Berandal Berandalan

Berandal Berandalan
Zaka cemburu


__ADS_3

Suasana pagi yang sangat tentram dami dengan hawa sejuk yang menyejukkan hati sampai hampir seluruh siswa cowoknya pakai jaket hitam-hitam seperti Intel. Seketika di hancurkan oleh suara cempreng Gita.


"Giaaaa!!!",teriak kencang Gita sampai membuat para mata langsung melihat ke arah Gian.


Gian yang menjadi pusat perhatian hanya bisa tersenyum canggung. Di saat Gita sudah dekat dengannya, ia langsung membekap mulutnya menyeretnya pergi menjauh.


Saat sudah di kelas,"Aduh-aduh apa-apa sih?",kesal Gita pada Gian.


"Malu-maluin",Gian tidak kala kesal di barengi langsung duduk di bangku nya.


Duduk di samping Gian,"Gi cowok kemarin siapa?Gue kayak familiar sama wajahnya. Kayak pernah lihat tapi gue lupa lihat di mana",berusaha berpikir untuk mengingatnya.


'Jangan ingat peliss',batin Gian memohon.


Memegangi kedua bahu Gian agar menghadap ke arahnya,"Apa yang sudah kamu lakukan dengannya Gian???".


"Melakukan apa?Ngawur kamu", mendorong pelan kening Gita."Nanti ku ceritakan sambil anterin aku beli buku. Dan ingat.....aku mohon jangan ceritakan ini ke siapapun".


"Iya enggak lah, apa yang sudah aku perlihatkan kemarin adalah aib mu tau. Dan aku tidak mau nama baik sahabat ku ternodai".


Memeluk Gita,"Thanks Git, kamu emang yang paling pengertian".


Dengan pede nya berkata setelah mendapatkan pujian indah,"Iya karena aku ini ibu mu, makannya aku pengertian".


Mendorong kasar tubuh Gita,"Merasan".


++++


Singkat cerita saat hendak ke kantin menemani Gita. Gian tiba-tiba terburu-buru pergi meninggalkan Gita, ia menyuruh Gita untuk duluan sementara ia harus segera pergi ke toilet. Sehingga harus meninggalkan Gian pergi duluan sendiri ke kantin.


"Kamu serius sendirian?",tanya Gita sedikit khawatir.


"Iya sudah sana keburu tidak punya tempat",suruh Gian sebelum berjalan menjauh terburu-buru berlainan arah dengan Gita.


Selesai dari kamar mandi. Gian berjalan keluar kamar mandi untuk segera pergi menyusul Gita yang mungkin saat ini sedang menunggu nya.


Namun tiba-tiba saja tangan seseorang menarik pergelangan tangannya menjauh. Gian berusaha menolak tapi seseorang ini terlalu kuat dari Gian.


Hingga akhir Gian berhenti di bawah tangga sekolah dekat, yang sangat jarang sekali ada siswa ataupun siswi yang lewat.


Di saat itulah Gian dapat melihat jelas wajah seseorang itu yang ternyata adalah Zaka,"Kamu ngapain Zaka?",


"Kangen Gi",ucap Zaka sudah memeluk erat pinggang Gian.


Melepaskan pelukan Zaka,"Tapi ini di sekolah Zaka, kamu lupa dengan kesepakatan kita".


Masih memaksakan,"Ayolah Gia sebentar saja, temenin gue",


"Tidak bisa, bagiamana nanti kalau ada yang lihat kita",di barengi sedikit menjaga jarak dengan Zaka.


"Gia",menujuk ekspresi wajah semenderita mungkin agar Gian kasihan.

__ADS_1


"Zaka".


"Kalau gitu nanti pulang sekolah ikut aku",


"Aku sudah ada janji Zak sama Gita".


"Batalkan",ucap Zaka spontan."Lebih penting mana aku atau Gita?".


Melihat Zaka,"Gita, soalnya yang selama ini ada buat ku iya Gita. Kita kan baru kenal beberapa bulan, sementara Gita sudah bertahun-tahun".


"Yaudah, yaudah sana-sana pergi yang jauh sekali",ngambek Zaka pada Gian.


Gian yang sudah tau malah bertanya,"Kamu marah?".


Zaka berpaling melihat Gian cukup lama terdiam. Sebelum akhirnya ia mencium pipi Gian, seketika terdiam langsung membeku memerah panas.


"Nanti hati-hati di jalan, kalau ada apa-apa telfon aku secepatnya",pesan Zaka sebelum berlalu pergi meninggalkan Gian yang masih terpaku di tempat nya berdiri. Enggan untuk bertanggung jawab telah membuat anak orang baper.


Mengelus-elus lembut pipinya,'Apa itu tadi?Wajah seperti terbakar. Aku tidak bisa terlihat biasa',pikir Gian masih terdiam terpaku.


Sampai seseorang tiba-tiba memukul bahunya,"Gia",panggil Gita, seseorang itu."Kamu di tunggu disana malah diem di sini seperti orang kerasukan. Ngapain di sini?".


"Tadi ada yang mencium ku",ucap Gian belum sadar sepenuhnya, bahkan ia masih memegangi pipinya.


