kita dong, makan saling menyuapi, ngobrol pun pakek bahasa bebas, masak suami istri bilangnya saya kamu kan lucu haha." ujar siska sambil tertawa.
" Sudah sis!" sahut reza.
" Kan apa yang aku bilang beneran sayang, mana yang salah?" jawab siska lagi.
" Aku pamit ke kamar." ujar alana sambil bangkit dari duduknya hendak pergi ke kamar.
" Bilang saja nggak bisa bela diri." sahut siska lagi. Alana berhenti melangkah dan kembali lagi dengan menatap intens sang adik.
" Kamu maunya apasih sis? Masih belum puas semua yang aku punya kamu rebut?" kata alana kesal.
" Mbak kenapa nggak pergi dari rumah ini sih?" ujar siska juga dengan wajah kesal.
" Kenapa memang kalau aku masih disini? Kenapa nggak kamu saja yang pergi?"
" Iya kan memang ini rumah milik anak bungsu bukan sulung."
" Terus?"
" Mbak pergi aja deh dari rumah ini, nggak malu apa masih mengampung?" sindir siska.
" Masa orang yang memenuhi kebutuhan rumah ini di bilang menampung?"
" Emang mbak apa yang memenuhi kebutuhan rumah ini? Kog lucu ya hahaha, ingat mbak suami mbak itu hanya seorang SOPIR, bukan pekerja kantoran seperti kita! Nggak mampu lah kamu mbak mau memenuhi kebutuhan rumah ini hahaha." jawab siska sambil menekan kata sopir.
" Bilang saja pada ibu!" jawab alana kesal.
" Memang al sudah memberi ibu jatah bulanan nak." ujar ibu ratna.
Siska yang mendengarnya pun terheran. Bagaimana bisa rayhan memliki uang sebanyak itu?
" Halah paling cuma kasih sejuta doang, besok biar di tambah sama mas reza biar nggak kurang, iya kan sayang?" jawab siska remeh.
" Iya, ibu kalau uangnya belanjanya kurang, bisa minta ke siska nanti aku kasih uang."
" Alana sudah memberi ibu uang lebih dari cukup untuk kebutuhan rumah tapi kalau kalian memaksa ya nggak papa deh biar ibu tabung saja untuk esok." ujar ibu.
" Memangnya mbak al kasih ibu uang berapa?" tanya siska.
" Delapan juta." jawab ibu.
" Whaaat??" siska melotot mendengarnya.
" Jangan kaget gitu, itu tidak seberapa dengan nafkah bulananku!" ujar alana yang membuat siska semakin melotot terheran.
" Whaaat?"
jangan lupa like, comment dan jadikan favorit ya 🤗🤗🤗🙏🏻
__ADS_1