
Mengetahui rumah kos yang di maksud Ranggil milik siapa. Zaka langsung bergegas tancap gas pergi ke sana secepatnya sebelum semuanya terlambat.
Sampai di gang kecil hingga keluar gang kecil itulah. Zaka baru bisa melihat jelas rumah di ujung gang yang sangat jauh dari tetangga. Rumah yang di kos teman dekat nya, Tio.
Iya, Zaka sudah mengambil kesimpulan besar jika dalang dari semua masalah ini di ketuai oleh Tio. Kenapa begitu? Karena sebelum ini Zaka terlalu ikut campur dengan urusan nya. Zaka juga sampai pernah menggagalkan transaksi peradangan yang di lakukan Tio. Sampai membuat salah seorang anak buah nya tertangkap. Membuat nama Tio semakin di kejar-kejar pihak berwajib. Dan Zaka juga sempat terlibat perkelahian hebat dengan Tio beberapa hari yang lalu.
Di tambah lagi setelah tau Zaka sudah tidak mau membantu dan di mudah lagi untuk di ajak ikut tawuran. Membuat Tio geram juga marah dengan Zaka. Makannya saat tau Zaka sedang dekat dengan seorang perempuan. Tio jadi memiliki cara busuk ini untuk menjebak Zaka.
Melihat kedatangan Zaka yang mengendarai motor."Zaka lu sendirian",
"Tapi ini rumah Tio",Ranggil seakan-akan mencegah karena khawatir Zaka tidak akan bisa menyelesaikan sendiri.
"Lu sudah tahu Tio?",tanya Zaka terfokus melihat Ranggil yang langsung sedikit memalingkan perhatian ke arah lain."Iya, gue tau Tio dari Soni",mengangkat perhatian nya."Tapi percayalah Zak gue bener-bener tidak menyangka kalau Soni masih berhubungan dengan Tio. Gue pikir dia sudah tidak....".
Fokusnya yang melihat ke arah halaman depan rumah itu,"Sudah ayo cepat pergi, gue tidak akan biarkan mereka hidup normal jika sampai terjadi sesuatu pada Gia",pertegas Zaka.
Air mata yang sudah mengalir deras membasahi pipinya. Gian hanya bisa berujar dalam hati memanggil nama yang sama,'Zaka..'. Soni menyobek kemeja yang Gian kenakan. Sampai memperlihatkan pakaian dalam yang Gian kenakan.
Namun langsung di hentikan oleh Tio. Yang justru lebih brutal mempermalukan Gian. Tio menendang kursi yang di duduki Gian sampai tubuh Gian terlempar tersungkur di ubin lantai ini.
Tidak berhenti sampai di situ. Tio masih menambahi dengan menendang kencang perut Gian juga sekujur tubuh Gian. Sementara yang menerima tendang itu hanya bisa menangis tanpa bisa menghindar dengan tubuh yang terikat seperti ini.
Brugkkk.......entah datang dari mana. Tapi satu tendang yang Zaka layangkan mendarat di punggung Tio. Sanggup membuat tubuh Tio langsung terpental jauh. Menabrak tumpukan kotak-kotak kayu di depannya sampai hancur.
__ADS_1
Zaka langsung melepaskan jaket dan menutupi tubuh Gian membenarkan posisi kursi tempat Gian duduk dengan benar,"Sorry Gi",kata Zaka bernada rendah lirih.
Sudah terfokus kembali dengan musuh di depan nya,"Lindungi Gia Ran",minta Zaka yang di balas anggukan kepala oleh Ranggil."Iy..iya".
Ranggil melepaskan tali yang mengikat tubuh Gian pada kursi ini dan memakaikan dengan benar jaket yang Zaka berikut untuk Gian.
Sementara Zaka sudah beradu pukulan dengan mereka berlima. Zaka beberapa terkena serangan karena gerakan nya tidak begitu lincah, segesit biasanya dengan kaki yang masih cidera. Akan tetapi itu semua tidak menyulutkan semangat Zaka untuk terus melawan demi Gian tidak dalam keadaan terancam lagi.
