Berandal Berandalan

Berandal Berandalan
Stop it baby


__ADS_3

Dapp....suara hentakan kaki yang sama yang biasa Gian denger. Terbiasa dan itu jelas Zaka. Gian enggan untuk menengok melihat nya, ia lebih memilih fokus belajar. Walaupun ia tau waktu belajar sebentar lagi akan terganggu oleh kehadiran Zaka.


"Ada apa Gi?",tanya Zaka membungkuk di samping Gian melihat ke arah Gian.


'Terlihat lah biasa saja',kaget namun berubah untuk terlihat biasa saja,"Enggak ada apa-apa".


"Masak sih Gi, kamu seperti marah gitu sama aku".


Berpaling melihat ke arah Zaka dengan ekspresi wajah marah,"Sudah jangan ganggu, aku mau belajar",tegas Gian.


"Baiklah",Zaka menurut saja, ia memilih berlalu duduk di atas tempat tidur Gian sembaring memainkan layar ponsel Gian yang memang Gian letak sembarangan.


Padahal sudah ada kipas angin yang menyalah kencang. Sepertinya angin itu tidak mempan untuk menghilangkan rasa gerah Zaka yang akhirnya melepaskan jaket yang ia kenakan sampai hanya memperlihatkan daleman singlet hitam.


Sembaring rebahan di atas tempat tidur Gian dan melanjutkan memainkan layar ponsel Gian. Tanpa Gian perduli toh, seperti di awal. Ponsel tidak ada apapun selain beberapa nomer kontak teman dekatnya.


"Gita nama cewek yang tadi siang sama kamu?",tanya Zaka masih di posisi yang sama.


"Hemm".


"Dia chat kamu nayak pr bahasa Inggris sudah selesai apa belum",beritahu Zaka yang membaca isi pesan chat yang di kirim Gita.


Gian hanya terdiam tidak terlalu memperdulikan. Ia tetap fokus belajar hingga tiba-tiba tangan Zaka melingkar di pinggang.


"Ohh....lihat sini Gia",suruh Zaka sembaring merangkul pinggang Gian.


Ckrek.....Zaka mengambil satu foto bersama. Tanpa Gian sadari, saat sudah menyadari nya ternyata sudah terlambat. Karena Gian baru menyadari saat kamera ponsel nya sudah menangkap fotonya dan Zaka. Ia segera merebut kembali ponsel nya dari Zaka

__ADS_1


"Aku kirim ke Gita iya, dia cerewet sekali sejak tadi".


"Jangan Zaka", berusaha meraih kembali ponsel nya."Zaka sini kembalikan".


Gian begitu sangat kesulitan apalagi dengan tinggi badan yang jauh lebih tinggi dari Zaka yang semakin membuat Gian sulit untuk mengambil kembali ponsel milik nya,"Zaka kembalikan!!Jangan di kirimkan".


Mengembalikan pada Gian,"Sudah terlanjur",susulnya.


"Zaka! Bagiamana kalau Gita tau dan mengatakan ke yang lain".Marah Gian berlalu duduk kembali dan memainkan ponsel melihat isi pesan chat apa saja yang telah Zaka lakukan.


Gita


\=>Aku nyontek pr bahasa inggris nya. Kamu sudah selesai apa belum.


Dibalas Zaka


Gita


\=>Loh!Siapa kamu? Di mana Gia?".


Di balas Zaka


\=>Bentar.


Sesaat kemudian Zaka mengirimkan foto nya bersama Gian ke Gita.


Gita

__ADS_1


\=>Siapa itu?Gia siapa itu?Itukan di kamar kamu. Siapa laki-laki itu, tidak pakai baju pula".


Sudah tidak mendapatkan balasan lagi dari Zaka karena ponselnya sudah di kembalikan kepemilikan nya. Dan Gian tidak tau harus membalas apa, dan harus menjelaskan bagaimana besok ke Gian.


Gian hanya bisa menghela nafas kasar sembaring mengacak-acak rambut frustasi.


"Sudah Gi, cepat kerjakan pr mu dan temenin aku ngobrol",Zaka yang tidak memiliki rasa bersalah sedikitpun telah membuat Gian tertekan dengan ulahnya.


Gian menengok melihat dengan tatapan tajam marah, sebelum akhirnya ia memilih untuk fokus belajar dan mengabaikan keberadaan Zaka.


Hingga jam 11 malam. Gian yang baru selesai belajar pun beres-beres buku-bukunya. Sebelum akhirnya ia beristirahat. Namun ia baru ingin jika Zaka masih ada di sini dan saat ini tengah tertidur pulas seperti bayi di atas tempat tidur nya.


Gian memang masih sangat marah pada Zaka, tapi entah kenapa saat melihat Zaka tertidur seperti ini, ia menjadi kasihan dan justru menjadi gemas melihat nya. Malah muncul keinginan besar untuk mencubit pipi nya.


Namun enggan. Gian berlalu mendekat untuk mengambil bantal dan tidur di bawah. Ia enggan tidur di sini, juga enggan membangunkan Zaka agar berpindah tempat.


"Zaka",ujar Gian tiba-tiba saat Zaka menarik pergelangan tangannya sampai tubuh terjatuh di atas tempat tidur. Di saat itulah Zaka langsung memeluk erat Gian.


Berusaha melepaskan diri,"Zaka lepas, Zaka jangan gini, Zaka tidak....".


Berbisik lirih di dekat telinga Gian,"Good night baby",tanpa merubah posisi melepaskan pelukan yang tidak bisa membuat Gian bergerak sama sekali.


Gian masih terus meronta walaupun tidak membuahkan hasil sama sekali. Yang akhirnya hanya bisa membuat nya terdiam cukup lama. Sebelum ia merasakan sesuatu yang tengah bergerak megerayai tubuhnya di dalam kaos yang ia kenakan.


Menyiku dada Zaka,"Stop Zaka",tegas Gian kesal.


"Stop it baby... Aku akan berhenti kalau kamu bisa diem",kata Zaka dengan suara beratnya berbisik di dekat telinga Gian.

__ADS_1


Yang akhirnya membuat Gian mau tidak mau harus menuruti keinginan Zaka. Dan Zaka pun melakukan sesuai perkataan. Zaka diam saat Gian juga diam tidak melawan.


__ADS_2