"Wah enggak beres beneran anak ini",Gita langsung menarik Gian pergi menjauh dari tempat yang sunyi sepi ini."Kamu harus segera di rukiyah".


++++++++++


+++++++


Singkat cerita sepulang sekolah. Gian berdiam sendirian di depan gerbang sekolah seperti tengah menunggu jemputan. Sesaat kemudian motor yang di kendarai seorang pria dewasa berhenti di depannya.


"Maaf lama",minta maaf lelaki ini pada Gian.


"Enggak papa Bang, makasih sudah mau jemput".


"Santai Gi, kamu kan adik ku. Heheh....".


Tersenyum tipis di barengi tawa renyah.


"Kakek masih di kedai?",tanya Gian sembaring beranjak naik duduk di bonceng belakang jok motor.


"Masih, tapi akunya yang tidak",balas lelaki ini yang mulai menyalakan mesin motor nya untuk segera berlalu pergi meninggalkan pekarangan sekolah Gian.


"Abang sudah keterima kerja",


"Alhamdulillah sudah dong, semua berkat doa kalian berdua".


"Jangan bilang karena aku dan Gita" .


"Hhhhhh.... sayangnya sangat betul".

__ADS_1


Tanpa keduanya sadari ada sepasang manik mata yang memperhatikan keakraban mereka berdua dari kejauhan dengan tatapan sangat marah.


Next.....


Zaka tiba-tiba beranjak meloncat masuk ke dalam kamar Gian seperti biasa. Gian yang mendengar langsung menengok ke arah Zaka yang tengah meletakkan sepatu nya.


Enggan untuk terlalu lama memperhatikan nya, Gian kembali fokus untuk belajar.


Akan tetapi Zaka tiba-tiba memeluk pinggang Gian dari belakang cukup erat,"Bentar Gi aku sedang marah jangan suruh aku melepaskan",ucap Zaka.


Gian berangsur-angsur membiarkan sejenak sebelum akhirnya bertanya,"Marah kenapa Zak?Kamu ikut tawuran lagi dan kalah. Terus kamu marah dan kesal",


"Cowok tadi siang siapa?",pertanyaan yang langsung membuat Gian tergelak tawa. Namun tetap pelan tanpa suara karena takut kakeknya dengar.


Zaka yang sudah melepaskan pelukannya pun sampai terheran-heran melihat respon Gian."Yang tadi siang Bang Roman yang suka bantu-bantu kakek di toko. Bang Roman sudah ku anggap seperti Abang ku sendiri, soalnya dia baik banget sama aku dan kakek".


"Jadi kamu tidak perlu cemburu seperti itu".


"Tetap saja, bagaimana kalau dia ternyata suka sama kamu".


"Hah?Hahahha.....iya enggak lah, Abang Roman sendiri malahan yang bilang pertama kali kalau mau angkat aku jadi adiknya".


"Udahlah aku mau lanjut belajar jangan ganggu",kata Gian mengatur posisi duduk nya kembali menghadap meja belajarnya.


Setelah hening beberapa saat. Zaka kembali memulai pembicaraan,"Besok aku tidak akan ke sini".


"Kenapa?".


Menghela nafas kasar yang panjang,"Ayah ku ada di rumah jadi sulit untuk ku keluar rumah kalau ada dia".Zaka beranjak dari tempat duduknya."Gi antar aku ke toilet".


"......",terdiam melihat Zaka cukup lama."Mana bisa. Kakek masih belum tidur sekarang".


"Oh my god",Zaka kembali duduk di atas tempat tidur Gian. Bersila di sana terdiam enggan mengangkat apapun lagi.


"Kamu pergi saja, buang air kecil di luar".


Zaka hanya terdiam menengok ke arah Gian sekilas sebelum akhirnya kembali benar-benar terdiam. Menunduk memainkan layar ponsel nya yang menyalah.


Beranjak dari tempat duduknya,"Zak kamu pergi saja. Buang air kecil di luar, di toilet supermarket depan sana kan bisa",saran Gian.


Hendak menepuk bahu Zaka yang tidak merespon perkataan nya,"Za....".


Tangan Gian di tarik paksa oleh Zaka membuat nya sampai terduduk di depan membelakangi Zaka. Karena respon tiba-tiba yang di lakukan Zaka. Gian lagi-lagi di buat terdiam kaget.


"Zaka".


"Nanti saja belajarnya",bisik Zaka lirih."Nanti aku bantu mengerjakan pr mu. Untuk sekarang tetap disini, besok aku tidak bisa menemui kamu. Di sekolah juga sama saja".


Gian hanya bisa terdiam di tempat nya membiarkan Zaka tetap di posisi memeluk nya dari belakang. Zaka yang terdiam menyembunyikan wajah di leher jenjang Giam.


Hal itu terjadi cukup lama sekali, bahkan Gian baru tersadar saat pagi hari. Kalau ia sudah tertidur pulas di tempat nya biasa dan sudah tidak mendapati Zaka ada bersamanya lagi.

__ADS_1


__ADS_2