Sehingga serangan Zaka semakin brutal. Ia akhirnya berhasil menumbangkan empat musuhnya. Yang kini hanya tersisa Tio.
Tio memang tidak sejago Zaka dalam berkelahi, tapi Tio punya otak yang tidak bisa di ragukan cara kerjanya. Namun sayangnya Tio lebih sering memanfaatkan kecerdasan nya untuk melakukan hal-hal yang tidak baik.
Di saat Zaka berhasil memojokkan Tio."ZAKA DI BELAKANG MU",teriak Ranggil sekencang mungkin berlari mendekat untuk menendang Soni menjauhi Zaka.
"GILA LU SON",bentak Ranggil sembaring mencengkeram kerah pakaian Soni yang masih mengenakan seragam sekolah.
"LU YANG TERLALU BODOH TOL**OL. MAU SAJA DI PERALATAN",balas Soni tidak kala melengking sadis.
Geram telah di khianati sahabatnya sendiri. Ranggil tanpa mengatakan sepatah katapun lagi langsung kembali menghajar Soni.
Melihat kedua lelaki di depannya tidak terkendali lagi. Gian yang sudah takut, semakin di buat ketakutan. Ia sampai berjongkok menutupi kedua telinganya menolak untuk mendengar suara apapun di sekelilingnya.
"Lu kenapa bang**sat??Kenapa diam?Lu katanya dendam sama gue, seharusnya lu mencoba menghabisi gue bukan diam tidak berguna",Zaka berbicara tepat di depan Tio yang sudah babak belur di tangannya.
__ADS_1
Juhh....Tio meludahi wajah Zaka sebelum di susul dengan tersenyum tipis."Anjing seperti lu lebih pantas jadi babu, bang**sat",ucap Tio.
Membuat Zaka katana dalam genggaman tangannya langsung mengayun-ayunkan pedang itu berlahan-lahan untuk membuat gorengan cantik di dada Tio. Itu Zaka lakukan dengan raut wajah datar memperhatikan ekspresi wajah Tio yang kesakitan karena ulahnya.
Sesudah meninggalkan luka fisik dan mematahkan salah satu kaki Tio. Zaka pergi membiarkan Tio kesakitan sendirian.
Baru juga berbalik badan. Zaka sudah di suguhkan dengan pemandangan yang hampir menghancurkan hidup nya. Jika saja ia tidak sigap bertindak mengayunkan pedangnya membuat luka cukup dalam di paha Soni mungkin Soni akan berhasil menghantam Gian dengan tokat bisbol yang Soni bawa.
"PERGI! Sebelum gue buat lu cacat seumur hidup",ancam Zaka yang langsung di laksanakan oleh mereka yang secepat mundur meninggalkan tempat ini.
Ranggil yang di kalahkan oleh Soni hanya bisa berjalan mendekat dengan beberapa luka memar di wajahnya.
Sementara Zaka langsung menyimpan pedang, sebelum ia melangkah mendekati Gian dan memeluk erat tubuh perempuan ketakutan ini."Kamu sudah aman, tidak ada yang perlu di takut....ayo, aku antar pulang, kita obati luka-luka mu",tutur kata lembut Zaka pada Gian.
Terfokus melihat Ranggil,"Lu juga pulang, langsung obati luka lu".
Mengacungkan jari jempol,"Oky bos",
Next....
Setibanya di rumah Gian. Setelah Gian masuk ke dalam rumah. Zaka justru meloncat masuk melalui jendela. Padahal saat itu pintu depan rumah di biarkan terbuka oleh Gian. Cukup heran, itu adalah Zaka.
"Kakek kamu tidak di rumah?",yang di balasan gelengan kepala oleh Gian."Aku ke dapur bentar",pamit Zaka berlalu pergi meninggalkan ruangan kamar Gian.
__ADS_1