
Masih menahan kantuk yang sangat berat. Gian menyangga kepalanya dengan kedua tangan walaupun dengan begitu perhatian nya tetap tertunduk lemas karena kedua kelopak matanya tak kunjung terbuka.
"Gia",seru Zaka menepuk bahu Gian."Sudah Gi ayo balik".
"Hemm",beranjak dari tempat duduknya dengan sangat lambat. Membuat Zaka gemas hingga akhirnya Zaka gendongan Gian agar lekas kembali ke kamar sebelum kakek Gian menyadari kehadiran nya.
Membaringkan Gian kembali ke tempat tidurnya, Gian yang sudah kembali di selimuti selimut berkata,"Ehmm...good night mesum",
Mendengar jelas apa yang baru saja Gian katakan, tanpa sadar Zaka menyungging senyum tipis yang terlihat sangat manis.
Sayangnya senyuman manis itu tidak bertahan lama. Karena setelah mendapatkan notifikasi dari seseorang di seberang sana. Zaka buru-buru mengenakan jaket suwiter nya sebelum akhirnya meloncat keluar jendela pergi tanpa Gian ketahui.
^^^Notifikasi Anda^^^
^^^\=>Bang**sat!!!Bagaimana bisa sampai seperti itu?Cepat jemput gue di supermarket daerah.....^^^
Balas Alan
\=>Otw.
Setelah menunggu beberapa saat di depan supermarket. Akhirnya seseorang mengendarai sepeda motor scoopy pink berhenti di depan Zaka dengan pengendara seorang laki-laki yang ternyata adalah Alan.
Zaka yang melihat kedatangan Alan dengan Scoopy pink milik adik perempuan nya,"Saking miskinnya motor adik sendiri sampai di pakai",semprot Zaka beranjak duduk di jok belakang Alan sembaring sibuk mengenakan helm yang Alan berikan.
"Motor ku ngambek tol**ol, mobil gue juga hilang dipakai papa nganter Oma ke bandara".
"Cepat cabut, gue tidak ada waktu mendengar bacotan lu".
"Ehh...Ehhh....untung lu anak orang, untung anak orang",geram Alan sembaring mulai melanjutkan motornya kembali melanjutkan perjalanan.
Settt.....
"Gia",panggil Gita berlari kecil menghampiri Gian yang baru saja turun dari angkutan umum.
"Kamu sudah tau soal kakak kelas baru kita?",Gita bersemangat.
Sembaring berjalan beriringan yang di ikuti oleh Gita,"Iya".
"Ganteng banget Gia. Tapi sayang gue tidak tertarik".
Menjinjing sebelah alis nya heran,"Lah kenapa tidak?".
__ADS_1
"Katanya dia anak berandalan, nah gue suka nya sama yang kalem, ummmm",di susul menahan tawa jahil meledek.
"Gaya mu, lihat ganteng dikit saja kecantol kayak gantungan bilang tidak tertarik, pilih-pilih lagi",semprot Gian membuat Gita hanya tertawa terbahak-bahak.
+++++++
Selesai pelajaran jam pertama. Gian yang tidak memiliki kegiatan apapun memiliki rencana untuk menghabiskan waktunya tidur di kelas sampai jam pelajaran selanjutnya di mulai. Akan tetapi Gita, sahabat laknat ini justru menarik pergelangan tangannya memaksa Gian untuk menemaninya pergi ke kantin.
"Kau cari meja iya aku yang akan pesankan bakso dan minuman nya",kata Gita berlalu pergi meninggalkan Gian.
Sembaring melihat sekelilingnya yang sangat ramai dengan banyak siswa siswi yang sedang makan,'Semua penuh mau duduk di....nah itu',pikir Gian melihat satu meja kosong di paling ujung.'Tapi...',
Walaupun sudah mendapatkan tempat, tapi entah kenapa Gian jadi ragu-ragu karena di samping meja kosong itu ada Zaka dan teman-teman barunya yang sedang asik mengobrol sembaring menikmati menu makan siangnya.
Gian ragu karena ia pikir menjaga jarak dengan Zaka saat di sekolah sangatlah di perlukan. Apalagi saat Gian sudah lumayan mengenal sifat buruk Zaka. Gian hanya ingin fokus sekolah tanpa adanya gangguan dari Zaka.
Zaka memang terlihat sesekali memperhatikan nya. Namun itu dengan sikap yang berbeda, karena sepertinya Zaka menyetujui keinginan Gian untuk merahasiakan hubungan mereka dari teman-teman sekolah. Iya, walaupun sempat ada berdebat sengit. Pada akhirnya Zaka memilih untuk mengalah dari pada harus marahan dengan Gian.
Walau....apa yang di lakukan Zaka tetap ada syarat nya. Yaitu Zaka tidak mau jika Gian dekat-dekat dengan laki-laki lain. Jika sampai Zaka tau Gian sedang dekat laki-laki lain, maka di saat itulah Zaka tidak akan perduli lagi dengan kesepakatan itu.
"Gi aku tadi pesen bakso kesukaan mu seperti biasa tidak usah camba, bener bukan?",Gita yang baru iku bergabung dengan Gian dengan duduk di kursi kosong depan Gian.
"Gian", panggil Gita sedikit berteriak untuk menyadari temannya ini.
"Hah?",
"Hah? Hah?.....kamu kenapa sih dari tadi ngelamun saja, ada masalah?".
"Enggak, aku cuma tidak mood ke kantin, rencana ku tadi mau tidur. Tapi karena kamu....iyasudahlah aku turuti".
"Uhh....so sweet",menyangga dagunya dengan tersenyum manis yang mengerikan menurut Gian.
Suasana kantin semakin ramai. Bersamaan dengan datangnya biduan kelas Gian atau biduan kakak kelas Gian. Membuat suasana kantin semakin ramai.
"Oi Risa",panggil Ranggil pada Risa biduan cantik dan beberapa teman sehgengnya itu.
"Cepat juga lu dapat temen",semprot Risa pada Zaka."Tidak heran lah lu mudah dikenal",sambungnya.
"Gue baru kenal mereka kemarin pagi",respon Zaka.
"Lu kenal Zaka?",tanya Ranggil pada Risa.
__ADS_1
Menepuk bahu Zaka,"Iya kenal lah, Zaka sekelas dengan gue, duduk di belakang gue",beritahu Risa."Tapi sayangnya ada yang belum sempurna".
"Hah?", Ranggil dan Sion bersamaan.
"Jadi pacarnya lah".
Baik Ranggil maupun Sion langsung menunjuk ekspresi wajah julid, sebelum akhirnya di susul tertawa lepas.
"Tuh Zak, lu di tembak duluan mau tidak?",semprot Sion pada Zaka.
Di saat itulah Gian yang sangat dekat dan dapat dengan mudah mendengarkan jelas obrolan mereka. Hanya bisa terdiam dengan suasana hati yang entah kenapa jadi gelisah panas. Padahal seharusnya dia senang, karena akhirnya ada wanita lain yang mengartikan dirinya, dengan begitu ia bisa bebas dari berandalan itu. Tapi entah kenapa hati Gian jadi tidak tenang. Itu terlihat jelas dari sikap Gian yang sejak tadi enggan untuk segera memakan baksonya. Gian hanya terdiam melamun sembaring memainkan kuah baksonya saja, di barengi dengan mendengar obrolan itu. Yang membuat moodnya benar-benar jengkel dan ingin marah saat ini juga.
Zaka dengan ekspresi wajah datar,"Enggak".Balasan Zaka yang entah mengapa membuat Gian menjadi senang. Gian mendongak sebentar untuk melihat ke arah depan. Sebelum akhirnya ia tersenyum tipis, bahagia. Juga lega Zaka menolak nya.
"Cewek gue lebih baik dari lu",ucap Zaka membuat Risa seketika menjadi jutek. Risa langsung berlalu pergi begitu saja tanpa mengatakan sepatah kata apapun pada Zaka.
"Marah Zak, lu emang bener", semprot Ranggil melihat kepergian Risa.
Menyenggol tangan Gian pelan,"Kamu kenapa?Kamu sudah gila senyum-senyum sendiri?".
"CK temen biadab",ujar Gian kesal tapi masih dengan raut wajah sumringah bahagia. Entahlah tapi Gian merasa sangat bahagia saja.
Terfokus melihat Zaka, Soni bertanya,"Emang lu sudah punya cewek?Atau setok cewek lu emang sudah banyak sehingga lu tidak mau menerima dia".
Di sini Zaka justru membalas dengan tawa renyah nya, menepuk bahu Ranggil yang duduk di samping nya.
"YaAllah kesurupan Son", Ranggil siap sedia memegangi Zaka.
"Eh bagaimana doa Al-fatihah, gue lupa gue kan Kristen",timpal Soni panik.
"YaAllah....".
"Astagfirullah...",sahut Soni.
"Sudahlah Git ayo balik",suasana mood Gian yang kembali tidak bertenaga.
Gita yang terfokus melihat Gian,"Kamu kenapa lagi?Tadi bahagia sekarang, wah kumat".
"Yok, yok, balik ke kelas",ajak Gita khawatir sembaring mengandeng tangan Gian.
Sementara tiga pemuda tadi masih resek membuat suasana kantin menjadi sangat ramai dan ricuh dengan candaan tidak jelas ketiganya.
__ADS_1